
...***...
Prabu Praja Permana baru sampai di Istana Kerajaan Sendang Agung. Prajurit yang berjaga di depan gerbang Istana sangat terkejut melihat kedatangan sang Prabu.
"Gusti prabu. Apa yang bisa kami bantu gusti?." Mereka cemas melihat keadaan Prabu Praja Permana yang terluka?.
"Tidak apa-apa prajurit. Tapi aku ingin kalian memeriksa dua jasad yang berada di perbatasan kota raja menuju desa desa Lembung Basa."
"Sandika gusti prabu."
Prajurit meninggalkan gerbang Istana, menjalankan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana. Namun disaat sang Prabu ingin memasuki istana. Ia tidak sengaja bertemu dengan kedua Patih Arya Serupa.
"Nanda prabu. Apa yang terjadi pada nanda prabu?. Dan apa yang terjadi padanya?."
"Maaf paman. Nanti saja bertanya, aku mau membawa nimas selendang merah ke ruang pengobatan."
"Baiklah nanda prabu."
"Ya Allah. Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada nimas selendang merah. Hamba mohon selamatkan lah ia ya Allah." Dalam hati Prabu Praja Permana sangat berharap tidak terjadi sesuatu pada Selendang Merah.
Mereka menuju ruang pengobatan. Karena mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Selendang Merah. Apakah Selendang Merah bisa diselamatkan?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu di desa Lembung Basa. Andara Wijaya saat ini sedang bersama Sari Asmawati. Entah karena mereka telah memiliki hubungan yang baik atau hanya sekedar teman saja?. Namun sepertinya ada asmara yang sedang lahir diantara keduanya. Sari Asmawati yang telah terpikat akan ketampanan dari Andara Wijaya. Saat ini mereka sedang berada di tepian sawah yang tak jauh dari pemukiman warga.
"Apakah kakang yakin?. Tidak memiliki kekasih?."
"Jika kau tanyakan masalah itu padaku. Aku bingung dengan masalah hati yang aku miliki."
"Apa maksud kakang?."
"Aku hanya tidak mengerti apa itu cinta. Mengapa kita merasakan perasaan cinta?. Mengapa kita harus merasakan perasaan cinta?. Aku sungguh tidak mengerti sama sekali."
"Jadi maksudnya kakang masih ragu-ragu dalam hal perasaan menyukai seseorang?."
__ADS_1
"Bisa dikatakan seperti itu."
"Itu artinya kakang adalah seorang laki-laki yang tidak memiliki pendirian. Dan orang seperti itu biasanya mudah bercabang hatinya."
"Bukan seperti itu. Hanya saja aku merasakan perasaan yang sesak, karena tidak bisa membalas perasaan suka seseorang begitu saja. Perasaan yang tidak ingin mengecewakan orang lain, hanya karena perasaan dari sekedar kagum, atau hanya perasaan suka semata dari melihat fisiknya saja."
"Oh. Aku mengerti. Kakang sulit jatuh cinta. Kakang belum memahaminya saja. Tapi aku yakin kakang akan segera memahaminya, jika kakang terus bersama orang yang kakang sukai."
"Apakah akan bisa seperti itu?."
"Ya. Ayahanda juga ibunda yang mengatakannya."
"Tapi yang akan menjalani adalah kita. Bukan siapapun."
"Baiklah. Aku mengerti. Aku juga tidak akan memaksa kakang untuk menyatakan perasaan suka padaku. Aku akan menunggu, hingga perasaan suka kakang tumbuh menjadi cinta padaku."
"Sungguh maafkan aku. Bukan aku bermaksud untuk menggantungkan perasaan mu padaku. Terima kasih karena kau mau menyukai orang kaku seperti aku."
"Tentu saja kakang."
"Hei!. Kau sawung!. Beraninya kau membawa anak gadis orang ke tempat sepi seperti ini!. Apakah kau ingin dikeroyok warga?. Karena kau telah berani menodai desa ini."
"Sandi praha?. Apa yang ingin kau lakukan?. Mengapa kau malah datang ke sini?."
"Diam kau sari asmawati. Aku tidak menyangka kau malah suka dibawa oleh siapa saja."
"Hei!. Kau!. Jaga bicaramu!. Aku dan nini sari asmawati ke sini bukan serta merta berdua saja. Apakah kau tidak lihat?. Di sana ada paman lana lespati sedang bernegosiasi dengan pemilik sawah itu." Andara Wijaya menujuk ke arah seorang laki-laki yang sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
"Aku sedang menunggu paman lana lespati. Makanya aku duduk di sini bersama nini sari asmawati. Apakah hatimu hanya diisi rasa bencimu padaku, sehingga hanya keburukan saja yang kau lihat dariku?."
"Kau jangan terlalu cepat menilai orang lain. Kami di sini tidak berbuat apapun selain menunggu ayahandaku yang ingin membeli sawah."
"Kalian pandai sekali bersilat lidah. Kalau begitu akan aku tanyakan pada paman lana lespati." Ia sangat kesal mendengarkan apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Ia tidak percaya begitu saja, hingga Lana Lespati datang mendekati mereka.
"Oh ada nak sandi praha rupanya. Ada apa?. Tidak biasanya ke sini?."
__ADS_1
"Aku sedang mendatangi sawung paman. Aku hanya ingin mengingatkan dia agar tidak berduaan berduaan saja dengan anak gadis paman."
Lana Lespati tertawa geli mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sandi Praha. Rasanya lucu saja apa yang dikatakan anak muda itu.
"Kenapa paman malah tertawa?. Anak paman bersama orang asing. Meskipun dia adalah cucunya ki awuh, bukan berarti dia bisa berbuat semena-mena termasuk pada anak gadis paman."
"Hei sandi praha. Kau ini bicara apa?. Aku yang menyuruh mereka menunggu di sini. Aku yang membawa nak sawung ke sini. Karena aku ingin mengajaknya jalan-jalan ke sini."
"Apakah paman yakin?."
"Aku sangat yakin. Aku ingin mengenal nak sawung. Mungkin saja, yaaaa gitu lah. Aku harap."
"Jadi paman mau menjodohkan anak gadis paman dengan dia?!."
Tentu saja Sandi Praha terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Lana Lespati, jika memang itu tujuannya.
"Aku kan tidak berkata seperti itu sih. Yang akan menjalaninya kan mereka. Jadi kau jangan salah sangka jika nak sawung akan bersikap kurang ajar pada anak gadis ku."
Raut wajah Sandi Praha terpilih sangat marah. Jadi tujuan Lana Lespati sengaja mendekati Andara Wijaya atau Sawung itu mau dijodohkan dengan anak gadisnya?. Sandi Praha tidak terima begitu saja. Hatinya sangat menolak keras perjodohan itu. Ia sangat mencintai Sari Asmawati, jadi tidak boleh ada laki-laki lain yang memilikinya selain dirinya. Apakah yang akan terjadi?. Sepertinya akan ada bentrokan batin yang akan terjadi akibat asmara alias cinta. Bagaimana kisahnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
Istana Kerajaan Sendang Agung, di ruang pengobatan. Prabu Praja Permana melihat bagaimana tabib istana mengobati Selendang Merah. Ia sangat khawatir dengan keadaan pendekar wanita itu.
Saat itu juga, Ratu Sawitri Dewi masuk ke ruang pengobatan dengan raut wajah yang cemas.
"Nanda prabu. Apa yang terjadi padanya nanda prabu?. Dan nanda juga terluka?. Apakah nanda bertarung?." Ratu Sawitri Dewi sangat khawatir dengan keadaan anaknya. Ia tidak mengerti saat melihat anaknya yang terluka.
"Nanda tidak apa-apa ibunda."
"Tapi nak."
Dan benar, saat tabib istana mengobati bahu kiri Selendang Merah, luka yang ada di bahu kiri Prabu Praja Permana ikut sembuh dan luka itu menghilang. Tentunya Ratu Sawitri Dewi dan Patih Arya Serupa merasa aneh dengan apa yang mereka lihat. Sungguh mereka sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Prabu Praja Permana. Bagaimana bisa luka itu ikut menghilang?. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya ya pembaca tercinta.
...***...
__ADS_1