ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
AGAK ANEH


__ADS_3

...***...


Selendang Merah mengatur tenaga dalamnya dengan pelan. Setelah itu ia melihat ke arah prabu Praja Permana yang tadi sempat terabaikan karena pertarungan mereka.


"Sampurasun gusti prabu. Hormat hamba kepada gusti prabu." Selendang Merah kembali mengenakan kain tipis untuk menutupi wajahnya. Ia terlihat mencemaskan keadaan sang Prabu.


"Rampes." Balas Prabu Praja Permana. Ia belum bisa melihat dengan jelas siapa yang membantunya saat ini.


"Nisanak mengenali saya?." Prabu Praja Permana ingin memastikan, apakah orang yang menolongnya itu adalah orang yang memang mengenali dirinya?.


"Hamba mengenali wajah gusti prabu di selebaran kertas lukisan yang tersebar. Di kertas itu mengatakan bahwa gusti prabu adalah raja baru di kerajaan sendang agung." Ya, ia akui ia tidak terlalu mengenali sang prabu. Tetapi ia pernah melihat lukisan wajah sang Prabu di sebuah kertas lukisan.


"Jadi begitu ya." Meskipun keadaannya masih sakit, ia masih bisa tersenyum dengan ramah."Terima kasih, karena nisanak telah menolong saya." Ucapnya lagi.


"Gusti prabu tidak perlu berterima kasih kepada hamba. Sudah seharusnya sesama manusia saling membantu, bukan?." Rasanya sangat sungkan mendapatkan ucapan terima kasih dari seorang Raja. Suatu hal yang luar biasa bisa membantu rajanya dalam kesulitan.


"Subhanallah. Nisanak ternyata orang yang sangat baik." Prabu Praja Permana dapat merasakan ketulusan dari perkataan orang yang telah menolongnya itu.


"Mohon ampun gusti prabu. Sebaiknya hamba segera mengobati mata gusti prabu. Sebelum terjadi sesuatu pada mata gusti prabu." Selendang Merah menawarkan bantuan pada sang prabu.


"Terima kasih sekali lagi nisanak." Sang Prabu sangat bersyukur atas kebaikan yang ia dapatkan dari Allah SWT melalui orang baik ini.


Selendang merah membantu prabu Praja Permana menuju tempat yang bisa ia gunakan untuk mengobati sang prabu. Sedikit banyak Selendang Merah mengerti tentang ilmu pengobatan. Dengan menyalurkan tenaga dalamnya, Selendang Merah berharap sakit yang dirasakan oleh Prabu Praja Permana bisa sembuh.


...***...


Disisi lain.


Malam telah larut, namun ia belum juga bisa tidur. Karena memikirkan ibunya. Ibunya yang pergi ke desa lain karena mendapatkan pesan surat, untuk membasmi kawanan perampok yang telah meresahkan sebuah desa.

__ADS_1


Bukankah itu terdengar aneh?. Tentu saja aneh. Mengapa desa itu tidak meminta bantuan pada raja?. Bukankah keamanan desa adalah kewajiban dari sang raja?.


Katanya percuma saja meminta bantuan dari raja. Mereka lebih meminta pembunuh bayaran melakukannya.


Selain itu ibunya memang melakukan pekerjaan yang berbahaya. Bukan saja membunuh kawanan perampok, namun juga membunuh orang-orang besar petinggi kerajaan jika memang orang-orang tersebut pantas untuk mati.


"Ibu. Aku harap ibu besok pagi sudah pulang. Aku sangat merindukan ibu." Ia sangat merindukan ibunya, sekaligus mencemaskan ibunya itu.


Namanya adalah Andara Wijaya, ia memasuki umur remaja. Diumurnya yang sekarang Rembulan Indah sangat waspada akan keselamatan anaknya.


Namun bisakah Rembulan indah terus menyembunyikan rahasia pada anaknya?. Kita lihat saja bagaimananya nanti.


...***...


Kembali pada Gusti Prabu Praja Permana dan Selendang Merah.


Setelah berhasil menyembuhkan sang Prabu, Selendang Merah membuat api unggun untuk mengusir hawa dingin yang mereka rasakan.


Selendang Merah tersenyum kecil dibalik kain penutup wajahnya. Ia tidak berpikir bahwa sang prabu akan menanyakan siapa dirinya?.


"Nama hamba selendang merah gusti. Orang jahat, namun tidak jahat pengecut seperti kelompok setan jahat." Balas Selendang Merah tanpa ragu mengatakan siapa dirinya.


"Astaghfirullah hal'azim. Apa maksudmu nisanak?." Sang prabu terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.


Selendang Merah tersenyum lagi. Ia melihat ke arah sang Prabu. Ia tidak menyembunyikan apapun dari sang prabu selain berkata jujur.


"Hamba ini adalah seorang pendekar pembunuh bayaran, dengan julukan selendang merah penebar maut. Begitu yang mereka berikan kepada hamba gusti." Ya, ia mengatakan kebenaran tentang dirinya.


"Lalu apa yang nisanak lakukan di sini?. Mengapa nisanak menolong saya?." Sang Prabu sedikit heran. Jika memang ia orang jahat, tapi dia tadi berkata ia menolongnya sebagai sesama manusia bukan?. Apakah tadi hanya sekedar basa-basi saja?.

__ADS_1


"Hamba  bisa baik kepada siapapun, yang meminta pertolongan untuk membunuh orang-orang yang jahat, kejam dan ganas. Seperti membunuh kawanan para perampok, atau membunuh para pejabat yang rakus akan kekayaan yang ia rampas dari rakyat." Selendang Merah menjelaskan kepada sang prabu. "Itulah mengapa hamba katakan bahwa hamba orang jahat, namun tidak jahat seperti kelompok setan jahat." lanjutnya lagi.


Sang prabu tidak menyangka akan mendengarkan pengakuan sepeti itu dari seorang wanita?. Itu artinya wanita itu memiliki ilmu Kanuragan yang cukup tinggi?.


"Maafkan jika orang-orang seperti kami terlahir di negeri yang Gusti pimpin." Selendang Merah seakan menyesali kehadirannya.


Namun sang prabu malah tertawa kecil. "Jika semua orang baik, tentulah itu surga. Seperti kata gusti Prabu kian santang, bahwa di dunia ini ada orang yang baik. Namun tidak semuanya bisa baik. Dan begitu juga orang jahat. Tidak selamanya mereka jahat." Ucapnya sambil mengingat kisah Prabu Kian Santang. "Jadi tidak perlu berkata seperti itu pada saya. Nimas selendang merah." Sang Prabu memahaminya, ia juga tidak bisa mengadili orang seperti selendang Merah.


Jika memang dia jahat, pastilah ia tidak akan membantunya. Dan jika dia baik, ia telah mengatakan kepadanya bahwa ia adalah pendekar pembunuh bayaran.


"Gusti prabu kian santang ya." Selendang Merah sedikit tahu cerita tentang tokoh besar itu. Ia pernah mendengarnya dari seseorang. "Apakah karena itu gusti prabu memutuskan masuk agama Islam?. Mengikuti apa yang dilakukan oleh gusti prabu kian santang?." Memang kabar itu berhembus sangat cepat kepelosok negeri. Sehingga siapapun juga tahu tentang agama baru yang dianut oleh sang Prabu.


"Benar nimas. Saya begitu tertarik masuk Islam. Apalagi mendengarkan kisah prabu kian santang." Senyuman manis terukir di wajah sang prabu. Ia begitu senang mendengar nama prabu kian Santang.


"Semoga apa yang dilakukan oleh gusti prabu, membawakan hasil yang baik untuk negeri ini gusti." Selendang Merah mendukung apa yang diniatkan oleh sang Prabu.


"Aamiin ya Allah." Sang prabu senang mendengarkan harapan yang dikatakan oleh Selendang Merah. Ia sangat bersyukur masih ada orang yang mendukung apa yang ia lakukan demi negeri ini.


Namun tiba-tiba mereka dapat merasakan ada aura lain yang mendekat. Hingga mereka tidak bisa melanjutkan obrolan mereka lagi. Ada seseorang yang sedang mengintai mereka di malam hari, di hutan ini.


"Sepertinya ada yang ingin bergabung gusti." Selendang Merah menyadari kehadiran itu meskipun tipis. Tapi tetap saja rasanya sangat mengganggu.


"Iya. Dia tidak jauh dari sini." Meskipun kedua matanya tertutup, bukan berarti sang prabu kehilangan kewaspadaan terhadap sekitar.


Selendang merah bangkit dari duduknya, dan ia berteriak keras.


"Hei!. Kau yang tidak tahu siapa!. Jika kau kedinginan boleh mendekat!. Tetapi kalau kau ingin memangsa kami, sebaiknya menjauh saja!." Suara keras Selendang Merah sangat jelas di dengar oleh sosok misterius berpakaian serba hitam, yang juga penutup wajahnya berwarna hitam.


Orang misterius itu melompat keluar mendekati selendang Merah dan Gusti prabu. Orang misterius itu terlihat tidak bersahabat sama sekali. Bahkan matanya menatap lekat ke arah sang prabu yang masih duduk santai di depan api unggun.

__ADS_1


Siapakah sosok misterius itu?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya.


...***...


__ADS_2