ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
INGATAN PRABU PRAJA PERMANA


__ADS_3

...***...


Putri Intan Ayu sangat terpesona dengan penampilan seorang laki-laki yang baru saja menyelamatkan dirinya. Namun tiba-tiba saja seseorang menyerang Pangeran Praja Permana dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Pangeran Praja Permana terkena serangan itu, namun ia masih bisa berdiri.


"Hei!. Siapa kau?. Berani ikut campur dengan urusan kami!."


"Sebaiknya serahkan wanita itu pada kami!."


"Jika kau masih ingin selamat!. Maka tinggalkan tempat ini secepatnya!."


"Tuan, tolong selamatkan saya." Putri Intan Ayu bersembunyi dibelakang Pangeran Praja Permana.


"Aku hanyalah seorang pengembara biasa. Aku tidak suka dengan apa yang kalian lakukan." Pangeran Praja Permana berusaha untuk melindungi wanita itu dari kejaran mereka?.


"Kau jangan beraninya ikut campur dalam masalah ini orang asing. Segera pergi dari sini." Terlihat seorang pemuda dengan wajah sangar mendekati mereka.


"Gusti pangeran." Mereka memberi hormat pada pemuda itu pemuda yang mendekati mereka.


"Tuan putri intan ayu. Sebagai seorang putri raja yang terhormat, sebaiknya tuan putri segera kembali. Atau kami akan membawa paksa kau kembali ke istana!." Pangeran Candhi Sajara, putra dari Mahapatih kerajaan Manik Mutiara.


"Aku tidak mau ikut denganmu!. Kau hampir saja mencelakai aku!." Putri Intan Ayu terlihat marah, juga ingin menangis. Karena ia sangat takut, jika ia tidak diselamatkan oleh Pangeran Praja Permana. Mungkin saja ia akan mati?.


"Sudahlah putri intan ayu. Jangan kau uji kesabaran yang aku miliki. Dan jangan buat aku memutuskan urat marahku!. Dan aku tidak mau dimarahi oleh ayahandamu hanya karena aku gagal membawamu kembali!." Chandi Sajara berjalan mendekati Putri Intan Ayu. Ia ingin menyeret paksa Putri Intan Ayu dengan paksa, namun ditahan oleh Pangeran Praja Permana.


"Jika kau ingin membawanya ke istana, setidaknya jangan gunakan kekerasan. Tidak bisakah kau bersikap lebih sopan lagi pada seorang wanita?." Pangeran Praja Permana menatap lurus ke depan.


"Aku katakan sekali lagi jangan ikut campur!." Pangeran Chandi Sajara mencengkram kuat pergelangan tangan Pangeran Praja Permana. Akan tetapi segera ditepis oleh Pangeran Praja Permana.


"Heh!." Pangeran Chandi Sajara mendengus kesal. Ia menatap tajam ke arah Pangeran Praja Permana. Sedangkan keempat anak buahnya sudah siap dengan senjata tombak untuk menyerang Pangeran Praja Permana.

__ADS_1


"Sebaiknya tuan putri ikut saja. Akan berbahaya jika tuan putri berkeliaran di daerah sini." Pangeran Praja Permana mencoba untuk mengingatkan Putri Intan Ayu. "Banyak rampok yang berkeliaran. Biasanya mereka akan merampas harta. Jika tidak dapat, bisa jadi malah menculik wanita malang yang akan mereka jual pada juragan bejad. Jika tuan putri masih ingin selamat, maka kembali lah dengan mereka." Lanjut Pangeran Praja Permana menatap ke arah Putri Intan Ayu.


"Baiklah. Saya akan kembali ke istana, asalkan tuan yang mengantar saya. Karena saya takut mereka akan menyakiti saya. Saya mohon pada tuan." Putri Intan Ayu memasang tampang iba dihadapan Pangeran Praja Permana.


"Kau jangan banyak tingkah intan ayu!." Suara Pangeran Chandi Sajana terdengar sangat keras membentak Putri intan Ayu.


"Tidak bisakah kau bersikap lebih baik terhadap wanita?. Apakah kau tidak menghormati anak junjunganmu?." Lama-lama Pangeran Praja Permana kesal juga mendengar dan melihat sikap kasar pangeran Chandi Sajana.


"Heh!. Kau tidak usah-."


"Tolong antarkan saya tuan. Saya sangat takut sekali." Putri Intan Ayu merengek minta diantarkan, sampai-sampai ia menangis ketakutan. Mencengkram kuat lengan Pangeran Praja Permana.


"Kalau begitu, tunjukkan jalan menuju istana. Agar hamba bisa mengantar tuan Putri." Pangeran Praja Permana tersenyum ramah. Membuat Putri Intan Ayu terpana dengan ketampanan Pangeran Praja Permana.


"Kurang ajar!. Kau benar-benar menyusahkan aku intan ayu!. Awas saja kau nanti. Akan aku buat kau tidak bisa menikah dengan siapapun. Bahkan jika kau mencintai laki-laki yang baru saja kau temui itu." Dalam hati pangeran Chandi Sajana sangat marah. Ingin rasanya ia membunuh Putri Intan Ayu, jika ia tidak ingat, bahwa wanita itu adalah putri raja.


"Apa yang harus kita lakukan gusti pangeran?. Apakah


Hingga saat itu, Pangeran Chandi Sajana mengajak Pangeran Praja Permana latihan tanding, yang disaksikan oleh Putri Intan Ayu.


"Cukup pangeran chandi sajana!. Aku tidak suka dengan apa yang kau lakukan!. Kenapa kau mencari-cari kesalahan dari kekasih ku!." Bentak Putri Intan Ayu dengan penuh emosi.


"Aku hanya menguji ilmu kanuragannya saja. Aku rasa dia tidak akan keberatan, jika memainkan satu dua jurus untuk salam kenal saja dari ku." Pangeran Chandi Sajana menyeringai lebar. Sangat jelas sekali bagaimana niat busuknya itu.


"Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Tentunya aku tidak akan keberatan." Pangeran Praja Permana tersenyum ramah membalas ucapan lawannya.


"Tapi, apakah itu akan aman?. Aku yakin dia memiliki rencana jahat untuk menjatuhkan mu. Aku tidak mau kau celaka karena niat jahatnya itu." Putri Intan Ayu sangat khawatir, dan ia tidak akan membiarkan Pangeran Chandi Sajana berbuat jahat pada kekasihnya.


Pangeran Chandi Sajana malah tertawa dengan kerasnya, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Putri Intan Ayu."Tidak apa-apa tuan putri. Jika memang itu yang ia inginkan, hamba tidak akan keberatan sama sekali." Balas Panegran Praja Permana. Karena ia juga ingin menguji ilmu kanuragan yang dimiliki Pangeran Chandi Sajana yang sepertinya tidak menyukai kehadirannya.

__ADS_1


"Bagus!. Rupanya kau masih bisa disebut sebagai laki-laki. Karena kau tidak takut sama sekali dengan tantangan yang aku berikan padamu!." Pangeran Chandi Sajana sangat senang karena Pangeran Praja Permana tidak menolak ajakannya untuk adu tanding.


"Jangan!. Saya mohon jangan lakukan itu!." Putri Intan Ayu mencegah niat Pangeran Praja Permana agar tidak menanggapi tantangan itu.


Kembali ke masa itu.


Prabu Praja Permana masih ingat dengan pertarungan hari itu. Dimana Pangeran Chandi Sajana yang bernafsu ingin mencari-cari kesalahannya. Entah karena putus asa atau karena masalah apa, Pangeran Chandi Sajana mencengkram kuat lengan bajunya pada saat itu, hingga terlihatlah bekas luka bakar yang mengerikan di bahunya. Sejak saat itu, Putri Intan Ayu sama sekali tidak ingin melihat dirinya. Karena merasa jijik dengan bekas luka bakar itu.


"Hanya nimas kasih purnama yang menerima diriku." Dalam hati Prabu Praja Permana mencoba untuk kembali tersenyum kecil. "Hanya nimas kasih purnama yang pergi meninggalkan aku, setelah mengetahui ada bekas luka bakar di bahuku." Ia menghela nafasnya dengan beratnya. "Aku sangat bersyukur, dengan hadirnya nimas kasih purnama. Aku merasakan kembali perasaan cinta. Sehingga aku tidak merasakan kembali perasaan yang membuat aku terluka." Sang Prabu Menatap langit-langit, sambil mengingat bagaimana perasaannya saat itu. Hanya air mata yang tidak ia keluarkan, saat ia mendengarkan perkataan menyakitkan dari Putri Intan Ayu setelah melihat bekas luka bakar di bahunya.


"Asmara diujung waktu ya?." Prabu Praja Permana mencoba untuk tersenyum walaupun pahit. "Cinta yang tumbuh, setelah mengetahui dirinya benar-benar menyukai orang yang ia cintai?. Rasanya asmara diujung waktu itu sangat tidak berguna sama sekali. Harusnya asmara diujung waktu itu tidak ada. Karena sangat menyakitkan untuk diingat. Apalagi ketika kau telah memiliki kekasih hati yang mampu menghapus perasaan asmara diujung waktu itu. Namun dengan perasaan bersalah kau seakan ingin kembali?. Kau pikir manusia mana yang mampu bertahan setelah semua yang kau lakukan pada saat itu?." Prabu Praja Permana sepertinya melemah, hanya kerena perasaan galau yang ia rasakan selama ini.


"Itu bukan berati aku adalah laki-laki yang lemah. Hanya karena perkataannya pada saat itu. Namun aku hanya ingin menghargai perasaan wanita yang benar-benar mencintai aku dengan perasaannya. Dengan segenap perasaan yang ia miliki. Setidaknya aku dapat merasakan bagaimana cinta yang sebenarnya. Karena aku hanya ingin menghargai satu wanita yang benar-benar menghargai aku sebagai laki-laki. Bukan karena pangkat, atau tahta yang ia ingin dari kerajaan ini." Sepertinya hari itu Prabu Praja Permana benar-benar mengungkapkan apa yang mendesak di dalam hatinya. "Semoga saja nimas kasih purnama adalah wanita pertama yang mampu menghilangkan perasaan asmara diujung waktu yang aku takutkan selama ini." Dalam hati Prabu Praja Permana berharap akan ada kebahagiaan yang ia dapatkan setelah melewati hari yang sangat pahit selama ini. Prabu Praja Permana juga selalu teringat dengan pertemuannya dengan Selendang Merah. Bagaimana percakapannya pada hari itu dengan Selendang Merah. Bagaimana perasaan penasarannya terhadap Selendang Merah, serta harapannya lada saat itu yang ingin minta bantuan dengan Selendang Merah.


"Janji darah?." Tidak pernah ia bayangkan bagaimana mungkin ia bisa membuat janji darah dengan seorang pendekar wanita pembunuh bayaran?. Ia tidak menyangka sama sekali jika Selendang Merah adalah wanita yang telah bermain dengan nyawa manusia. Namun ia tidak menyangka, jika wanita bercadar itu sering membantu rakyat kerajaan suka damai. Meminta wanita itu untuk membebaskan mereka dari jeratan para kawanan perampok. "Seseorang berkata padaku. Jika jodoh tidak akan kemana. Entah itu jodoh, hidup dan mati tidak ada yang mengetahuinya. Dan itu semua tidak akan mungkin tertukar dengan yang lainnya.


Dalam ingatannya itu semua, Suara Selendang Merah menuaoa dirinya dengan lembut. "Gusti prabu. Apakah hamba boleh masuk?." Suara itu adalah Selendang Merah.


"Masuk saja nimas." Prabu Praja Permana tersenyum kecil menatap Selendang Merah.


"Terima kasih gusti prabu. Maaf jika hamba mengganggu." Selendang Merah memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


"Duduk lah nimas. Aku tidak merasa terganggu sedikitpun." Balas Prabu Praja Permana. "Apakah ada kabar penting yang ingin nimas sampaikan?." Prabu Praja Permana bertanya karena penasaran. Apa yang membuat Selendang Merah menemuinya?. Apakah yang ingin disampaikan oleh Selendang Merah padanya?.


"Mohon ampun gusti prabu. Tadi ada laporan yang masuk dari prajurit istana. Bahwasanya ada kelompok kawanan perampok, yang mulai lagi berkeliaran di hutan belati. Mereka bersembunyi di siang hari di sana, dan malah beraksi di malam hari, ketika semua orang telah terlelap dalam tidur mereka gusti prabu." Selendang Merah memberikan laporan yang masuk.


"Apakah nimas telah mengetahui apa yang menyebabkan mereka melakukan itu?." Prabu Praja Permana ingin mengetahui sedikit informasi yang dilaporkan oleh Selendang Merah.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2