
...***...
Desa Lembung Basa.
Setelah kejadian hari itu, Sari Asmawati dekat dengan Sawung, putra Selendang Merah, yang kini tinggal di kediaman Ki Awuh. Sari Asmawati selalu datang membawa makanan untuk Sawung, juga Ki Awuh. Sepertinya ia telah menaruh hati pada Sawung, hingga ia setiap hari menjumpai pemuda itu.
"Apakah kamu tidak bosan datang ke sini terus ndok?." Ki Awuh yang malah bertanya pada Sari Asmawati. Ia merasa sungkan juga, karena setiap hari dibawakan makanan oleh anak gadis Lana Lespati, salah satu orang kaya di desa ini.
Ia takut didatangi oleh ayah anak gadis ini, karena selalu membawakan makanan ke tempatnya. Meskipun ia menangkap ada api asmara, yang sedang tumbuh di hati anak gadis itu.
"Tidak ki. Aku senang bisa membawa makanan ini kemari." Wajah Sari Asmawati terlihat bahagia, ia tampak ceria. "Anggap saja ini adalah ungkapan rasa terima kasihku pada kakang sawung, karena telah menolongku dari para preman pasar ki." Lanjutnya lagi. Ia tampak jelas sekali ia memang menyukai Sawung.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu, aku menolongku karena itu adalah kewajibanku." Sawung yang masih kaku, belum mengenali ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta. Ia hanya menganggap, itu adalah hal yang berlebihan sampai membawanya makanan setiap hari ke mari.
"Tidak apa-apa kakang. Aku hanya ingin melakukannya, aku merasa berhutang budi padamu." Sari Asmawati masih tersenyum, ia memaklumi ucapan Sawung, yang mungkin tidak enak hati dengan apa yang ia lakukan.
"Apakah ayahmu tau kalau kau ada di sini?. Aku hanya tidak ingin dia salah faham padaku, juga pada cucuku ini. Aku tidak mau ada perkelahian diantara kami karena masalah ini ndok." Bukannya bermaksud menolak kebaikan dari Sari Asmawati, Ki Awuh hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara mereka nantinya.
Ia juga telah berjanji pada selendang Merah untuk menjaga anaknya. Bukan hanya dari prajurit kerajaan, atau pihak kerajaan yang mencurigai kehadirannya. Namun juga dari pihak lainnya yang nantinya akan membuat Sawung terkena masalah.
"Aku sudah mengatakan pada ayahanda, bahwa aku datang ke rumah ki Awuh, untuk memberikan ini pada aki, juga kakang sawung." Sari Asmawati menjelaskan pada Ki Awuh dan Sawung.
"Aku telah menjelaskan kepada ayahandaku. Bahwa kakang sawung yang telah menolongku, dari preman pasar, dan ayahku malah menyuruhku membawa kakang Sawung ke rumah. Ayahanda ingin bertemu denganmu kakang." Raut wajah itu semakin terlihat sumringah, ia akhirnya mengatakannya dengan jelas. Alasan lain mengapa ia selalu datang ke sini sambil membawa makanan.
Ki Awuh dan Sawung saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak menyangka tujuannya datang kemari untuk itu?. Ayahnya Lana Lespati ingin bertemu dengan Sawung hanya untuk mengucapkan rasa terima kasih?.
Apakah Sawung akan pergi bersama Sari Asmawati ke rumah Lana Lespati?. Baca terus ceritanya.
...***...
__ADS_1
Setelah mendengarkan penjelasan dari Kelalawar Hitam, mereka sedikit mengerti apa penyebab kemarahannya.
"Bukan berarti aku mau membelamu. Aku hanya kesal saja dengan sikap mereka yang mengeluh, tapi tidak berusaha sama sekali." Kelalawar hanya tidak ingin sang Prabu dan Selendang Merah salah faham kepadanya.
"Aku mengerti kisanak. Tapi apakah kau masih mengincar nyawaku?." Sang Prabu hanya ingin tahu apakah pendekar pembunuh bayaran ini masih mengincar nyawanya
Saat ini mereka sedang duduk di bawah pohon yang cukup rindang, merek duduk berteduh setelah tidak sengaja bertemu tadi. Mereka sedang mengobrol, menanyakan mengapa Kelalawar Hitam marah?.
"Tidak lagi. Karena dia sudah mati." Balasnya dengan ketusnya. Ia masih jengkel, karena kemarahan aneh yang ada di dalam dirinya, hanya karena pendapat mereka buruk-buruk tentang sang prabu.
"Apa maksudmu?. Jangan katakan kau membunuh orang itu?." Tanya Selendang Merah mencurigai apa yang telah dilakukan oleh Kelalawar Hitam.
"Aku memang membunuhnya." Jawab Kelalawar Hitam dengan santainya tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun?.
"Bukankah itu sudah melanggar aturan dunia pendekar pembunuh bayaran?. Mengapa kau malah membunuhnya?." Selendang Merah mempertanyakan sikap yang dilakukan oleh Kelalawar Hitam sebagai seorang pendekar pembunuh bayaran.
"Aku tidak melanggar aturan manapun, karena sebelum ia meminta bantuan padaku untuk membunuh gusti prabu. Ada seseorang yang terlebih dahulu meminta padaku untuk membunuhnya." Kelalawar Hitam mempelajari semua aturan pendekar pembunuh bayaran, jadi ia tidak melanggar peraturan manapun.
"Ya, memang ada aturan seperti itu." Selendang merah tentunya sangat mengingat aturan itu. Ia tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu selama ia menjadi pendekar pembunuh bayaran.
"Maaf, bukannya aku bermaksud untuk menyela pembicaraan kalian. Mengapa kalian memilih menjadi pendekar pembunuh bayaran?. Bukankah itu terlalu berisiko?." Sang prabu ingin mendengar langsung apa jawaban dari mereka.
Kelalawar Hitam melirik ke arah Selendang Merah, begitu juga dengan Selendang Merah. Apakah mereka akan menjelaskannya pada sang prabu?.
"Mohon maaf gusti prabu." Selendang Merah memberi hormat pada sang prabu. Ia sedikit berat mengatakan pada sang prabu. "Tidak semua orang bisa menjadi pembunuh bayaran, dan itu semua ada aturannya gusti." Lanjut selendang Merah. Ia hanya ingin sang Prabu tidak salah faham dengan pekerjaan mereka.
"Apa maksudmu nimas?." Sang Prabu semakin penasaran, apakah benar begitu?.
"Pertama, syarat menjadi pendekar pembunuh bayaran adalah, memiliki mata elang." Kali ini Kelalawar Hitam yang menjawabnya.
__ADS_1
"Mata elang?." Sang prabu mengulang perkataan Kelalawar Hitam. Memang ia akui mata mereka tajam seperti mata elang.
"Apa bedanya dengan mata biasa?. Apakah memang harus mata elang?." Tanya sang Prabu semakin penasaran akan penjelasan mereka berdua
"Bisa jadi seperti itu gusti prabu." Jawab selendang Merah tersenyum kecil di balik kain penutup wajahnya. "Tetapi yang diketahui, bahwa elang itu memiliki pandangan yang tajam, dalam mengincar mangsanya. Dengan mata itu, ia dapat membaca pergerakan lawannya, bahkan ia dapat mengenali jurus apa saja yang dimiliki oleh lawannya." Kelalawar Hitam yang menjelaskan pada sang prabu kelebihan orang-orang bermata elang.
"Dengan kemampuan itu, ia dapat mematikan mangsanya. Jadi tidak heran, mangsanya dengan mudah dapat diatasi gusti prabu." selendang merah ikut membantu menjelaskannya.
Sang prabu dapat membedakan sedikit kelebihan yang dimiliki oleh orang-orang bermata elang.
"Lalu bagaimana dengan syarat lainnya?." Sang prabu ingin mengetahui lebih lanjut mengenai aturan menjadi seorang pendekar pembunuh bayaran.
"Selain memiliki mata elang, dia haruslah orang yang sudah mencapai tujuh belas tahun, dan itu syarat mutlaknya." Selendang Merah yang menjawabnya. "Juga aturan yang tidak boleh dilanggar, Yaitunya membunuh orang yang telah menyewanya. Kecuali ada orang sebelumnya yang menginginkan kematiannya. Membunuh orang baik, membunuh anak-anak hanya karena dendam pribadi, seperti itulah aturannya" Kelalawar Hitam menambahkan penjelasan selendang merah
"Akan tetapi, mengapa kekuatan itu digunakan untuk membunuh?." Sang prabu masih tidak mengerti, apakah tidak ada jalan lain selain membunuh?
"Karena itu sudah menjadi garis takdir, untuk orang-orang bermata elang untuk membunuh orang jahat." Selendang Merah teringat, dengan apa yang dikatakan oleh ayahandanya dulu.
Sang prabu terdiam, benarkah itu adalah takdir orang-orang yang memiliki mata elang?. Hari itu sang Prabu mengetahui hal baru yang dapat ia pelajari selain agama islam.
"Apa yang akan gusti prabu lakukan, setelah mengetahui semuanya?. Jika gusti prabu bekerjasama dengan kami." Kelalawar Hitam kali ini bertanya kepada sang Prabu, ia hanya ingin tau apa tindakan sang prabu setelah ini.
"Dalam Islam, membunuh itu dilarang, kecuali ada penyebabnya." sang Prabu mencoba mengingat apa yang telah ia pelajari. "Pertama, jika seseorang membunuh. Maka ia juga harus dibunuh, karena dia telah melakukan kejahatan besar. Menghilangkan nyawa seseorang atas kesadarannya." Sang Prabu menjelaskan kepada mereka aturan dalam Islam tentang membunuh.
"Sepertinya aku tidak dapat menyalahkan kalian. Apalagi orang yang akan kita hadapi adalah kelompok setan jahat, yang suka membunuh orang lain, jika ada yang membangkang pada mereka." Ya, sang prabu sering mendengar kabar itu.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Baca terus ceritanya jangan lupa vote n komentar agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
...***...
__ADS_1