ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN


__ADS_3

...***...


Malam hampir berganti. Prabu Praja Permana sedang mengitari Istana, dan ia tidak sengaja bertemu dengan Selendang Merah yang sedang termenung di pendopo halaman istana sendirian.


"Sampurasun."


"Rampes. Gusti prabu."


"Apa yang sedang nimas pikirkan?. Apakah nimas memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunda ratu?."


Selendang Merah menatap langit malam, kemerlapan bintang yang bertaburan di langit malam.


"Jika memang hamba hanyalah orang biasa yang tidak memiliki kepandaian, rasanya hamba tidak pantas untuk gusti prabu. Apalagi tangan hamba telah berlumuran darah. Rasanya tidak pantas untuk memperlihatkan wajah ini pada siapapun juga."


Kali ini sang Prabu yang menatap langit malam. Senyuman kecil mengembang di wajahnya yang rupawan. "Perasaan hati, pilihan, dan juga keputusan."


"Perasaan hati yang penuh pilihan, serta keputusan. Sekali pilih, maka kita tidak akan mengubah keputusan itu. Saat itu juga suasana hati akan bercabang."


"Nimas tidak perlu memaksakan diri. Ibunda ratu hanya belum pernah bertemu dengan orang seperti nimas saja. Makanya ibunda ingin menjodohkan kita."


"Hamba hanya menyadari siapa diri hamba. Suatu hari nanti hamba yakin, akan ada seorang putri terhormat, yang satu agama dengan gusti prabu, yang ingin hidup bersama gusti prabu. Hamba hanya tidak pantas saja."


"Aku juga tidak akan memaksa nimas. Itu adalah pilihan dan keputusan yang nimas ambil. Nimas juga tidak perlu memaksakan diri."


"Maafkan hamba gusti prabu. Bukan hamba bermaksud untuk bersikap kurang ajar, dengan menolak yang semua diinginkan wanita di luar sana. Hanya saja hamba memang tidak pantas bersanding dengan gusti prabu."


"Aku sangat menghargai apa yang nimas katakan. Tapi aku hanya berharap, nimas masih mau bekerjasama denganku untuk memperbaiki negeri ini."


"Jika itu yang gusti prabu inginkan, hamba akan menurutinya gusti prabu. Namum jika masalah pernikahan, masih ada satu masalah yang harus hamba selesaikan. Hamba harap gusti prabu tidak kecewa pada hamba."


Prabu Praja Permana menatap ke arah Selendang Merah, ia masih berdiri bersandar di tiang Pendopo Istana.

__ADS_1


"Sebenar aku ingin bertanya apa permasalahannya. Namun sepertinya nimas saat ini memang tidak bisa mengatakannya. Maka aku tidak akan menuntut jawabannya. Tapi aku harap nimas mampu menyelesaikannya dengan baik."


"Terima kasih gusti prabu. Sungguh, gusti prabu adalah orang yang sangat baik. Semoga saja gusti mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang gusti prabu sayangi."


"Aamiin, aamiin ya rabbal aalaamiin." Prabu Praja Permana sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Itu seperti doa yang baik yang diberikan Selendang Merah untuknya.


"Mohon ampun gusti prabu. Sekali lagi hamba minta izin untuk melihat keadaan putra hamba di desa lembung basa. Hamba hanya ingin memastikan keadaannya baik-baik saja."


"Baiklah nimas. Pasti nimas sangat merindukan putra nimas. Jika memang nimas merasa khawatir, bawa saja ke istana ini. Aku yakin ibunda akan senang melihatnya."


"Hamba rasa tidak perlu gusti prabu. Karena putra hamba ingin belajar lebih banyak lagi mengenai kehidupan di desa."


"Jadi begitu?. Hebat sekali, karena ia ingin banyak belajar."


"Jika pada masanya hamba siap, semuanya akan hamba katakan gusti prabu. Semoga saja semuanya tidak akan mengubah apapun gusti prabu."


"Rasanya aku menjadi cemas, dengan apa yang akan kau katakan nimas. Perasaanku bergejolak ingin mengetahuinya. Tapi kau mengatakan tidak bisa mengatakannya sekarang."


"Mohon ampun sekali lagi gusti prabu. Pada saatnya nanti, semuanya akan terbuka dengan sendirinya. Tapi belum saatnya hamba mengatakannya. Seperti yang hamba katakan. Ada satu hal yang harus hamba selesaikan. Semoga gusti prabu memahaminya."


"Terima kasih gusti prabu. Semoga kebaikan selalu menyertai gusti prabu."


Perasaan berat yang menimpa perasaanya selama ini. Perasaan yang selama ini ia pendam, dan ia tidak bisa menahannya. Ia tidak bisa mengatakannya sekarang pada Prabu Praja Permana. Namun ia yakin, suatu hari nanti, rahasia ini akan terbongkar begitu saja.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Ikuti terus ceritanya.


...***...


Disisi lain.


Di sebuah penginapan yang tak jauh dari kota raja. Syetan Cambuk Neraka sudah tidak tahan lagi. Karena ia belum juga bisa mencari informasi, kapan Selendang Merah akan meninggalkan Istana?. Akan sangat berbahaya jika mereka memaksa masuk ke dalam Istana, dan yang ada mereka akan dikeroyok oleh orang dalam Istana.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka, jika wanita bedebah itu malah bekerjasama dengan praja permana untuk memburu kami semua."


"Aku juga heran, raja bekerjasama dengan pendekar pembunuh bayaran."


"Apalagi bukan karena upah, juga pihak istana yang tidak mau melumuri tangan mereka dengan darah kami. Atau justru sebaliknya, mereka tanya akan terbunuh ditangan kami."


"Aku rasa begitu alasannya. Tapi untuk saat ini kelompok kalian justru malah kalah, karena pendekar wanita pembunuh bayaran itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi dari pada kalian. Ilmi kanuragan yang tidak bisa ditebak."


Nini Amara Senjani masih mengingat apa yang terjadi di masa itu. Ia kehilangan anaknya karena Pendekar wanita pembunuh bayaran itu. Rasa sakit yang tidak bisa ia hilangkan begitu saja.


"Besok kita pantau lagi guru. Semoga saja besok kita mendapatkan hasil yang baik. Jika tidak, maka kita akan mencari cara untuk memancingnya keluar guru."


"Itu ide yang bagus. Aku juga setuju dengan apa yang kau katakan. Mari kita balas dendam atas apa yang telah ia lakukan pada kita."


Perasaan benci, ingin membunuh. Hati mereka yang dipenuhi oleh dendam yang membara. Sehingga mereka merasa tidak nyaman sama sekali. Apakah yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya.


...***...


Keesokan harinya. Selendang Merah kembali minta izin pada Prabu Praja Permana, untuk pergi ke Lembung Basa. Meskipun ia telah berjanji pada Kelalawar Hitam, untuk menemui kedua orang tua mereka. Namun sepertinya ia belum siap bertamu dengan kedua orangtuanya dalam kondisi suasana hatinya yang gelisah. Kelalawar Hitam juga mendapatkan tugas dari Prabu Praja Permana untuk mengejar kelompok perampok yang masih meraja lela dibeberapa desa.


Entah karena memang takdir atau memang saatnya bertemu, Selendang Merah yang hendak ingin meninggalkan kota raja, malah bertemu dengan Syetan Cambuk Neraka dan Nini Amara Senjani.


"Hooo sepertinya kita tidak perlu repot-repot lagi membuat rencana untuk memancingmu keluar dari sarang persembunyian."


"Guru benar. Aku sudah lelah memikirkan caranya. Tapi dia sendiri yang datang pada kita guru."


"Heh!. Siapa sangka juga, aku malau bertemu dengan dua orang tidak berguna seperti kalian."


"Kurang ajar!. Mulutmu itu masih saja kurang ajar dan tidak ada sopan-sopannya!."


"Kau memang bedebah!. Kali ini aku tidak akan segan-segan lagi menghabisi nyawamu!."

__ADS_1


Kemarahan Syetan Cambuk Neraka, juga Nini Amara Senjani telah mencapai ubun-ubun. Ucapan Selendang Merah, semakin membuat mereka tidak bisa lagi untuk menahan diri. Rasanya mereka ingin merajang tubuh Selendang Merah, saking geramnya mereka padanya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2