
...****...
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam saat ini sedang berada di desa payau air. Mereka kembali bertugas, setelah beberapa hari. Mereka memeriksa sebuah desa yang katanya sedang dikuasai oleh beberapa kawanan perampok yang ganas. Tentunya sebagai orang-orang yang bekerja dibawah perintah Raja, mereka wajib membasmi mereka semua. Namun desa itu sangat sepi, sehingga mereka sedikit kesulitan untuk bertanya apa yang terjadi dengan desa itu.
"Nini. Apakah nini yakin?. Jika ini memang tempatnya?."
"Jangan pernah remehkan aku. Desa ini memang lokasi tempat kawanan perampok itu berkuasa."
"Baiklah nini. Kalau begitu, kita mari kita selidiki. Apakah ini benar tempatnya. Apakah benar kawasan ini dikuasai oleh orang-orang bodoh itu."
"Lebih baik kita cari tahu saja apa yang terjadi. Aku tidak suka menerka-nerka."
"Kalau begitu, kita berpencar saja nini. Karena lebih cepat lebih baik."
"Aku akan mencari ke sana. Aku merasakan ada hal aneh di sana."
Selendang Merah langsung bergerak ke arah yang ia maksud. Ia tidak mau lama-lama membuang waktu hanya untuk berpikir.
"Kalau begitu aku akan menuju ke arah yang berlawanan." Kelalawar Hitam menuju arah yang berbeda.
Sebagai pendekar pembunuh bayaran, tentunya bukan hal yang menakutkan bagi mereka menantang maut, hanya karena bergerak sendiri-sendiri. Bagi mereka itu adalah hal yang biasa.
Tapi apakah kali ini mereka akan mampu mengatasinya?. Karena kabar yang beredar, desa ini dikuasai oleh seorang pendekar rampok yang memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Temukan jawabannya.
...****...
Sedangkan di Istana Kerajaan Sendang Agung. Prabu Praja Permana sedang meneliti kembali tentang apa yang dikeluhkan keempat wanita yang mendampingi adiknya itu. Bersama ibundanya yang akhir-akhir ini menemani dirinya.
"Setelah masalah kawanan perampokan selesai. Nanda akan meminta bantuan dari nimas selendang merah untuk mengatasi dinda wira wijaksana."
"Jangan sampai masalah adikmu itu memberikan beban pada nanda. Apalagi rencana yang akan ia jalankan pada nanda. Ia hanya pandai bersandiwara saja dihadapan nanda prabu."
__ADS_1
"Nanda sedang memikirkannya ibunda. Nanda hanya kasihan saja pada mereka yang akan ditinggalkan dinda wira wijaksana."
"Nanda prabu harus ingat, jika dia adalah anak dari wanita, yang memiliki akal jahat. Sehingga kanda prabu terpengaruh untuk menjadikannya selir. Namun akhirnya mati dengan mengenaskan."
"Nanda mengerti perasaan ibunda. Namun kita tidak boleh membumbui dendam, dalam masalah ini ibunda. Karena sebagai orang-orang yang beriman, tentunya kita tidak mau masuk neraka hanya dendam yang tak terbalaskan."
"Baiklah nanda prabu. Tapi jika ia berencana yang tidak baik pada nanda prabu. Ibunda terpaksa mengatakannya."
"Tapi untuk saat ini ibunda tetaplah bersabar. Janganlah ibunda terbawa amarah yang merugikan."
"Insyaallah, ibunda hanya tidak mau putra yang ibunda sayangi celaka."
Mereka, ibu dan anak masih membahas masalah Pangeran Wira Wijaksana yang tidak bisa dinasihati dengan baik. Apa yang diinginkan oleh Pangeran Wira Wijaksana dengan menikahi Rembulan Indah, atau Selendang Merah. Mereka masih memikirkan hubungan kekeluargaan dengan Pangeran Wira Wijaksana, atau memikirkan orang-orang yang akan ditinggalkan. Jadi saat ini mereka masih memikirkan hukuman apa yang pantas didapatkan oleh Pangeran Wira Wijaksana. Temukan jawabannya.
...****...
Sementara itu Selendang Merah yang sedang memantau keadaan. Dengan mata elangnya, ia mencoba untuk melihat sekitar. Namun siapa sangka, orang yang ia cari malah mendatanginya.
"Kenapa memangnya jika aku seorang wanita?. Apakah kau mau bersikap kurang ajar padaku?."
"Tentu saja tidak seperti itu nini. Jika yang datang seorang wanita cantik, dengan senang hati aku akan menyambut kedatangannya. Jika seorang laki-laki, tentunya akan aku hajar dia."
"Hooo jadi begitu?. Lalu bagaimana tanggapanmu, jika wanita yang datang itu menginginkan nyawamu?."
"Jadi maksud nini, wanita itu ingin menantang aku untuk bertarung dengannya?."
"Kenapa memangnya jika seperti itu?. Apakah kau akan berhadapan dengannya?."
"Wanita itu memang sangat luar biasa. Suka menantang, dan akan takluk seperti kucing jika sudah dihadapkan dengan uang permata."
"Jangan kau sama ratakan aku dengan wanita lain. Mungkin kau banyak menemukan wanita seperti itu. Sayangnya, aku datang ke sini untuk memenggal kepalamu yang tidak berguna itu."
__ADS_1
"Ahahaha nyalimu besar juga ternyata nini. Ingin menantang aku?. Apakah kau tidak mengetahui siapa aku hah?. Sehingga kau datang ke sini untuk bertarung denganku. Apakah kau sudah bosan hidup nini?. Ahahaha."
"Berani sekali kau pendekar seribu tendangan maut pemula seperti kau meremehkan aku!."
"Hah?. Jadi kau telah mengetahui siapa aku?. Tapi kau telah berani mengatai aku seorang pemula?. Kau benar-benar membuat aku marah!."
"Justru aku yang marah padamu. Kau telah menambah pekerjaanku. Sehingga aku terpaksa membuat janji yang tidak akan bisa lepas lagi darinya."
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau keluhkan. Jika kau memang memiliki nyali, maju saja. Dengan senang hati aku akan berhadapan dengan kau, wanita cadar merah."
"Aku pasti akan mengalahkanmu."
Selendang Merah maju duluan, ia menyerang musuhnya. Ia terus menggali informasi yang ia dapatkan dari penglihatannya. Selendang Merah benar-benar berhadapan dengan seorang pendekar rampok, yang memiliki jurus berbahaya.
Mereka saling menyerang satu sama lain tidak membiarkan musuhnya menguasai pertarungan itu. Benar-benar pertarungan yang sangat sengit.
"Boleh juga wanita cadar merah. Ilmu kanuragan yang kau miliki juga lumayan dari mulutmu."
"Heh!. Aku tidak butuh kata-kata sanjungan darimu. Kata-kata busukmu itu hanyalah pemanis, dan aku tidak akan berakhir seperti wanita lainnya. Setelah kau rayu, kau berikan kenikmatan. Dan dengan biadabnya malah kau bunuh mereka!."
"Setan belang, bagaimana mungkin kau bisa mengetahui apa yang aku lakukan selain merampok. Kau itu dewa atau setan?. Sehingga dapat mengetahui apa yang aku lakukan di hutan ini."
"Aku adalah malaikat kematian, yang ditakdirkan Tuhan untuk mencabut nyawa orang yang tidak berguna seperti kau!. Penjahat, perampok, juga berani mempermainkan harga diri wanita. Aku paling benci dengan laki-laki seperti itu. Aku telah bersumpah!. Akan membunuh laki-laki yang seperti itu!."
Setelah berkata seperti itu, dengan ganasnya Selendang Merah menyerang musuhnya. Rantai Setan, itu adalah julukan Pendekar yang kini sedang berhadapan dengan Selendang Merah. Rantai Setan menghindari kibasan selendang merah yang datang ke arahnya. Hawa yang ditimbulkan selendang merah itu cukup mengerikan, sehingga Rantai Setan waspada.
"Siapa wanita bercadar ini?. Sehingga serangannya begitu bertenaga. Berbeda sekali dengan pendekar wanita yang pernah aku lawan. Dan sepertinya, dia wanita yang tangguh. Aku pasti akan menaklukkannya. Aku akan mendapatkan kekasih hati yang sangat tangguh untuk diajak memadu kasih." Dalam hatinya membayangkan, jika dirinya berhasil menundukkan Selendang Merah.
Bagaimana pertarungan mereka?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1