ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
ALASAN MEMBUNUH


__ADS_3

...***...


Pendekar wanita itu dengan geramnya menyerang salah satu dari mereka dengan menggunakan selendang merahnya. Mereka tidak terima begitu saja, karena teman mereka yang diserang.


"Hei! Siapa kau?!. Berani sekali kau menghajar salah satu dari kami!."


"Heh!. Jika kau tidak lupa. Kau yang menantang pendekar di desa ini. Dan aku salah satu pendekar yang ada di sini. Aku yang akan menantang kalian semua!."


"Kurang ajar. Kami tidak akan segan-segan lagi meskipun kau adalah seorang wanita!."


"Kau mencari mati ternyata nini. Jangan salahkan kami, jika kau akan merengek minta ampun setelah ini hahaha."


Mereka semua malah menertawakan Pendekar wanita itu. Tentunya ia tidak terima begitu saja. Namun ketika ia ingin melangkahkan kakinya, ia ditahan oleh Ki Awuh.


"Nini. Sebaiknya nini tidak berurusan dengan mereka. Aku takut terjadi sesuatu pada nini nantinya."


"Aki tenang saja. Aku ini Pendekar pembunuh bayaran. Jadi aku tenang saja. Biar aku usir mereka dari sini. Aku tidak suka melihat orang yang semena-mena terhadap orang lain."


"Tapi nini-."


"Serahkan saja padaku. Aku janji, setelah menghajar mereka aku akan pergi dari sini."


Pendekar wanita itu melewati Aki Awuh begitu saja. Dan ia menyiapkan selendang merah yang tadinya terikat di pinggangnya.


"Majulah kalian semua. Jika kalian perampok yang suka membuat keonaran, maka akan aku hajar kalian."


"Serang dia!."


Tiga orang maju menghadapi wanita cadar merah itu. Meskipun melawan tiga orang sekaligus, sepertinya pendekar wanita itu tidak merasa kerepotan. Malahan dengan jurus-jurus yang sederhana mampu mengatasi ketiga kawanan rampok itu.


"Heh!. Lawan satu orang wanita saja kalian tidak becus!."


"Dia lumayan kuat juga kakang."


"Kami tidak bisa menghadapinya kakang."


"Halah!. Masih saja banyak bicara!." Lelaki berbadan tegap itu merasa muak karena anak buahnya dikalahkan oleh pendekar wanita itu. "Hei!. Siapa kau!. Sepertinya kau memiliki kepandaian yang lumayan!."


"Aku adalah seorang pendekar wanita pembunuh bayaran selendang merah penebar maut. Sebaiknya kalian pergi dari wilayah ini dan jangan pernah kalian berani bercokol di daerah ini lagi."


Mereka malah tertawa?. Merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah?.

__ADS_1


"Kau ini sangat lucu sekali. Pendekar pembunuh bayaran?. Kau sangat pandai membuat sebuah lawakan nini."


Selendang Merah tidak terima. Karena sudah dua kali mereka menertawakan dirinya. Dengan jurus air samudera menggulung karang, ia hajar mereka semua tanpa ampun. Mereka semua sangat ketakutan, dan melarikan diri. Bahkan ada yang pingsan karena jurus ganas itu.


Kembali ke masa ini.


"Jadi begitulah ceritanya. Kami semua merasa terbantu sekali pada saat itu."


"Siapa sangka ibunda menghajar mereka semua."


"Kami juga tidak menyangka, jika nini selendang merah memang pendekar pembunuh bayaran."


Andara Wijaya merasa kagum, meskipun nama julukan ibundanya agak seram, penebar maut. Namun ibundanya masih memiliki hati nurani untuk membantu orang-orang yang tertindas.


"Ibunda. Kenapa ibunda tidak datang lagi ke sini?. Aku sangat merindukan ibunda. Saat ini ibunda berada di mana?." Dalam hatinya merasakan kegelisahan, karena ibundanya belum juga sampai ke desa ini. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


Kembali ke Istana Kerajaan Sendang Agung. Saat ini keadaan Selendang Merah sudah baikan. Namun serbuk racun itu masih ada di dalam tubuhnya. Saat ini tabib istana sedang berusaha untuk mengeluarkan racun itu.


Dengan meminumkan air jahe yang ia buatkan untuk selendang Merah, dan menunggu reaksinya. Tabib istana sengaja menotok punggung Selendang Merah, sehingga ia memuntahkan racun itu. Darah kental yang sangat berbahaya berhasil dikeluarkan. Namun ada yang aneh. Prabu Praja Permana juga mengalami hal yang sama. Tentunya lagi-lagi membuat mereka semua terkejut.


"Nanda prabu. Apakah nanda prabu baik-baik saja?." Ratu Sawitri Dewi sangat khawatir dengan keadaan anaknya.


"Tapi nak?."


"Sungguh ibunda."


Prabu Praja Permana berusaha meyakinkan ibundanya, bahwa semuanya baik-baik saja. Ia juga masih belum mengerti, apa yang dialami oleh Selendang Merah, ia juga mengalaminya.


Sedangkan Selendang Merah, ia mencoba melihat sekitar. Tenyata ia berada di istana?.


"Nini. Apakah nini sudah baikan?."


"Gusti ratu."


"Sebenarnya apa yang terjadi?. Mengapa kau ditemukan dalam keadaan pingsan oleh putraku?."


"Hamba ditemukan dalam keadaan pingsan?." Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.


"Memangnya apa yang terjadi?. Mengapa nini bisa pingsan?."

__ADS_1


Selendang Merah mencoba untuk mengingat semuanya. "Ah benar juga. Pada saat hamba hendak meninggalkan kota raja. Hamba bertemu dengan dua orang yang memusuhi hamba. Kami bertarung, dan hamba terkena ledakan serbuk racun. Mungkin karena itu hamba tidak sadarkan diri gusti ratu."


"Apakah nimas berhadapan dengan kelompok setan jahat?. Apakah salah satu dari mereka adalah orang yang menyerang aku pada malam itu?."


"Benar gusti prabu. Dia adalah setan cambuk neraka. Hamba rasa tinggal satu lagi yang harus kita binasakan."


"Kita benar-benar harus menangkapnya, agar dia mempertanggungjawabkan perbuatannya."


"Hamba akan mengusahakannya gusti prabu. Setelah keadaan hamba pulih, hamba akan melakukan tugas dengan baik."


"Mohon ampun gusti prabu. Jika hamba boleh bertanya, gusti prabu mengenali kawanan perompak itu?."


"Aku tidak terlalu mengenali mereka paman. Namun saat itu aku dikeroyok oleh mereka. Tapi alhamdulilah, nimas selendang merah datang membantu ku paman."


"Apa karena itu nanda pulang dalam keadaan terluka?."


"Benar Ibunda. Tapi nimas selendang merah telah mengobati mata nanda. Sehingga nanda baik-baik saja."


"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika seperti itu. Ibunda waktu itu sangat cemas sekali."


"Lalu apa yang akan nanda prabu lakukan setelah ini?. Apakah nanda prabu akan segera mengatasi masalahnya?."


"Tentu saja paman. Aku harus segera menangani masalah ini. Karena orang itu sepertinya sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja."


"Tapi setidaknya menunggu nini selendang merah baikan."


"Tentu saja ibunda."


Ratu Sawitri Dewi mendekati Selendang Merah. Ia merasa cemas dengan keadaannya. "Bagaimana bisa nini terkena racun berbahaya itu?. Apakah mereka juga punya dendam padamu, sehingga mereka menghadang perjalanan mu menuju desa lembung basa?."


"Salah satu dari mereka memang pernah berurusan dengan hamba gusti ratu. Karena anaknya hamba bunuh."


"Mengapa nini sampai melakukan itu?." Ratu Sawitri Dewi terkejut mendengarkan ucapan itu.


"Seperti yang hamba ucapkan gusti ratu. Hamba adalah seorang pendekar pembunuh bayaran. Ada seseorang yang telah dinodai oleh anaknya. Bukan hanya satu orang saja. Melainkan ada banyak wanita yang telah ia nodai. Hati hamba merasa sakit, saat wanita itu meraung menangis pilu, ketika ia datang mengadu pada hamba." Selendang Merah masih ingat dengan hari itu. "Sungguh malang nasibnya, karena tidak ada yang mau membantunya, sehingga ia bersumpah sebagai bayarannya, ia akan mengabdi kepada seorang pembunuh bayaran seperti hamba."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sungguh kasihan sekali. Lalu apa yang nini katakan padanya?."


"Hamba hanya mengatakan, cukup besarkan anaknya dengan baik. Bimbing anaknya lebih baik dari pada bapaknya yang bejad."


Mereka semua menyimak apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Mereka terkejut mendengar apa yang diceritakan oleh Selendang Merah. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pembunuh bayaran, permintaan dari mereka yang teraniaya. Ilmu kanuragan yang ia miliki, benar-benar ia gunakan untuk membantu mereka yang tertindas. Bagaimana kisah selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2