
...***...
Prajurit yang diperintahkan Prabu Bima Negara tadi membawa wanita yang katanya telah dinodai oleh pangeran Praja Permana. Wanita itu menangis terisak sedih, karena nasib malang yang ia alami.
"Apakah kau tidak melihat bagaimana keadaan wanita yang telah kau nodai itu praja permana?!." Hatinya saat ini sedang dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa. "Dan kau masih saja tidak mau mengakui apa yang telah kau lakukan hah?. Mau sampai kapan kau mau mempermalukan aku praja Permana!." Ia berusaha menahan tangannya untuk tidak kembali menghajar anaknya.
"Ini tidak adil ayahanda prabu." Matanya menatap tajam ke arah wanita yang kini sedang menangis meraung-raung karena apa yang ia alami.
"Keadilan apa lagi yang kau inginkan!. Jika kau terbukti telah melakukan kesalahan!. Jangan uji kesabaran yang aku miliki praja Permana!." Prabu Bima Negara sangat emosi. Mau sampai kapan anaknya ini mau menghindar?.
"Jika ayahanda prabu ingin nanda bertanggung jawab atas apa yang telah nanda lakukan, maka berikan nanda kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya." Pangeran Praja Permana mencoba untuk bersikap lebih baik lagi. Agar ayahandanya mau mendengarkan apa yang ia katakan. "Apakah pantas rasanya seorang anak menjelaskan duduk perkara dalam keadaan terikat seperti ini ayahanda prabu." Pangeran Praja Permana tersenyum lembut menatap ayahandanya. Sehingga Prabu Bima Negara menghela nafasnya.
"Prajurit. Lepaskan ikatannya." Perintah Prabu Bima Negara.
"Sandika gusti prabu."
Setelah kedua tangannya terlepas dari ikatan itu. Terlihat bekas memerah, dan ia hampir saja tidak bisa berjalan karena tenaga dalamnya banyak terkuras setelah hukuman yang ia dapatkan.
"Sekarang katakan padaku keadilan apa yang kau inginkan dariku praja Permana. Dan jangan kau membuatku kehilangan kesabaran." Prabu Bima Negara menghela nafasnya.
__ADS_1
"Ayahanda prabu tidak perlu khawatir. Nanda tidak akan membuat ayahanda kehilangan kesabaran." Pangeran Praja Permana mencoba untuk tetap menghormati ayahandanya. Pangeran Praja Permana mencoba duduk dengan tenang, meskipun duduk di tanah. Ia menatap wanita yang kini masih menangis.
"Mungkin nini melihat wajah saya dari dekat, dan memadu kasih dengan nini. Tapi apakah nini ingat?. Apakah nini pernah melihat tanda ini ketika melihat tubuh saya?." Pangeran Praja Permana tersenyum kecil sambil memperlihatkan bekas luka bakar di bahu kirinya. Membuat wanita itu merasa minder, dan agak menjauhi pangeran Praja Permana.
"Ayahanda lihat sendiri bukan?. Ketika melihat bekas luka bakar di bahu nanda. Wanita ini malah menghindar." Senyuman itu masih terlihat ramah melihat ke arah ayahandanya. "Apakah hanya karena nafsu semata wanita ini tidak melihat ada bekas luka bakar ini dibahu nanda saat memadu kasih?. Nanda rasa wanita manapun akan merasa jijik melihat bekas luka ini." Lanjutnya. "Apakah ayahanda lupa?. Bagaimana penolakan dari putri keshwari adiratna ketika melihat nanda latihan saat itu?. Ketika ia melihat bekas luka dibahu nanda?. Apa yang ia katakan pada ayahandanya ketika ia mengetahui bahwa bahu nanda memiliki bekas luka yang seperti ini?." Pangeran Praja Permana mencoba mengingatkan ayahandanya. "Putri Keshwari adiratna merasa jijik dan malu memiliki suami seperti nanda, meskipun bekas luka bakar ini bisa ditutupi dengan baju yang nanda kenakan." Pangeran Praja Permana merasa sakit hati saat mengingat semuanya. Bagaimana penolakan yang ia terima dari Putri Keshwari Adiratna saat ini.
Prabu Bima Negara mencoba menyimak apa yang dikatakan anaknya. Memang apa yang dikatakan anaknya itu benar. Penolakan perjodohan itu dikarenakan masalah bekas luka bakar yang ada di bahu anaknya itu. Lantas, kenapa wanita ini tidak merasa jijik sama sekali pada anaknya?.
"Hei kau!. Katakan padaku yang sebenarnya!. Aku akan meringankan hukuman mu, jika kau mau berterus terang dengan apa yang terjadi." Prabu Bima Negara sedikit menggertak wanita malang itu.
Akan tetapi, wanita itu malah semakin menangis terisak. Ia menyadari ada kesalahan yang telah ia lakukan pada Pangeran Praja Permana.
"Hamba saat itu." Wanita itu mencoba untuk mengingat dengan baik kejadian itu. "Saat itu hamba rasa memang sedang memadu kasih dengan gusti prabu, tapi hamba tidak melihat bekas luka bakar. Dan saat hamba terbangun-." Ia terus mengingat deretan kejadian hari itu. "Orang yang berbeda ketika hamba terbangun."
"Katakan padaku siapa yang kau lihat saat kau terbangun?." Pangeran Praja Permana hanya ingin memastikan apa yang dikatakan oleh wanita itu.
"Mohon ampun gusti pangeran, gusti prabu." Ia bersujud dihadapan mereka berdua sambil menangis sedih.
"Katakan saja padaku. Jangan buat kau memaksa kau untuk mengatakannya siapa orang itu." Pangeran Praja Permana terus memaksanya.
__ADS_1
"Tolong ampuni hamba gusti prabu, gusti pangeran. Sebenarnya yang memadu kasih dengan hamba pada saat itu adalah-."
Prabu Bima Negara sungguh tidak menyangka dengan apa yang dikatakan wanita itu. Sementara itu, Pangeran Praja Permana telah menduganya. Hatinya terasa sangat sakit menerima kenyataan itu. Ia jadikan kambing hitam atas apa yang telah dilakukan orang lain. Namun malah ia yang disalahkan?.
Kembali ke masa ini
"Jadi yang melakukan itu adalah pangeran wira wijaksana?. Akan tetapi gusti prabu yang selalu menjadi kambing hitamnya?." Hampir saja Selendang Merah tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. "Dari remajanya saja sudah bajingan. Apalagi saat ia dewasa." Dalam hati Selendang Merah merasa miris mendengarkan cerita itu. "Untung saja aku tidak menjadi korban nafsu bejad wira wijaksana. Sungguh malang sekali nasibku." Dalam hati Selendang Merah merasa miris dan tidak akan pernah terpikat oleh ketampanan dari Pangeran Wira Wijaksana.
"Hatinya terluka karena selalu saja menjadi korban fitnah karena wanita. Sehingga ia kadang membenci wanita yang telah menyakitinya." Ratu Sawitri Dewi merasa kasihan dengan nasib buruk anaknya dimasa lalu. "Namun saat ia melihat nini, aku yakin. Hatinya kembali terbuka untuk mencoba mencintai wanita. Karena sikap nini yang berbeda dengan yang lainnya." Senyuman yang lebih harapan, dan sangat tulus. "Sudah lama rasanya tidak melihat perubahan sikap nanda prabu yang mau terbuka dengan seorang wanita. Dan bahkan aku tidak sengaja melihat ia tertawa bersamamu waktu itu." Ratu Sawitri Dewi mencoba untuk mengingat setelah pertemuan hari itu. "Hanya nini yang mampu meyakinkan hati putraku, bahwa tidak semua wanita itu jahat di dunia ini padanya. Karena itulah ia menolak lamaran siapa saja yang datang padanya. Itu semua karena ia yakin, hanya nini yang bisa menerima dirinya dengan apa adanya." Ratu Sawitri Dewi mengatakan semuanya tentang anaknya. Bagaimana kekecewaannya pada wanita yang seakan memusuhinya. Mengatakan jika ia telah menodai mereka, namun yang melakukan itu adalah adiknya pangeran Wira Wijaksana.
"Sungguh kisah yang sangat menyakitkan. Dari awal baik, namun menjadi berbeda karena merasa kecewa." Selendang Merah merasa simpati kisah Prabu Praja Permana kala itu.
"Apakah kau masih penasaran dengan cerita nya yang lain?."
"Apakah gusti ratu bersedia menceritakan kisah masa lalu gusti prabu pada hamba?."
"Tentu saja aku bersedia."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...