ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PENJELASAN


__ADS_3

...***...


Selendang Merah baru saja diobati oleh tabib istana. Begitu juga dengan Prabu Praja Permana yang ikut terluka. Di ruang pengobatan Ratu Sawitri Dewi, Patih Arya Serupa, dan Kelalawar Hitam juga melihat itu. Namun ada hal ganjal yang ingin mereka tanyakan pada Selendang Merah.


"Maaf nimas. Sebelumnya nimas mengatakan jika nimas telah melakukan janji darah. Apa itu artinya nimas."


"Janji darah?. Apa itu nanda prabu?."


"Maaf ibunda. Nanda juga ingin bertanya pada nimas selendang merah."


"Nini. Coba jelaskan pada kami semuanya. Apa itu janji darah?. Apa hubungannya dengan putraku nanda prabu yang juga ikut terluka?."


"Maafkan hamba, jika hamba sangat lancang sebelumnya gusti prabu." Selendang Merah memberi hormat pada Prabu Praja Permana. "Apakah gusti prabu ingat, ketika kita bertemu untuk kedua kalinya."


Prabu Praja Permana mencoba mengingat saat pertemuan kedua. Saat itu rasanya tidak ada yang aneh menurutnya. "Apakah ada kejadian yang aku lupakan nimas. Sehingga janji darah itu terjadi?."


"Apakah gusti prabu ingat, ketika hamba melukai tangan hamba dengan belati kecil?."


Deg!!!.


Seketika Prabu Praja Permana ingat dengan kejadian itu. Tentunya ia teringat, dan sangat panik saat itu. "Apakah itu bisa disebut dengan janji darah?."


"Janji darah memang seperti itu gusti prabu. Melukai tangannya, dan membacakan mantram dalam hati, maka darah itu akan diserap oleh tuan yang akan terikat, dengan janji yang telah diucapkan oleh sang pembuat."


"Apakah itu akan berbahaya?."


"Tidak akan berbahaya. Hanya saja jika si pembuat mengingkari sumpah setianya. Maka ia akan mati dalam keadaan mengenaskan. Misalnya ia telah berkhianat pada tuannya. Itu dapat membunuh si pembuat."


"Lalu apa akibat dari tuannya?."


"Jika salah satu dari mereka terluka, maka akan terluka keduanya. Namun mereka memiliki hubungan batin yang kuat."

__ADS_1


"Jadi begitu?. Apa karena itu nanda prabu juga merasakan sakit yang sama?. Bukankah itu sangat berbahaya?."


"Sungguh maafkan hamba gusti ratu. Hamba melakukan semua ini tanpa meminta izin pada gusti prabu. Karena hamba yakin, jika musuh gusti prabu, yang ternyata adalah musuh lama hamba. Akan melakukan kecurangan gusti ratu."


"Seperti menyamar menjadi nimas misalnya?."


"Salah satu yang hamba takutkan adalah itu gusti prabu."


Mereka semua mencoba memaklumi alasan yang diberikan oleh Selendang Merah. Mereka semua mengetahui, jika Selendang Merah tidak akan mungkin berbohong pada mereka semua. Apakah yang itu benar?. Atau hanya cerita saja?. Tapi memang benar apa yang ia katakan. Buktinya prabu Praja Permana mengalami hal yang sama dengannya.


"Lalu bagaimana caranya melepaskan tali janji darah itu?. Jika suatu waktu nyawa kalian terancam. Akan berbahaya, jika musuh yang kau hadapi itu musuh yang sangat tangguh nini selendang merah." Kali ini Patih Arya Serupa yang bertanya. "Apakah kau ingin nanda prabu mati juga bersamamu?."


Mereka semua terkejut dengan apa yang dikatakan Patih Arya Serupa. Memang jika dipikirkan baik-baik itu memang sangat berbahaya, dan tentunya mereka ingin mengetahui bagaimana caranya mereka membatalkan janji darah itu. Namun sepertinya Selendang Merah agak keberatan menjawab pertanyaan itu. Ia menundukkan wajahnya, seakan menyembunyikan sesuatu.


"Katakan nini. Bagaimana caranya membatalkan janji darah itu?. Apakah ada ritual khusus yang harus dilakukan?."


"Sepertinya nini selendang merah memang merasa berat mengatakannya." Dalam hati Kelalawar Hitam, mengamati bagaimana sikap Selendang Merah. "Katakan saja nini. Tidak apa. Katakan yang sejujurnya walaupun itu terasa pahit nantinya."


Selendang Merah menatap ke arah Kelalawar Hitam, yang merupakan adiknya?. Ia belum bertemu dengan kedua orang tuanya, dan bertanya masalah kebenaran ini. Ia melihat senyuman yang menyakinkan dirinya. Kelalawar Hitam seakan berkata, berani berbuat berani bertanggung jawab. Jadi jangan berbuat saja, namun lari dari tanggung jawab?.


"Pernikahan?." Prabu Praja Permana, Ratu Sawitri Dewi, dan Patih Arya Serupa tidak salah dengar?.


"Apakah itu benar nimas?."


"Apakah itu benar nini?. Kau tidak berbohong sama sekali pada kami, kan?."


"Kakak hamba tidak berbohong gusti ratu. Karena memang itulah yang terjadi. Hanya itu satu-satunya cara terlepas dari janji darah itu." Kelalawar Hitam membantu kakaknya menjelaskan kepada mereka semua.


"Pernikahan ya?. Aku sangat setuju sekali." Ratu Sawitri Dewi sangat senang sekali, karena impiannya mengangkat Selendang Merah menjadi menantu akhirnya terwujud?.


"Apa?. Bukankah aku telah mengatakan jika aku ingin menjodohkan putriku dengan nanda prabu?. Apakah ratu sawitri dewi lupa?." Dalam hati Patih Arya Serupa merasa heran. Anaknya yang sangat cantik, malah terlupakan oleh Ratu Sawitri Dewi?. Setelah ini ia akan berbicara empat mata, dan menanyakan kembali mengenai janji itu?.

__ADS_1


Tapi setidaknya mereka semua sudah mengetahui tentang janji darah. Prabu Praja Permana tidak akan lagi merasa heran dengan apa yang terjadi pada dirinya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.


...***...


Sedangkan Nila Ambarawati. Saat ini ia berada di sebuah tempat. Ia ditemukan dalam keadaan setengah sadar oleh Aki Awuh. Saat itu ia berada di kebun miliknya, dan tidak sengaja melihat Nila Ambarawati. Keadaannya terluka parah, tak lama kemudian jatuh pingsan karena sudah tidak kuat lagi menahan sakit yang mendera tubuhnya.


Aki Awuh memutuskan untuk membawa wanita itu ke rumahnya, dan di rawat oleh Andara Wijaya. Saat ini Setan Selendang Jingga Kematian atau Nila Ambarawati masih tak sadarkan diri.


"Kasihan sekali bibi ini ya ki."


"Iya, aku merasa kasihan padanya."


"Mungkin dia baru saja bertarung berhadapan dengan musuh yang sangat tangguh?."


"Bisa jadi seperti itu. Jika dilihat dari luka dalam yang ia alami."


"Aku merasa kasihan pada bibi ini ki. Semoga saja ia bisa melewati rasa sakit penderitaan yang ia alami."


"Semoga saja aki."


"Kau tidak usah khawatir nak. Setelah ia beristirahat dengan total, aku yakin ia segera sembuh."


"Tabib teman aki itu sangat hebat. Luka-luka fisik yang ia alami kering dengan cepat."


"Kau juga bisa menguasai ilmu pengobatan itu dengan hebat, jika kau mau belajar sungguh-sungguh mengenai dunia pengobatan."


"Aku akan mencobanya. Mungkin jika aku menjadi tabib istana yang hebat, maka aku akan mengobati siapa saja yang terluka parah. Termasuk ibunda jika terluka karena berhadapan dengan musuh yang tangguh."


Aki Awuh tertawa kecil mendengarkan apa yang dikatakan Andara Wijaya. Keinginan besarnya yang menginginkan kebahagiaan orang yang paling ia sayangi. "Aku yakin kau bisa melakukannya cah bagus. Karena kau adalah anak yang sangat pintar dalam belajar hal apapun. Nanti akan aku katakan padanya."


"Terima kasih aki. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin belajar ilmu pengobatan itu."

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana tanggapan Nila Ambarawati jika ia diselamatkan oleh anaknya Selendang Merah?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2