
...***...
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam masih bertarung melawan tiga kawanan perampok itu. Selendang Merah menggunakan jurus andalannya untuk melumpuhkan salah satu dari ketiga orang itu.
Begitu juga dengan Kelalawar Hitam. Ia menggunakan jurus air samudera menggulung karang untuk melumpuhkan satu dari dua yang tersisa.
"Menyerahlah. Jika kau masih sayang dengan nyawamu."
"Kalian pikir aku takut?. Aku masih sanggup untuk menghadapi kalian."
"Keras kepala. Jika memang kau ingin merasakan jurusku. Akan aku tunjukan padamu jurus yang akan membuatmu menyesal karena telah membuat aku bekerja hanya untuk membasmi orang bodoh seperti kalian."
"Sepertinya nini selendang merah sedang marah. Hingga ia berkata seperti itu."
Kelalawar Hitam merasa merinding dengan hawa yang dipancarkan oleh Selendang Merah ketika ia marah. Lihat saja jurus yang ia mainkan. Jurus elang mencakar mangsa yang ia mainkan. Jurus yang ia mainkan sangat cepat, membuat musuhnya kebingungan dengan gerakannya.
Dengan cepat Selendang Merah menghajar satu kawanan perampok yang tersisa. Wajahnya penuh goresan, begitu juga dengan tubuhnya yang lainnya. Selendang Merah menghajarnya tanpa ampun.
"Benar-benar mengerikan sekali." Dalam hati Kelalawar Hitam miris melihat nasib kawanan perompak itu.
"Benar-benar membuatku muak. Ilmu cetek seperti itu mau menantang aku."
"Sudahlah nini. Sebaiknya kita bawa mereka ke istana. Biarkan mereka diadili oleh gusti prabu."
Selendang Merah menatap ke arah Kelalawar Hitam. Sorot mata itu begitu tajam, membuatnya merinding.
"Sudahlah marahnya. Nini terlihat menyeramkan sekali."
Selendang Merah mendekati Kelalawar Hitam. Tentunya membuat pemuda itu merasa gugup. Apakah Selendang Merah masih belum puas ingin menghajar seseorang?.
"Ini masalah yang gawat jika aku menjadi sasaran kemarahannya." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa tegang. "Apa yang harus aku lakukan jika seperti ini?." Dalam hatinya merasa gelisah.
Namun apa yang terjadi?. Selendang Merah malah melewati dirinya. Membuatnya heran. Padahal ia sudah tegang, karena sorot mata Selendang Merah seakan ingin menerkam dirinya.
"Apakah bapak adalah lurah desa ini?. Apakah bapak bernama bapak tisno?." Selendang Merah menghujani lelaki itu dengan pertanyaan.
"Benar nini. Memangnya Nini siapa?."
"Oh. Ternyata dia melihat ada orang di sana." Kelalawar Hitam tadi benar-benar tegang karena sorot mata Selendang Merah yang begitu menakutkan.
"Saya selendang merah. Saya utusan dari gusti prabu praja permana. Apakah benar bapak adalah lurah tisno?."
"Benar nini. Nama saya tisno. Lurah desa layang."
__ADS_1
"Jadi informasi yang kami dapatkan benar."
"Maaf nini. Tadi nini mengatakan jika nini adalah utusan gusti prabu."
"Ya, itu benar. Dan pemuda itu adalah teman saya. Kami utusan gusti prabu praja permana."
Kelalawar Hitam mendekat, ia ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan. Mungkin ia bisa memberi solusi atau saran yang dibutuhkan oleh mereka.
"Oh dewata yang agung. Setelah sekian lama akhirnya gusti prabu praja permana memperhatikan rakyatnya." Lurah Tisno merasa bersyukur jika memang itu yang terjadi. "Tapi mengapa baru sekarang gusti prabu bertindak?. Apakah dia ingin mengambil hati kami lagi?. Setelah sekian lama kami menderita kelaparan, dan sekarang kami dibawah tekanan kawanan perampok. Apakah dia ingin mencari muka pada kami?."
"Tidak seperti itu pak lurah. Gusti prabu selama ini telah dipermainkan oleh penggawa istana yang mengatakan semuanya aman. Namun dalam pengembaraan yang gusti prabu lakukan, beliau menemukan fakta yang mengejutkan tentang negeri ini."
"Jadi pengembaraan yang dilakukan gusti prabu adalah untuk melihat apa yang dialami oleh rakayatnya?."
"Tentu saja demikian. Gusti prabu sangat peduli terhadap rakyatnya."
"Syukurlah kalau begitu. Lalu apa yang akan kalian lakukan pada mereka?."
"Kami akan membawanya ke istana untuk diadili oleh gusti prabu."
"Bagus kalau begitu. Hukum mereka yang telah membuat kami menderita selama ini."
"Untuk saat ini tenanglah. Kami akan kembali mengawasi daerah ini."
"Ya, setelah kami mengantar mereka ke penjara istana. Kami akan kembali mengawasi daerah ini. Karena setidaknya ada lima orang lagi yang harus kami tangkap."
"Jika masalah itu bapak tidak usah cemas. Yang pasti, kami akan menghabisi sisanya. Baru setelah itu berhadapan dengan ketuanya."
"Oh baiklah nini. Jika nini butuh bantuan katakan saja pada saya. Saya akan membantu kalian. Sampaikan salam ku pada gusti prabu."
"Baiklah kalau begitu. Kami pamit dulu. Kami hendak mengantar mereka ke istana."
"Kalau begitu berhati-hatilah. Terima kasih karena telah membantu kami terbebas dari cengkeraman kawanan perampok."
"Tapi masalah ini jangan bapak katakan pada siapapun. Karena masalah yang kami atasi ini masih rahasia. Jadi bapak harus menjaga rahasia ini."
"Saya akan menjaga rahasia ini sampai nini dan dimas yang mengatakan pada penduduk desa layang."
"Kalau begitu kami pamit dulu. Sampurasun."
"Sampurasun."
"Rampes."
__ADS_1
Lurah Tisno melihat kepergian mereka sambil membawa kawanan perampok yang tidak sadarkan diri.
"Baguslah, jika gusti prabu praja permana akhirnya memperhatikan rakyatnya." Dalam hatinya merasa senang dan bahagia. "Tapi nini berpakaian merah itu mengatakan, jika gusti prabu selama ini dibohongi oleh penggawa istana. Namun gusti prabu mengetahui kenyataannya dalam pengembaraan yang beliau lakukan?." Ia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh pendekar wanita itu. "Artinya orang dalam istana yang membuat gusti prabu tidak bisa bertindak. Karena laporan yang masuk semuanya aman. Tapi setidaknya dengan pengembaraan yang dilakukan oleh gusti prabu, telah membuktikan semuanya. Maafkan kami gusti prabu. Karena telah berpikiran buruk terhadap gusti prabu."
Ada perasaan bersalah yang hinggap dihatinya. Ia tidak menyangka tujuan pengembaraan yang dilakukan gusti prabu, justru ingin melihat bagaimana keadaan rakyatnya.
"Semoga apa yang gusti prabu lakukan bisa mengubah negeri ini." Dalam hatinya merasa berharap ada perubahan di negeri ini. Jika memang gusti prabu Praja Permana memperhatikan kesengsaraan yang dialami oleh rakyat Sendang Agung.
Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam berhasil membawa tiga orang kawanan perampok ke istana.
"Salam hormat kami gusti prabu."
"Ya. Aku terima hormat kalian." Matanya memperhatikan kondisi mereka yang tidak baik.
"Mohon ampun gusti prabu. Kami terpaksa untuk melakukan kekerasan pada mereka karena mereka melawan saat itu."
"Astaghfirullah hal'azim. Pantas saja mereka babak belur seperti itu." Sang Prabu menghela nafasnya dengan pelan.
"Maafkan kami, karena terpaksa untuk melakukannya."
"Benar gusti prabu. Mereka sedikit memiliki ilmu kepandaian, namun cukup merepotkan juga jika yang mereka hadapi hanyalah rakyat biasa."
"Terima kasih atas kerja keras kalian. Aku senang dengan apa yang telah kalian lakukan."
"Itu sudah menjadi tugas kami gusti prabu."
"Ya. Kami pasti akan melakukan tugas kami dengan baik."
"Alhamdulillah hirabbli'alamin. Aku senang mendengarnya."
Mereka semua bersyukur dapat menjalankan tugas dengan baik. Karena akan meresahkan jika tidak segera ditangani.
"Prajurit!."
"Hamba gusti prabu."
"Bawa mereka ke sel tahanan. Jaga dengan baik, jangan sampai mereka melarikan diri."
"Sandika gusti prabu."
__ADS_1
Mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh junjungan mereka. Apa yang akan terjadi di selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...