Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Keputusan Terbesar


__ADS_3

"Lalu, apa yang menjadi keputusanmu saat ini?" tanya Pak Hartono kepada putrinya itu.


Hubungan Bulan dan Surya tengah dalam masalah, bahkan ada jeda hampir dua bulan dalam hubungannya. Oleh karena itu, Pak Hartono ingin mengetahui apa yang menjadi keputusan Bulan.


Sebagai orang tua, Pak Hartono tidak memaksakan kehendaknya kepada anak. Beliau justru adalah orang tua yang demokratis dan berpikiran modern. Dalam keputusan yang menyangkut masa depan Bulan, sudah pasti Pak Hartono akan selalu menyertakan Bulan dalam mengambil keputusan. Mengetahui apa yang dimaui oleh anaknya.


Bulan nampak terdiam, pikirannya serasa penuh kali ini. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Bapaknya benar. Dia harus segera mengambil keputusan. Nampak gadis itu menggigit bibir bagian dalamnya, berusaha memahami apa yang menjadi keinginannya saat ini. Hingga kemudian, Bulan mengangkat wajahnya dan mulai menatap wajah kedua orang tuanya.


"Bapak dan Ibu ... sebelumnya Bulan ingin menyampaikan uneg-uneg yang selama ini Bulan rasakan. Selama menjalani hubungan jarak jauh, Bulan selalu berusaha setia dengan Surya. Menjaga hati Bulan untuk Surya. Hingga Surya tiba-tiba bersikap sangat posesif, dan kejujuran Bulan justru menjadi boomerang bagi Bulan sendiri. Bukankah dalam hubungan dibutuhkan kepercayaan? Sayangnya, setiap kali Bulan jujur yang ada justru Surya berakhir semakin posesif. Juga hari ini, kami berdua bertemu dengan tiba-tiba, melihat sikap Surya yang kasar, Bulan berpikir tidak bisa lagi untuk meneruskan hubungan ini dengan Surya." ucap Bulan dengan berlinangan air mata.


Pak Hartono dan Bu Sundari pun saling pandang, kemudian menatap putri satu-satunya yang mereka miliki itu.


"Maafkan Bulan ... Bulan kini justru merasa takut dengan Surya. Jika kali ini, dia dengan mudahnya bersikap kasar dan melukai Bulan, bagaimana nanti jika sudah berumah tangga? Bulan tidak suka pria yang main kasar, pria yang lembut dan bisa menghargai seorang wanita jauh lebih baik di mata Bulan." ucap gadis itu sembari terisak.


Pak Hartono dan Bu Sundari pun paham dengan kondisi Bulan saat ini. Segala sesuatu bisa dibicarakan dengan baik-baik, tidak perlu sampai bermain kasar hingga melukai orang lain. Berbicara dari hati ke hati dan juga dengan pikiran dingin jauh lebih baik.


Pak Hartono kemudian menatap Bulan. "Jadi itu keputusanmu? Kamu tidak akan getun (menyesal - dalam bahasa Jawa) di kemudian hari?" tanyanya lagi memastikan bahwa Bulan tidak akan menyesal.

__ADS_1


Gadis itu pun mengangguk. "Tidak ... Bulan tidak akan menyesal dengan keputusan ini." jawabnya dengan keyakinan sepenuh hati.


"Baik ... jika itu keputusanmu. Malam ini juga, Bapak akan mengunjungi kediaman Surya. Lebih cepat lebih baik." ucap Pak Hartono yang kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju. Pria paruh baya itu mengganti pakaian rumahannya dengan mengenakan kemeja batik berlengan panjang. Bu Sundari pun juga turut berganti baju, dan juga mengenakan blus batik berlengan panjang.


"Ambil dulu cincin pertunanganmu, dan kamu tunggu di rumah. Bapak yang akan mengunjungi keluarga Surya bersama dengan Ibumu." ucapnya memberi perintah kepada Bulan untuk mengambil terlebih dahulu cincin pertunangannya.


Setelah itu, dengan mengendarai sepeda motor, keduanya bergegas ke kediaman keluarga Surya.


"Kula nuwun (permisi dalam bahasa Jawa) ...." ucap Pak Hartono mengucapkan salam permisi begitu memasuki kediaman Surya.


Bapak Dana dan Bu Rini, yang tidak lain adalah orang tua Surya pun nampak cukup kaget melihat calon besannya yang tiba-tiba datang ke rumah mereka.


Dua pasang orang tua itu nampak duduk berhadap-hadapan, sebisa mungkin Pak Hartono menunjukkan wajah dan penampilan yang biasa saja, tidak ada jika ada masalah di antara anaknya dengan Surya.


"Bagaimana Pak Hartono dan Bu Sundari, ada perlu apa? Tumben sekali datang ke sini." ucap Pak Dana yang bertanya perihal kedatangan mereka ke rumahnya.


Pak Hartono nampak tersenyum dan kemudian berdehem sebelum mulai berbicara. "Begini, Pak Dana dan Bu Rini. Kami ke sini pertama untuk main saja, silaturahmi ke sini. Lalu, selanjutnya ada yang perlu saya sampaikan perihal anak-anak kita. Tentu kita semua sudah tahu bagaimana hubungan Surya dan Bulan, mereka sudah sama-sama berhubungan sangat lama, 6 tahun ...."

__ADS_1


Belum sempat Pak Hartono meneruskan ucapannya, Pak Dana langsung memotong pembicaraan. "Apakah kita perlu meneruskan acara yang sempat tertunda berbulan-bulan ini?"


Yang dimaksud oleh Pak Dana tentang acara yang tertunda adalah acara pernikahan antara Surya dan juga Bulan. Pria itu menerka dengan pikirannya sendiri, bahwa Pak Hartono datang untuk membahas perihal pernikahan Surya dan Bulan yang sudah lama tertunda.


"Sebentar ... begini Pak. Bukan itu maksud saya." ucap Pak Hartono yang meminta sudah Pak Dana bisa mendengarkan terlebih dahulu ucapannya, tanpa menyela dan menerka-nerka sendiri.


Keadaan di ruang tamu pun tiba-tiba terasa hening. Keempat orang yang berada di situ saling bersitatap satu sama lain.


"Begini Pak Dana dan Bu Rini. Kami ke sini untuk menyampaikan pesan dan keputusan yang sudah diambil oleh Bulan, bahwa dengan berat hati kami memutuskan pertunangan antara Bulan dan Surya." ucap Pak Hartono dengan tegas.


Memutuskan pertunangan dalam tradisi Jawa memang pihak yang memutuskan harus datang ke rumah pasang mereka. Jika saat pertunangan, seorang pria datang ke kediaman wanita dengan baik-baik, maka saat memutuskan hubungan, pihak yang memutuskan juga harus mendatangi kediaman pihak yang bersangkutan dengan baik-baik.


Bagai tersambar petir di siang bolong, Pak Dana dan Bu Rini pun saling tatap.


"Apa karena Bulan sudah tidak mencintai Surya dan sekarang Bulan sudah mencintai pria lain? Bintang misalnya." ucap Bu Rini dengan tiba-tiba. Bukan tanpa alasan, karena Bu Rini pernah memergoki Bulan pernah makan mie ayam berdua dengan Bintang. Maka, tebakan dari Bu Rini, Bulan sudah melupakan Surya.


Pak Hartono nampak menggelengkan kepalanya. "Itu semua tidak benar. Akan tetapi, apa yang terjadi hari ini membuat Bulan akhirnya mengambil keputusan ini, Tidak ada intervensi atau campur tangan dari kami berdua selaku orang tuanya. Tadi di Malioboro, Bulan secara tidak sengaja bertemu dengan Surya. Keduanya terlibat adu mulut, hingga akhirnya Surya mencium Bulan dengan paksa dan kasar, hingga sudut bibir Bulan berdarah. Terlebih keduanya sama-sama menjeda hubungan mereka selama hampir dua bulan. Maka dari itu, Bulan sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Surya." ucap Pak Hartono dibarengi dengan menaruh kotak merah beludru yang di dalamnya berisikan cincin pertunangan dari pihak keluarga Surya.

__ADS_1


"Mohon maaf sebelumnya, kami datang untuk menyampaikan itu ... jika selama ini anak kami bersalah, sebagai orang tua kami meminta maaf atas namanya. Hubungan keduanya di awali dengan niatan yang baik. Sayangnya, kita tidak bisa memaksakan keduanya untuk hidup bersama. Demikian tujuan dari kami sowan (berkunjung - dalam bahasa Jawa) ke sini. Apabila kami berdua pun selama ini memiliki kesalahan, kami pun meminta maaf." ucap Pak Hartono.


Sementara pihak dari Keluarga Dana tentu tertegun dengan berita yang dibawa oleh Pak Hartono. Memutuskan pertunangan yang sudah berjalan beberapa tahun tidak mudah bukan. Sayangnya mereka harus menerima kenyataan pahit, bahwa pihak Bulan, pihak perempuan telah datang dan memutuskan hubungan pertunangan mereka berdua.


__ADS_2