ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
ALASAN DALAM APA?.


__ADS_3

...*** ...


Setan Selendang Jingga Kematian masih penasaran dengan siapa ibu dari anak itu. Wajah anak itu rasanya tidak asing, wajahnya mengingatkan ia dengan seseorang yang sangat ia cintai dimasa lalu.


"Ibundanya saat ini sedang bekerja sebagai emban. Jadi sebagai kakeknya aku yang menjaganya di sini nini." Aki Awuh memberi kode lewat sepakan kecil kakinya.


"Ah iya, kakek benar. Ibundaku bekerja di istana sebagai emban. Karena itulah bibi tidak bisa bertemu dengannya." Andara Wijaya mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Aki Awuh.


"Oh, jadi begitu. Pantas saja aku tidak melihatnya. Aku yakin ibundamu akan lama pulangnya."


"Ya, bibi benar." Andara Wijaya hanya tertawa kecil, karena memang identitasnya, juga ibundanya harus dirahasiakan dari orang asing.


"Oh, syukurlah aku pandai mencari alasan." Dalam hati Aki Awuh merasa lega. "Maaf saja nini, aku terpaksa berbohong, karena aku tidak ingin anak ini celaka." Dalam hatinya merasa menyesal, namun demi melindungi Andara Wijaya ia terpaksa melakukannya.


...***...


Kembali ke istana Kerajaan Sendang Agung. Selendang Merah dan Kelalawar Hitam izin pada Prabu Praja Permana. Mereka ingin segera menangkap Ketua kelompok setan jahat yang masih hidup, mungkin.


"Kami mohon izin pada gusti prabu, juga gusti ratu untuk segera menangkap satu-satunya orang yang tersisa."


"Kami tidak ingin ia menghimpun kekuatan baru, dan membuat masalah baru di negeri ini gusti prabu, gusti ratu."


"Aku akan mengizinkan kalian pergi, asalkan nanda prabu juga ikut bersama kalian."


"Tapi gusti ratu?."


"Jika terjadi sesuatu pada putraku, hanya karena janji darah itu, aku tidak sanggup melihatnya kesakitan. Lebih baik putraku nanda prabu ikut saja." Ia menatap ke arah putranya. "Jika masalah istana, serahkan pada ibunda. Jadi kalian fokus saja pada penangkapan wanita itu."


"Baiklah ibunda. Nanda akan ikut bersama nimas selendang merah, juga adimas kelalawar hitam."


"Ya, ikutlah bersama mereka."


"Maafkan hamba, karena hamba dengan lancangnya melakukan itu gusti ratu."


"Tidak apa-apa nini. Lagi pula kau melakukan itu semua demi menjaga kesetiaan mu pada nanda prabu."


"Terima kasih atas pengertiannya gusti ratu. Semoga gusti ratu selalu mendapatkan kebahagiaan."

__ADS_1


"Aamiin ya Allah." Rasanya hati Ratu Sawitri sangat senang dengan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah.


"Kalau begitu kami pamit dulu ibunda. Assalamualaikum warahmatullahi." Prabu Praja Permana pamit pada ibundanya, dan tak lupa salim dengan ibundanya.


"Kami mohon pamit gusti ratu. Sampurasun." Selendang Merah dan Kelalawar Hitam juga pamitan. Setelah itu mereka langsung pergi meninggalkan tempat, karena ada hal yang harus mereka lakukan.


"Aku akan selalu mendoakan yang tebaik untuk kalian bertiga. Semoga Allah SWT selalu melindungi kalian." Dalam hati Ratu Sawitri Dewi merasa cemas dengan apa yang ia khawatirkan.


...***...


Sementara itu, Setan Selendang Jingga Kematian saat ini sedang melakukan peregangan di halaman rumah KI Awuh. Namun ia dikejutkan oleh kedatangan Sandi Praha datang dalam keadaan marah.


"Hei!. Siapa kau?. Apakah ini adalah wajah asli dari ibundanya si sawung itu?."


"Siapa anak muda ini?. Kurang ajar sekali dia. Tapi aku suka dengan gayanya yang seperti ini." Dalam hati Nila Ambarawati merasa tertarik dengan sikap anak muda itu.


"Hei!. Kenapa kau malah melihat aku seperti itu?. Apakah kau tuli dengan apa yang aku katakan hah?."


"Jangan marah dulu anak muda. Memangnya kau ini siapa?. Datang-datang malah marah seperti itu?."


"Aku ingin mencari sawung anakmu. Meskipun kau ibundanya seorang pembunuh bayaran penebar maut, aku menantang anakmu bertarung dengan ku!."


"Memang kau siapa jika bukan selendang merah?. Kau jangan berpura-pura bibi. Hanya karena kau melepaskan cadar merahmu, lantas kau bersikap lunak padaku."


"Jadi sawung adalah anak dari dia?. Kurang ajar sekali." Hatinya memanas, dan ia merasa dipermainkan oleh Andara Wijaya, dan juga Aki Awuh.


"Ada urusan apa kau dengan anakku?. Sebaiknya kau pergi dari sini, jika kau telah mengetahui siapa aku sebenarnya."


"Kau pikir aku takut denganmu?. Hadapi aku jika kau memang pendekar dengan julukan selendang merah penebar maut."


"Baiklah, jika itu yang kau inginkan bocah. Akan aku tunjukan siapa aku sebenarnya. Kau telah berani menyingung aku." Nila Ambarawati merasa kesal karena ditantang seperti itu. Ia terpaksa berpura-pura menjadi ibu dari Andara Wijaya.


Sandi Praha menyerang Nila Ambarawati dengan cepat, sayangnya gerakan yang dilakukan oleh Sandi Praha begitu mudah diatasi oleh Bila Ambarawati.


"Sial, ternyata bukan hanya nama saja, orang ini sangat kuat sekali." Dalam hati Sandi Praha sedikit khawatir dengan pertarungan itu yang tidak akan seimbang.


...***...

__ADS_1


Disisi lain. Prabu Praja Permana, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam telah meninggalkan kota raja. Mereka hendak menuju desa sepian bambu. Desa yang hampir berbatasan dengan desa Lembung Basa.


"Apakah kita yakin akan menuju desa lembung basa gusti prabu?."


"Bukankah nimas tidak jadi ke desa lembung basa karena masalah waktu itu?."


"Gusti benar. Tapi rasanya anak hamba akan terkejut, jika ia mengetahui memiliki seorang paman yang masih muda."


"Ahaha iya juga ya. Saat ini aku telah menjadi paman." Kelalawar Hitam merasa canggung.


"Maaf adi Kelalawar hitam, sebenarnya aku hanya mau mengatakan jika-." Dalam hati Selendang Merah merasa bersalah.


"Maaf nimas, adimas. Sepertinya kita harus beristirahat sebentar. Karena aku ingin melaksanakan sholat zuhur terlebih dahulu."


"Baiklah gusti prabu. Kalau begitu kami akan mencari tempat berteduh."


"Kami akan menunggu gusti prabu."


"Terima kasih atas pengertiannya nimas, adimas."


"Tentu saja gusti prabu." Selendang Merah dan Kelalawar Hitam memberi hormat pada Prabu Praja Permana. Setelah itu Prabu Praja Permana mencari air untuk berwudhu, sedangkan Selendang Merah dan Kelalawar Hitam menunggu di suatu tempat.


...***...


Kembali ke pertarungan Nila Ambarawati dengan Sandi Praha. Sepertinya Sandi Praha memang kesulitan menghadapi Nila Ambarawati. Ia akui wanita itu sangat kuat, sehingga semua serangan yang ia lakukan tidak berpengaruh pada musuhnya.


"Kurang ajar!. Ternyata wanita tua ini bukan hanya namanya saja yang seram, namun jurus yang ia gunakan juga seram." Dalam hati Sandi Praha mulai sedikit gentar. "Aku tidak mau kalah dengan sia-sia. Setelah ini aku akan kembali lagi, dan akan mengalahkannya."


"Ada apa bocah?. Kau merasa kewalahan menghadapi aku?. Bukankah kau yang tadi yang menantang aku untuk bertarung?. Lalu dimana letak semangat yang kau miliki tadi?."


"Diam kau!. Aku bersumpah akan kembali lagi untuk mengalahkanmu!."


"Kau boleh datang kapan saja. Namun tidak ada kata ampun kali."


"Heh!. Tidak anak, tidak ibuknya. Sama-sama sombong!." Setelah berkata seperti itu, disertai dengan mendengus kesal, ia meninggalkan tempat itu. Ia masih belum menerima dengan apa yang ia terima hari ini.


"Jadi sawung adalah anaknya si bedebah itu?. Akan aku gunakan dia untuk mengacak ibuknya. Meskipun aku penasaran siapa ayah anak itu. Wajahnya sangat mirip dengan kakang jaya estu. Tapi mustahil, karena kakang jaya estu telah lama mati. Tapi bisa saja waktu itu dia hamil, dan menyembunyikan semuanya dariku." Suasana hatinya sangat kacau. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2