ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
HAL ANEH TERJADI


__ADS_3

...***...


Pendekar Jagat Sampurno memperhatikan dengan baik, bagaimana Selendang Merah meniru jurus yang ia ajarkan pada Setan Sabit Jahanam. Jurus itu, seperti sangat mudah untuk dipelajari oleh pendekar wanita itu.


Pendekar Jagat Sampurno melompat mendekati Selendang Merah, ia meninggalkan Kelalawar Hitam. Ia ingin menguji ilmu kepandaian yang dimiliki oleh wanita itu.


"Kau dengan kurang ajarnya telah mencuri jurus yang telah aku ajarkan pada muridku."


"Aku tahu jurus itu dari kau pak tua. Dan aku juga melihat jurus hebat lainnya darimu."


"Ternyata kau memang pendekar pembunuh bayaran yang hebat. Bukan hanya membunuh orang, melainkan mencuri jurus orang tersebut pun kau lakukan."


"Kami bukan hanya membunuh, namun bisa juga mencuri juga."


"Sungguh kepandaian yang sangat mengerikan. Aku baru melihat orang yang seperti itu."


"Tidak perlu memujiku. Aku tidak suka dipuji, apalagi oleh pak tua seperti kau."


"Ahahaha karena kau telah mencuri jurusku. Kenapa kau tidak perlihatkan jurus andalanmu, jurus air samudera menggulung karang."


"Baiklah. Sepertinya kau sangat lenasa, dengan jurus yang aku miliki. Sepertinya kau ingin mati dengan jurus itu."


Selendang Merah menerima permintaan Pendekar Jagat Sampurno, yang ingin melihat secara langsung jurus air samudera menggulung karang.


Sedangkan Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam saat ini sedang berhadapan dengan Setan Sabit Jahanam. Mereka juga sedang memainkan jurus-jurus andalan milik mereka.


Selendang Merah dengan cepat memainkan jurus itu, sementara Pendekar Jagat Sampurno sedang memainkan jurus andalannya. Sepertinya hawa sekitar telah berubah menjadi lebih ganas. Mereka bertiga terpaksa menyingkir untuk sementara, karena angin yang keluar dari jurus pendekar Jagat Sampurno membuat sekitar menjadi kacau. Angin sekitar seakan menjadi senjata yang mematikan. Jika mereka tidak menyingkir, maka mereka yang akan menjadi korbannya.


"Sial!. Sepertinya kau sengaja memancing aku untuk menggunakan jurus air samudera menggulung karang."


"Kau benar. Aku ingin menguji jurus itu, dan aku telah menemukan kelemahannya."


"Kurang ajar!. Berani sekali kau mempermainkan aku!."


Selendang Merah merasa marah. Ia mencoba untuk berkonsentrasi, menekan angin sekitar, agar tidak menyerangnya.

__ADS_1


Tapi sepertinya, angin disekitarnya tidak bisa dikendalikan begitu saja. Sehingga menyerang balik ke arahnya.


"Percuma saja kau mencari titik kelemahannya, dan kau akan kehabisan tenaga dalam mu dengan sia-sia."


Prabu Praja Permana yang memperhatikan itu merasa khawatir dengan keadaan Selendang Merah. Namun langkahnya terasa sangat berat, sehingga ia tidak bisa mendekati Selendang Merah. Begitu juga dengan Kelalawar Hitam. Lalu bagaimana dengan Setan Sabit Jahanam?. Ia mengamati apa yang akan dilakukan eh gurunya itu terhadap Pendekar wanita itu.


Namun ada yang aneh saat itu. Ketika Selendang Merah terkena jurus musuh, tepat di bahu kiri Selendang Merah terdapat cakaran angin, dan Prabu Praja Permana juga mendapatkan serangan yang sama.


"Gusti prabu."


Kelalawar Hitam terkejut melihat itu, dan matanya juga melihat ke arah Selendang Merah yang sedang kesakitan.


"Kenapa mereka memiliki bekas luka yang sama?."


"Mengapa aku memiliki luka yang sama dengan nimas selendang merah?. Sebenarnya apa yang terjadi?."


"Kurang ajar!. Mau pikir kau bisa membunuh aku hanya dengan serangan seperti itu?. Akan aku hadapi kau dengan jurus penjara angin sukma."


Selendang Merah benar-benar geram dipermainkan oleh musuhnya, ia tidak menghiraukan lagi rasa sakit di bahu kirinya. Ia fokus memainkan jurus tersebut. Tidak lama kemudian, angin tersebut benar-benar berhenti. Suasana kembali bisa dikendalikan, dan dengan konsentrasi yang sangat kuat, Selendang Merah akhirnya menemukan dimana keberadaan Pendekar Jagat Sampurno.


"Guuruuuuuuuuuuu."


Setan Sabit Jahanam tidak menyangka, jika gurunya bisa dikalahkan oleh Selendang Merah?.


"Uhuk uhuk."


Dadanya terasa sesak, itu tadi bukanlah pukulan biasa. Jurus penjara angin sukma, bukanlah jurus sembarangan.


"Bagaimana mungkin kau memiliki jurus berbahaya itu. Jangan katakan kau telah mencurinya."


"Kau benar. Aku telah mencurinya dari pendekar bukit topan. Aku mendapatkan bayaran mahal untuk membunuh pendekar itu, dan aku berhasil mencuri jurus itu darinya."


"Kau akan mendapatkan karmanya suatu hari nanti."


Setelah berkata seperti itu, Pendekar Jagat Sampurno menghembus nafasnya. Ia telah mati ditangan Selendang Merah. Sebagai seorang murid, tentunya Setan Sabit Jahanam tidak menerima begitu saja kematian gurunya.

__ADS_1


"Wanita jahanam!. Akan aku balas kematian guruku!. Bersiaplah menjemput kematianmu!."


"Kau tidak usah banyak bicara. Aku juga akan membunuhmu. Karena kau telah menambah pekerjaanku!."


Selendang Merah meladani pertarungan itu, karena ia ingin menangkap Setan Sabit Jahanam. Kali ini ia akan lebih serius lagi bertarung, agar ia lebih cepat menghentikan aksi musuhnya.


"Apakah kita perlu membantu nimas selendang merah?."


"Hamba rasa tidak perlu gusti prabu. Nini selendang merah akan marah, jika pertarungannya diganggu siapa saja."


"Jadi selama ini ia bertarung seperti itu?."


"Hamba baru melihatnya, saat hamba bertugas dengannya gusti prabu."


"Pantas saja nimas selendang merah ditakuti siapa saja. Jika gaya bertarungnya seperti itu. Meskipun ia seroang wanita, tapi kekuatannya sangat mengerikan." Prabu Praja Permana mengamati bagaimana cara Selendang Merah berhadapan dengan musuhnya.


Langkah kakinya yang kuat, kuda-kuda yang ia miliki begitu tegap, gerakannya yang lincah, pukulannya yang bertenaga, tendangannya bagaikan angin yang menerjang ombak. Itulah jurus air samudera menggulung karang yang sedang ia mainkan saat ini. Benar-benar membuat bulu kuduk merinding melihatnya.


Dengan beberapa gebrakan, Selendang Merah berhasil memukul mundur Setan Sabit Jahanam. Namun lelaki itu tidak menyerah begitu saja. Ia mainkan jurus yang diajarkan oleh Setan Selendang Jingga Kematian. Jurus yang katanya mampu menangkal segala jurus yang akan ia hadapi. Tentunya Selendang Merah sangat mengenali jurus itu.


"Heh!. Jadi hanya jurus itu yang kau miliki untuk menghadapi aku?. Sangat disayangkan sekali."


Selendang Merah kembali memainkan jurusnya, namun sepertinya Setan Sabit Jahanam bisa melukainya, walaupun pada akhirnya, Setan Sabit Jahanam berhasil dilumpuhkan oleh Selendang Merah.


"Uhuk."


Selendang Merah muntah darah, karena tekanan beban dari jurus yang ia mainkan, membuat tenaga dalamnya sedikit kacau.


Disaat yang bersamaan, Prabu Praja Permana juga muntah darah, dan ia merasakan tubuhnya sakit luar biasa. Padahal tadi ia tidak bertarung dengan menggunakan tenaga dalam yang terlalu banyak, tetapi mengapa ia malah terbatuk dan memuntahkan darah?.


"Nimas selendang merah. Apakah nimas bisa menjelaskan padaku sesuatu?."


Selendang Merah tidak tahu harus menjawab apa, meskipun ia mengetahui, apa penyebab kondisi gusti prabu bisa seperti itu.


Namun, saat itu juga ada seorang laki-laki yang melompat ke arah mereka. Tentu saja mereka semua terkejut. Siapakah lelaki setengah tua itu?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2