ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
INGATAN HARI ITU


__ADS_3

...***...


Selendang Merah masih bertarung dengan Dharma Yudha. Sepertinya pemuda itu tidak bisa dianggap remeh. Akan tetapi Selendang Merah tidak ingin berlama-lama bermain-main dengan pemuda itu. Ia merasa jengah juga berhadapan dengan pemuda itu.


"Kali ini kau tidak akan bisa lagi menghindari serangan ku." Selendang Merah memasukkan kembali pedang itu dengan bantuan tenaga dalamnya ke dalam tubuhnya.


"Terserah kau mau berkata apa. Ternyata kau tidak sehebat dengan namamu." Pemuda itu sangat meremehkan kemampuan Selendang Merah. Ia memandang rendah pada musuh yang belum sama sekali ia ukur bagaimana kekuatannya.


"Kau jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dulu. Jurus ini bukan sembarangan jurus. Jika kau mampu menghadapi jurus ku ini. Maka aku akan bersujud meminta ampun pada mu. Jika perlu aku akan mengabdi padamu dengan suka rela." Ucapnya sambil memainkan jurus air Samudera menggulung karang. Jurus itu menguarkan hawa yang sangat berbeda, sehingga hawa sekitar menjadi aneh dan tidak menyenangkan sama sekali.


"Sial. Jurus apa yang dimainkan wanita itu?. Aku sama sekali tidak bisa melihat gerakannya." Dalam hati Dharma Yudha sedikit panik. Apakah ia mampu mengatasi jurus yang dimainkan wanita itu?. "Aku tidak perlu takut, karena aku adalah pendekar yang hebat." Dalam hatinya mencoba untuk memotivasi dirinya sendiri dengan kekuatan yang ia miliki.


"Sepertinya kau tampak gelisah setelah aku memainkan jurus ini. Aku yakin kau belum melihat jurus ku ini." Selendang Merah mulai bergerak. Ia melompat salto ke arah Dharma Yudha, membuat pemuda itu terkejut. Ia mencoba menghindari serangan itu, namun Selendang Merah tetap mengejarnya kemanapun ia berlari. "Sial!. Wanita ini benar-benar gila!. Dia bernafsu sekali ingin membunuhku!." Ia mulai panik, karena ia hampir saja tidak bisa menghindari serangan itu.


Seperti air bah besar, Selendang Merah mengejar mangsanya. Sehingga mangsanya benar-benar tidak bisa menghindari serangannya. Ketika ia melihat kesempatan, ia kerahkan tenaga dalamnya ke arah kaki pemuda itu. Meskipun awalnya bisa dihindari dari dengan baik, tapi akhirnya kewalahan, dan mengenai sasaran.


"Keghak!." Dharma Yudha berteriak keras, karena kakinya terkena serangan berbahaya itu. Kakinya mengalami luka yang sangat parah, terlihat ada noda darah yang mengalir di sana. "Kegh!." Kakinya sangat sakit, tidak bisa digerakkan sama sekali.


"Heh!. Hanya segitu saja kemampuan yang kau miliki ternyata." Selendang Merah mendengus kecil. Rasanya bukan hanya satu jurus saja yang ia mainkan, dan kali ini ia memainkan jurus selendang menyapu angin. Jurus itu juga tergolong berbahaya, karena bukan tiupan angin saja. Melainkan menyapu tenaga dalam yang dimiliki musuhnya. Sehingga perlahan-lahan tenaga dalam musuhnya akan terasa terkuras.


"Kegh. Kau benar-benar wanita gila!. Kenapa kau malah mengincar aku!. Apa salah yang telah aku lakukan padamu brengsek!." Dharma Yudha sangat putus asa karena tidak bisa lagi menghindari serangan Selendang Merah. Tenaga dalamnya benar-benar terkuras setelah berhadapan dengan Selendang Merah.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu?. Bahwa aku adalah pendekar pembunuh bayaran. Jadi kau tidak perlu banyak bicara lagi. Terima saja kematian mu. Maka pekerjaanku akan selesai dengan cepat." Sambil menyalurkan tenaga dalamnya, Selendang Merah mengancam Dharma Yudha. "Harus kah aku meniru semua jurusmu yang tidak berguna itu?. Agar kau merasakan betapa sakitnya hati mereka yang telah kau sakiti?." Tatapan mata itu berubah menjadi tatapan penuh kebencian, serta gejolak amarah yang timbul dari dalam dirinya. Seakan-akan ia merasakan apa yang telah mereka rasakan selama ini. "Bajingan busuk seperti kau tidak pantas hidup. Hanya akan menjadi sampah yang meresahkan saja. Dan aku yakin, neraka sekalipun bahkan enggan menerima dirimu yang penuh noda dosa." Perasaan geram setelah melihat banyak korban akibat perbuatan laki-laki yang tidak berdaya lagi di hadapannya saat ini.


"Sial!. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi." Dharma Yudha perlahan mulai menampakkan ketidakberdayaannya mengahadapi musuhnya. Namun ia masih memikirkan cara agar bisa kabur dari Selendang Merah yang mungkin tidak akan membiarkan dirinya untuk melarikan diri.

__ADS_1


"Matilah kau bersama dosa-dosa yang telah kau lakukan dharma yudha!." Sebuah hantaman tenaga dalam mendarat di dada Dharma Yudha. Kekuatan tenaga dalam yang sangat luar biasa. Sehingga Dharma Yudha tidak dapat menahan serangan itu. Tubuhnya terlempar jauh, dan menabrak pohon. Membuat rasa sakit yang ia rasakan semakin bertambah. Tenaga dalamnya benar-benar telah terkuras habis karena serangan tadi. "Ohogkh." Ia terbatuk darah, karena serangan itu benar-benar mengenai sampai ke dalam tubuhnya.


"Heh!." Selendang Merah melompat mendekati Dharma Yudha yang terluka parah. Pemuda itu berusaha untuk bergerak, namun sepertinya tenaga dalamnya telah terkuras habis.


"Jangan mendekat!. Aku tidak mau berurusan denganmu!. Pergi kau wanita gila!." Suaranya hampir saja tidak terdengar, sakit yang ia rasakan sangat luar biasa, sehingga hampir merusak sebagian tubuhnya.


"Aku tidak akan mengampuni dirimu!. Kau yang telah merusak harga diri wanita!." Kemarahannya semakin memuncak. Rasanya tidak akan cukup jika hanya menghajarnya saja. "Sebagai seorang wanita!. Aku merasa sakit hati!. Apalagi ketika mereka datang padaku dengan menangis darah!. Mereka tidak berdaya untuk nelayan laki-laki bejad seperti kau!." Emosinya sangat memuncak, hampir saja meledak seperti gunung berapi. "Dan sayangnya aku tidak akan puas, sebelum aku menyaksikan kematianmu!. Sebagai balasan atas apa yang telah kau lakukan selama ini!."


Namun ketika Selendang Merah ingin membunuh Dharma Yudha, ia diserang oleh seseorang dari arah sampingnya. Tentunya ia sangat terkejut, dan tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Bedebah busuk!. Berani sekali kau menyerang anakku!." Wanita itu tampak sangat marah, ketika anaknya hendak dihajar oleh wanita bercadar merah itu.


"Hoo, jadi nini adalah ibunya?." Ia mencoba bersikap santai, meskipun hatinya terasa sangat panas.


"Diam kau!. Aku tidak akan mengampuni mu!. Karena kau telah berani mengusik anakku!. Maka kematian yang akan kau terima!." Hatinya panas, kepalanya sangat panas.


"Apa yang kau ketahui tentang anakku?. Itu adalah hal yang wajar, karena dia laki-laki." Wanita itu tampak membela anaknya. "Mereka saja yang bodoh mau tergila-gila dengan anakkmu. Anak muda jaman sekarang mana mau tanggungjawab setelah melakukan perbuatannya. Meskinya kau mengetahui itu dengan baik." Wanita itu malah menyeringai lebar.


"Kurang ajar!. Wanita macam apa kau!. Berani sekali kau berkata seperti itu!. Kalau begitu ajaran yang kau berikan pada anakmu!. Maka kau dulu yang akan aku habisi!. Hyaah!.


"Heh!. Kau pikir kau siapa berani memerintahkan aku untuk melakukan apa?. Hyah!." Wanita itu menyerang Selendang Merah. Namanya adalah Amara Senjani, pendekar wanita yang terkenal hebat di wilayah itu. Kali ini ia bertarung dengan Selendang Merah. Pertarungan yang sangat sengit.


Sementara itu Suliswati segera mengamankan Dharma Yudha yang terlihat sedang kesakitan. "Kakang, bertahanlah kakang. Nyai amara sedang berhadapan dengan wanita jahat itu kakang." Suliswati menangis sedih, ia tidak kuasa melihat keadaan kekasihnya saat ini.


"Suliswati. Maafkan aku. Aku sungguh hanya mencintaimu saja suliswati." Ia mencoba untuk menggenggam tangan kekasihnya itu. Perasaan takut telah menghantui dirinya, ia merasakan tidak akan bertahan lama lagi. "Semoga kau bahagia suliswati." Perlahan-lahan suaranya mulai melemah, begitu juga dengan hembusan nafasnya. Matanya sayup-sayup terbuka, dan sesekali mencoba untuk menatap wajah kekasihnya yang sedang menangis sedih.

__ADS_1


"Tidak kakang!. Jangan tinggalkan aku kakang!. Sebentar lagi kita akan menikah kakang. Bertahanlah kakang!." Iya tidak kuasa menahan perasan sesak yang mendera dirinya. Kekasihnya pergi untuk selamanya?. Tapi mengapa kekasihnya pergi meninggalkan dirinya dalam keadaan seperti ini?.


"Aku hanya mencintaimu nimas." Itulah kata terakhir yang terucap dari mulut


Dharma Yudha. Setelah itu ia tidak bergerak lagi. Karena ia telah terkena dua jurus yang berbahaya. Jurus yang sulit diatasi, tenaga dalamnya telah dimakan habis oleh jurus yang telah menghantam dirinya tadi.


"Kakang dharma yudha!!." Teriakan tangisan itu dipenuhi oleh kepedihan, karena ia telah kehilangan orang yang paling dicintainya.


Sedangkan Nini Amara Senjani yang mendengarkan itu terkejut, dan ia segera mendekati mereka. Jantungnya berdebar dengan kencang, melihat bagaimana luka yang diderita anaknya. Mata anaknya terpejam, wajahnya terlihat pucat pasi, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


Brukh!.


Ia menjatuhkan dirinya berlutut di samping anaknya. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya. "Dharma yudha. Putraku dharma yudha. Bangun nak. Bangun!." Ia mencoba untuk membangunkan anaknya. Namun tidak berhasil, hatinya merasa sesak karena tidak ada tanggapan dari anaknya. Tangisan kesedihan yang ia rasakan saat ia melihat anaknya telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Saat itu juga ia melirik ke arah wanita dengan cadar merah. Sorot matanya berubah menjadi tajam. Ia bangkit dan mendekati wanita itu. "Kau!. Berani sekali kau membunuh anakku!."


Selendang Merah tidak menjawabnya. Ia tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. "Tugasku telah selesai. Aku ini hanyalah pendekar pembunuh bayaran. Selendang Merah penebar maut. Jadi aku sudah tidak punya urusan lagi di sini."


"Bajingan tengik!. Setelah apa yang kau lakukan, kau seenaknya saja pergi dari sini?." Hatinya dipenuhi oleh bara amarah yang membuncah. Ia tidak akan mengampuni wanita itu. "Kau akan bunuh juga. Karena kau telah berani membunuh anakku."


"Sayang sekali. Aku tidak akan meladani mu. Karena masih banyak urusan yang aku kerjakan." Selendang Merah memainkan sebuah jurus aneh menurut Nini Amara Senjani.


"Kurang ajar!. Jurus apa yang dia gunakan itu." Tiba-tiba saja daerah sekitar berkabut, dan pandangannya terhalangi. Namun bukan hanya itu saja, tubuhnya terasa sangat kaku. Tubuhnya sulit untuk digerakkan, serta seperti ditotok dengan kuat. "Kegh." Ia meringis sakit, tubuhnya perlahan-lahan merasa sakit. "Racun. Kurang ajar sekali dia membunuhi racun di dalam kabut ini." Akhirnya Nini Amara Senjani ambruk, ia tidak dapat lagi menahan tubuhnya karena jurus yang dimainkan oleh Selendang Merah. "Ingat saja kau bedebah!. Suatu saat nanti akan aku bunuh kau!." Perlahan-lahan kesadarannya mulai menipis, hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri. Jurus selendang lebur abu itu jurus yang berbahaya juga. Jangan remehkan kekuatan dari pendekar pembunuh bayaran sejati. Mereka bukan hanya nama saja, melainkan memang ditakdirkan sebagai pendar pembunuh bayaran. Meskipun ada perasaan yang mereka rasakan, akan tetapi itu adalah ungkapan sakit hati yang dirasakan oleh orang-orang yang meminta bantuannya. Hanya dua puluh persen saja perasaan iba mereka, selebihnya nyata niat mereka untuk membunuh mereka bangkit saat ada permintaan untuk membunuh orang lain.


Kembali ke masa ini.


Itulah kenangan pahit dimasa lalu yang diingat oleh Suliswati. Hatinya tidak terima begitu saja dengan apa yang terjadi dimasa lalu. "Dalam waktu dekat ini, aku akan mencarimu selendang merah. Akan aku bunuh kau dengan tanganku inj. Akan aku balas dendam kematian kakang dharma yudha kekasihku." Ia telah bertekad untuk melakukannya. Apakah ia mampu melakukannya?. "Tunggu saja pembalasanku. Akan aku tunjukkan padamu bagaimana kematian menyakitkan yang telah kau berikan pada kakang dharma yudha pada saat itu. Serta bagaimana hancurnya hatiku menerima kenyataan, bahwa kekasih yang aku cintai pergi meninggalkan aku selamanya." Hatinya semakin membara. Bisakah ia melakukan itu?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2