
...***...
Seperti kabar yang beredar, bahwa kelompok setan jahat memang membuat kerusuhan dimana-mana. Mereka juga bekerja sama dengan kawanan perampok untuk menjarah desa.
Hari ini Setan Tombak Pencabut Nyawa, membawa beberapa kawanan perampok, untuk membuat kerusuhan di desa Layang. Desa yang letaknya paling ujung di wilayah kerajaan Sendang Agung.
Ketakutan melanda desa itu, tidak ada satupun pemuda yang berani melawan mereka, atau mencegah apa yang telah mereka perbuat.
"Dengar kalian semua, desa ini berada di bawah kekuasaanku!. Kalian tidak akan aku izinkan keluar desa ini." Teriak setan tombak Pencabut Nyawa dengan suara yang sangat keras.
Dengan kekuatan yang ia miliki, ia gunakan untuk menindas rakyat kecil, mengancam keselamatan mereka semua.
"Setidaknya sebelum aku menemukan guru, aku bisa menjarah desa ini. Aku akan menghadiahkan guruku nantinya. Agar dia mau menerimaku sebagai muridnya." Itulah yang terlintas di dalam pikirannya. Tujuannya agar ia diterima oleh seseorang yang akan menjadi gurunya nanti.
Seperti yang dikatakan oleh ketuanya, bahwa ia akan melakukan teror pada desa yang lainnya. Juga mencari guru untuk menambah kesaktian.
"Kalian!. Awasi desa ini." Uacapnya pada anak buah yang ia pimpin. Ia tidak ingin mereka, penduduk desa Layang membangkang, dan malah menyerang balik anak buahnya.
"Untuk sementara waktu aku akan pergi. Kalian tetap berjaga di sini." Perintahnya pada anak buahnya.
"Baik ketua." Dengan semangatnya mereka menjawab perkataan Setan Tombak Pencabut Nyawa.
"Bagus!. Kalau begitu aku pergi." Ia tidak mau berlama-lama di sana. Baginya pekerjaan menakuti, menekan para penduduk, itu sudah cukup. Setelah itu ia pergi ke suatu tempat, untuk mencari seseorang untuk ia jadikan guru dalam olah ilmu Kanuragan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana nasib rakyat yang keselamatannya terancam?. Apakah berita ini sampai ke telinga sang Prabu?. Atau ada yang mau melaporkannya pada sang prabu?. Temukan jawabannya.
...***...
Disatu sisi.
Malam telah menyapa, sepertinya sang prabu telah kemalaman di hutan. Setelah melaksanakan sholat isya, ia berjalan terus mencari perkampungan yang mungkin bisa ia singgahi.
Dua hari melakukan perjalanan, menuruti hatinya hendak melangkah kemana. Dalam hatinya ia terus berdoa, dan dalam sholatnya ia meminta petunjuk, agar dipertemukan dengan orang yang ia cari.
Rasa lelah memang mengahimpirinya, dan senyumnya mengembang, ketika melihat gerbang desa berada di depannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin. Sepertinya aku bisa bermalam di desa ini." Hatinya sedikit lega. Artinya ia tidak perlu bermalam lagi di hutan bukan?.
Sang prabu melangkah menuju gerbang desa. Namun siapa sangka, sang prabu malah dihadang oleh beberapa orang pemuda dengan senjata golok.
"Sampurasun." Sang Prabu berusaha beramah tamah pada mereka semua, ia tidak mau menimbulkan keributan.
"Rampes." Balas mereka semua, namun golok ditangan mereka belum turun juga. Mereka malah bersiap-siap ingin menyerang sang prabu.
"Siapakah kisanak?. Jangan beraninya kisanak memasuki desa ini, tanpa izin dari kami!." Mereka sangat mencurigai kedatangan sang prabu, karena datang malam-malam begini.
"Maaf kisanak. Saya hanyalah seorang pengembara yang kebetulan lewat di daerah sini. Saya hanya ingin menumpang menginap di desa ini." Balas sang prabu dengan sopan. Ia hanya tidak ingin mereka salah faham padanya.
"Omong kosong!. Kisanak pasti seorang penjahat, yang ingin berbuat keonaran di kampung kami!. Sebaiknya kisanak pergi dari sini!." Mereka tidak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh sang prabu. Dan malah menuduh sang prabu orang jahat?.
"Astaghfirullah hal'azim. Saya ini bukanlah orang jahat kisanak." Rasanya sangat sakit dituduh seperti itu, ia tidak terima, tetapi hatinya harus tetap tenang.
"Halah!. Orang jahat mana ada yang mau mengaku!." Hati mereka panas, kepala mereka panas, hingga mereka semua menyerang sang prabu.
Di depan gerbang desa itu, terjadi pertarungan. Dan kebetulan selendang merah melihat keributan itu, menghampiri mereka semua.
"Nini selendang merah." Jaro, salah satu pemuda yang menyerang sang prabu, menyebutkan nama orang yang menghentikan perkelahian itu?.
"Nini selendang merah?." Batin sang prabu terkejut mendengarkan apa yang pemuda itu katakan.
"Apa yang kalian lakukan?. Kenapa kalian malah bertarung di gerbang ini?." Tanya selendang merah ingin mengetahui akar permasalahannya.
"Maaf nini. Ada orang asing, yang mengaku sebagai seorang pengembara yang kemalaman di hutan. Dan dia mau menumpang menginap di desa ini." Waru teman dari Jaro menjelaskan alasan mereka bertarung.
Selendang merah maju ke depan, ia melewati mereka semua. Ia melihat siapa orang yang datang malam hari ke desa ini. Namun alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat seksama siapa lelaki itu.
"Gusti prabu. Hormat hamba gusti Prabu." Selendang terkejut saat mengenali orang itu. Spontan ia memberi hormat pada orang itu, tentunya mereka yang melihat itu terkejut.
"Kalian benar-benar kurang ajar!. Beliau adalah junjungan kalian, gusti Prabu praja permana. Mana hormat sopan santun kalian!." Selendang Merah benar-benar marah. Karena ia tidak menyangka, jika yang mereka serang adalah Prabu Praja Permana?.
"Apa?. Gusti prabu Praja Permana?." Mereka terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Mereka semua langsung merunduk di hadapan sang Prabu.
__ADS_1
"Ampuni kami gusti prabu praja permana." Dengan perasaan takut, mereka semua meminta ampun pada sang Prabu.
"Kalian semua berdirilah. Tidak pantas kalian menyembah padaku. Hanya kepada Allah lah kalian patut menyembah." Ucap sang prabu sambil menyuruh mereka untuk berdiri seperti biasanya.
"Sekali lagi maafkan kebodohan mereka, yang sama seklai tidak mengenali gusti Prabu." Selendang Merah merasa bersalah, atas apa yang mereka perbuat pada sang Prabu.
"Tidak apa-apa nimas. Saya yang salah, datang dimalam hari seperti ini." Sang Prabu juga merasa bersalah, karena datang tidak pada waktunya.
"Baiklah gusti prabu. Kalau begitu mari masuk." Selendang Merah mempersilahkan sang prabu memasuki desa.
"Terima kasih nimas." Sang Prabu merasa lega. Ia beruntung, akhirnya bertemu dengan orang yang ia cari.
Selendang Merah melihat ke arah Jaro. "Dan kau. Siapkan tempat penginapan untuk gusti prabu, agar beliau bisa beristirahat malam ini." Perintah selendang merah pada Jaro. Ia hanya ingin mereka menyambut baik kedatangan sang Prabu.
"Baiklah nini. Akan kami persiapkan." Jaro bersama Waru pergi meninggalkan tempat, mereka melakukan apa yang dikatakan selendang Merah.
"Alhamdulillah hirobbil a'lamin ya Allah. Engkau mengabulkan doa hamba. Akhirnya hamba menemukannya." Batin Sang Prabu merasa lega. Meski tadinya ia hanya terkejut mendengarkan nama selendang merah.
Namun siapa sangka ia mengenakan penutup wajah berwarna merah. pakaian juga merah, selendang yang terikat di pinggang rampingnya juga berwarna merah, pokonya serba merah. Mungkin, karena itulah ia bernama Selendang Merah?. Sungguh unik juga, hampir membuat sang Prabu tersenyum kecil melihat penampilan itu.
Merah berani, karena keberaniannya ia mengenali sang Prabu. Itu setidaknya semakin meyakinkannya, bahwa orang yang ia cari adalah wanita itu. Wanita dengan nama julukan selendang Merah.
"Dan kalian tetaplah berjaga di sini. Aku akan mengantarkan gusti prabu ke tempat penginapan, agar gusti prabu bisa beristirahat malam ini." Selendang merah memerintahkan mereka untuk tetap berjaga di gerbang desa.
"Baik Nini." Balas mereka semuanya. Mereka melakukan apa yang dikatakan oleh selendang merah.
"Mari gusti prabu." Selendang Merah mempersilahkan sang prabu untuk mengikutinya.
"Terima kasih nimas." Sang prabu tersenyum kecil, ia merasa diistimewakan oleh selendang merah. Ia jadi teringat akan perkataan selendang merah waktu itu. Bahwa ia akan menghormati orang yang berjalan di jalan kedamaian.
"Maaf, jika pertanyaan hamba kurang sopan gusti prabu. Apa yang membuat gusti prabu mengembara ke desa ini?. Apakah gusti prabu ingin memastikan, bahwa desa ini aman dari ancaman kelompok setan jahat?." Selendang Merah penasaran, mengapa sang Prabu berada di desa ini?. Apa yang sedang dicari oleh sang Prabu?.
Temukan jawabannya di halaman berikutnya. Jangan lupa vote n komentar, agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
...***...
__ADS_1