
...***...
Selendang Merah, Prabu Praja Permana, dan Kelalawar Hitam saat ini menuju desa lembung basa. Mereka hampir saja memasuki desa itu.
"Bukankah nimas mengatakan jika putra nimas berada di desa lembung basa?."
"Benar gusti prabu. Anak hamba berada di rumah aki lurah saat ini."
"Baiklah. Bagaimana kalau kita menuju ke sana. Sekaligus bertanya bagaimana keadaan desa ini."
"Kalau begitu, mari hamba tunjukkan tempatnya gusti."
"Mari adimas."
"Mari gusti prabu."
Mereka menuju rumah Aki Awuh. Rumah kepala desa yang masih aktif sampai saat ini. Sepertinya kedatangan kedatangan mereka membuat Andara Wijaya dan Aki Awuh yang berada di halaman rumah terkejut.
"Ibunda." Sawung yang rindu setengah mati langsung berlari memeluk ibundanya.
"Oh putraku." Selendang Merah merentangkan tangannya menyambut pelukan anaknya.
"Aku sangat merindukan ibunda. Sangat rindu ingin berjumpa dengan ibunda." Ia ungkapkan perasaan cintanya dan kasih sayang serta rindu pada ibundanya.
"Ibunda juga sangat merindukanmu. Sangat rindu." Selendang Merah mengusap kepala anaknya dengan sayang. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, ketika ia merasakan perasaan rindu itu.
Sedangkan Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam hanya memperhatikan keduanya. Mereka baru saja melihat anak dari Selendang Merah. Ternyata wanita bercadar merah itu tidak berbohong pada mereka mengenai anak yang ia katakan. Sangat jelas, anak itu memanggil Selendang Merah dengan sebutan ibunda.
"Selamat datang nini. Sudah lama juga tidak mampir ke sini."
"Maaf aki. Aku sedang mengalami sedikit masalah."
"Gusti prabu. Hormat hamba gusti prabu." Aki Awuh memberi hormat pada Prabu Praja Permana.
"Sepertinya ini tamu yang istimewa sekali."
Selendang Merah melepaskan pelukan anaknya. Ia ingin menjelaskan alasan mengapa Prabu Praja Permana bisa ada di sini. Namun siapa sangka, tiba-tiba ada seseorang dengan sangat cepat menarik tangan Andara Wijaya. Tentunya mereka semua sangat terkejut dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Ibunda."
"Putraku!."
Matanya terbelalak terkejut, saat ia mengenali siapa yang telah menarik paksa anaknya. "Kau!. Bukankah kau adalah nila ambarawati?."
"Nimas."
"Nini."
Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam langsung mendekati mereka Selendang Merah dan Aki Awuh yang tercengang dengan apa yang terjadi.
"Nini. Bukankah kau orang yang telah kami selamatkan?. Kenapa kau malah menyandera cucuku!."
"Diam kau orang tua. Anak ini adalah anak wanita yang paling aku benci. Dan dia harus merasakan sakit hati yang aku rasakan."
"Kau benar-benar kejam. Namanya saja setan!. Apalagi kelakuanmu!."
"Diam kau bocah kelalawar. Kau akan menyesal jika kau sampai bertindak mengancam aku!. Maka nyawa anak ini akan melayang." Nila Ambarawati mengancam mereka semua, dengan menyadara Andara Wijaya. Ia menempelkan belati kecil yang tajam ke leher Andara Wijaya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Nini, sebaiknya nini menyerah dan jangan sakiti anak yang tidak berdosa itu."
"Diam kau kakek tua!. Dan kalian juga!. Aku akan membunuh anak ini. Biar terbalas semua rasa sakit hatiku selama ini terhadap wanita itu!."
"Kegh. Ibunda, sakit ibunda." Andara Wijaya merasakan belati itu menggores sedikit kulit lehernya, sehingga ada noda merah yang meleleh di lehernya.
"Nila ambarawati." Dengan geramnya Selendang Merah menatap tajam ke arah Nila Ambarawati. "Singkirkan tangan kotormu itu dari anakku. Kau akan menyesal jika kau berani melukainya."
"Hah?. Kau ini bicara atau berbisik-bisik rembulan indah!."
"Kegh. Ibunda." Andara Wijaya semakin meringis kesakitan. Ia ingin melepaskan diri dengan menggunakan tenaga dalamnya, akan tetapi sepertinya tidak bisa, karena Nila Ambarawati menekan hawa murni milik Andara Wijaya. Sehingga ia tidak dapat menggunakannya.
"Nimas, apa yang-."
Belum sempat Prabu Praja Permana bertanya, namun bagaikan diterpa angin yang sangat kuat. Selendang Merah merebut anaknya dari tangan Nila Ambarawati. Ia tarik kuat anaknya, namun sebelum itu, ia tarik paksa tangan Nila Ambarawati yang memegang belati itu, agar tidak melukai anaknya.
Srakh!!!
__ADS_1
Tubuh Andara Wijaya terlempar melewatinya, melayang di udara karena saking kuatnya tarikan itu. Namun beruntung, dengan sigapnya Prabu Praja mengetahui menangkap Andara Wijaya.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Sangat kejam sekali." Prabu Praja Permana menurunkan Andara Wijaya. "Apakah kau baik-baik saja?."
"Um." Andara Wijaya hanya menganggukkan kepalanya. Mulutnya seakan terkunci untuk berbicara karena ia takut dengan apa yang baru saja ia alami.
"Oh syukurlah kau baik-baik saja sawung." Aki Awuh berlari kecil mendekati keduanya. Begitu juga dengan Kelalawar Hitam. "Sangat menanggung resiko yang sangat tinggi dengan apa yang dilakukan nini selendang merah tadi." Dalam hati Kelalawar Hitam merasa kagum, dan ia belum sama sekali tida pernah melihat seseorang senekat Selendang Merah.
"Kurang ajar!. Ternyata kau cukup tangguh untuk menyelesaikan masalah. Kalau begitu lawan aku sekarang juga!." Nila Ambarawati merasa kesal. Padahal tadi ia sangat berharap, jika ia bisa membuat Selendang Merah meminta ampun padanya.
Sedangkan Selendang Merah merasa geram mendengarkan tantangan dari Nila Ambarawati. Dengan gerakan yang sangat cepat, dan tidak bisa ditebak oleh siapa pun. Selendang Merah menyerang Nila Ambarawati. Sehingga wanita itu menjerit kesakitan. Tubuhnya ditotok kuat, sehingga ia kesulitan untuk bergerak.
"Gawat gusti prabu. Wanita itu bisa mati dengan jurus elang menotok ular dengan cakarnya. Jurus itu akan membunuh syaraf dari dalam segera perlahan."
"Kita harus menghentikan nimas selendang merah."
"Baik gusti prabu."
"Aki lurah, tolong jaga anak ini."
"Sandika gusti prabu."
Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam melompat cepat ke arah Selendang Merah. Keduanya menotok tubuh Selendang Merah, agar wanita itu tidak kesurupan untuk membunuh Nila Ambarawati.
SRAK SRAK!
"Kegh." Selendang Merah meringis kesal, karena ia tidak bisa bergerak. Sedangkan Nila Ambarawati saat ini telah terkapar di tanah, ia pasrah dihajar habis-habisan oleh Selendang Merah.
"Lepaskan hamba gusti prabu, adi. Lepaskan aku!. Biar aku bunuh wanita tidak tahu diri itu!."
"Uhuk, uhuk, uhuk." Bila Ambarawati dalam keadaan terluka parah, ia memuntahkan darah segar. Serangan Selendang Merah tidak main-main, dan itu bisa mengancam keselamatan nyawanya.
"Kau benar-benar wanita kejam yang sesungguhnya!."
"Diam kau bedebah!. Berani sekali kau ingin membunuh anak yang telah aku besarkan dengan susah payah!. Dan kau dengan santainya mengatakan jika kau ingin membunuhnya?!." Emosi membara ia berteriak untuk melepaskan rasa sakit hatinya. "Apakah kau tidak tahu?!. Bahwa anak yang ingin kau bunuh itu adalah anak yang kau lahir kan lima belas tahun yang lalu!. Anak yang kau buang setelah kau lahiran ke dunia ini!." Dengan emosi yang telah memuncak, menyesak dadanya selama ini, ia akhirnya mengatakan siapa Andara Wijaya.
Mereka semua tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...