ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERTARUNGAN


__ADS_3

...***...


Masih di lingkungan Istana Kerajaan Sendang Agung. Tepatnya di Kaputren, dimana Putri Ayu Permata Sari istri pertama Pangeran Wira Wijaksana. Hatinya sangat iba, karena akhir-akhir ini suami yang ia cintai tidak perhatian lagi padanya. Bahkan pada istri kedua, serta kedua selirnya pun terkesan mengabaikan mereka semua.


"Kanda pangeran. Dinda perhatikan, kanda sepertinya ada masalah. Coba kanda pangeran berbicara dengan dinda." Ia mencoba untuk tersenyum, walaupun hatinya terasa sangat pahit. "Apa yang salah kanda pangeran. Apakah ada sesuatu yang membuat kanda pangeran tidak nyaman?."


Namun belum juga ada tanggapan dari Pangeran Wira Wijaksana. Ia seakan enggan untuk berbicara dengan istrinya Putri Ayu Permata Sari.


"Nimas rembulan indah. Mengapa kau menolakku?. Apa yang salah dariku?. Kita ini sepasang kekasih yang terpisah. Mengapa kita tidak bisa bersatu lagi?. Aku sangat mencintaimu nimas." Dalam hatinya mengingat bayang-bayang masa lalunya. Ketika ia masih bersama Rembulan Indah. Wanita yang sangat ia cintai, dan sekarang seperti ada pemisah yang sangat tinggi diantara mereka.


"Oh dewata yang agung. Apa salahku, sehingga kanda pangeran mengabaikan aku?. Mengapa ia bersikap dingin?. Seakan aku tidak anggap lagi olehnya." Dalam hati Putri Ayu Permata Sari merasa iba dengan sikap Pangeran Wira Wijaksana.


"Apakah benar, kabar yang beredar itu. Bahwa kanda pangeran, sedang mengincar seorang wanita bercadar merah, yang datang bersama dinda prabu?." Ketika suasana hatinya dipenuhi oleh rasa sakit hati yang luar biasa. Ia masih ingat dengan kanar yang berdebar di lingkungan istana. Ia tidak mengerti apakah berita itu benar atau tidak. "Sebaiknya aku tanyakan nanti pada dinda prabu. Aku ingin memastikannya, apakah kabar itu benar atau tidak." Meskipun amarah telah menguasai dirinya, ia masih bisa berpikir jernih. Ia harus mencaritahu kebenarannya.


...****...


Sementara itu, Kelalawar Hitam dan Selendang Merah sedang berada di kaki gunung Tarakan. Meskipun masih berhubungan dengan kawanan perampok, ini sepertinya bukan masalah yang dilakukan oleh kelompok setan Jahat. Ini hanyalah kelompok penjahat yang menyewa penjahat kelas atas untuk merampas harta para pedagang yang ingin masuk ataupun keluar dari wilayah kerajaan Sendang Agung. Saat ini keduanya sedang membawa barang bawaan, agar memancing pada perampok itu keluar. Dengan menggunakan Bedati mereka terus berjalan menuju tempat yang diperkirakan sebagai tempat para kawanan perampok menggarong harta miliki pedagang.


"Sebentar lagi kita akan memasuki kawasan itu nini."


"Benar sekali. Kita tidak boleh lengah. Karena aku merasakan energi yang tidak baik di sini." Matanya mengamati di depannya, ia yang duduk di bagian belakang, melihat jauh ke depan. "Dari pengamatanku, aku melihat ada beberapa orang yang telah menunggu kedatangan kita."


"Ya, nini benar. Lalu apa yang akan kita lakukan?."


"Kita lewati saja mereka. Aku ingin melihat, apakah mereka memang mengincar harta yang kita bawa atau tidak."


"Baiklah, kalau begitu kita maju terus pantang mundur."


"Itu baru semangat bertarung seorang pendekar pembunuh bayaran sejati."


Kelalawar Hitam memacu terus bedatinya. Ia sudah tidak sabar lagi ingin segera menyapa kawanan perampok, dan menyeret mereka semua ke hadapan Prabu Praja Permana.


Saat mereka berada hampir sampai, namun keduanya tidak menyangka, tiba-tiba ada beberapa orang melompat dari atas, sehingga membuat kuda Bedati terkejut. Beruntung Kelalawar Hitam mampu mengendalikannya dengan baik.

__ADS_1


"Hei!. Kau orang menggunakan penutup wajah, turun!."


"Maaf, siapa tuan-tuan ini?. Mengapa tuan-tuan menghalangi saya?."


"Aah!. Kau tidak perlu banyak bicara, dan banyak bicara!. Kami tidak butuh kau!. Tapi yang kami butuhkan adalah harta yang kau bawa!."


"Jangan tuan. Nanti nyai saya bisa marah."


"Halah!. Kau tidak perlu banyak alasan. Katakan pada nyonya mu itu, bahwa kami hanya butuh hartanya saja. Jika dia marah, suruh dia turun dan bicara dengan kami!."


"Jangan tuan, jangan. Nyai sedang terburu karena mengejar kapal yang ingin segera berangkat ke negeri seberang."


"Banyak bicara!."


Dengan kasarnya ketiga perampok itu menepis tubuh Kelalawar Hitam ke samping. Hingga ia terjajar, namun ia belum memberi perlawanan. Sementara itu, mereka semua mendekati Bedati bagian belakang, dimana Selendang Merah sedang duduk menunggu mereka mengintipnya.


Namun ketika mereka membuka tirai itu, mereka mendapatkan hantaman sebuah selendang merah yang cukup keras, tepat mengenai dada ketiganya, sehingga mereka terjajar. Tentunya mereka terkejut mendapatkan serangan itu. Sementara itu Kelalawar Hitam tertawa kecil, sambil menghampiri mereka yang terjerembab di tanah.


"Aku sudah mengatakan pada kalian. Bahwa nyai akan marah, jika kalian ganggu. Makanya dengarkan orang kalau bicara!." Ucapnya sambil menjitak kepala mereka satu persatu dengan geramnya.


"Maaf nyai. Ada yang minta sedekah. Tapi mereka memaksa nyai. Lalu apa yang harus saya lakukan?."


Tak lama kemudian, terlihat seorang wanita bercadar merah turun dari bedati itu.


"Jadi kalian?. Yang suka mengambil harta orang lain?."


"Jika ia, kau mau apa?. Sudah lama kami melakukannya."


"Kami melakukannya, untuk kesenangan kami!."


"Kami akan merampas harta pedagang yang masuk ataupun keluar!. Dan kalian adalah pedagang, makanya kami rampas harta kalian."


"Kalian tidak tahu?. Jika yang kalian rampok siapa?."

__ADS_1


"Ini masih wilayah kekuasaan kerajaan sendang agung. Jika kalian macam-macam, kalian akan berhadapan dengan prabu praja permana."


Mereka bertiga malah tertawa keras mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah, juga Kelalawar Hitam.


"Gusti prabu tidak akan marah pada kami. Karena dia sibuk dengan pengembaraannya. Kami bahkan mendengar kabar, bahwa ia tidak peduli sama sekali dengan rakyatnya."


"Benar sekali itu. Mana mungkin dia peduli dengan keadaan rakyatnya."


"Halah!. Raja bodoh itu mana mungkin menghukum kami."


Namun apa yang terjadi?. Ketiga perampok itu dihajar oleh Selendang Merah dan Kelalawar Hitam yang terlanjur marah, dengan apa yang mereka ucapkan. Keduanya menyerang ketiga perampok itu tanpa ampun.


Memang tidak seberapa ilmu kanuragan yang dimiliki oleh ketiga perampok itu, sehingga mereka mudah dikalahkan oleh Selendang Merah dan Kelalawar Hitam.


"Jika kau tidak memiliki kepandaian sedikitpun. Jangan berani kau berkata seperti itu pada rajaku. Kalau kau bosan hidup, sini aku penggal kepala kau." Dengan emosinya Selendang Merah menoyor kepala salah satu dari mereka.


"Kami adalah utusan gusti prabu praja permana. Siapa yang mengatakan jika junjunganku tidak peduli pada rakyatnya?. Katakan padaku, biar aku bungkam mulutnya." Kelalawar Hitam dengan geramnya memukul kepala mereka berdua.


...***...


Kembali ke Istana Kerajaan Sendang Agung. Prabu Praja Permana saat ini sedang berada di Pendopo, karena ia ingin menenangkan hatinya, sambil memilah salah satu masalah yang akan ia selesaikan. Namu saat itu, Putri Ayu Permata Sari datang padanya.


"Sampurasun, kanda prabu."


"Rampes."


"Maaf, jika saya mengganggu kanda prabu."


"Apa yang ingin dinda ayu sampaikan, sehingga dinda ayu menemuiku?."


"Saya hendak menanyakan satu hal pada kanda prabu, mengenai perubahan sikap kanda pangeran, setelah datangnya wanita bercadar merah itu."


Apa tanggapan sang Prabu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komen, penyemangat author lanjutin ceritanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2