Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Bidikan Kamera


__ADS_3

Tidak ada orang yang mau mengalami ban bocor saat di jalan. Begitu juga dengan Bulan. Masih beruntung, di tengah masalah yang dia hadapi kali ini ada seseorang yang datang menolongnya. Bintang telah menolong Bulan.


"Kamu kalau mau lanjut bekerja silakan loh, Bin ... aku tunggu di sini gak papa sampai penambal ban nya datang." ucap Bulan yang masih merasa tidak enak kepada Bintang.


Sekalipun mereka telah mengenal lama, tetapi jika sampai membuat Bintang terlambat bekerja rasanya tidak enak bagi Bulan.


"Tidak apa-apa ... aku temenin kamu dulu. Sebenarnya aku sudah mulai bekerja dari rumah kok. Sudah lebih dari satu bulan ini. Ke kantor cuma buat ngambil Hardisk Eksternal aja." ucap Bintang sembari duduk tidak jauh dari Bulan.


"Enak dong ya, bisa kerja dari rumah. Aku tetap harus masuk ke sekolah, ngajar online. Muridnya libur, tetapi gurunya tetap masuk." cerita Bulan tentang pekerjaannya sebagai guru yang tetap membuatnya masuk ke sekolah.


Bintang pun mendengar cerita Bulan dan kemudian menjawabnya. "Tidak apa-apa, menjadi guru itu pekerjaan yang mulia."


Satu kata yang terlintas dalam benak semua orang bahwa menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia. Pekerjaan menabur ilmu kepada anak-anak supaya mereka sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa menjadi bisa, yang tidak mengerti menjadi mengerti. Namun, itulah salah satu yang membuat Bulan mengejar cita-citanya menjadi seorang guru.


Guru adalah pahlawan tanda jasa, lagipula semua guru adalah pahlawan bagi para muridnya. Mereka mendedikasinya hidup dan waktunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.


Mendengar balasan dari Bintang membuat Bulan tersenyum. "Makasih Bin ... semua orang pasti bilang begitu kok. Menjadi guru itu tugas yang mulia. Akan tetapi, di masa Covid ini menjadi guru lelah banget. Pekerjaan kami melebihi saat sekolah tatap muka seperti biasanya. Harus mempersiapkan bahan ajar, menilai tugas melalui foto yang dikirimkan, komunikasi dengan orang tua murid, juga mengingatkan PR supaya dikerjakan. Lebih banyak pekerjaannya." cerita Bulan sembari membenarkan posisi maskernya.


Bintang yang mendengarkan pun tersenyum. "Kerjakan semua dengan hati. Karena apa yang kita kerjakan dengan hati dampaknya akan terasa sampai ke hati." ucapnya yang sukses membuat Bulan tertegun sesaat.


Ya, Bulan tertegun mendengar ucapan Bintang. Benar sekali "because it's secretly connected heart to heart".


"Aku suka kata-katamu barusan. Aku juga setuju, kalau pekerjaan yang kita kerjakan dengan passion, dengan hati akan bisa menyentuh hati orang lain." ucap Bulan dengan semangat.


Bintang pun hanya tersenyum, senyuman yang tentu tidak terlihat karena masker yang tengah ia kenakan. "Jadi kapan kamu akan membuat Kue Bolu, Bulan?" tanya Bintang yang kembali menanyakan kapan Bulan akan membuat Kue Bolu.

__ADS_1


"Aku sampai lupa, Bin ... aku masih sibuk. Nanti, kalau aku sudah membuatnya aku akan mengabarimu ya. Ngomong-ngomong kemarin aku lewat rumahmu." cerita Bulan kepada Bintang.


"Hmm, kenapa kamu lewat rumahku?" tanya Bintang sembari seolah bingung mengapa Bulan tumben sampai di daerah rumahnya.


"Ada muridku yang orang tuanya positif Covid... kemarin aku menjenguk muridku itu. Akhirnya aku membawa muridku pulang ke rumah, karena Bapak dan Ibunya sama-sama positif. Kasihan dia sendirian di rumah." ceritanya sembari betapa hatinya begitu iba saat mendapati Kartika menangis di sudut kamarnya.


"Apa rumah Pak Sutino?" sahut Bintang dengan cepat.


Bulan pun menganggukkan kepalanya. "Iya ... anaknya bernama Kartika adalah muridku. Kemarin aku ke sana dan membawa Kartika pulang ke rumah. Kasihan anak sekecil itu harus sendirian di rumah. Tidak ada yang merawatnya di saat kedua orang tuanya sama-sama dijemput ambulance dan dibawa ke Rumah Sakit."


"Kalau anaknya apakah negatif? Maksudku non-reaktif. Aku hanya khawatir kalau-kalau anak itu ternyata positif dan bisa membuatmu dan keluarga tertular." tanya Bintang dengan wajah cukup cemas.


Bulan menghela nafasnya sembari melipat kedua tangannya. "Iya ... ada surat dari petugas medis kalau hasil tes usap (swab) Kartika negatif. Karena itulah aku berani membawanya pulang ke rumah."


Beberapa saat mereka mengobrol hingga akhirnya penambal ban datang. Bintang segera berdiri dan menyambut penambal ban langganannya itu.


"Sudah lama, Mas?" tanya penambal ban yang datang dengan sepeda motor lengkap dengan berbagai peralatan tambal ban yang terpasang di sadel sepeda motornya.


"Lumayan Mas ..." sahut Bintang. "Tolong dilihat ya Mas, ini bocornya kena apa?"


Tanpa menunggu waktu lama, penambal ban itu mulai mengeluarkan ban, tangan meraba dan mencari-cari bila saja ada paku yang bersarang di ban tersebut. Beberapa saat tangannya bergerak, akhirnya dia menemukan sebuah paku.


"Kena paku ini, Mas..." ucap penambal ban itu sembari menunjukkan sebuah paku yang dia dapatkan.


Bintang dan Bulan pun sama-sama melihat paku yang cukup besar itu.

__ADS_1


"Mau ditambal aja atau diganti ban dalamnya sekalian Mas? Ini sobeknya cukup panjang soalnya." ucap penambal ban itu.


Tanpa melihat kepada Bulan, Bintang pun mengiyakan supaya diganti ban dalam saja. "Ganti ban dalam saja Mas, biar lebih aman dan awet."


Sontak Bulan pun menatap Bintang. "Kenapa diganti ban, Bin?"


"Karena robeknya panjang, biar aman saja kalau kamu pakai." jawab Bintang dengan tenang.


Gadis itu pun menganggukkan kepalanya dan kembali duduk, begitu juga dengan Bintang yang juga mengambil tempat duduk di samping Bulan.


"Ban kalau robeknya panjang dan dalam justru berbahaya. Jadi diganti saja sekalian. Sepeda motor itu bagian yang harus sehat adalah ban dan remnya. Seringkali kecelakaan terjadi karena ban kempes atau bocor, juga karena rem yang rusak. Jadi lebih baik diganti saja." penjelasan Bintang yang diangguki oleh Bulan.


"Makasih banyak ya Bin, malahan ngerepotin nih aku. Kamu tahu banyak tentang sepeda motor ya?" tanya Bulan kepada pria di sebelahnya itu.


Bintang menganggukkan kepalanya. "Ya lumayan ... sekadar tahu aja sih. Kalau tahu banget ya enggak."


"O..." jawaban Bulan yang hanya bisa ber-O ria saat Bintang menjawab pertanyaannya.


Tanpa sepengetahuan mereka, saat mereka tengah duduk dan mengobrol, sembari menunggu sepeda motor Bulan yang sedang diganti ban dalamnya, ada orang yang diam-diam memotret mereka. Bulan dan Bintang yang tengah duduk bersama sembari mengobrol tidak tahu jika ada orang lain yang membidiknya dengan kamera.


Kemudian hasil jepretan itu dikirimkan kepada Surya.


[To: Surya]


[Gambar terkirim🖼]

__ADS_1


__ADS_2