ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
BAGAIMANA KISAH ITU?


__ADS_3

...***...


Ratu Sawitri Dewi dan Patih Arya Serupa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bahu Prabu Praja Permana yang tadinya terluka, dan kini telah sembuh?. Mata mereka juga melihat ke arah tangan tabib yang sedang menyalurkan tenaga dalamnya ke arah Selendang Merah yang sedang tidak sadarkan diri. Luka di bahu kirinya juga sembuh?.


Mereka merasa bingung dengan apa yang terjadi. Namun mereka bingung mau bertanya dengan pertanyaan seperti apa.


"Bagaimana itu bisa terjadi nanda prabu?. Apakah nanda bisa menjelaskannya pada ibunda?."


"Maaf ibunda. Nanda tidak bisa menjelaskannya. Mungkin nimas selendang merah bisa menjelaskannya nanti."


"Nini selendang merah?. Memangnya apa hubungannya dengan kejadian itu?."


"Ah maksud nanda. Katanya luka ini-."


"Maaf gusti prabu. Lukanya bisa hamba sembuhkan. Namun tubuhnya masih mengandung racun yang sangat berbahaya. Dan itu harus segera dikeluarkan. Jika tidak, nyawanya tidak akan bisa diselamatkan."


"Lakukan dengan baik tabib. Saya tidak mau nimas selendang merah dalam bahaya. Lakukan sesuatu yang bisa menyelamatkannya."


"Kalau begitu hamba akan membuat ramuan yang bisa memancing semua racun itu keluar dari tubuhnya gusti prabu."


"Ya, lakukan dengan baik tabib."


"Sandika gusti prabu." Tabib istana mohon pamit, karena ia ingin mencari beberapa obat yang dapat mengeluarkan racun. Apakah ia akan berhasil?. Temukan jawabannya. Sementara itu, Ratu Sawitri Dewi masih penasaran dengan ucapan anaknya.


"Mohon ampun ibunda. Nanda sebenarnya juga tidak tahu. Nanda mohon ibunda agar bersabar sampai nimas selendang merah sembuh. Kita semua akan bertanya padanya."


"Baiklah kalau begitu nak. Maafkan ibunda. Ini semua karena ibunda tidak mau terjadi sesuatu padamu nak."


"Maafkan nanda ibunda."


"Um." Ratu Sawitri Dewi mencoba memahami situasi anaknya yang sekarang. "kalau begitu mari kita sholat ashar berjamaah. Kita do'akan, semoga nini selendang merah cepat sembuh."


"Baiklah ibunda. Mari."


Ratu Sawitri Dewi pergi meninggalkan ruangan itu, ia ingin menuju Kaputren.


"Paman arya serupa. Mohon tolong jaga nimas selendang merah. Saya akan melaksanakan sholat ashar berjamaah."

__ADS_1


"Sandika nanda prabu."


"Nimas selendang merah. Semoga saja nimas baik-baik saja. Aku akan kembali lagi." Dalam hatinya merasakan kecemasan yang luar biasa. Namun ia hanya berharap, Allah SWT akan menyembuhkan orang yang ia sayangi?. Apakah sudah ada rasa di dalam hatinya, sehingga ia begitu mencemaskan Selendang Merah?. Apakah ini yang dinamakan asmara?. Atau yang mereka sebut jatuh cinta?. Mungkin saja Prabu Praja Permana telah jatuh cinta pada Selendang Merah?. Itu hanya kemungkinan saja, atau hanya sekedar perasaan takut. Jika Selendang Merah pergi. Siapa yang akan membantunya menyelamatkan negeri ini?. Ya bisa jadi ke arah sana.


...***...


Sementara itu di desa Lembung Basa. Andara Wijaya atau Sawung mulai waspada terhadap Sandi Praha. Karena ia melihat ada perasaan yang tidak baik mengenai pemuda itu terhadapnya. Saat ini ia sedang berada di rumah Ki Awuh. Karena ia memang tidak ingin pergi kemana-mana. Ia ingin memastikan jika apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.


"Ada apa nak?. Kok gelisah begitu?. Apakah kau ada masalah?."


"Memang ada hal yang mengganggu perasaanku aki."


"Katakan padaku. Semoga saja aku bisa membantumu."


"Ini adalah masalah sandi praha aki. Apakah aki mengenalinya?."


"Sandi praha?. Rasanya aku pernah mendengar nama itu." Aki Awuh mencoba untuk mengingat siapa orang yang disebut oleh Sawung. "Aku sedikit ingat tentang pemuda itu."


Sawung menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh Aki Awuh. Ia ingin mengetahuinya, meskipun sedikit.


"Dulu, dia adalah anak seorang perampok. Ayahnya selalu merampok harta siapa saja jika melewati kawasan hutan semi. Padahal jalur itu adalah jalur terdekat bagi para pedagang yang ingin masuk ke desa ini."


Aki Awuh menggelengkan kepalanya, dan menatap sedih ke depan. "Rasanya itu sangat mustahil dilakukan nak. Karena ilmu kepandaian yang ia miliki jauh lebih tinggi."


"Lalu bagaimana cara mengatasinya."


"Tapi masalah itu sudah lama berlalu. Karena dia berhasil dikalahkan oleh ibundamu yang kebetulan lewat di desa ini."


"Dikalahkan ibunda?. Bagaimana ceritanya aki?. Apakah aki bisa menceritakannya padaku?."


"Aku hanya bercerita sedikit mengenai ibundamu yang berhasil mengalahkan kawanan perampok itu."


"Aku sangat ingin mendengarkannya aki. Aku mohon katakan padaku cerita tentang ibunda."


"Baiklah. Jika kau memang penasaran bagaimana ceritanya. Akan aku ceritakan padamu."


...***...

__ADS_1


Kembali ke masa itu.


Desa Lembung Basa sangat khawatir. Mereka saat ini dalam keadaan ketakutan. Karena kawanan perampok yang menguasai desa mereka. Ketakutan yang mereka tebarkan membuat siapa saja tidak berani keluar dari rumah mereka. Atau mereka akan mati, dibunuh siapa saja yang berani melawan mereka. Termasuk Aki Awuh yang merupakan lurah.


"Hei!. Kalian semua!. Apakah tidak ada satupun pendekar di desa ini yang berani melawan kami hah?."


"Hei!. Tidak usah menjadi curuk pengecut!. Akan kami bunuh kalian semua!"


Mereka yang berada di luar berteriak keras, menyuruh mereka semua keluar dari rumah masing-masing. Dan mereka terpaksa keluar dari rumah, termasuk Aki Awuh.


"Tidak ada satupun pendekar di desa ini. Desa ini hanya dihuni oleh orang-orang biasa. Jadi kami mohon pergilah dari desa ini. Karena tidak ada satupun yang kalian harapkan dari desa kami."


"Hei!. Pak tua!. Kau jangan sekali-kali membohongi kami!."


"Katakan dimana mereka berada!. Atau kalian-."


"Apa yang ingin kalian lakukan?."


Namun pada saat itu, ada seseorang yang ikut dalam pembicaraan mereka. Yaitunya seorang wanita yang bertengger di atas pohon dengan santainya. Membuat mereka semua terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"Hei!. Siapa kau?. Berani sekali kau berada di atas kami!. Dan kau juga seorang wanita!."


"Heh!. Kenapa memangnya jika aku seorang wanita?. Kalian merasa kuat hanya karena kalian laki-laki?."


Mereka semua saling berpandangan satu sama lain. Karena mereka merasa heran dengan apa yang dikatakan wanita bercadar merah itu.


"Hei! Pak tua!. Apakah dia pendekar yang ada di desa ini?."


Aki Awuh hanya diam saja. Karena ia sendiri bingung mau menjawab apa. Karena ia juga baru bertemu dengan dan melihat wanita itu.


"Hei!. Kau!. Wanita jelek bercadar!. Turun kau!. Jika kau berani menghadapi kami!."


Namun siapa sangka. Pemuda yang berani membentak wanita bercadar merah itu, malah terkena hantaman dari sebuah selendang merah yang dilambari tenaga dalam. Sehingga ia terjerembab dan berguling ke tanah. Mereka semua terkejut melihat apa yang terjadi. Apalagi ketika wanita itu melompat turun.


"Hei!. Siapa kau!. Berani sekali kau ikut campur dalam urusan kami!."


Dan lagi, kali ini satu orang menjadi korban dari selendang merah itu. Ia sangat geram dengan sikap kasar mereka semua. Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2