ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
AMBISI


__ADS_3

...***...


Selendang Merah yang berhasil menahan Setan Tombak Pencabut Nyawa, saat ini sedang memainkan jurus pedang pemangkas Pancasona, yang ia gabungkan dengan jurus elang pencakar Sukma. Hawa merah yang ditimbulkan oleh pedang itu sangat ganas.


"Matilah kau dalam penasaran karena telah berani berurusan denganku!." Sorot mata Selendang Merah sangat tajam, setajam mata elang yang telah menemukan targetnya.


SRAK!. SRAK!. SRAKH!.


"Keghaaaaaaaaaaaaaakh."


Teriakan panjang terdengar dari mulut Setan Tombak Pencabut Nyawa, karena tubuhnya dicercah oleh Selendang Merah dengan dua jurus itu. Bukan hanya kekuatan dari ilmu kanuragan saja, namun juga pedang yang digunakannya. Terlihat tubuh Setan Tombak Pencabut Nyawa yang sangat mengerikan dengan luka sayatan pedang juga, seperti dicakar oleh Elang ganas. Sehingga ia tidak dapat menahan kesakitan yang ia rasakan.


Sementara itu, Nyai Petik Bidadari dan Kelelawar yang terkejut mendengarkan suara teriakan itu. Namun yang lebih membuat mereka terkejut adalah, ketika melihat kondisi mayat Setan Tombak Pencabut Nyawa.


Nyai Petik Bidadari segera mendekat, untuk melihat keadaan Setan Tombak Pencabut Nyawa yang sudah tidak bernyawa lagi?. Karena tidak ada pergerakan darinya, atau hanya tidak sadarkan diri?.


"Dua gabungan jurus yang sangat luar biasa. Jurus pedang pemangkas pancasona, juga jurus elang pencakar sukma." Ucapnya sambil melihat ke arah Selendang Merah. "Pendekar selendang merah penebar maut. Aku rasa itu bukanlah nama julukan yang sembarangan yang diberikan padamu."


"Nyai siluman, nyai petik bidadari. Siapa sangka aku akan bertemu dengan nyai di sini, dan siapa sangka malah menjadi guru orang yang tidak berguna sama sekali."


"Jadi kau mengenalku cah ayu."


"Aku mengenalimu, hanya karena banyak yang memujamu, meminta harta padamu. Sayangnya mereka harus menemui ajal mereka, jika tidak mampu membayar apa yang kau minta. Sungguh sangat menyedihkan, dan aku tidak akan menjual diriku hanya untuk mendapatkan kekuatan bodoh itu."


"Hooo sepertinya kau tahu banyak tentangku cah ayu. Terhormat sekali diriku ini jika ada yang mengetahui diriku ini."


"Cih, tadi aku menebak dengan benar siapa dia, malah diserang. Kurang ajar sekali wanita siluman sanca ini." Dalam hati Kelalawar Hitam mengutuk wanita itu dengan kesalnya.


"Bagaimana jika kau juga bekerjasama denganku. Akan aku berikan apa yang kau minta. Termasuk keinginanmu membunuh wanita yang telah membuatmu menderita."


"Tidak usah!. Kau tidak usah repot-repot melakukan apa yang aku inginkan. Dengan tanganku sendiri aku akan membunuhnya. Bahkan aku akan membunuhmu jika kau berani ikut campur dalam urusanku. Apalagi jika kau berani menawarkan aku kekuatan bodohmu."


"Kau ini cepat sekali naik darah cah ayu. Padahal aku hanya ingin membantumu."

__ADS_1


"Aku sudah katakan padamu!. Jika aku tidak membutuhkan dirimu. Dengan tanganku sendiri, akan aku bunuh dia nanti."


"Memangnya siapa yang ingin dibunuh nini selendang merah?. Amarahnya Semakin meningkat. Sepertinya nini selendang merah memiliki dendam yang sangat kuat pada seseorang." Dalam hati Kelalawar Hitam bertanya-tanya.


"Tapi cah ayu, kau telah mencuri jurusku. Itu artinya kau harus menjadi muridku, dan kau harus mengabdi padaku."


"Hah?. Kau ini jangan membuatku tertawa nenek siluman sanca. Kau pikir kau bisa menggertakku?. Aku tidak akan menjadi abdi siapapun kecuali pada gusti prabu praja permana."


"Kau ingin mencari mati rupanya." Nyai Petik Bidadari sangat kesal dan emosi mendengarkan ucapan itu. Ia menyerang Selendang Merah, sehingga terjadi pertarungan diantara mereka.


"Haduuuuh mereka malah bertarung, dan malah melupakan aku." Keluh Kelalawar Hitam. Tubuhnya lumayan lelah berhadapan dengan Nyai Petik Bidadari. "Kalau begitu aku diam saja, sambil mengamati apa yang mereka lakukan. Aku tidak mau ikut campur dengan urusan mereka." Kelalawar Hitam mencoba mencari tempat bersandar, namun ia terkejut melihat Respana. Lelaki itu terlihat pucat pasi, mungkin menyaksikan pertarungan tadi.


Kelalawar Hitam yang melihat itu langsung menyerang Resapan, membuat lelaki itu pingsan. Sangat mudah sekali menyerang, serta membunuhnya.


"Dasar lemah!. Aku kira semua kawanan perampok itu kuat, ternyata sekali pukul langsung pingsan." Kelelawar Hitam menatap rendah pada Respana yang tidak sadarkan diri.


Sedangkan Selendang Merah yang sedang berhadapan dengan Nyai Petik Bidadari. Kedua wanita itu tidak mau mengalah, saling menyerang satu sama lain.


"Heh!. Meskipun kau dalam keadaan terluka, namun kau masih bisa memainkan jurusmu dengan baik. Sangat luar biasa sekali, sangat mengesankan."


"Mulutmu itu memang kurang ajar!. Akan aku robek mulutmu itu!." Nini Petik Bidadari benar-benar tidak tahan lagi mendengarkan ucapan Selendang Merah. Ia menyerang musuhnya dengan kuat, tidak akan ia biarkan musuhnya bernafas lagi.


Akan tetapi, ketika ia hendak menyerang Selendang Merah lebih lanjut lagi, gerakannya ditahan oleh seseorang, membuatnya terkejut.


"Siapa kau?!. Berani sekali kau menghentikan aku!." Ia menarik paksa tangannya, setelah itu ia mundur sedikit menjauh.


"Gusti prabu." Selendang Merah dan Kelalawar Hitam terkejut melihat kedatangan sang Prabu. Kelalawar Hitam langsung mendekati Prabu Praja Permana.


"Gusti prabu." Keduanya memberi hormat pada sang Prabu.


"Nimasa, adimas. Siapa wanita itu?. Mengapa dia menyerangmu nimas?."


"Dia adalah wanita siluman sanca gusti prabu. Harap gusti prabu berhati-hati dengannya. Dia memiliki jurus yang lumayan berbahaya."

__ADS_1


"Hoooo jadi kau adalah prabu praja permana?. Siapa sangka kau adalah raja di kerajaan ini. Sangat tampan juga ternyata."


"Walah. Ini nenek-nenek siluman sanca malah tertarik dengan gusti prabu." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa miris dan geli mendengarnya.


"Kau jangan berani menggoda junjunganku. Akan aku bunuh kau dengan pedang ini." Kelalawar Hitam malah memuncak.


"Tenanglah nimas. Kita tidak boleh terbawa amarah. Jangan sampai nimas merugikan diri sendiri hanya karena nimas menuruti amarah nimas."


"Maafkan hamba gusti prabu. Sungguh, hamba hanya tidak ingin wanita itu menggoda gusti prabu."


"Terima kasih karena nimas telah membelaku." Dalam hati sang Prabu merasa senang. Namun matanya menatap tajam ke arah Nyai Petik Bidadari.


"Aku tidak punya urusan denganmu nyai. Sebaiknya segera tinggalkan tempat ini. Karena tempat ini bukan untuk nyai berburu mangsa."


"Aku akan terus berburu, karena aku butuh pengikut. Apalagi jika kau mau ikut denganku, maka dengan senang hati aku akan menerimanya. Jika perlu, kau akan menjadi pangeranku."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Cukup lah Allah SWT, aku menjadi pengikut setia-Nya." Sang Prabu sambil menahan Selendang Merah yang tidak bisa menahan dirinya. "Kekuatan Allah SWT jauh lebih kuat dari pada nyai. Aku hanya percaya dengan kekuatan Allah SWT maha pemilik kuasa dari umat-Nya."


"Kau banyak bicara juga!. Akan aku bunuh kau!." Nini Petik Bidadari merasa geram dengan apa yang ia dengar. Ia menyerang Prabu Praja Permana, namun gerakannya tertahan saat sang Prabu membacakan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Kegh sakit. Sakit sekali." Wanita itu mengeluh sakit, karena mendengarkan suara sang Prabu.


"Kenapa itu bisa?. Memangnya apa yang dibacakan gusti prabu?. Sehingga nenek siluman itu kesakitan?." Kelalawar Hitam merasa heran dengan apa yang terjadi.


"Kegh!!! Kau!. Suatu saat nanti akan aku balas!." Nyai Petik Bidadari tidak tahan lagi. Ia memutuskan untuk pergi dari sana.


"Alhamdulillah hirobbil'alamin ya Allah." Sang prabu sangat bersyukur bisa mengusir wanita itu hanya dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Keadaan kalian lumayan parah. Mari kita kembali ke istana untuk sementara waktu. Aku tidak mau kalian bekerja dalam keadaan terluka."


"Sandika gusti prabu."


Namun ketika mereka hendak berbalik, mereka melihat semua penduduk desa Layang malah menghadang langkah mereka. apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2