ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERASAN HATI MEREKA


__ADS_3

...***...


Putri Ambar Suryati berjalan menuju halaman belakang istana yang cukup luas. Ia melihat seorang laki-laki yang sedang melakukan gerakan silat?. Akan tetapi ia tidak mengenakan baju?.


"Siapa wanita berpakaian serba merah itu?." Dalam hatinya bertanya-tanya. Wanita itu melakukan gerakan yang sama dengan laki-laki itu. karena penasaran, ia semakin mendekati mereka.


"Tidak biasanya gusti prabu berlatih ilmu kanuragan. Dan mengapa mereka melakukan gerakan yang sama?." Ia semakin penasaran. "Selamat pagi gusti prabu. Maaf hamba datang disaat gusti prabu sedang latihan." Ia memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


Namun tidak ada tanggapan dari Prabu Praja Permana. Ia merasa diabaikan. Seakan-akan kehadirannya sama sekali tidak terlihat oleh mereka berdua. "Kurang ajar. Memangnya jurus apa yang mereka mainkan?. Sehingga mereka sama sekali tidak mendengarkan suaraku?." Putri Ambar Suryati sangat marah.


"Cakrawala memanggil, alam raya bergema. Satu jiwa satu hati. Ikatan darah mengikat janji setia. Raja dan ratu memadu kasih dalam satu cinta. Asmara diujung waktu memanggil jiwa yang telah menyatu dalam ikatan yang sah. Janji ikatan darah, takdir jiwa yang melambangkan satu jiwa." Keduanya membacakan kalimat itu secara bersamaan. Gerakan dan mantram yang mereka bacakan pada saat itu memberikan hawa yang baik, membuat Putri Ambar Suryati tercengang melihatnya.


"Apa yang mereka lakukan?. Kenapa aku merasakan hawa mereka seperti benar-benar menyatu. Apa yang mereka lakukan sebenarnya?." Dalam hati Putri Ambar Suryati kebingungan.


...***...


Ratu Sawitri Dewi menyuruh para emban membawakan minuman untuk Kelalawar Hitam, Andara Wijaya dan Sandi Praha. Mereka baru saja selesai latihan.


"Terima kasih, karena gusti ratu memperhatikan kami." Kelalawar Hitam merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa. Aku senang melakukannya. Aku merasa senang, setelah kedatangan kalian. Istana ini terasa ramai. Suasana seperti ini yang ingin aku rasakan selama ini." Ada perasaan sedih yang muncul dihatinya saat ini. "Maaf, jika aku memperhatikan kalian secara berlebihan. Aku hanya ingin dekat dengan kalian saja." Ia berusaha untuk menahan perasaan sedih itu, agar ia tidak memperlihatkan air matanya.


Kelalawar Hitam, Andara Wijaya, dan Sandi Praha. Pemuda yang merasa kesepian di dalam hidupnya, merasakan bagaimana perasaan kesepian itu. Sehingga mereka terbawa


"Nenek ratu tenang saja. Kami akan selalu bersama nenek ratu. Kami tidak akan membuat nenek ratu kecewa." Andara Wijaya berusaha untuk menghibur Ratu Sawitri Dewi.


"Oh cucuku." Ratu Sawitri memeluk Andara Wijaya. "Terima kasih ya." Ia mencium puncak kepala Andara Wijaya dengan sayang.

__ADS_1


"Terima kasih aku ucapkan pada kalian yang mau datang ke istana ini." Ratu Sawitri Dewi tersenyum lembut menatap Kelalawar Hitam dan Sandi Praha. "Semoga kalian kerasan berada di istana ini. Aku sangat berharap bisa menjalin tali keluarga yang baik dengan kalian semua. Maaf jika aku meminta hal yang membuat kalian tidak nyaman." Lanjutnya.


"Justru hamba yang sangat bersyukur dan berterima kasih pada gusti ratu." Sandi Praha memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi. "Baru kali ini hamba merasakan kebersamaan. Karena hamba selama ini selalu sendiri. Diperlakukan tidak adil oleh orang-orang desa. Hidup hamba terhina karena lahir dari keluarga perampok, keluarga maling. Rasanya hamba tidak bisa hidup diatas hinaan itu gusti ratu." Tanpa sadar Sandi Praha malah menangis sedih.


"Oh, maafkan aku sandi praha. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis." Ratu Sawitri Dewi memeluk Sandi Praha. "Jangan menangis ya." Ia mencium puncak kepala Sandi Praha, ia berusaha untuk menenangkan pemuda itu.


Sedangkan Kelalawar Hitam hanya melihat bagaimana mereka mengungkapkan perasaan mereka. Ia hanya tersenyum melihat kasih sayang yang mereka sampaikan.


...***...


Agak cukup lama prabu Praja Permana dan Selendang Merah berlatih. Sehingga membuat Putri Ambar Suryati merasa jengah menunggu. hingga pada akhirnya mereka menyelesaikan latihan itu.


"Maaf, jika tuan putri menunggu terlalu lama." Prabu Praja Permana mengatur tenaga dalamnya.


"Ah. Tidak apa-apa gusti prabu. Selain itu jangan kaku seperti itu pada hamba gusti prabu. Hamba yang pantas menghormati gusti prabu sebagai junjungan hamba." Balasnya dengan senyuman ramah.


"Terima kasih nimas." Ucapnya sambil menerima cangkir yang berisi air yang dapat menyegarkan tenggorokannya.


"Nimas?. Kenapa gusti prabu malah menghormati wanita ini dengan sebutan nimas?. Dan malah memanggil aku dengan sebutan tuan putri?." Ada perasaan tidak suka atas apa yang ia dengar.


"Kau juga minumlah nimas. Pasti nimas merasa lelah setelah berlatih kan?." Prabu Praja Permana mengambil kendi kecil di tangan Selendang Merah, menuangkannya ke dalam cangkir yang ia minum tadi. Setelah itu ia serahkan pada Selendang Merah.


"Terima kasih gusti prabu." Balas Selendang Merah dengan senyuman lembut. Ia mengambil cangkir itu dengan senang hati.


"Kurang ajar!. Berani sekali mereka bermain asmara di depanku." Hatinya sangat panas melihat kemesraan yang mereka perlihatkan padanya.


"Apa yang tuan putri inginkan?. Sudah lama tidak berkunjung istana." Ia hanya tidak ingin mengabaikan keberadaan Putri Ambar Suryati.

__ADS_1


"Hamba hanya ingin bertemu dengan gusti prabu. karena ayahanda patih mengatakan, bahwa sebentar lagi kita akan melakukan ritual perjodohan. Karena itulah hamba datang ke istana ini untuk menemui gusti prabu." Jawabnya dengan penuh percaya diri.


"Jadi seperti itu?." Prabu Praja Permana menatap ke arah Selendang Merah yang baru saja selesai minum.


"Apakah ayahanda Patih belum mengatakannya pada gusti Prabu?." Matanya dari tadi tidak berhenti menatap ke arah Selendang Merah.


Prabu Praja Permana hanya diam saja. Karena memang tidak ada kabar yang ia dapatkan seperti itu dari Patih Arya Serupa.


"Maaf jika hamba lancang gusti prabu. Bolehkah hamba bertanya?." Matanya masih tertuju ke arah Selendang Merah, seakan ia hendak menerkam Selendang Merah hidup-hidup. "Siapakah wanita yang baru saja memainkan jurus aneh itu dengan gusti prabu tadi?. Dan mantram apa yang kalian bacakan tadi?." Begitu besar rasa penasaran itu, sehingga ia bertanya seperti itu.


Prabu Praja Permana dan Selendang Merah tersenyum kecil. Senyuman mereka terlihat sangat menawan dan begitu serasi.


"Kenalkan. Namanya adalah se, ah maksudku kasih purnama." Prabu Praja Permana memperkenalkan Selendang Merah dengan nama aslinya. "Gerakan yang kami lakukan tadi adalah ritual pernikahan yang menyatukan dengan janji ikatan darah." Lanjut Prabu Praja Permana sambil membalikkan tubuhnya agak sedikit membelakangi Putri Ambar Suryati yang terbelalak terkejut. Namun bukan karena ucapan dari Prabu Praja Permana. Melainkan ia melihat ada bekas luka bakar aneh dibahu Prabu Praja Permana yang terlihat sangat jelas. Ia tidak menyangka akan melihat bekas luka yang mengerikan.


Selendang Merah memberi kode, bahwa Putri Ambar Suryati membalikkan badannya karena merasa jijik setelah melihat bekas luka bakar itu. Prabu Praja Permana kembali membalikkan tubuhnya, menatap ke arah Putri Ambar Suryati.


"Ada apa tuan putri?. Apakah terjadi sesuatu?." Prabu Praja Permana berpura-pura bertanya.


"Ti-tidak apa-apa. Maafkan hamba karena telah mengganggu gusti prabu berlatih." Setelah itu Putri Ambar Suryati meninggalkan tempat. Karena ia tidak tahan lagi melihat hal yang mengerikan menurutnya.


Prabu Praja Permana hanya menghela nafasnya yang terasa lelah. Ia tidak mengerti bagaimana bisa orang lain merasa jijik dengan bekas luka bakar yang ada di bahunya itu?. Tapi, saat matanya melirik ke arah Selendang Merah yang terkekeh geli melihat kepergian Putri Ambar Suryati.


"Apakah nimas merasa jijik saat melihat bekas luka bakar ini?." Prabu Praja Permana hanya ingin memastikannya. Namun malah tertawa geli reaksi dari Selendang Merah.


"Jika hanya karena itu perasaan cinta yang menggebu-gebu, hamba yakin dia hanyalah cinta pada orang itu karena fisiknya saja gusti prabu." Jawabnya. "Bagi hamba, cinta diujung waktu karena masalah fisik, hanya akan menimbulkan lara penyesalan yang tidak akan bisa dilupakan begitu saja." Lanjutnya dengan senyuman yang sangat manis. "Keputusan semuanya ada di hati kita masing-masing. Jadi jangan menyesal kemudian hari hanya karena asmara yang tumbuh diujung waktu. Maka penyesalan yang akan kita dapatkan."


Prabu Praja Permana terkesan dengan apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Bagaimana tanggapan dari Prabu Praja Permana?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2