Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Hujan Tiba-Tiba


__ADS_3

Dengan menggenggam tangan Bulan, keduanya masih berusaha menyusuri sungai yang arus dan ke ********** hingga mata kaki itu. Bintang benar-benar memastikan supaya Bulan bisa menyusuri sungai dengan selamat.


Pelan tidak masalah asalkan bisa menyebrangi sungai dengan selamat. Lagipula, dia tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia menjadi pemandu jalan dan memastikan keselamatan Bulan.


Awan gelap di atas kepala semakin turun, semilir angin pegunungan juga menerpa keduanya membuat kaki-kaki telanjang yang masih berusaha menyusuri sungai itu merasakan hawa dingin merasuk hingga ke dalam tulang rasanya.


"Hati-hati saja Bulan ... yang penting bisa menyusuri sungai ini dulu." ucap Bintang.


"Iya Bin ... tetapi, awan gelapnya makin turun. Nanti kalau hujan gimana coba?" tanyanya dengan wajah menengadah melihat pergerakan awan hitam yang serasa berada di atas kepala.


Bintang pun turut menengadahkan wajahnya, melihat pada gerombolan awan gelap yang memang berjalan turun. Kemudian Bintang mengedarkan matanya ke kanan dan ke kiri. Di alam terbuka, benar-benar tidak ada tempat untuk berteduh jika nanti hujan turun.


"Mau agak cepat enggak?" tanyanya sembari menatap wajah Bulan.


Gadis itu menganggukkan kepalanya. "Iya ... yuk. Kehujanan di tempat terbuka kayak gini enggak lucu, Bin." ucapnya yang terus berjalan mengikuti langkah kaki Bintang.


Beberapa menit berlalu, keduanya telah berhasil menyeberangi sungai. Dengan berat hati Bintang pun melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Bulan untuk terus berjalan. Akan tetapi, awan tebal yang terus bergerak tiba-tiba mengguyurkan hujan secara tiba-tiba.


Sontak saja dua anak manusia itu berlarian di jalan setapak berusaha mencapai mobil yang terparkir beberapa meter lagi jaraknya. Bulan berlari lebih dulu, hingga kemudian Bintang melepas jaket bomber yang dia kenakan lalu berlari dan menudungi kepala Bulan dan kepalanya dengan jaket itu. Menjadikan jaket itu sebagai payungnya.


Sontak mata Bulan melirik pada Bintang. Lagi-lagi dia tidak menyangka bahwa Bintang akan merelakan jaketnya untuk menudungi kepala keduanya berlarian saat hujan.


"Ayo kita lari, Bulan ... beberapa meter lagi sampai di mobil." ucap Bintang yang terus mengingatkan Bulan untuk berlari.


Mengerjap dan kemudian Bulan pun mengangguk. "Ii ... iya." ucapnya dengan terus berlari seirama bersama dengan Bintang.


Begitu sampai di mobil, dengan segera Bintang membukakan pintu bagi Bulan dan membiarkannya masuk terlebih dahulu. Kemudian dia mengitari mobil, barulah kemudian dia duduk di kursi kemudian.

__ADS_1


Setelahnya dia menyodorkan kotak tissue kepada Bulan. "Silakan ... wajah kamu basah." ucapnya.


Bulan pun mengangguk dan mengambil beberapa lembar tissue untuk menyeka wajahnya yang kebasahan lantaran hujan yang turun tiba-tiba.


Bintang pun melakukan hal yang sama, dia menyeka wajahnya dengan tissue dan mengacak rambutnya yang sedikit terkena hujan. Suasana tengah hujan, keduanya masih berada di area pegunungan dan sekarang terjebak di dalam mobil sembari menunggu awan gelap itu perlahan menghilang, suasana di dalam mobil terasa begitu canggung. Sebelumnya pun, Bulan tidak pernah terjebak dalam suasana seperti ini bersama Surya.


Saat Bulan masih menyeka wajahnya, petir tiba-tiba terdengar dan kilatannya seolah menyambar hingga Bulan memejamkan mata dan menutupi telinganya, bentuk tindakan secara refleks karena dia memang takut petir.


Bintang yang melihatnya seketika menepuk satu pundak Bulan. "Tidak apa-apa ... jangan takut. Ada aku." ucapnya yang berusaha menenangkan Bulan.


Perlahan kelopak mata Bulan membuka dan dia melihat Bintang yang berusaha menenangkannya. "Makasih Bin ...." jawabnya dengan gugup.


"Kita turun menunggu hujannya agak reda ya Bulan ... ini deras banget. Awannya biar menyingkir dulu ya." ucap Bintang perlahan.


"Iya '... aku ngikut kamu aja Bin." ucapnya sembari menautkan jari jemari tangannya. Selain karena dingin, juga karena canggung dengan suasana yang seperti ini.


Bulan menganggukkan kepalanya. "Iya Bin ... makasih."


Karena situasi yang sangat canggung, Bulan membuang mukanya menoleh pada kaca jendelanya yang tidak sepenuhnya jelas karena begitu derasnya hujan di luar sana. Namun tiba-tiba, suara guntur begitu menggelegar hingga jantung Bulan berdegup dengan begitu kencangnya.


Air hujan yang turun dari langit seolah tidak ada habisnya dan suara gemuruh petir yang menyambar-nyambar membuat Bulan memejamkan mata dan sesekali menutupi kedua telinganya.


Menyadari bahwa Bulan nampak ketakutan, Bintang sedikit meringsut dan satu tangannya meraih tangan Bulan membawanya dalam genggamannya dan satu tangan yang lain mengusap-usapnya perlahan. "Jangan takut ...." ucapnya menenangkan.


Bulan menghela napasnya dan kemudian sorot matanya turun melihat bagaimana Bintang mencoba menenangkannya dengan menggenggam dan mengusap punggung tangannya perlahan. Kehangatan yang Bintang lakukan benar-benar sangat berarti bagi Bulan saat ini. Seolah kehangatan itu Bintang salurkan melalui usapan di punggung tangan itu.


"Hujannya lama enggak ya Bin?" tanya Bulan perlahan.

__ADS_1


Sungguh, Bulan rasanya begitu canggung dan ingin rasanya hujan yang begitu deras itu segera reda.


"Kalau hujan di pegunungan biasanya tidak terlalu lama sih. Semoga habis ini, hujannya reda." ucap Bintang dengan perlahan.


"Euhm, Bin ... keliatannya aku sudah gak apa-apa. Aku sudah tidak takut lagi. Terima kasih." ucap Bulan yang berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Bintang.


Bintang pun mengangguk. "Ah iya ... aku tidak bermaksud apa-apa, Bulan. Maaf...." ucapnya sembari melepaskan genggaman tangan Bulan dan berhenti mengusap punggung tangannya.


"Tidak apa-apa. Makasih banyak ya Bin ... semoga juga hujannya segera reda, sehingga kita bisa segera turun kembali ke Jogja." ucap Bulan.


Bintang pun juga menganggukkan kepala. "Semoga segera reda ya, atau mau turun sekarang pelan-pelan? Tadi kabutnya gelap, bagaimana?"


Memang benar awan yang turun dari pegunungan membuat daerah di sekitarnya menjadi berkabut. "Kita tunggu saja Bin ... kabutnya gelap soalnya. Aku takut kalau memaksakan turun justru terjadi kenapa-napa."


Mencoba realistis, sekalipun hatinya terasa begitu canggung. Akan tetapi, keselamatan tetaplah hal yang utama.


Di tengah keheningan yang tercipta di dalam mobil, tiba-tiba handphone Bulan pun berdering. Dengan segera Bulan mengambil handphonenya yang sedari tadi berada di dalam slingbag nya. Agak gugup karena Surya yang tengah menelponnya.


Bulan sejenak menatap Bintang, "Dari Surya...." ungkapnya.


"Angkat saja Bulan ... toh, kita juga enggak ngapa-ngapain." sahut Bintang dengan cepat.


Bulan pun mengangguk pias, dia segera menggeser tombol hijau di layar handphonenya.


"Halo Surya ... ada apa?" tanyanya begitu panggilan telepon itu tersambunh.


"Kamu di mana Bulan? Sejak jadi aku berusaha menghubungimu tetapi tidak bisa?" ucapnya dengan emosi yang terasa dalam setiap kata-katanya.

__ADS_1


Bulan menghela napasnya sejenaknya. Kemudian dia menjawab pertanyaan Surya. "Aku sedang pergi keluar sama Bintang, Surya...."


__ADS_2