ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
BALAS DENDAM DAN IKATAN


__ADS_3

...***...


Selendang Merah dan Kelalawar Hitam melihat ada dua orang yang saat ini sedang menghadang jalan mereka untuk memasuki wilayah kerajaan Sendang Agung. Sepertinya mereka sama sekali tidak ingin bersahabat.


"Heh!. Kenapa matamu seperti itu melihat ke arahku wanita busuk!." Suliswati tidak suka ditatap seperti itu oleh Selendang Merah.


"Hei!. Siapa kau?. Berani sekali kau berkata seperti pada kakakku!." Kelalawar Hitam tidak suka ada yang berkata kurang ajar pada kakaknya.


"Heh!. Katakan pada kakakmu itu!." Suliswati menatap tidak suka?. "Aku memiliki dendam yang harus aku selesaikan dengannya!." Ternyata laki-laki tua itu memiliki tujuan yang sama dengannya?.


"Ho. Dendam apa yang membuat kalian datang padaku?. Tidak biasanya aku memiliki tamu dua orang busuk seperti kalian." Selendang Merah dengan santainya bertanya siapa kedua orang itu.


"Bedebah!. Mungkin kau boleh saja lupa!. Tapi aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang telah kau lakukan padaku!. Terhadap kekasihku dharma yudha!." Amarahnya memuncak karena ingatannya kembali pada hari itu. "Kau telah membunuh kekasihku dengan bengis!. Hanya karena kau mengatakan dia telah menodai banyak wanita!. Apakah kau lupa itu!. Aku yang menyaksikan kau membunuhnya waktu itu!."


"Oh!. Aku ingat. Jadi kau adalah wanita yang waktu itu disuruh pergi oleh kekasihmu?."


"Kurang ajar!. Akan aku bunuh kau!. Hyah!." Suliswati tanpa basa-basi lagi langsung menyerang Selendang Merah. Hingga tinggal Kelalawar Hitam dan laki-laki tua itu.


"Sial!. Malah tidak dapat bagian." Ia merasa kesal saat melihat kedua wanita itu malah bertarung.


"Siapa kau?. Dendam apa yang hendak kau sampaikan pada kakakku." Kelalawar Hitam merasa heran dengan laki-laki itu.


"Aku!. Seta Aji!. Aku ingin membalaskan kematian cucuku!. Dia telah membunuh cucuku!. Hanya karena alasan ramalannya membuat orang menjadi gila!. Aku tidak akan memaafkan atas pembunuhan yang telah ia lakukan pada cucuku!." Dengan perasaan sakit hati, ia katakan pada Kelalawar Hitam. "Dia harus membayarnya dengan nyawanya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!."

__ADS_1


"Heh!. Tidak akan aku biarkan kau membunuh kakakku. Hadapi aku dulu!. Baru kau bisa menyentuh kakakku!." Kelalawar Hitam menunjuk ke arah orang yang bernama Seta Aji itu.


"Bagus!. Itu sangat bagus sekali. Aku ingin melihat wanita pembunuh bayaran itu menangis darah!. Karena aku berhasil membunuh adiknya!." Terlihat senyuman lebar menghiasi wajahnya yang mengeriput. Tapi semangatnya masih bisa mengalahkan anak muda.


"Ho. Tidak semudah itu kau mengalahkan aku kakek tua. Kau pikir karena aku masih muda, kau menganggap ilmu kanuragan yang aku miliki masih cetek?. Mari kita lihat." Kelalawar Hitam mengambil ancang-ancang, dan siaga untuk bertarung. "Jurus apa yang bisa aku curi dari orang tua seperti kau!." Setelah itu Kelalawar Hitam menyerang Seta Aji. Mereka juga bertarung untuk memperlihatkan, siapa yang kuat dan siapa yang akan kalah?.


Sementara itu, Suliswati terus menyerang Selendang Merah dengan menggunakan jurus pedang yang selama ini ia pelajari. Jurus pedang naga air, jurus yang membutuhkan kecepatan pergelangan tangan yang meliuk-liuk seperti naga. Selain itu gerakan kaki juga harus seimbang, seperti seorang wanita yang sedang menari. Namun gerakan itu cukup membuat Selendang Merah kerepotan.


Selendang merahnya tidak mampu menghalau pedang itu, dan malah robek. Tentunya pemandangan itu membuat Suliswati merasa berbangga hati. Seakan-akan ia telah berhasil mengalahkan Selendang Merah.


"Hahaha!. Itu baru selendang mu saja. Belum nyawamu yang akan aku cacah seperti itu!. Hahaha!. Aku yakin nyali mu akan ciut setelah ini kan?." Suliswati tertawa bangga, dengan apa yang telah ia lakukan. Tawanya seperti ia telah berhasil membunuh Selendang Merah.


Selendang Merah memperhatikan selendang kesayangannya yang robek. Ia merasa kesal, dan membuangnya. "Kau tidak usah senang dulu!. Selendangku masih banyak, dan kau tidak semudah itu melakukannya." Dengan santainya ia mengeluarkan Selendang miliknya yang lain.


"Pedang ini, pedang yang akan menandingi kekuatan pedang milikmu. Pedang ini bernama pedang pemangkas pancasona. Aku harap kau lebih berhati-hati lagi saat berhadapan dengan pedang milikku ini." Selendang Merah mengeluarkan pedang yang ada di tangannya dengan pelan.


"Heh!. Tidak usah kau memamerkan pedang tumpul milikmu itu padaku!. Kita buktikan saja, siapa yang lebih kuat diantara kita!." Suliswati merasa kesal dengan ucapan Selendang Merah. Hatinya tidak terima dengan ucapan itu.


...***...


Di Istana Kerajaan Sendang Agung. Prabu Praja Permana merasa gelisah, sekilas ia melihat dan merasakan jika Selendang Merah sedang bertarung dengan seseorang.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa yang tejadi pada nimas selendang merah sebenarnya Ya Allah. Mengapa hamba begitu gelisah dan selalu memikirkannya." Dalam hati Prabu Praja Permana merasakan kegelisahan yang luar biasa.

__ADS_1


Saat ini ia berada di ruang pribadinya. Ada laporan yang harus ia tangani. Namun perasaanya yang gelisah saat ini membuatnya tidak tenang sama sekali.


"Ya Allah. Nimas selendang merah. Nimas selendang merah. Apakah terjadi sesuatu dengan nimas?." Ia mencoba untuk berkomunikasi dengan Selendang Merah. Bukankah janji darah membuat ikatan batin keduanya saat ini bisa terhubung dengan baik?. Karena itulah Prabu Praja Permana mencobanya. Ia hanya ingin memastikan keadaan wanita bercadar merah itu baik-baik saja.


"Hamba gusti prabu. Ada apa gusti prabu?. Katakan pada hamba, apa yang membuat gusti prabu merasa cemas?." Selendang Merah menjawab panggilannya?.


"Oh. Nimas selendang merah. Apa yang sedang nimas lakukan?." Prabu Praja Permana mencoba lebih memusatkan pikirannya. "Aku sangat mencemaskan keadaan nimas. Kenapa nimas belum juga kembali ke istana?. Apakah ada yang menghambat perjalanan nimas?." Begitu banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya.


"Kenapa gusti prabu beranggapan seperti itu?. Apakah gusti prabu merasakan cemas pada hamba?." Selendang Merah masih konsentrasi berhadapan dengan Suliswati yang bernafsu ingin membunuhnya.


"Sekilas tadi, aku melihatmu seperti bertarung dengan dengan seseorang. Apakah benar nimas saat ini sedang bertarung?." Ia hanya ingin memastikan, jika penglihatannya tidak salah.


"Maaf gusti prabu. Hamba agak terlambat pulang ke istana. Karena hamba memang sedang bertarung dengan seseorang yang ingin membalaskan dendamnya pada hamba." Sepertinya Selendang Merah tidak menyembunyikan kebenaran itu.


"Astaghfirullah hal'azim nimas. Segera selesaikan secepatnya, aku tidak mau terjadi sesuatu pada nimas. Aku akan menunggu nimas di istana dalam keadaan baik-baik saja." Itulah harapan dari Prabu Praja Permana.


"Semoga saja gusti prabu. Kalau begitu izinkan hamba untuk mengatasi masalah di sini." Selendang Merah tersenyum kecil, entah mengapa ia merasakan, jika Prabu Praja Permana begitu perhatian padanya.


"Cepat kembali, dan kita akan membahas masalah lainnya bersama." Prabu Praja Permana juga tersenyum kecil.


"Sandika gusti prabu. Hamba akan kembali secepatnya." Hatinya merasa hangat. Walaupun itu seperti perintah, namun baginya itu hal istimewa yang ia dapatkan dari seorang raja.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2