
...***...
Patih Arya Serupa masih belum terima, karena jawaban dari Ratu Sawitri Dewi tidak membuat dirinya menyerah, untuk menjodohkan anaknya dengan Prabu Praja Permana.
"Apakah sebaiknya gusti ratu memikirkan kembali masalah perjodohan ini. Bukankah kita dulu telah sepakat untuk menjodohkan keduanya?." Patih Arya Serupa mencoba untuk mengingatkan. "Apa karena kedatangan wanita itu, gusti ratu melupakan perjodohan itu?."
"Sebaiknya kanda patih jangan menghubungkan perjodohan ini dengan nini selendang merah. Aku tidak suka, jika kanda Patih menyinggung nini selendang merah." Walaupun bibirnya tersenyum ramah, namun tatapan matanya tidak bersahabat sama sekali. Itu artinya sang ratu sama sekali tidak mau diganggu lagi oleh siapapun.
"Maafkan hamba. Kalau begitu hamba pamit dulu. Sampurasun."
"Rampes."
Ratu Sawitri Dewi tahu, banyak pihak yang tidak menyukai perjodohan yang ia lakukan. Tapi menurutnya, hanya Selendang Merah yang pantas bersama anaknya. Karena itulah, jika ada yang mau menjodohkan putrinya dengan putranya, maka mereka harus bersedia menjadi istri kedua, atau menjadi selir anaknya.
...***...
Sementara itu, Prabu Praja Permana saat ini sedang melaksanakan sholat duha. Meskipun sebagai seorang raja. Ia tidak melupakan sholat sunah tersebut.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
Setelah melaksanakan sholat duha, sang Prabu tak lupa berdoa, meminta kepada Allah SWT.
"Ya Allah. Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Limpahan kasih sayang tiada banding. Tempat meminta segala doa. Hanya kepada-Mu lah hamba memohon ya rob. Berikanlah hamba kekuatan untuk memimpin negeri ini. Berilah hamba kesabaran, atas setiap masalah yang menimpa negeri ini. Berikanlah hamba kesejukan hati saat memutuskan perkara. Jauhkanlah sikap sombong dari diri hamba, hanya karena tahta yang hamba miliki. Jauhkanlah sikap buruk dari diri hamba." Itulah doa paling utama yang selalu sang prabu minta kepada Allah SWT.
"Ya Allah, berikan kesejahteraan pada negeri ini. Jauhkanlah negeri ini dari ancaman marabahaya. Selamatkan lah orang-orang baik yang ingin menjaga negeri ini. Hamba mohon lindungilah kami semua. Ampunilah doa kami, dosa ibu bapak kami, dosa orang-orang muslim. Hanya kepada-Mu lah hamba meminta perlindungan. Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil aqhirati hasatau waqhina a'zabannar walhamdulillahirobbil."
Pagi itu terasa sempurna, suasana hatinya sangat tenang setelah melaksanakan sholat duha. Saat itu Ratu Sawitri Dewi masuk ke bilik anaknya.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Nanda prabu."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, ibunda." Prabu Praja Permana mendekati ibundanya, mencium tangan ibundanya. "Ada apa ibunda?. Kenapa ibunda terlihat murung seperti itu?." Prabu Praja Permana duduk di samping ibundanya. Ia melihat ada yang berbeda dengan ibundanya pagi ini.
"Ibunda hanya tidak ingin ada perdebatan masalah siapa yang akan menjadi ratu agung di istana ini putraku. Karena bukan hanya untuk pribadimu saja. Melainkan untuk kita semua nak."
"Memangnya apa yang terjadi ibunda?. Sehingga ibunda gelisah, memikirkan siapa yang pantas menjadi ratu agung."
Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil. "Jika menurut pribadi ibunda. Hanya nini selendang merah yang pantas untuk mendampingi mu nak." Ratu Sawitri Dewi mengatakan semua keinginannya?. "Meskipun kedudukan sangat tinggi. Anak dari seorang raja. Anak seorang Patih, namun ibunda tidak menjamin, apakah mereka sanggup untuk berdampingan dengan Nanda saat membuat keputusan."
"Ibunda tidak perlu cemas. Seperti yang ibunda katakan tadi. Bukan hanya untuk nanda saja. Melainkan untuk negeri ini juga. Dan ibunda kini tertuju pada nimas selendang merah. Apakah nanda tidak salah?."
Lagi, Ratu Sawitri Dewi tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan oleh anaknya. "Menurut ibunda, hanya ia yang pantas menjadi ratu agung. Bukan hanya sikapnya saja, melainkan ketulusannya dalam bertindak." Ratu Sawitri Dewi bangkit dari duduknya. Ia menatap ke depan dengan senyuman yang manis. Setelah itu ia menatap putranya yang masih duduk di tepian tempat tidurnya. "Dibalik jiwa pembunuhnya, terdapat jiwa kasih sayang yang tulus." Ada kekaguman yang ia rasakan pada Selendang Merah. "Jika dia memiliki hati yang jahat, bisa saja ia meninggalkan andara wijaya. Anak dari musuhnya, serta orang yang telah mengkhianatinya. Dari situ kita bisa menyimpulkan, bahwa ia mampu mengambil keputusan. Memisahkan dendam dan nyawa seorang bayi malang yang harus ia selamatkan."
"Ya, ibunda benar. Nanda sangat kagum dengan kebaikan yang ia miliki. Bahkan, ketika nanda dibenci oleh semua orang. Dibenci oleh rakyat sendang agung. Namun ia datang untuk membela nanda." Prabu Praja Permana juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibundanya. "Nanda saat itu sudah pasrah, jika nanda berakhir ditangan para pendekar kelompok jahat itu. Namun saat itu, nimas selendang merah datang membantu nanda. Ia seperti seorang dewi yang dikirim Allah SWT untuk nanda."
"Ibunda benar. Dan saat itu, ia melindungi nanda dari ancaman kematian. Ada seseorang yang menginginkan kematian nanda. Namun nimas selendang merah lagi-lagi melindungi nanda dengan mengatakan jika nanda adalah gurunya."
"Benarkah?." Ratu Sawitri Dewi mendekati anaknya. "Tapi nanda tidak menceritakan itu pada ibunda waktu itu."
"Maaf ibunda. Nanda hanya segan saja. Karena pada saat itu, ada adimas kelalawar hitam."
"Ibunda tidak mengerti. Coba katakan pada ibunda."
"Karena pada saat itu, ada yang menyuruhnya untuk membunuh nanda."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Tapi sekarang dia malah mengikuti nanda."
__ADS_1
"Itu benar ibunda. Menurut cerita dari adimas kelalawar hitam. Orang yang menyuruhnya untuk membunuh nanda, ternyata dia sudah menjadi target duluan. Sehingga orang yang menyuruh membunuh nanda, malah dibunuh oleh adimas kelalawar hitam."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh rantai kehidupan yang sangat aneh sekali. Lalu bagaimana selanjutnya?."
"Nanda tidak menyangka, jika mereka berdua adalah adik kakak yang terpisah selama bertahun-tahun. Namun sebelum itu, nanda tidak menyangka. Jika nimas selendang merah melakukan janji darah. Meskipun setelah itu, nanda selalu merasa lebih dekat dengan nimas selendang merah."
"Ibunda harap, kalian bisa hidup bersama nak."
"Semoga saja ibunda."
Apakah harapan mereka akan terkabulkan?. Temukan jawabannya.
...***...
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam telah sampai di desa bambu panjang. Mereka datang untuk menemui Kedua orang tua mereka yang berada di sana.
"Ayuk masih ingat jalan menuju rumah?." Itu bukti bahwa Selendang Merah memang kakaknya. Karena tidak mungkin wanita cadar merah itu dengan lancarnya menuju rumah mereka.
"Tentu saja adi. Meskipun bertahun-tahun tidak pulang-."
"Dan akhirnya kau kembali nak."
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam terkejut, melihat seorang wanita tua yang menunggu kepulangan mereka?.
"Ibunda." Keduanya langsung mendekati wanita tua itu. Pelukan begitu erat. Sangat erat sekali, untuk melepaskan rindu yang selama ini bersarang dihatinya.
...***...
__ADS_1