ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
MELAWAN KAWANAN PEROMPAK


__ADS_3

...***...


Malam telah mengapa, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam berada di salah satu rumah penduduk desa layang. Untuk sementara waktu, mereka bersembunyi di sana.


"Memangnya nini juga aden dari mana?. Kenapa repot-repot mau membasmi kawanan perampok itu?."


"Kami adalah utusan gusti prabu praja permana."


"Utusan gusti prabu praja permana?."


"Ya, kami utusan dari gusti prabu praja permana."


"Oh dewata yang agung. Benarkah?."


"Kami tidak berbohong sama sekali."


"Oh syukurlah kalau begitu. Karena kami sudah tidak kuat lagi menahan tekanan dari kawanan perampok itu." Pak Wasno merasa lega mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah dan Kelalawar Hitam.


Jika memang mereka adalah utusan Prabu Praja Permana, itu artinya sang Prabu sangat peduli dengan penderitaan rakyat Sendang Agung.


"Lalu apa yang akan nini juga aden lakukan setelah ini?. Jika ada sesuatu yang bisa saya bantu, katakan saja."


"Terima kasih bapak bersedia membantu kami. Tapi untuk keselamatan bapak, untuk saat ini berpura-pura tidak tahu saja pak."


"Benar pak. Kami takut terjadi sesuatu pada bapak nanti."


"Kalau begitu nini juga aden berhati-hatilah. Karena daerah ini benar-benar dikuasai oleh kawanan perampok. Terutama mereka yang ganas di rumah lurah tisno. Jadi aden juga nini jangan sampai lengah."


"Terima kasih atas informasinya pak. Kami merasa terbantu sekali."


"Saya senang membantu, jika memang itu dari gusti prabu praja permana."


"Semoga kalian bersabar hingga kami benar-benar mengatasi kawanan perampok itu pak."


"Bersabarlah, kami akan berusaha sebaik mungkin."


Selendang Merah dan Kelalawar Hitam berusaha memberikan penjelasan pada pak Wasno, bahwa mereka sedang menyelidiki dengan baik, apa saja yang sedang dilakukan oleh kawanan perampok itu.


Keesokan harinya.


Di depan rumah Lurah Tisno. Kawanan perampok ada sekitar lima orang. Dan sisanya telah berada di lokasi mengawasi pada penduduk yang melakukan pekerjaan. Namun, ada satu orang yang belum kembali untuk melapor, apa saja yang telah mereka lakukan.

__ADS_1


"Kemana sendil tepi?. Mengapa ia belum juga kembali?. Apakah dia masih tidur?."


"Rasanya tidak mungkin. Semalam aku belum melihatnya sama sekali."


"Cari dia!. Berani sekali dia melalaikan perintah yang diberikan ketua padanya."


"Ini tidak bisa dibiarkan. Berani sekali dia kabur, atau malas-malasan. Apakah dia sudah mulai bosan hidup?."


"Kalian tidak usah mencemaskan keadaan teman kalian."


Mereka semua terkejut, karena mendengarkan suara seorang wanita. Mereka mencari arah sumber suara. Mereka tidak semakin terkejut, wanita itu berada di atas atas rumah lurah, bersama seorang laki-laki muda?.


"Siapa kalian?. Berani sekali kalian bukan orang sini."


Pakaian mereka berbeda, apalagi penutup wajah yang mereka kenakan. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan.


"Kami adalah utusan prabu praja permana. Dan kami akan meringkus kalian semua."


"Sepertinya kami tidak perlu menyelidiki tentang kalian. Karena lebih baik menghajar kalian secara langsung. Rasanya hanya membuang-buang waktu saja, jika mencari tahu kekuatan penjahat kelas teri macam kalian."


"Bedebah busuk!. Turun kalian jika memang kalian berani!." Tidak usah banyak bicara!."


Selendang Merah memberi kode pada Kelalawar Hitam untuk segera turun. Begitu keduanya turun, mereka berhadapan dengan oleh kawanan perampok itu.


"Jadi kalian adalah urusan gusti prabu praja permana?."


"Jika ia kalian mau apa?."


Mereka malah tertawa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kelalawar Hitam.


"Jadi sangat prabu telah bertindak, dan mendengar kabar jika desa ini dikuasai oleh kawanan perampok?."


"Ternyata dia peduli juga terhadap rakyatnya?."


Mereka semua tertawa meremehkan sangat Prabu. Entah mengapa, hati Selendang Merah sangat kesal mendengarkan tawa mereka yang mereka katakan dalam tawa mereka itu.


Shuk


Ckeckh


"Aaaaaakh." Salah satu dari mereka menjerit kesakitan, karena mendapatkan serangan jarum beracun yang dilempar oleh Selendang Merah, dengan melambari jarum itu dengan tenaga dalamnya. Jarum itu tertancap dengan sempurna di leher salah satu dari kawanan perampok itu. Tentunya mereka semua terkejut mendapatkan serangan tanpa diduga dari Selendang Merah.

__ADS_1


"Sangat lemah!. Tapi kalian berani ingin mengancam keselamatan desa ini." Selendang Merah sangat kesal, karena salah satu dari mereka, mudah sekali untuk dikalahkan.


"Kurang ajar!. Kita serang mereka!." Perintah lelaki tegap berkumis tebal itu memberi perintah pada ketiga anak buahnya yang tersisa.


Ketiga anak buahnya menghadapi Selendang Merah dan Kelalawar Hitam. Pertarungan di depan rumah lurah Tisno. Mereka benar-benar bertarung menggunakan tenaga dalam mereka.


"Sial. Siapa mereka sebenarnya?." Dalam hati Respana merasa heran dengan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh kedua pendekar bercadar itu. Matanya melihat anak buahnya yang satu tewas ditangan pendekar wanita itu.


"Sepertinya mereka bukan orang biasa. Aku harus menemui ketua setan pencabut nyawa, karena ini masalah yang sangat serius." Respana tidak mau mengambil resiko. Karena ia tidak mau disalahkan oleh ketuanya itu nantinya.


Sementara itu pertarungan Selendang Merah dan Kelalawar Hitam melawan ketiga orang itu masih berlanjut. Selendang Merah berhasil memukul mundur salah satu dari mereka.


Selendang merehanya itu berhasil menghantam dada laki-laki kurus bernama Senja Kala. Lelaki kurus itu sebenarnya memiliki jurus andalan yang lumayan kuat, akan tetapi jurus yang dimiliki oleh Selendang Merah lebih kuat. Sehingga ia tidak bisa mengalahkannya dengan mudah.


"Sebaiknya kau menyerah saja. Teman kalian yang memerintah di kebun singkong sudah kami ringkus, dan saat ini ia berada di istana kerajaan sendang agung untuk diadili."


"Bedebah!. Pantas saja kami tidak menemukan keberadaannya!. Ternyata dia sudah tertangkap oleh kalian!."


"Sebentar lagi giliranmu. Tidak usah melawan, dan hukuman akan segera kau rasakan setelah aku berhasil menangkapmu."


"Coba saja kalau kau bisa!. Kau pikir aku akan mudah dikalahkan begitu saja." Senja Kala tidak mau kalah begitu saja. Ia masih mampu melawan Selendang Merah dengan beberapa jurus yang ia miliki.


Sementara itu, Kelalawar Hitam berhadapan dengan dua orang pendekar yang lumayan ilmu kanuragan tang mereka miliki. Kali ini ia menggunakan jurus suara belenggu alam. Jurus ini menggunakan suara yang cukup keras, seperti Kelalawar yang sedang memantulkan bunyi di dalam goa, sehingga menghasilkan dampak yang sangat tidak baik pada musuhnya.


"Kegh. Suara jelekmu sangat mengganggu sekali."


"Kita harus segera menggantikan jurus ini. Jika tidak, pendengaran kita akan terganggu."


"Kalau begitu kita gunakan jurus gabungan kita."


"Baiklah aku setuju."


Mereka berdua menggabungkan jurus mereka. Sehingga mereka dapat menghalau suara itu dengan baik, walaupun sayup-sayup masih terdengar, namun tidak terlalu menyakitkan telinga mereka.


"Kurang ajar, ternyata mereka bisa mengatasi jurus ku. Kalau begitu rasakan jurus ini jika kalian bisa melakukanya."


Jurus yang ia miliki bukan hanya itu saja. Jadi ia masih bisa menghajar mereka dengan jurus lain, jurus andalannya.


Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya pembaca tercinta.


...***...

__ADS_1


__ADS_2