
Usai menunggu hingga Tika tertidur, Bulan keluar dari kamarnya dan bergabung dengan Bapak dan Ibunya.
"Jadi gimana ceritanya keluarganya Tika, Nduk?" tanya Bu Sundari memulai obrolan dengan memberikan pertanyaan kepada Bulan.
Bulan menghela nafasnya sejenak. "Tadi pagi waktu Bulan tiba di sekolah, Bapak Kepala Sekolah yang memberitahu Bulan kalau kedua orang tua Tika dibawa ke Rumah Sakit karena positif Covid. Sementara hasil swab (tes usap) Tika yang negatif, jadi anak itu ditinggal begitu saja di rumah. Petugas medis hanya membawa kedua orang tuanya saja. Mungkin karena ketakutan dan shock, Tika menangis tadi waktu Bulan sampai di sana. Bulan tidak tega membiarkan anak sekecil Tika sendirian di rumah. Bukan hanya fisiknya yang Bulan khawatirkan, tetapi secara psikis dan mental juga kasihan Bu." cerita Bulan kepada Bapak dan Ibunya.
Kedua orang tua Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Ya, kamu benar Bulan ... tidak hanya anak kecil, kita orang dewasa saja juga bisa shock saat orang terdekat kita kena Corona. Semua orang gak akan siap, Bulan. Tidak apa-apa, kita jaga dan rawat Kartika bersama-sama sembari mendoakan supaya kedua orang tuanya segera sembuh." ucap Pak Hartono.
"Amin ... tadi Bulan juga menenangkan Tika sebelum dia tidur. Tika cerita kalau kangen sama Bapak dan Ibunya." ucap Bulan dengan sendu.
"Semua anak akan merindukan orang tuanya Bulan, terlebih di saat seperti ini, Tika juga demikian. Mereka yang terbiasa 24 jam bersama orang tuanya, tiba-tiba harus dipisahkan begitu saja. Bahkan Tika melihat bagaimana kedua orang tuanya dibawa ambulance. Sudah pasti anak itu sangat sedih." ucap Bu Sundari yang diangguki oleh Bulan dan Pak Hartono.
"Ya sudah, kamu juga istirahat Bulan ... jaga kesehatan. Menjaga orang lain, tetapi kamu juga harus menjaga kesehatanmu." ucap Bu Sundari menambahkan.
Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Baik Bulan masuk ke kamar ya Bu ... Bulan juga sampai lupa belum menelpon Surya seharian ini karena sibuk mengurusi Kartika." ucapnya yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Begitu telah sampai di kamar, Bulan mengeluarkan handphone dari laci nakasnya di sana terdapat beberapa pesan dan panggilan dari Surya.
Bulan mengernyitkan keningnya melihat banyaknya pesan dan panggilan yang masuk ke handphone-nya.
Dengan segera, Bulan menghubungi Surya dan memencet ikon telepon di handphone-nya.
Surya
Berdering
"Halo ... selamat malam Surya." sapa Bulan ketika panggilan mereka telah tersambung.
"Ya halo ... malam juga Bulan. Kamu seharian ngapain aja sih? Sampai pesanku tidak dijawab, panggilanku juga tidak diangkat." Surya seketika menggerutu lantaran merasa Bulan mengabaikannya.
__ADS_1
Bulan nampak memijat pelipisnya, baru saja telepon tersambung rupanya Surya sudah memberinya begitu banyak pertanyaan.
"Maafkan aku Surya ... aku begitu sibuk seharian ini." ucap Bulan sembari menghela nafasnya. "Ada orang tua muridku yang positif Covid, jadi aku menjenguk muridku dan membawanya pulang ke rumah." cerita Bulan kepada Surya.
Di sana Surya justru mengernyitkan keningnya. "Kenapa kamu repot-repot Bulan? Sampai kamu tidak mengabariku seharian ini." ucap Surya dengan nada yang terdengar kesal.
Bulan menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. "Maafkan aku Surya. Lagipula, muridku seorang diri di rumah. Aku langsung ke sana usai mengajar di Sekolah. Sekarang aku menbawa muridku pulang. Maaf, jika seharian ini aku tidak menghubungimu." ucap Bulan meminta maaf dengan tulus.
"Hmm, tidak apa-apa. Aku memaafkanmu, Bulan...." ucap Surya yang membuat Bulan seketika lega.
"Terima kasih sudah memaafkanku, Surya. Seharian ini kamu ngapain aja di sana?" tanya Bulan sembari tersenyum.
"Aku hari ini bekerja dari rumah saja Bulan, sebaran angka Covid di Makassar cukup tinggi. Sehingga para pegawai diminta untuk bekerja dari rumah." cerita Surya kepada Bulan.
Gadis ayu itu mendengarkan cerita dari Surya sembari memainkan jari-jari kukunya. "Jadi seharian hanya di dalam kost ya?" tanya Bulan sembari mengambil headset dari nakasnya.
Surya pun menganggukkan kepalanya seolah-olah tengah berbicara berhadapan dengan Bulan. "Iya, aku seharian hanya di dalam kost. Bulan, aku kangen sama kamu. Tidak terasa sudah dua bulan lebih kita tidak bertemu." Surya saat ini di sana berwajah sendu.
Bulan pun tersenyum. "Iya ... sudah dua bulan lebih. Tidak terasa." jawabnya.
"Bisa telponan sama kamu seperti ini seperti mendapat Layang Suara, Bulan. Aku rindu suaramu, aku rindu wajahmu, aku rindu bisa bertemu denganmu. Akan tetapi, Layang Suara ini tidak bisa mengobati rasa kangenku padamu. Hanya pertemuan yang bisa mengobati rasa kangen ini. Terkadang mendengar suaramu yang ada malahan hati ini bertambah rindu." ucap Surya panjang lebar.
Di sisi lain, Bulan justru terkekeh geli. "Kamu lebay, Sur ... kayak ABG yang baru pacaran aja." sahutnya.
Di sana Surya pun merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya. "Serius yo ... aku kangen. Aku rindu. Kamu pernah dengar lagu Campursari berjudul Layang Suara, Bulan?" tanya Surya sembari berguling di tempat tidurnya.
Bulan menggelengkan kepalanya. "Enggak pernah... yang mana?"
layang sworo raiso ngobati
__ADS_1
roso kangen marang sliramu, yai
layang sworo raiso ngganteni
kulino aku nyandhing sliramu, yai
(Layang suara tidak bisa mengobati
rasa rindu kepada dirimu.
Layang suara tidak bisa menggantikan
kebiasaanku bersanding dengan dirimu.)
Surya menyanyikan lagu itu sembari mengingat-ingat setiap momen yang dia habiskan bersama Bulan.
"Aku kangen Bulan ... Namun, untuk bisa menemuimu rasanya susah. Berat. Ditambah kondisi saat ini."
Bulan yang mendengarkan suara Surya yang tengah menyanyi hanya menahan tawa. Suaranya begitu lucu di telinga Bulan.
"Sabar Surya ... kita cuma bisa bersabar. Kita bisa tetap sehat satu sama lain, saling berkomunikasi rasanya sudah sangat cukup sekarang ini. Cara kita menyayangi satu sama lain adalah dengan memastikan kita berdua saling sehat dan tidak terinfeksi virus Corona ini." ucap Bulan dengan tenang.
Surya menganggukkan kepalanya. "Iya ... aku tahu. Aku juga berharap, kamu di sana selalu menjaga kesehatan. Aku juga akan menjaga kesehatanku di sini. Perketat protokol kesehatan, jangan keluar rumah jika tidak mendesak." ucap Surya.
Hening sejenak.
Setelahnya Surya kembali bertanya kepada Bulan. "Apa kamu di sana juga merindukan aku, Bulan?"
Bulan nampak tersenyum dan menundukkan kepalanya. "Iya ... sudah pasti aku juga merindukan kamu, Surya. Dahulu kita terbiasa bertemu, sekarang kita terpisah jarak dan waktu. Pertanyaan kamu sangat retoris Surya."
__ADS_1
Surya merasa lega mendengar jawaban pacarnya yang juga merindukannya, dengan demikian bukan hanya dia yang merasakan rindu. "Aku kangen kamu, Bulan ... Rasanya ingin bersua ... Namun, hanya melalui layang suara ini saja kita bisa bercengkerama...."