ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
KETETAPAN HATI


__ADS_3

...***...


Kelalawar Hitam dan Selendang Merah melepaskan rindu yang selama ini mereka tahan. Sosok ibu yang mereka rindukan.


"Maafkan aku ibunda. Aku telah lama meninggal tempat ini." Selendang Merah mendekap kaki ibundanya.


"Maafkan aku juga ibunda. Karena aku pergi meninggalkan rumah tanpa izin dari ibunda." Kelalawar Hitam memeluk ibundanya dengan penuh penyesalan yang luar biasa di dalam dirinya saat ini.


"Aku selalu menunggu kepulangan kalian. Syukurlah kalian telah kembali. Aku sangat senang, ketika kakang sudara mengatakan. Jika ia berhasil menemukan kalian."


"Kenapa tidak diajak masuk nini. Lebih enak kalau duduk di dalam" Terdengar suara yang sangat tidak asing bagi mereka semua. Ia adalah Sudara, atau burung hantu. Nama julukannya saat ia menjadi pendekar pembunuh bayaran.


"Ayahanda." Kali ini keduanya mendekati laki-laki yang mereka panggil dengan sebutan ayahanda. Mereka juga memeluk laki-laki itu dengan sayang, karena perasaan rindu yang berkecamuk di dalam diri mereka masing-masing.


"Mari masuk. Sudah lama kalian tidak kembali ke rumah ini."


"Baiklah ayahanda, kami masuk."


"Mari masuk nak."


Mereka semua masuk ke dalam pondok sederhana itu. Namun menyimpan banyak kenangan masa kecil mereka di sana.


...***...


Di Istana Kerajaan Sendang Agung. Saat ini Andara Wijaya dan Sandi Praha sedang latihan bersama Prabu Praja Permana. Mereka latihan bersama dengan baik. Prabu Praja Permana dengan senang hati melatih mereka hari ini, dan disaksikan oleh Ratu Sawitri Dewi.


"Gerakan mereka sangat hebat sekali. Mampu meniru semua gerakan dari nanda prabu. Pantas saja nanda prabu begitu tertarik dengan mereka berdua, untuk dijadikan prajurit utama istana."


"Lakukan sekali lagi, apa yang telah kalian pelajari tadi."


"Sandika gusti prabu."


Setelah itu sang Prabu mendekati ibundanya. "Ibunda." Prabu Praja Permana selalu mencium tangan ibundanya sebagai bentuk hormatnya pada ibundanya.


"Apakah nanda suka dengan mereka?." Ratu Sawitri Dewi memberikan secangkir air putih pada anaknya. Terlihat keringat sedikit membasahi tubuh anaknya.

__ADS_1


Prabu Praja Permana mengambil cangkir tersebut, membaca doa mau makan dan minum. Setelah itu meneguknya dengan pelan. Karena agak terasa lega dahaga tenggorokannya, ia menjawab pertanyaan dari ibundanya. "Nanda sangat menyukai keduanya ibunda. Mereka begitu cepat menyerap apa saja yang nanda ajarkan pada mereka."


"Kalau begitu, ajarkan agama islam juga pada mereka. Agar mereka lebih baik lagi."


"Nanda akan mengajari mereka dengan perlahan-lahan ibunda. Supaya mereka tidak bosan ataupun terkejut menerima apa yang nanda ajarkan pada mereka."


"Ya. Nanda prabu benar. Karena tidak semua orang mau menerima apa yang kita ajarkan, meskipun itu sangat baik menurut kita."


"Hanya bersabar saja ibunda. Lagipula mereka akan tekun belajarnya nanti, jika mereka telah merasakan indahnya belajar agama islam."


"Semoga saja ibunda."


Hanya itu harapan Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi. Karena tidak ada kata terlambat jika ingin memperbaiki diri. Apalagi Andara Wijaya dan Sandi Praha masih muda.


"Dan segera mungkin, ratu agung harus segera diangkat. Karena jika kosong, maka akan banyak raja-raja atau orang-orang penting yang akan datang, untuk menjadi ratu agung di istana ini nak. Tentunya nanda mengerti maksud dari ibunda bukan?."


"Akan nanda pertimbangkan kembali ibunda. Semuanya tergantung pada nimas selendang merah. Nanda tidak bisa memaksa nimas selendang merah untuk cepat-cepat menikah dengan nanda."


"Semoga aja nini selendang merah mau nak." Ratu Sawitri Dewi sangat berharap, semuanya akan berjalan dengan baik. Apakah ia tidak boleh berharap seperti itu?.


...***...


Kali ini kakinya telah sampai di kerajaan Sendang Agung. Ia ingin mengetahui, apakah musuhnya ada di kerajaan ini atau tidak. Namun saat itu, ia bertemu dengan seseorang.


"Hei, kenapa kau malah menghalangi jalanku!."


"Aku hanya melihat aura pekat selalu beriringan dengan langkahmu cah ayu."


"Heh!. Kau tidak usah berkata seperti itu padaku!."


"Apakah kau sedang mencari seseorang?."


"Apa urusanmu!. Jika aku mencari seseorang?. Aku tidak meminta bantuan padamu!. Sebaiknya kau jangan menghalangi jalanku!. Atau kau akan mati ditanganku!."


Laki-laki tersebut terkekeh kecil melihat raut wajah marah itu. "Asal kau tahu saja cah ayu. Orang yang kau cari itu memang berada di kerajaan ini. Tapi saat ini dia sedang keluar."

__ADS_1


"Hah?. Memangnya kau tahu siapa yang sedang aku cari hah?."


Lagi-lagi ia tertawa terkekeh kecil. "Dia adalah seorang pendekar wanita dengan julukan pendekar pembunuh bayaran selendang merah penebar maut bukan?."


"Kau!. Siapa kau sebenarnya?. Mengapa kau mengetahui siapa yang aku cari?."


Namun bukannya menjawab, laki-laki tua itu malah pergi meninggalkannya. "Hei!. Kakek tua!. Kemana kau!. Kenapa kau malah pergi?. Kakek tua!." Suliswati terus memanggil laki-laki misterius itu. Akan tetapi sama sekali tidak ada jawaban. "Sial!. Kenapa malah dipermainkan orang asing seperti itu?." Ia merasa sangat kesal. "Baiklah, jika memang wanita busuk itu berada di wilayah ini, aku akan mencari tahu keberadaannya." Suliswati meneruskan perjalanannya, dan ia harus mencari wanita itu sampai ketemu.


...***...


Di hutan bambu, yang dulunya adalah hutan larangan. Karena desa ini hanya dihuni oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membunuh orang lain, dengan cara yang berbeda. Makanya dinamakan hutan larangan.


Saat ini Selendang Merah dan Kelalawar Hitam berada di sini. Karena kedua orang tua mereka tinggal di sini.


"Apakah benar, kau melakukan janji darah nak?. Kenapa kau melakukan itu?."


"Maaf ibunda. Aku hanya tidak ingin, orang yang membenci diriku melakukan kecurangan. Karena itulah aku melakukan janji darah dengan gusti prabu."


"Tapi kau harus siap dengan segala kemungkinan yang ada nak. Hanya dengan pernikahan yang membuat kalian bisa memutuskan tali janji darah itu."


"Ibunda tenang saja. Ratu kerajaan sendang agung sangat setuju hubungan ayuk dengan gusti prabu."


"Adi, jangan katakan dulu." Selendang Merah menyenggol adiknya itu.


"Hehehe. Bukankah lebih baik jika ibunda juga ayahanda mengetahuinya?."


"Benarkah itu nak?. Apakah gusti ratu tidak salah?."


"Aku rasa itu hanya supaya anaknya tidak mati saja, jika seandainya selendang merah bunuh diri."


"Tidak seperti itu ayahanda. Bahkan sebelum mengetahui jika ayuk melakukan janji darah, gusti ratu sangat menginginkan ayuk menjadi ratu agung."


"Semuanya hanya ditanganmu. Kau sudah bisa memutuskan semuanya. Bahkan ketika kau memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Artinya kau siap menanggung semua masalah yang akan kau hadapi. Jadi jangan biarkan hatimu goyah."


"Benar yang dikatakan oleh ayahandamu. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Jadi jaga apa yang kau anggap itu sangat penting bagi nak. Aku yakin kau telah memiliki tekad dan alasan, mengapa kau melakukan itu bukan?."

__ADS_1


Selendang Merah memiliki sedikit pandangan dari kedua orang tuanya. Apakah yang akan ia lakukan?. Hatinya yang akan memutuskan semuanya.


...***...


__ADS_2