
...***...
Di saat Prabu Praja Permana muntah darah, disaat itulah Pangeran Wira Wijaksana masuk. Ia tidak menyangka akan melihat keadaan Prabu Praja Permana seperti itu.
"Kanda Prabu!." Ia segera mendekati Prabu Praja Permana.
"Uhuk, uhuk, aku tidak apa-apa dinda." Ia mencoba untuk mengatur hawa murninya dengan baik.
"Apa yang terjadi sebenarnya kanda prabu?. Mengapa kanda prabu bisa terluka seperti ini?." Ia melihat kulit Prabu Praja Permana seakan melepuh, juga memerah aneh.
"Tidak apa-apa. Sungguh tidak apa-apa."
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kanda prabu?. Mengapa kanda prabu bisa batuk darah?. Juga kulitnya terlihat bercak merah seperti terbakar?. Sebenarnya apa yang kanda prabu lakukan?. Apakah kanda prabu bermain ilmu hitam?. Sehingga kondisinya seperti ini?. Tapi rasanya tidak mungkin kanda prabu melakukannya." Dalam hati Pangeran Wira Wijaksana bertanya-tanya apa yang terjadi pada Prabu Praja Permana. "Padahal kanda prabu sama sekali tidak bertarung, tapi mengapa aneh?."
Bukan hanya disitu saja keanehan yang dilihat oleh Pangeran Wira Wijaksana, namun darah yang menempel di bibir Prabu Praja Permana seakan menghilang diserap oleh kulitnya sendiri.
"Demi dewata yang agung, aku tidak percaya darah yang ada di mulut kanda prabu menghilang." Sungguh Pangeran Wira Wijaksana terkejut melihat itu. Tentunya Prabu Praja Permana langsung menyentuh bibinya, dan ia tidak merasakan darah di sana.
"Kanda prabu, katakan padaku, sebenarnya apa yang terjadi pada kanda?. Apakah kanda prabu pernah mengalami seperti ini sebelumnya?."
"Aku juga tidak mengetahuinya dinda wira wijaksana. Aku tidak mengerti mengapa keanehan ini bisa terjadi padaku?. Bahkan aku baru mengalaminya."
Jujur, ia akui bahwa ia memang tidak mengerti sama sekali mengapa ia mengalami hal yang sangat aneh. Apa yang terjadi pada dirinya?. Padahal tadi ia merasakan sakit yang luar biasa. Padahal ia sama sekali tidak bertarung.
__ADS_1
"Ini sangat aneh sekali. Kenapa kanda prabu bisa seperti ini?. Atau ada seseorang yang mencoba menyerangnya dengan cara gaib?." Dalam hati Pangeran Wira Wijaksana mencoba menebak, apa yang terjadi pada kakaknya itu.
"Tapi, rasanya sangat aneh. Kenapa tubuhku seakan terkena hantaman pukulan tenaga dalam yang sangat kuat?. Selain itu, aku merasakan kulitku seperti terbakar, karena pengaruh jurus pemikat aroma darah?. Jurus yang hanya kena hawanya saja membuat kulit melepuh." Sungguh ia belum pernah merasakan jurus itu, akan tetapi ia pernah mendengar cerita tentang dampak yang diakibatkan oleh jurus berbahaya itu.
"Nanti akan aku tanyakan pada keduanya setelah mereka kembali ke istana ini. Aku ingin memastikan, jika aku tidak terhubung dengan nimas selendang merah." Kegelisahan yang membuat hatinya bimbang. Ia tidak akan tenang, sebelum melihat keduanya baik-baik saja. Tapi yang ia waspadai adalah kedatangan adiknya ke biliknya.
"Apa yang ingin dinda sampaikan?. Sehingga dinda datang ke bilikku. Apakah ada kabar penting, yang hendak dinda sampaikan?."
"Tidak apa-apa kanda prabu. Aku hanya ingin melihat keadaan raka prabu, setelah bertengkar tadi denganku. Maafkan aku kanda prabu. Bukan aku bermaksud untuk membuat kanda marah."
"Dinda harusnya memahami keadaan kedua istri, serta selir dinda. Selain itu, anak Dinda juga butuh perhatian dari dinda. Kasihan mereka, jika dinda tidak perhatian lagi, dan malah fokus pada nimas selendang merah."
"Maafkan aku kanda. Aku hanya tidak bisa menekan perasaan ku saja. Maafkan aku kanda prabu. Aku janji pada kanda prabu, bahwa aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi."
"Tentu saja kanda prabu. Aku berjanji pada kanda prabu."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin, jika dinda wira wijaksana mau mendengarkan apa yang aku katakan padanya." Dalam hati Prabu Asmalaraya Arya Ardhana merasa sangat bersyukur. "Tubuhku juga perlahan-lahan merasa ringan kembali. Tapi ini rasanya ada tenaga dalam yang entah dari mana terasa menyerap di dalam tubuhku." Ya, itukah yang ia rasakan. "Alhamdulillah hirobbil'alamin jika memang seperti itu." Prabu Praja Permana tersenyum kecil. Jika memang adiknya seperti itu, ia sangat senang. Itu artinya Selendang Merah harus mengetahui ini.
"Maaf saja raka prabu. Itu aku lakukan demi diriku. Aku hanya tidak ingin kanda prabu ikut campur dalam masalahku." Dalam hati Pangeran Wira Wijaksana tersenyum aneh menatap kakaknya. "Aku hanya ingin memiliki nimas rembulan indah. Dia adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Mereka hanyalah pengganti nimas rembulan indah saja." Sepertinya Pangeran Wira Wijaksana memiliki rencana tersembunyi. Apa yang sebenarnya ia inginkan?. Temukan jawabannya.
...--^^^---...
Selendang Merah sedang diobati oleh Kelelawar Hitam. Keadaannya benar-benar berantakan. Kulitnya yang memerah terluka melepuh karena dampak dari jurus musuh. Perlahan-lahan ia merasa lebih baik dari yang sebelumnya.
__ADS_1
"Aku harap gusti prabu tidak apa-apa. Rasanya aku merasa berdosa karena telah membuatnya terluka juga. Tapi aku tidak punya pilihan lain, karena musuh yang akan aku hadapi berikutnya adalah nila ambarawati. Aku yakin dia akan menggunakan akal busuknya untuk menjatuhkan aku nantinya." Dalam hatinya berkata seperti itu.
"Maafkan aku gusti prabu. Maafkan aku jika aku telah membuat gusti prabu terluka." Ada penyesalan di dalam hatinya namun ia terpaksa melakukan itu. "Suatu hari nanti, akan aku jelaskan kepada gusti prabu semuanya. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa mengatakannya." Ia berusaha untuk mengatur hawa murninya dengan baik. Keadaannya sedikit membaik, dari yang sebelumnya.
"Bagaimana keadaan nini?. Apakah masih sakit?. Katakan padaku, apa yang bisa aku bantu?."
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Terima kasih atas bantuan yang telah kau berikan padaku."
"Tidak perlu berterima kasih padaku. Melihat nini baik-baik saja, itu membuatku lebih tenang." Dengan malu-malu Kelalawar Hitam mengatakannya. Sepertinya, perasaannya pada Selendang Merah mulai membuncah. Sehingga ia tersipu malu ketika wanita itu mengucapkan terima kasih padanya.
"Baiklah kalau begitu, kita segera kembali ke istana. Karena urusan kita sudah selesai."
"Lalu bagaimana dengan ketiga orang yang melarikan diri itu?."
"Sekalian saja memutar jalan sedikit. Aku mengetahui dimana mereka bersembunyi."
"Baiklah. Aku setuju. Tapi apakah nini baik-baik saja?. Apakah nini perlu diobati lagi?."
"Tidak perlu. Kita harus segera menyelesaikan masalah ini. Aku hanya ingin segera istirahat."
"Baiklah nini."
Setelah itu mereka kembali menaiki Bedati yang sempat mereka lupakan karena pertarungan tadi. Setidaknya tugas berat ini berhasil mereka jalankan dengan baik. Sebagai pendekar pembunuh bayaran, menghadapi musuh yang kuat itu adalah tantangan hidup dan mati. Terluka, atau mati, itulah pilihannya. Tidak ada yang benar-benar mulus setelah pertarungan selesai. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Jangan lupa tinggalkan komentarnya ya pembaca tercinta.
__ADS_1
...---^^^---...