Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Curhatan Pria Galau


__ADS_3

Masih berada ditepi Pantai Losari, Makassar. Surya tengah duduk bersama dengan Arunika. Pria itu masih saja tidak bisa menyembunyikan gejolak di dalam hatinya.


Selama ini, Surya memang hanya diam dan begitu pasif. Bahkan sejak memutuskan untuk menjeda hubungannya dengan Bulan, yang dilakukan pria itu hanyalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Menyibukkan diri dalam pekerjaan yang memang sedang banyak-banyaknya menjadi pelarian bagi Surya.


Sementara Arunika hanya menempatkan diri sebagai seorang pendengar. "Jadi, selebihnya apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arunika begitu saja kepada Surya.


Sudah pasti Arunika mengetahui bahwa Surya saat ini tengah galau, terlihat dari pria itu tidak bersemangat, dan wajahnya begitu kusut. Cukup memperlihatkan betapa besarnya kegalauan yang dialami Surya kali ini. Bahkan helaan napas yang begitu berat seolah juga menandakan bahwa banyak hal yang tengah dipikirkan oleh Surya.


"Saat ini ... aku memutuskan untuk jeda dahulu." ucap Surya dengan menundukkan kepalanya.


Seolah tak percaya, Arunika pun menatap Surya dari samping. "Jeda maksud kamu, break sejenakkah?" tanyanya.


Kepala pria itu mengangguk samar. "Iya ... aku memutuskan untuk mengambil jeda terlebih dahulu."


"Sudah berapa lama kamu memutuskan untuk jeda?" tanya Arunika dengan cepat.

__ADS_1


Seolah kembali mengingat-ingat, Surya pun menjawab, "Sudah dua minggu ...."


Pria itu kemudian tersenyum getir. "Bulan Ramadhan ini terasa begitu berat bagiku.Pertama kali aku merasakan menjalankan ibadah puasa jauh dari rumah dan keluarga. Puasa berada di perantauan, dan menjalin hubungan jarak jauh, ditambah sekarang hubunganku terjeda dengan Bulan." ungkapnya sembari sesekali mengusap wajahnya.


Memang benar apa yang diucapkan oleh Surya, Bulan Ramadhan ini memang menjadi pengalaman pertama baginya jauh dari keluarga dan orang tua, berada jauh di perantauan, dan hubungannya dengan Bulan yang juga berada di ujung tanduk. Jika memang Allah tengah mencobai hamba-Nya, maka kali ini Surya serasa tengah mendapat ujian dari Allah.


Ujian dengan berada sendirian di Kota Makassar tanpa keluarga dan sanak keluarga. Ujian dengan permasalahan cintanya bersama Bulan. Semua ujian itu tentu saja membuat pria itu merasa pusing. Hanya saja memang terkadang seorang pria begitu piawai menyembunyikan permasalahannya. Memilih diam dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal dalam pikirannya seolah sebuah bom waktu tengah bersiap untuk meledak.


"Sabar Surya ... semua masalah tentu ada jalan keluarnya. Aku pun tak menyangka bahwa gadis yang selama ini disukai oleh Bintang ternyata adalah Bulan. Akan tetapi, jika menilik ke belakang rasanya bukan hal yang cukup mengejutkan. Sebab dulu sekali, aku sering melihat bagaimana Bintang menatap Bulan. Dari pandangan dan sorot matanya saja sudah terlihat jika pria itu sangat mencintai Bulan. Itu memang perasaan yang dalam dan tulus, cinta dalam diam. Beberapa tahun berlalu akhirnya, Bintang berani mengutarakan isi hatinya." cerita Arunika yang rupanya juga memperhatikan sikap Bintang selama ini.


Surya pun tersenyum kecut. "Berarti hanya aku yang tidak menyadari betapa dalamnya perasaan Bintang untuk Bulan ... apa memang aku yang tidak memperhatikan di sekelilingku. Rasanya aku menjadi pria paling bodoh, hanya tertuju pada diriku sendiri. Padahal ada pria lain yang begitu dalamnya mencintai gadis yang kini menjadi kekasihku. Hatiku sungguh galau." aku Surya bahwa dirinya saat ini tengah galau.


"Sabar ... aku cuma bisa bilang supaya kamu sabar. Semua ada hikmahnya. Akan tetapi, jika aku boleh memberi saran, jangan terlalu lama mengambil jeda. Menggantung sebuah hubungan kita tidak baik. Kasihan juga Bulan, aku tahu pasti di sana Bulan merasa bersalah di satu sisi, tetapi di sisi lain sudah pasti dia juga bingung harus melakukan apa. Berdiri di antara ketidakpastian itu sangat tidak enak. Sebab, aku pernah merasakannya hingga akhirnya ya hubunganku dengan Bintang harus berakhir."


Menyadari bahwa apa yang disampaikan Arunika ada benarnya, Surya lantas menimbang-nimbang haruskah dia segera memperjelas status hubungannya dengan Bulan. Memeriksa kembali hatinya apakah masih ada cinta dan kepercayaan untuk Bulan? Menimbang kembali isi hatinya bahwa keduanya akan sama-sama bertahan dalam hubungan jarak jauh yang tidak tahu akan berakhir sampai kapan. Namun, di satu sisi pria itu merasakan nyeri di dalam dadanya saat mengingat pengakuan Bulan bahwa Bintang menciumnya. Sudah pasti Surya pun berpikir bahwa itu bukan sekadar ciuman di kening, di punggung tangan, atau pun di pipi. Pria itu berpikiran bahwa ciuman yang Bintang dan Bulan lakukan adalah ciuman di bibir. Membayangkan semua itu, pria itu serasa merasakan remasan di dalam hatinya.

__ADS_1


"Jika pesawat udara sudah melayani rute penerbangan, aku akan pulang ke Jogja, Nika ... rasanya tidak enak memutuskan sesuatu hanya melalui panggilan telepon. Aku akan pulang ke Jogja nanti dan berbicara langsung dengan Bulan. Sekaligus, aku ingin menemui Bintang. Banyak hal yang harus aku bicarakan dengannya." ucap Surya dengan pandangan mata yang lurus ke depan.


Arunika pun mengangguk samar. "Baiklah jika itu maumu, kuharap apa pun masalahmu akan segera terselesaikan. Tidak ada pertikaian lagi antara kamu, Bulan, dan Bintang." harapan Arunika pada akhirnya, dia hanya tidak ingin terjadi pertikaian di antara ketiganya.


Surya pun akhirnya tersenyum tipis. "Oke, baiklah ... terima kasih sudah mendengarkanku. Setidaknya aku bisa berbagi kegalauanku ini. Saat ini aku benar-benar menjadi pria galau." ucapnya sembari terkekeh.


Menertawakan dirinya sendiri, mengakui bahwa dirinya adalah seorang pria galau.


"Sama-sama Surya ... jangan terlalu membebani dirimu sendiri dan berpikirlah yang panjang.Jangan sampai apa yang sudah kita lakukan dan putuskan pada akhirnya justru akan membuat kita menyesal." kata Arunika dengan sungguh-sungguh.


Seolah terhenyak, Surya menyadari bahwa dia tidak ingin gegabah. Lagi-lagi apa yang diucapkan Arunika adalah sebuah kebenaran, jangan sampai di kemudian hari nanti dirinya menerima penyesalan imbas dari apa yang sudah diputuskan dan dilakukannya.


"Iya ... benar yang kamu ucapkan. Semoga saja, semua yang aku lakukan tidak akan kusesali di kemudian hari. Kadang aku harus berdiri di atas benang tipis di mana terdapat cinta, kepercayaan, dan persahabatan. Benang tipis yang mudah sekali untuk putus. Pilihan yang serba salah." ucapnya.


"Setidaknya, ikutilah kata hatimu karena hati tahu apa yang menjadi pilihanmu. Hatimu akan menunjukkan apa yang benar dan apa yang salah. Dengarkan kata hatimu dan lakukanlah itu." ucap Arunika dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Surya pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum samar. "Tentu ... tentu aku mengecek kembali apa yang ada dalam hatiku. Aku sungguh berharap apa pun yang terjadi ke depannya adalah yang terbaik bagi kami bertiga. Semoga saja." sahut Surya sembari berharap bahwa di kemudian hari apa pun yang terjadi adalah yang terbaik bagi dia, Bulan, dan juga Bintang.


__ADS_2