
...***...
Keadaan Selendang Merah hari ini terlihat baik-baik saja. Saat ini ia sedang bersama Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Ratu Sawitri Dewi menginginkan dirinya untuk menjadi pendamping anaknya?.
"Bukan hamba bermaksud tidak mensyukuri apa yang telah dewata agung berikan pada hamba gusti ratu. Hamba hanya tidak ingin, gusti prabu mendapatkan pandangan yang buruk dihadapan siapapun. Hamba ini adalah seorang pendekar pembunuh bayaran gusti ratu. Hamba yakin, akan ada wanita muslimah yang memiliki agama yang sangat kuat, dibandingkan hamba yang penuh noda darah ini."
"Lalu apa salahnya?. Jangan dengarkan kata orang lain. Tapi kata hatimu. Karena jika kau memiliki kekuasaan yang lebih tinggi. Kau bisa melakukan kebenaran dengan tahta yang kau dapatkan."
Selendang Merah tampak sangat bimbang. Bukan tahta yang ia inginkan. Namun pekerjaan yang ia lakukan sangat bertentangan dengan apa yang akan ia dapatkan.
"Ibunda. Jangan terlalu memaksakan nimas selendang merah. Kasihan ia karena ibunda."
"Maaf jika aku terkesan memaksamu nini. Tapi aku sangat berharap padamu."
"Berikan hamba waktu untuk berpikir gusti ratu. Hamba rasa masih ada yang mengincar hamba saat ini. Mungkin dengan menjalankan tugas dari gusti prabu, hamba tidak mengundang marabahaya datang ke istana ini."
"Baiklah jika seperti itu. Aku akan menunggu kabar baik darimu, setelah kau berhasil menyelesaikan masalahmu nini."
"Terima kasih karena telah memberikan kepercayaan pada hamba. Mohon ampun jika hamba telah mengecewakan gusti ratu."
Ratu Sawitri Dewi justru tersyum kecil menatap Selendang Merah. "Aku justru menyukai sikap jujur yang kau miliki. Biasanya seseorang akan berkata dusta, untuk menutupi semuanya tentang dirinya."
"Hamba harap gusti ratu tidak kecewa pada hamba. Karena ada satu hal yang belum bisa hamba katakan pada gusti ratu. Jika tiba saatnya rahasia itu terbongkar. Hamba harap gusti ratu tidak membunuh hamba."
Ratu Sawitri Dewi menghela nafasnya agak berat. "Aku yakin kau melakukannya demi seseorang. Tapi aku harap kau masih mau menemui aku jika memang rahasia itu berkaitan dengan diriku."
"Sandika gusti ratu. Hamba akan berusaha untuk tidak mengecewakan gusti ratu."
Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri saling bertatapan. Mereka memang penasaran dengan rahasia itu. Akan tetapi, rasa penasaran itu harus mereka tahan, karena Selendang Merah berjanji akan menceritakannya, jika ia telah berhasil menangkap pemimpin dari kelompok Setan Jahat.
__ADS_1
Bagaimana kisahnya?. Temukan jawabannya.
...***...
Desa Lembung Basa.
Sepertinya Sandi Praha memang memiliki niat yang tidak baik pada Andara Wijaya. Ketika pemuda itu sedang berada di hutan yang tak jauh dari rumah Aki Awuh, Sandi Praha menyerangnya.
Hingga terjadi pertarungan antara keduanya. Mereka beradu ilmu kepandaian yang dimiliki. Sandi Praha menyerang Andara Wijaya dengan gerakan yang cepat. Pukulan yang bertenaga, serta sepakan yang sangat kuat datang bertubi-tubi ke arahnya. Namun Andara Wijaya masih mampu mengatasi serangan itu dengan baik.
Andara Wijaya lompat salto, menghindari serangan tenaga dalam yang diarahkan kepadanya. Akan sangat berbahaya jika mengenai tubuhnya. Bisa-bisa tubuhnya akan hancur oleh serangan itu.
Begitu serangan itu berhenti, dan Andara Wijaya menapakkan kedua kakinya ke tanah. Ia mencoba mengatur tenaga dalamnya dengan baik.
"Hei!. Apa yang kau lakukan?. Mengapa kau malah menyerang aku?. Apa salahku padamu?."
"Rasanya aku sama sekali tidak memiliki urusan apapun denganmu. Jadi aku mohon kau jangan sampai menebarkan permusuhan apapun denganku!."
"Kalau begitu, tinggalkan sari asmawati. Karena dia adalah wanita yang aku cintai. Dan kau!. Adalah orang baru di desa ini. Jangan beraninya kau mengambilnya dariku!."
"Hooo jadi kau mempermasalahkan kedekatan aku dengan sari asmawati?." Andara Wijaya mulai mengerti dengan akar permasalahannya. "Jika kau memang pria sejati, maka datangi dia dengan baik-baik. Dan katakan pada ayahansamya, jika kau menyukai anak gadisnya."
"Keparat!. Aku sudah melakukannya. Namun aku ditolak oleh ayahandanya!. Karena aku adalah anak seorang rampok!." Suasana hatinya mendadak geram, dan amarahnya telah memuncak. "Dan kau adalah cucu aki lurah. Dengan senang hati lana lespati menerima dirimu sebagai menantunya!. Aku sama sekali tidak terima dengan apa yang terjadi. Hanya karena perbedaan status!."
"Soal jodoh siapa yang mengetahui. Namun asal kau tahu saja. Jika kau bersikap lebih baik lagi, aku yakin paman lana lespati akan menerima dirimu. Mana mau paman lana lespati menerima seorang menantu yang selalu berpikiran buruk seperti kau!."
"Kurang ajar!. Ternyata kau bosan hidup sawung. Akan aku habisi kau juga hari ini. Aku tidak akan membiarkan siapa saja mendapatkan sari asmawati!. Hyaaaaaah."
Sandi Praha kembali menyerang Andara Wijaya. Pertarungan kali ini lebih cepat dari yang sebelumnya. Andara Wijaya kali ini tidak akan membiarkan dirinya diserang begitu saja. Dan ia tidak akan membiarkan Sandi Praha melakukan kekerasan pada dirinya hanya karena dirinya menginginkan Sari Asmawati. Apakah yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.
__ADS_1
...***...
Kembali ke istana kerajaan Sendang Agung. Prabu Praja Permana saat ini sedang bersama Selendang Merah. Karena ia membahas penyelamatan desa kuwali. Desa itu harus segera diselamatkan, karena kawanan perampok di sana benar-benar menyiksa warga di sana.
"Hamba akan segera berangkat ke sana gusti prabu."
"Akan tetapi adimas kelalawar hitam saat ini sedang tidak ada di istana."
"Gusti prabu tenang saja. Sebelumnya hamba sudah terbiasa melakukannya sendiri. Jadi gusti prabu tidak usah khawatir dengan keselamatan hamba."
"Baiklah kalau begitu nimas. Tapi aku harap kau lebih berhati-hati lagi. Bisa jadi banyak orang yang mengincar nyawamu nimas."
"Do'a kan saja hamba baik-baik saja gusti prabu. Hamba mohon doa restu dari gusti prabu."
"Tentunya dalam doaku, aku selalu mendo'akan agar kau baik-baik saja saat melakukan tugas. Maaf jika aku telah memberikan tugas berbahaya ini padamu nimas selendang merah."
"Gusti prabu jangan berkata seperti itu. Hamba jadi tidak enak. Karena pekerjaan hamba memang pekerjaan yang sangat berbahaya. Hamba telah memikirkan resiko apa yang akan hamba terima."
"Jika masalah telah selesai. Aku harap nimas bisa kembali ke arah yang lebih baik. Berjanjilah padaku nimas."
"Hamba tidak bisa berjanji gusti prabu. Hamba telah terlanjur terjatuh dalam lubang kubangan dosa."
"Nimas. Allah SWT adalah maha pengampun, dan menerima taubat hamba-Nya. Percayalah dengan apa yang nimas lakukan ini adalah demi kebaikan. Bukan untuk pamer kekuatan, ataupun hanya sekedar menjadi ilmu kesaktian."
"Sungguh. Rasanya hamba sangat beruntung bertemu dengan raja yang baik seperti gusti prabu. Selain itu memikirkan bawahan seperti hamba. Terima kasih gusti prabu."
Andai saja Prabu Praja Permana dapat melihat senyuman dari Selendang Merah. Ia ingin melihatnya sekali saja. Apakah ia bisa melakukannya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1