Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Berikan Aku Kesempatan


__ADS_3

"Jadi, kapan kamu akan membuka hati?" Tanya Bintang dengan lirih kepada Bulan. Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba memang, sayangnya pria itu seolah menanyakan hal itu dengan sponstan.


Bulan pun nampak membelalak mendengar pertanyaan Bintang. Untung saja, dia sedang tidak meminum tehnya, jika dia sedang meminumnya, bisa-bisa dia akan tersedak dengan pertanyaan dadakan dari Bintang tersebut.


"Sayangnya, aku belum memikirkan ke arah sana, Bin ... lagipula, baru juga hubunganku bersamanya usai. Tidak semudah itu membuka hati lagi dengan sebuah hubungan yang baru," jawabnya dengan sungguh-sungguh. Lagipula kembali membuka hati tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih sebelumnya, sudah 6 tahun lamanya, dia menjalani hubungan yang serius dengan Surya. Disaatnya hatinya memilih melepaskan, Bulan hanya berharap dia bisa benar-benar melepaskan tanpa ada rasa menyesal.


Bintang kemudian melihat jam di pergelangan tangannya, "masih ada waktu 45 menit sebelum ke sessi selanjutnya. Mau jalan-jalan ke belakang sebentar? Ada kebun bunga di belakang gedung ini," ucapnya yang tengah berusaha mengajak Bulan untuk berjalan sebentar ke kebun bunga yang terletak di belakang gedung yang digunakan untuk pelatihan tersebut.


"Boleh ...." Bulan menjawab sembari menganggukkan kepalanya, gadis itu kemudian menaruh terlebih dahulu teh yang semula dalam genggaman tangannya dan kemudian berjalan bersama Bintang menuju kebun bunga yang berada di belakang gedung tersebut.


Keduanya berjalan bersama dengan sama-sama diam, hanya mengamati pesona kebun yang asri yang berada di belakang gedung pertemuan tersebut. Bahkan dari tempat ini pun, Gunung Merapi berdiri dengan megahnya, dengan puncaknya yang seolah-olah mengeluarkan asap yang mengepul.


"Kamu tahun Bulan, bahwa semua bunga yang indah ini tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan seluruh bagian dari tumbuhan seperti akar, batang, ranting, dan juga daun. Jangan lupakan juga dengan tanah dan untuk air, bahkan sinar matahari di atas sana yang membuat bunga-bunga mekar dengan sempurna. Seperti itu kehidupan Bulan, tidak selamanya semua berjalan dan terjadi seperti yang kita mau. Ada banyak komponen yang menyertainya. Jadi, aku sungguh berharap, kamu tidak akan terlalu lama berlarut dalam kesedihanmu. Bukannya, aku bertindak jahat, tetapi sama seperti bunga itu yang bermekaran indah, aku berharap hari-harimu ke depannya akan bermekaran dengan indah seperti bunga-bunga ini," ucap pria itu dengan serius.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Bintang, satu tangan gadis itu pun terulur untuk menyentuh bunga berwarna pink yang bermekaran dengan indah itu, "bunganya cantik sekali," ucapnya sembari menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.

__ADS_1


Hati Bintang begitu bahagia bisa bertemu dengan Bulan di sini, pria itu bahkan tersenyum mengamati Bulan yang tengah memandang keindahan dari berbagai macam bunga yang bermekaran di sana.


"Ia memang tumbuh dengan sangat cantik," sahut Bintang, sembari memetik satu bunga dan menyerahkannya kepada Bulan, "ini untukmu."


Seakan tak percaya dengan perlakuan Bintang, Bulan justru tertegun, gadis itu seolah tak percaya, saat Bintang memetik satu bunga dari kebun itu dan menyerahkannya kepadanya. Bulan lantas mengulurkan tangannya untuk menerimanya, "terima kasih, seharusnya jangan memetik bunga-bunga ini. Semua bunga akan terasa indah, jika dia hidup di tempatnya."


Bintang pun tersenyum mendengarkan ucapan Bulan, kemudian dia memberanikan diri untuk kembali bertanya sesuatu kepada Bulan, "sekarang hubunganmu berakhir, bagaimana perasaanmu sekarang?"


Pertanyaan yang cukup sensitif sebenarnya bagi Bulan, selama ini belum ada orang yang menanyakan bagaimana perasaannya setelah memilih mengakhiri semuanya. Gadis itu kemudian tersenyum getir, "menurutmu, apa aku sudah keterlaluan ya Bin? Memang selama menjalani hubungan jarak jauh dengan Surya, pria itu terkesan posesif dan sering emosi. Akan tetapi, aku pun merasa bersalah, aku yang justru beberapa kali berdekatan denganmu dan secara tidak langsung itu memicu rasa cemburunya. Ada perasaan bersalah di sini, tetapi aku pun ketakutan saat Surya menciumnya dengan paksa. Seluruh bibir dan leherku terasa sakit semua saat itu." Bulan kembali mengenang bagaimana dulu Surya menciumnya dengan kasar hingga bibirnya perih lantaran berdarah, lehernya pun sakit karena cengkeraman tangan Surya di lehernya.


"Andai aku bisa menahan diri untuk tidak menciummu saat itu. Maaf." Bintang kembali meminta maaf, pria itu merasa bersalah karena telah mencium Bulan dan itu justru menjadi salah satu pemicu kandasnya hubungannya dengan Surya.


Bulan nampak menggelengkan kepalanya, "tidak ... tetapi, sebaiknya jangan bahas itu lagi. Ayo, kita kembali ke dalam, keliatannya sebentar lagi Sessi selanjutnya akan dimulai," ajaknya kepada Bintang untuk kembali memasuki tempat pelatihan.


Tidak terasa, Bulan melanjutkan untuk melanjutkan Sessi selanjutnya. Hingga tidak terasa, jam pulang dari pelatihan pun tiba. Perlahan, Bintang menghampiri Bulan, "pulang sama aku ya ... tunggu dulu sepuluh menit ya, aku briefing dulu dan merapikan semua peralatannya ini."

__ADS_1


Bulan mengangguk, kemudian dia memilih menunggu di luar ruangan, di sana dia membuka handphone dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Bapaknya bahwa Bapaknya memberinya izin untuk diantar Bintang. Gadis itu berpikir, mengapa jika menyangkut Bintang bahkan orang tuanya bersikap begitu lunak. Gadis itu memilih duduk dan kemudian berselancar sejenak di media sosialnya, melihat beberapa postingan cerita dari teman-temannya, hingga tidak terasa gerimis pun mulai turun. Gadis itu mengulurkan satu telapak tangannya, dan membiarkan percikan air hujan membasahi satu telapak tangannya. Bahkan gadis itu nampak tersenyum sejenak.


"Ayo, kita pulang," ucapan dari Bintang yang seketika membuat Bulan terhenyak dan menarik tangannya yang sudah basah terkena gerimis.


Bulan kemudian mengangguk dan mengikuti Bintang, kedua berlari kecil menuju mobil yang untung saja tidak jauh dari tempat mereka, sehingga hanya cukup berlari sedikit, menembus gerimis dan keduanya kini sudah sama-sama di dalam mobilnya.


Perlahan Bintang melajukan mobilnya, hanya diam, dan tangannya saja yang bergerak aktif mengemudikan stir mobil, dan kakinya yang mengoperasikan rem dan pedal.


"Kenapa setiap bersamamu, hujan ya?" Tanya Bulan dengan tiba-tiba.


Cukup aneh memang, tetapi beberapa kali bersama atau bertemu dengan Bintang, tiba-tiba sana langit mengguyurkan hujannya ke Bumi.


Bintang pun tersenyum, "mungkin hujan inilah yang menjadi cara Tuhan untuk mendekatkan kita. Jadi, mungkinkah kamu mau memberiku kesempatan, Bulan?"


"Ha, apa?" Tanya Bulan yang seolah tidak percaya dengan pertanyaan dari Bintang barusan.

__ADS_1


Perlahan Bintang menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan kemudian satu tanganya terulur guna meraih satu tangan Bulan, "bisakah kamu memberiku kesempatan, Bulan? Aku serius dengan perkataanku ini. Lagipula hatimu sudah menjadi milikmu sejak dulu. Aku tidak akan bermain-main, Bulan. Aku sangat serius dengan perasaanku ini."


__ADS_2