Antara Cinta Dan Corona

Antara Cinta Dan Corona
Lamaran


__ADS_3

Hari kian berganti, rasanya menjalin hubungan dengan Bulan membuat hari-hari pria bernama Bintang penuh dengan warna. Tentunya semua warna yang ada adalah warna-warni cinta.


Tidak ingin berlama-lama dengan memacari Bulan, maka Bintang pun berinisiatif untuk segera melamar gadis pujaannya itu. Ya, sore ini orang tua dari Bintang akan berkunjung ke rumah Bulan dan akan meminta kepada keluarga Pak Hartono untuk mengizinkan mereka melamar putrinya bagi Bintang.


Menjelang petang, rupanya memang kedua orang tua Bintang menyambangi kediaman keluarga Bulan.


"Selamat sore Pak Hartono dan Bu Sundari..." sapa kedua orang tua Bintang kepada Pak Hartono dan Bu Sundari.

__ADS_1


"Sore ... silakan masuk." Dengan ramah Pak Hartono dan Bu Sundari menerima kedatangan kedua orang tua Bintang tersebut dan mempersilakan mereka untuk masuk.


"Begini Pak ... tujuan kami datang ke mari selain untuk bersilaturahmi dan juga ingin meminta kepada Pak Hartono dan Bu Sundari sebagai orang tua Bulan untuk meminta Bulan mau menjadi pendamping bagi Bintang." ucap Pak Pratama kepada Pak Hartono.


Mendengarkan ucapan dan niat baik dari pihak keluarga Bintang pun, sudah tentu mereka bahagia. Pak Hartono pun mengangguk, "Kami menerima dengan baik niat dari keluarga Pak Pratama. Terima kasih karena sudah mau menerima anak kami untuk Mas Bintang. Selebihnya biar Bulan yang menjawab, karena kami ingin hanya keinginan Bulan saja yang terjadi. Jika Bulan setuju, kami sebagai orang tua juga akan mendukung dan menyetujuinya." sahut Pak Hartono.


Tidak lama kemudian, Bu Sundari pun memanggilkan Bulan. Gadis ayu tampak menyalami kedua orang tua Bintang, tidak lupa dia mengangguk dan tersenyum melihat pria yang saat itu datang dengan mengenakan kemeja batik.

__ADS_1


Sebelum menjawab, Bulan tampak menatap wajah Bapak dan Ibunya terlebih dahulu. Setelah kedua orang tuanya sama-sama mengangguk, barulah Bulan mulai bersuara.


"Ya ... saya mau mendampingi Bintang, Pak..." jawab gadis itu sembari tersenyum. Wajahnya pun bersemu merah saat mengatakan bahwa dia menerima lamaran dari keluarga Bintang.


Tidak dipungkiri bahwa Bintang pun bahagia. Gadis yang sangat dicintainya, gadis yang selalu dia impikan akhirnya mau menerima pinangannya. Bintang akan benar-benar menjadikan Bulan sebagai pendamping hidupnya. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menikahi Bulan. Sebab Bintang yakin dengan perasaannya. Setelah Bulan setuju, Bu Rini pun lantas menyerahkan sebuah cincin kepada Bulan, sebagai tanda bahwa dirinya telah terikat dengan Bintang.


"Juga begini Mbak Bulan ... sebaiknya tidak perlu menunda-nunda pernikahan. Sekalipun masa pandemi, setidaknya melakukan akad saja tidak masalah. Resepsinya bisa ditunda saat kondisi benar-benar baik. Yang penting sah dulu secara hukum dan agama. Bagaimana?" tanya Pak Pratama kepada Bulan.

__ADS_1


Gadis itu pun mengangguk, "Iya Pak... tidak masalah. Yang penting kami berdua sama-sama menjalin hubungan yang sah sehingga tidak menimbulkan fitnah." ucapnya sembari menganggukkan kepalanya.


Baginya tidak masalah jikalau pernikahannya hanya sebatas akad. Itu jauh lebih baik daripada rencananya dahulu yang gagal menikah. Bukan pesta besar-besaran yang Bulan inginkan. Dia menginginkan bisa bersanding dengan pria yang kini benar-benar mencintainya itu.


__ADS_2