
...***...
Dua hari berlalu.
Obat yang diberikan oleh selendang merah ternyata sangat manjur, mata sang Prabu sudah tidak sakit lagi.
Saat ini ia sedang duduk di taman Istana, ia masih memikirkan bagaimana sosok wanita yang telah menolongnya waktu itu?. Hatinya merasa gundah karena tidak bisa melihat sosok itu seperti apa.
"Nimas. Kau telah membuat hatiku penasaran denganmu." Batinnya mulai merasakan kegelisahan, memikirkan sosok itu.
Kata-katanya yang mengatakan bahwa ia adalah orang jahat, tapi tidak sejahat kelompok setan jahat?.
Bukankah membunuh adalah sebuah kejahatan?. Membunuh orang lain hanya karena permintaan?. Tapi tunggu, dia mengatakan bahwa ia juga membunuh orang-orang petinggi kerajaan?. Ketika ia sedang memikirkan itu, tiba-tiba adiknya Wira Wijaksana datang membuyarkan lamunannya.
"Apa yang kanda prabu pikirkan, hingga lamunannya seperti itu." Adiknya duduk di sampingnya, senyuman kecil terlihat di wajahnya.
"Oh dinda wira wijaksana. Aku sedang memikirkan pemberontak yang akhir-akhir ini cukup meresahkan. Juga beberapa kelompok perampok yang menguasai desa-desa di kerajaan ini." Jawab sang prabu dengan serius, raut wajahnya terlihat kusut.
"Benarkah?. Tapi sepertinya ada hal lain yang raka pikirkan, katakan saja." Wira Wijaksana melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakaknya, tidak tahu itu apa, tapi ia yakin pasti ada.
Prabu Praja Permana menghela nafasnya. Ia tahu adiknya memiliki pengalaman tentang wanita. Akan tetapi ia tidak bisa menyebutkannya untuk sekarang. Bahkan ia tidak tahu harus berkata apa tentang selendang merah pada sang adik.
__ADS_1
"Percayalah. Akhir-akhir ini aku merasa resah karena itu. Bahkan aku sempat bertarung melawan dengan kelompok setan jahat, yang menjadi ketua utama pembuat keonaran di desa-desa." Sang Prabu menjelaskan pada adiknya agar tidak salah faham.
"Jadi karena itu kanda prabu kembali ke istana dalam keadaan terluka?. Lalu siapa orang yang berbaik hati menolong kanda prabu?." Ia sangat terkejut melihat kondisi kakaknya yang pulang dalam keadaan mata yang diperban.
"Benar dinda. Sepertinya tidak mudah untuk menghentikan aksi mereka. Cara yang mereka gunakan sangat licik. Aku hampir saja dilumpuhkan oleh mereka, jika saja sosok misterius baik hati menolongku." Sang Prabu menjelaskan bagaimana pertarungannya melawan kelompok setan jahat, juga orang misterius itu menolongnya.
Wira Wijaksana hanya mendengarkan apa yang dikatakan rakanya. "Jadi kanda prabu tidak tahu, siapa yang telah menolong kanda prabu, karena mata kanda prabu tidak bisa melihat pada saat itu?." Sangat disayangkan sekali, tapi setidaknya ia bersyukur kakanya baik-baik saja.
"Benar dinda. Meskipun dia mengatakan padaku, dia adalah seorang pembunuh bayaran. Tapi dia membantuku dari incaran, pendekar pembunuh bayaran lainnya yang menginginkan kematianku." Sang prabu mengingatnya dengan jelas. Meskipun hanya mendengarkan percakapan antara selendang merah dengan orang misterius itu.
"Apa?. Orang yang menolong kanda prabu adalah pembunuh bayaran, dan kanda prabu diincar oleh pembunuh bayaran juga?." Wira Wijaksana sangat terkejut mendengarkan perkataan kakaknya. Itu artinya nyawa kakakmya dalam bahaya?. Pertanyaan adalah, siapa yang berani mengincar nyawa kakaknya?. Siapa yang menginginkan kematian kakaknya?. Pasti ada orang yang berniat jahat pada kakaknya sehingga dengan beraninya ia menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh kakaknya.
"Itulah kenyataannya dinda. Aku tidak tahu, siapa yang menyuruh orang itu. Tapi aku yakin, pendekar pembunuh bayaran itu, masih mengincar nyawaku." Prabu Praja Permana merasakan itu. Ia yakin pembunuh bayaran itu masih mengincar nyawanya.
"Tidak dinda wira wijaksana." Bantah Prabu Praja Permana dengan tegasnya. "Aku tidak mungkin berdiam diri di istana, sementara aku menjadi icaran pembunuh bayaran." Lanjutnya lagi.
"Tapi kanda prabu-."
"Justru akan sangat berbahaya jika aku berada di istana. Itu bisa mengancam keselamatan kita semua." Balasnya dengan cepat. "Aku akan mencari orang itu-."
"Maksud kanda prabu, mencari orang yang akan membunuh kanda prabu?. Jangan terlalu mengambil resiko, hanya karena ingin tahu, siapa orang yang menyuruhnya. Itu sama saja kanda prabu menyambut kematian sendiri." Wira Wijaksana tidak habis pikir dengan jalan apa yang diinginkan kakaknya itu.
__ADS_1
"Tidak seperti itu dinda wira wijaksana." Prabu Praja Permana tersenyum kecil. Ia memaklumi kecemasan adiknya itu. "Aku mau mencari selendang merah. Orang yang membantuku waktu itu." Lanjutnya. "Aku akan minta bantuannya, untuk membasmi para perusuh, termasuk kelompok setan jahat." Sang Prabu tidak ingin adiknya salah faham. Mana mungkin ia mencari orang yang mau membunuhnya. Ia masih sayang dengan nyawanya. Masih banyak hal yang akan ia lakukan, terutama untuk memulihkan kerajaan ini.
"Begitu ya. Tapi apakah pendekar wanita itu mau membantu kanda prabu?." Wira Wijaksana mencoba memahami apa yang diinginkan Prabu Praja Permana. "Terlebih lagi, bagaimana caranya kanda prabu menemukan orang itu. Sementara kanda prabu tidak mengetahui siapa orang itu?." Ya, itu memang pertanyaannya. Bagaimana caranya ia menemukan pendekar wanita itu?.
"Aku harus mencobanya dengan cara apapun dinda. Jika aku gagal menemukannya dalam tujuh hari ini. Maka aku sendiri yang akan berhadapan dengan mereka." Sang Prabu berharap bahwa ia akan menemukan pendekar Selendang Merah.
Akan tetapi prabu Praja Permana mengingat dengan jelas suara orang itu. Suaranya berbeda dengan yang lainnya. Ya, mungkin saja suara bisa menjadi petunjuk, bagi prabu Praja Permana untuk mengetahui siapa pendekar wanita itu.
"Itu artinya kanda hanya mencoba peruntungan?." Wira Wijaksana mencoba menebak.
"Ya. Bisa jadi seperti itu dinda." Jawabnya. "Untuk sementara waktu, aku akan mengembara. Karena itulah, aku percayakan istana padamu Dinda." Sang prabu tidak mungkin pergi begitu saja bukan?. Keselamatan kerajaan juga harus tetap dijaga. "Aku titip ibunda padamu untuk sementara waktu."
"Baiklah kanda prabu. Semoga kanda prabu menemukan apa yang kanda cari." Hanya itu harapan dari Wira Wijaksana untuk Prabu Praja Permana.
"Semoga saja dinda." Prabu Praja Permana juga berharap demikian.
"Kerajaan ini harus segera diselamatkan. Bukan hanya dari luar saja. Namun dari dalam juga harus diselamatkan. Mereka yang bekerja di dalam istana ini, harus aku perhatikan juga. Setelah aku berhasil bertemu dengan nimas selendang merah. Maka aku akan lebih fokus untuk menangani bagian dalam istana." Dalam hatinya merasa prihatin saat melihat ke arah Istana yang sudah tidak sesehat dulu ketika ayahandanya yang memerintah Kerajaan Sendang Agung.
Prabu Praja Permana hanya berharap, akan ada perubahan yang akan ia dapatkan setelah jika ia berhasil bekerjasama dengan pendekar wanita itu.
"Semoga saja kau mau membantuku nimas. Aku sangat khawatir dengan negeri ini jika tidak segera ditangani." Dalam hatinya benar-benar merasakan kegelisahan yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Tapi pertanyaannya apakah wanita itu mau mengabulkan keinginannya?. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
...***...