
...***...
Selendang Merah kini sedang berhadapan dengan Syetan Cambuk Neraka dan Nini Amara Senjani. Mereka sangat marah, dan tidak terima direndahkan begitu saja oleh Selendang Merah.
"Kau harus membayar atas kematian anakku. Dan kau juga telah berani menggunakan selendang lebur abu padaku!."
"Heh!. Jika kau ingin merasakan jurus itu lagi, dengan senang hati akan aku mainkan jurus itu."
"Bedebah busuk!. Jumawa!. Akan aku bunuh kau!."
Nini Amara Senjani tidak dapat lagi menahan kemarahan yang membuncah di dalam dadanya. Ia segera melompat ke arah Selendang Merah, dan ia menyerahkannya. Serangan yang sangat bertenaga, dan tidak bisa dihindari.
"Akhirnya terpancing juga kemarahannya." Syetan Cambuk Neraka juga ikut melompat ke arah Selendang Merah.
Pertarungan itu sekarang menjadi lebih ganas lagi. Dua lawan satu, meskipun kalah jumlah, namun Selendang Merah tidak akan mudah mengalah begitu saja. Ia balik menyerang keduanya, dengan jurus-jurus yang ia miliki.
"Hyah. Sha."
Selendang Merah menahan pukulan yang datang dari kiri, dan kanan ia tahan dengan kaki kanannya. Ia benar-benar dikeroyok oleh kedua Pendekar wanita itu.
"Kau harus membayar nyawa anakku. Tidak akan aku biarkan kau hidup, sementara anakku kau bunuh!."
"Anakmu sama tidak bergunanya denganmu. Hidup hanya membuat orang lain Sengara. begitu juga dengan kau!. Lebih baik mati saja, dari pada mengotori dunia ini. Bau kalian tidak enak untuk dicium."
"Kurang ajar!. Mulutmu itu harus aku robek biar tidak berkata kurang ajar lagi!."
"Bedebah busuk!. Kau pikir kau itu suci hah?!."
Dengan geramnya keduanya menyepak dan menyerang dengan pukulan keras ke arah Selendang Merah, akan tetapi ia berhasil menghindar dengan melompat salto. Ia berhasil menghindari serangan itu, setelah itu ia melompat naik ke atas pohon yang berada di dekatnya. Saat ini ia lebih tinggi dari keduanya, menatap tajam ke arah keduanya.
"Turun kau bedebah busuk!. Ucapanmu itu sangat menyinggung harga diriku."
"Aku berkata yang sebenarnya. Harusnya kalian berterima kasih padaku. Karena aku menyebutkan kebusukan yang kalian miliki, dan kalian harusnya menyadari kesalahan yang telah kalian lakukan. Harusnya kalian memperbaikinya sebelum ajal menjemput kalian."
"Kunyuk edan!. Beraninya kau berkata berkata seperti itu padaku."
Dengan geramnya Nini Amara Senjani mengarahkan serangan tenaga dalam ke arah Selendang Merah, namun ia menyadari serangan itu dan melompat menjauh dari pohon itu. Sehingga yang terkena serangan itu hanyalah pohon itu yang terbakar oleh api.
__ADS_1
"Heh!. Jurus jari api setan. Jurus yang mudahnya aku curi." Selendang Merah melompat turun tepat dihadapan keduanya. Tentunya ucapannya membuat keduanya semakin marah, dan langsung menyerangnya tanpa ragu sedikitpun.
Selendang Merah kali ini bukan hanya bertahan dari serangan itu, melainkan juga menyerang mereka dengan menggunakan jurus dasar yang ia miliki. Jurus cakar elang memangsa, yaitunya menyalurkan tenaga dalam ke jarinya yang seperti cakar elang, menyerang keduanya.
Kali ini keduanya yang mencoba menghindari serangan Selendang Merah. Mereka sedikit kewalahan, karena hawa cakaran itu seperti mengejar mereka sampai tubuh mereka hampir dirobek oleh cakaran itu.
Keduanya terpaksa melompat menjauh dari Selendang Merah, jika mereka tidak ingin terkena serangan berbahaya itu. Selendang Merah memperhatikan keduanya yang menjauhinya, dan kesempatan itu ia gunakan menggunakan jurus jari api setan.
"Kegh."
Hampir saja keduanya terkena serangan itu, jika tidak membuat tameng dengan menggunakan tenaga dalam yang mereka miliki. Serangan jari api setan tadi, hampir saja menembus dada mereka jika tidak segera diatasi.
Begitu kaki mereka berhasil menjejak di tanah. Keduanya mengatur tenaga dalam mereka agar lebih baik.
"Bedebah!. Hampir saja aku terbunuh karena jurusku sendiri!."
"Kau benar-benar wanita gila!. Kau benar-benar berniat membunuh kami!."
"Ahahaha, ahahaha. Aku suka dengan raut wajah kalian yang ketakutan itu. Sudah aku katakan, jurus itu sangat mudah untuk aku curi, ahahaha!."
"Guru. Mari kita satukan tenaga dalam serta kekuatan yang kita miliki. Aku sudah muak dengan wanita itu guru."
"Mari kita lakukan."
Sepertinya keduanya sudah tidak tahan lagi dipermainkan oleh Selendang Merah. Keduanya benar-benar ingin membunuh Selendang Merah. Dendam harus segera mereka balas, dan kali ini serangan yang mereka lakukan tidak akan meleset lagi. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu di Istana Kerajaan Sendang Agung. Entah mengapa Prabu Praja Permana merasa gelisah. Pikirannya sangat tidak tenang, tiba-tiba saja ia memikirkan Selendang Merah.
"Nimas selendang merah. Apa yang terjadi padamu?. Sehingga aku merasakan perasaan gelisah seperti ini." Sang Prabu yang sedang berada di Pendopo Istana saat ini sedang menatap arah luar. Raut wajahnya yang tampak gelisah, dan terlihat kusut.
"Jika nanda prabu merasa khawatir, mengapa nanda prabu tidak menyusulnya saja?."
"Ibunda?." Prabu Praja Permana sedikit terkejut dengan kedatangan ibundanya. Ia tidak menyangka akan melihat ibundanya.
"Jika nanda prabu merasa cemas padanya, sebaiknya nanda prabu segera susul dia."
__ADS_1
"Tapi ibunda. Nanda tidak mau mengganggu nimas selendang merah."
"Perasaan cemas itu harus segera nanda redakan dengan melihat keadaannya. Atau nanda akan menyesal, jika terjadi sesuatu padanya."
"Tapi ibunda-."
"Pergilah nak. Masalah istana nanda prabu tidak usah khawatir, ibunda akan menjaga istana ini dengan baik."
"Baiklah kalau begitu ibunda. Nanda akan menyusul nimas selendang merah. Nanda akan segera kembali, jika nanda telah memastikan keadaan nimas selendang merah baik-baik saja."
"Berhati-hatilah nak. Ibunda akan mendoakan, semoga Allah selalu melindungi nanda prabu, juga nini selendang merah."
"Nanda pamit dulu ibunda. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, nanda prabu."
Setelah salim dan pamitan, Prabu Praja Permana meninggalkan halaman Istana. Ia segera menyusul Selendang Merah yang mungkin saat ini sedang menuju jalan desa Lembung Basa.
"Ya Allah. Semoga saja perasaan yang dimiliki oleh nanda prabu salah. Semoga saja nini selendang merah baik-baik saja. Hamba hanya ingin ia menjadi menantu hamba. Agar bisa membantu nanda prabu memperbaiki negeri ini ya Allah." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi berharap, jika semuanya akan baik-baik saja. Entah mengapa, hatinya sangat yakin, jika Selendang Merah adalah satu-satunya wanita yang mampu mendampingi anaknya.
Apakah harapan Ratu Sawitri Dewi akan terwujud?. Ia hanya berharap akan ada benang takdir yang baik terjalin antara anaknya dengan wanita cadar merah itu.
...***...
Kembali ke pertarungan Selendang merah. Kali ini ia sedang menghindari serangan yang datang padanya. Bukan serangan fisik, melainkan serangan tenaga dalam. Keduanya menyalurkan tenaga dalam mereka ke telapak tangan mereka, dan menyerang Selendang Merah dengan gerasak gerusuk.
"Heh!. Kali ini kau tidak akan bisa menghindari serangan kami. Tamatlah riwayat mu kali ini!."
Tanpa ampun, dan pandang bulu, mereka terus menyerang Selendang Merah dengan tenaga dalam mereka. Serangan mereka yang meleset itu hanya menimbulkan dampak ledakan.
"Mereka mulai serius untuk menghabisiku. Aku harus waspada, jika aku lengah. Jurus ledakan serbuk racun itu akan menggerogoti tubuhku." Dalam hati Selendang Merah mulai merasa cemas. Apalagi ketika matanya melirik ke arah tempat yang terkena serangan mereka. Semuanya menjadi layu, bolong, dan menyusut aneh. Akan berbahaya jika jurus itu mengenai tubuhnya. Ia akan mati secara perlahan-lahan, dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Janjinya pada Sang Prabu harus ditepati, sebelum ia memusnahkan semua kawanan perampok, termasuk Nila Ambarawati maka ia tidak boleh mati.
Apakah yang akan dilakukan oleh Selendang Merah untuk mengahadapi jurus berbahaya itu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya, biar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
...***...
__ADS_1