ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
TIDAK TERIMA


__ADS_3

...***...


Selendang Merah telah sampai di desa Lembung Basa. Ia langsung menuju Rumah Ki Awuh. Ia bertemu dengan anaknya di sana. Saling melepas rindu setelah tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama.


"Bagaimana keadaan ibunda?. Apakah ibunda baik-baik saja?."


"Ibunda baik-baik saja. Bagaimana denganmu?. Apakah kau merasa kerasan tinggal di sini?."


"Tentu saja ibunda. Ki awuh menjagaku dengan baik."


"Ah tidak juga. Justru aku merasa terbantu dengan adanya nak sawung di sini."


"Syukurlah kalau begitu. Aku merasa lega mendengarnya."


"Lalu apa yang nini lakukan saat ini?. Apakah nini masih melakukan pekerjaan nini?."


"Tentu saja ki. Tapi saat ini aku berkerja untuk gusti prabu praja permana."


"Gusti prabu praja permana?."


"Gusti prabu praja permana?."


"Benar ki. Gusti prabu, ingin memperbaiki negeri yang terlanjur kacau ini ki. Karena itulah aku membantunya."


"Itu lebih bagus nini. Kami kira gusti prabu tidak perhatian lagi pada rakyatnya. Hanya menerima pajak saja dari rakyatnya tanpa bekas kasihan."


"Gusti prabu selama ini hanya dipermainkan oleh penggawa istana saja karena itulah, gusti prabu tidak mengetahuinya sama sekali. Namun saat beliau melakukan pengembaraan, di sanalah beliau menyadari semuanya."


"Jadi begitu yang terjadi?."


"Ya. Begitulah ki."


"Pantas saja gusti prabu tidak mengetahuinya, jika para penggawa istana membuat laporan palsu."


"Tapi untuk saat ini, semuanya sudah mulai berjalan dengan baik. Semoga saja negeri ini kembali aman."


"Kalau begitu kami juga berharap banyak pada nini. Karena nini telah bersedia membantu gusti prabu."


"Memangnya gusti prabu tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri ibunda?."

__ADS_1


"Untuk saat ini belum bisa. Karena para penggawa istana berhati binatang. Mereka hanya menginginkan kekayaan saja. Karena itulah, kami diberi perintah untuk mengatasi mereka. Tetapi masalah luar dulu. Untuk masalah dalam, gusti prabu hanya bisa menekannya dengan mengancam mereka semua."


"Sungguh negeri yang sangat kacau, jika dari dalamnya seperti itu, apalagi di luarnya."


Mereka hanya berharap, jika negeri ini memang aman dari orang-orang yang bersikap buruk seperti itu. Apakah mereka tidak memiliki hati nurani sedikitpun, hanya untuk mengasihani orang lain?. Rasanya tidak mungkin mereka tidak memiliki sifat simpati. Kecuali urat belas kasihan mereka telah putus.


Tapi untuk saat ini, Selendang Merah mencoba untuk tetap tenang. Dan ia ingin menikmati kebersamaan dengan anaknya. Ia hanya ingin melupakan beberapa masalah yang menjadi beban pikirannya.


...****...


Di Istana Kerajaan Sendang Agung. Prabu Praja Permana melihat adiknya yang mengendap-endap memasuki tempat kediaman emban. Ia tahu adiknya itu bukanlah orang yang mudah patuh begitu saja. Tentunya Pangeran Wira Wijaksana terkejut melihat kakaknya yang berada di sana dengan santainya.


"Jika dinda mencari nimas selendang merah, maka aku jawab ia saat ini tidak ada di sini."


"Kanda prabu?. Apa yang kanda lakukan di sini?."


"Aku tadi ingin memeriksa dapur, karena ada kucing berkepala hitam yang ingin mencuri makanan."


"Kanda prabu jangan menyindirku. Memangnya kemana nimas rembulan indah, sehingga ia tidak ada di sini?. Apakah kanda memberinya tugas lagi?." Raut wajahnya terlihat sangat tidak suka. "Padahal aku ingin melakukan rencana yang telah aku susun dengan baik." Dalam hatinya sangat dongkol dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya.


"Nimas selendang merah pergi ke desa lembung basa bukan karena tugas dariku. Akan tetapi itu keinginannya sendiri."


"Apakah dinda akan percaya dengan apa yang akan aku katakan ini?."


"Memangnya apa yang tidak aku percayai kanda prabu?. Katakan saja, aku akan mendengarnya."


Prabu Praja Permana terdiam sejenak. Ia agak ragu mengatakannya, tapi sepertinya ia harus mengatakannya agar adiknya tidak lagi mengharapkan cinta dari Selendang Merah.


"Nimas selendang merah mengatakan, ia ingin bertemu dengan anaknya di sana."


"Anak?. Apakah nimas rembulan indah memiliki anak?. Itu artinya nimas selendang merah telah menikah?."


"Bisa saja seperti itu. Karena nimas selendang merah yang mengatakan seperti itu padaku."


"Aku tidak percaya itu. Bisa saja nimas selendang merah berbohong. Atau kanda sendiri yang mengarang cerita, agar aku tidak lagi mendekati nimas rembulan indah."


"Astaghfirullah hal'azim dinda wira wijaksana. Sungguh kejam sekali tuduhan mu padaku. Aku tidak pernah berbohong padamu, justru dinda lah yang sering berbohong padaku."


"Terserah kanda prabu. Aku tidak akan percaya begitu saja!. Aku akan bertanya langsung pada nimas rembulan indah."

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, Pangeran Wira Wijaksana meninggalkan tempat, karena hatinya merasa tidak terima, jika Rembulan indah, wanita yang ia cintai memiliki suami.


"Itu terserah kau saja. Tapi jika kau masih saja membuat nimas selendang merah tidak nyaman berada di istana ini. Maka aku akan bertindak lebih keras lagi. Juga rencana yang akan kau lakukan dengan bhayangkari ra lilur , jika kalian berani menyentuh nimas selendang merah dengan rencana jahat kalian, akan aku hukum kalian."


Bagaimana bisa Prabu Praja Permana mengetahuinya?. Itu karena sang Prabu menugaskan mata-mata untuk mengawasi mereka semua yang berada di istana ini. Sang Prabu ingin membersihkan istana nya dari orang-orang seperti itu. Termasuk adiknya jika masih saja belum bisa mengubah perangainya.


...***...


Setan Cambuk Neraka juga telah mendengar kabar dari anak buah kelompok setan jahat yang lainnya. Meskipun sebenarnya kelompok setan jahat memiliki lima anggota terkuat, namun salah satunya berhasil dikalahkan.


"Jadi berita kematian setan tombak Pencabut nyawa telah sampai di mana-mana?."


"Benar nini. Konon kabar yang kami dapatkan, ia tewas karena dibunuh oleh pendekar wanita bercadar merah."


"Wanita bedebah itu itu ternyata memang sangat tangguh."


"Kau harus berhati-hati jika berhadapan dengannya. Kekuatannya sangat mengerikan, apalagi jika dia berhasil meniru jurus dari lawannya. Maka kau akan berakhir menuju kematian, sama seperti anakku."


"Itu tidak akan terjadi guru. Aku pasti akan membunuh wanita itu dengan tanganku sendiri. Wanita itu harus mati!. Karena dia telah merendahkan kemampuanku."


"Bukan hanya kau saja. Aku juga ingin membunuhnya. Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa. Aku tidak akan membiarkan wanita itu berkeliaran di bumi ini."


"Kalau begitu, mari kita tingkatkan lagi ilmu kanuragan kita guru. Aku ingin menyerangnya dengan kekuatan penuh. Aku tidak ingin malu karena kalau dipertengahan pertarungan."


"Baiklah kalau begitu. Persiapkan dirimu untuk menerima ilmu kanuragan baru dariku."


"Tentu saja aku selalu siap guru."


"Bagus kalau begitu. Ikutlah denganku."


"Kalau saya bagaimana nini?."


"Kau pergi dari sini. Karena ini khusus wanita, jadi kau tidak perlu ikut dengan kami."


"Baik nini. Kalau begitu saya pergi dulu."


"Ya, pergi saja."


Pemuda yang memberikan informasi itu pergi dari sana. Karena ia juga tidak mau ikut dengan mereka. Ilmu kanuragan seperti apa lagi yang akan diterima olehnya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan komentarnya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2