ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
KEDATANGAN PUTRI AMBAR SURYATI


__ADS_3

...***...


Prabu Praja Permana dan Selendang Merah saat ini sedang berhadapan dengan empat orang pendekar pembunuh bayaran yang kini mengincar nyawa Selendang Merah. Dua lawan satu, itulah mereka saat ini.


Prabu Praja Permana berhadapan dengan dua orang pendekar pembunuh bayaran. Prabu Praja Permana tidak membiarkan mereka berbuat sesuka hati di dalam istananya. Dengan kepandaian yang ia miliki, ia bertarung dengan mereka. "Lahaula walaquata illabillahil ayil'azim." Sang Prabu memainkan jurusnya, ia arahkan pukulan itu ke musuhnya. Meskipun keduanya menggunakan golok yang dilambari tenaga dalam, sang prabu dapat mengatasinya dengan baik.


Trak!. Trak!.


Keduanya sangat terkejut, karena golok di tangan mereka malah patah. Mereka mengambil langkah mundur. Hampir saja mereka terkena pukulan sang Prabu.


"Jurus apa itu?. Kenapa pukulannya membuat golokku malah patah?."


"Aku tidak mengetahuinya sama sekali."


"Itu adalah jurus pukulan menembus baja. Meskipun golok itu telah kalian lambari dengan tenaga dalam, tapi itu akan sia-sia saja." Prabu Praja Permana menjawab kebingungan mereka.


"Baiklah. Kita lanjutkan saja pertarungannya. Aku tidak peduli lagi siapa targetnya."


"Kau harus membayar perbuatanmu!. Karena kau telah mematahkan golok kesayangan ku!."


Keduanya kali ini menyerang Sang Prabu dengan cepat, akan tetapi Prabu Praja Permana tidak membiarkannya begitu saja. Dengan kekuatan yang ia miliki, ia mampu menghadang mereka.


Sementara itu Selendang Merah sedang berhadapan dengan orang lainnya. Selendang merahnya dari tadi terus ia mainkan. Terkadang ia hantam musuhnya dengan selendangnya itu. Tiga hantaman melekat ke arah keduanya, sehingga mereka terlempar jauh. Tidak sanggup lagi menerima hantaman keras itu.


"Akh!."


Keduanya meringis sakit, dan saat itulah Selendang Merah berhasil melumpuhkan keduanya. Namun sayangnya keduanya malah menelan racun, sehingga keduanya tewas seketika di sana.


"Kurang ajar!. Baru saja dihajar seperti itu malah bunuh diri!. Dasar tidak berguna!." Selendang Merah mengumpat marah.


Kedua pendekar pembunuh bayaran yang tersisa terkejut melihat kedua temannya itu. Mereka mengambil ancang-ancang dan pergi dari sana.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Apa sebenarnya yang mereka inginkan?." Prabu Praja Permana hanya melihat kepergian mereka tanpa mengejarnya.


"Gusti prabu." Selendang Merah mendekati Prabu Praja Permana.


"Apakah nimas baik-baik saja?. Apakah nimas terluka?." Begitu jelas terlihat kecemasan darinya.


"Hamba tidak apa-apa gusti prabu. Sungguh." Selendang Merah tersenyum di balik cadar merah itu. Ia  dapat menangkap perasaan cemas sang Prabu. Perasaan yang murni datang dari hatinya.


"Alhamdulillah hirabbli'alamin jika memang seperti itu nimas." Prabu Praja Permana merasa sangat bersyukur. "Tapi mengapa mereka bisa mengincar nimas?." Itulah yang membuat sang prabu merasa heran.


"Hamba tidak mengetahuinya sama sekali gusti prabu. Maafkan hamba, jika hamba telah mendatangkan musuh ke istana ini." Selendang Merah merasa bersalah karena dirinya diincar.


"Tidak apa-apa nimas. Itu semua adalah resiko dari sebuah pekerjaan berbahaya yang nimas lakukan selama ini. Jadi nimas jangan merasa sungkan seperti itu. Justru aku merasa bertanggung jawab atas keselamatan nimas."


"Terima kasih atas kebaikan gusti prabu. Sekali lagi maafkan hamba." Selendang Merah merasa tidak enak hati. Apakah ia mampu bertahan hanya dengan kebaikan Prabu Praja Permana?. Temukan jawabannya.


...***...


Keesokan harinya.


"Rasanya sangat bahagia sekali. Istana ini semakin ramai dengan kedatangan mereka." Ratu Sawitri Dewi merasakan kebahagiaan yang belum ia rasakan sebelumnya. Apalagi menyaksikan mereka yang sedang melihat mereka latihan.


"Salam hormat hamba gusti ratu." Patih Arya Serupa dan Putri Ambar Suryati memberi hormat.


"Oh ada nanda ambar suryati. Lama tidak datang ke istana ini. Apakah nanda putri memiliki kesibukan?." Matanya menatap penampilan Putri Ambar Suryati, yang seakan ingin menggoda seseorang.


"Hamba hanya di rumah gusti ratu. Mengerjakan pekerjaan rumah, membantu ibunda mengurusi beberapa pekerjaan." Jawabnya dengan ramah.


"Jadi begitu?. Sangat baik sekali mau membantu ibundanya."


"Maaf gusti ratu. Sepertinya ada orang baru yang hamba lihat sedang latihan." Patih Arya Serupa melihat ke arah tiga orang pemuda yang sedang latihan bersama.

__ADS_1


Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil. "pemuda berpakaian hitam itu dia kelalawar hitam, adiknya nini selendang merah. Tentunya kanda patih telah mengetahuinya bukan?." Jawabnya. "Mungkin karena ia tidak menggunakan topeng penutup wajah, jadi wajar kanda Patih tidak mengenalnya."


Patih Arya Serupa hanya menganggukkan kepala. "Lalu bagaimana dengan yang duanya lagi?. Satunya terlihat sangat mirip sekali wajahnya dengan nanda pangeran wira wijaksana." Entah itu hanya firasatnya saja atau memang wajah pemuda yang berpakaian merah abu-abu itu memiliki wajah yang sama dengan Pangeran Wira Wijaksana.


"Dia memang putranya nanda pangeran wira wijaksana. Dia adalah cucuku yang telah sekian lama tidak bertemu. Karena selama ini dia dibesarkan oleh nini selendang merah." Senyuman manis itu terlihat jelas diwajahnya Ratu Sawitri Dewi.


"Anak nanda pangeran dengan wanita pembunuh bayaran itu?." Patih Arya Serupa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


Sedangkan Ratu Sawitri Dewi malah tertawa geli mendengarnya. "Bukan, tentu saja bukan bersama nini selendang merah." Senyumnya semakin lebar. "Kanda Patih tentunya mengetahui bagaimana perangai dari nanda pangeran bukan?. Andara wijaya anak nanda pangeran dengan teman nini selendang merah." Ia tidak ingin Patih Arya Serupa salah dalam mengambil kesimpulan dari apa yang ia katakan.


Tidak ada tanggapan dari Patih Arya Serupa, karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Ia tidak bisa berkomentar banyak.


"Lalu yang satunya lagi. Dia adalah putra angkat nanda prabu. Pemuda dari desa lembung basa yang dibawa kemari oleh nanda prabu. Dia memiliki pemahaman yang baik. Karena itulah nanda prabu mengangkatnya sebagai anak."


Penjelasan terakhir dari Ratu Sawitri Dewi membuat Patih Arya Serupa terkejut. Bagaimana mungkin Prabu Praja Permana mengangkat anak desa menjadi anaknya?. Itulah pikiran Patih Arya Serupa.


"Aku harus melindungi mereka semua darinya. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada mereka hanya karena ambisi busuk yang kau miliki arya serupa." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi mulai waspada dengan keadaan, atau apa saja rencana dari Patih Arya Serupa.


"Jika nanda putri ingin bertemu dengan nanda prabu. Saat ini ia berada di halaman belakang istana."


"Terima kasih gusti ratu. Maaf, jika tujuan hamba untuk menemui gusti prabu."


"Tidak apa-apa. Temui saja." Ratu Sawitri Dewi memahami apa yang dikatakan oleh Putri Ambar Suryati.


"Hamba pamit. Sampurasun."


"Rampes."


"Kalau begitu hamba juga pamit gusti ratu. Sampurasun."


"Rampes." Ratu Sawitri Dewi hanya melihat kepergian mereka. Tadi ia menangkap sangat jelas tujuan kedatangan mereka. Ia tidak akan membiarkan istana ini diisi oleh orang-orang berambisi jahat seperti itu. "Secepatnya aku harus meminta pada nanda prabu, untuk mengumumkan calon ratu agung. Aku tidak mau mereka sampai bertindak jauh." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi mulai waspada akan gerak gerik mereka yang menginginkan kedudukan ratu agung istana. "Aku tidak akan memaafkan kalian yang hanya mengincar tahta ratu agung. Kalian akan menerima akibatnya nanti."

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...*** ...


__ADS_2