ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
GANASNYA PERTARUNGAN


__ADS_3

...***...


Selendang Merah terus berusaha menghindari serangan dari Syetan Cambuk Neraka dan Nini Amara Senjani. Mereka masih gencarnya menyerang Selendang Merah. Mereka sangat geram karena Selendang Merah bisa menghindari serangan itu dengan baik. Meskipun sebenarnya ia mulai kewalahan.


"Guru. Kita harus menambah tenaga dalam kita. Agar wanita bedebah itu tidak bisa lagi menghindari serangan kita."


"Baiklah. Kalau Begitu kau serang ke arah yang berbeda dariku."


"Baiklah guru."


Keduanya mulai mengubah arah serangan itu. Serangan ledakan serbuk racun, benar-benar membuat Selendang Merah merasa kewalahan yang luar biasa. Karena sering menghindari serangan itu, tenaga dalam Selendang Merah perlahan berkurang. Apalagi menghirup racun dari ledakan itu.


"Uhuk, uhuk. Kurang ajar!. Mereka tidak bisa aku biarkan begitu saja."


Namun tiba-tiba, ketika ia ingin menghindari serangan yang bertubi-tubi itu. Bahu kirinya terkena serangan ledakan serbuk racun itu, sehingga ia meringis kesakitan. Karena bahu kirinya terbakar oleh serbuk racun itu. Sementara itu disaat yang bersamaan, Prabu Praja Permana meringis sakit juga. Ketika ia masih berada di jalan, ia merasakan sakit yang mendera bahu kirinya. Dan ia melihat bahu kirinya yang terluka.


"Kghaa. Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Pasti terjadi sesuatu pada nimas selendang merah. Sehingga hamba dapat merasakan sakit." Perasaanya sangat gelisah. Dan ia harus segera menemui Selendang Merah, karena ia tidak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu.


Sementara itu Syetan Cambuk Neraka dan Nini Amara Senjani tertawa keras melihat itu. Mereka puas telah berhasil melukai Selendang Merah.


"Itu baru saja permulaan. Dan kau akan merasakan jurus kami yang lainnya."


"Bersiaplah-siaplah kau!. Karena racun yang masuk ke dalam tubuhmu itu akan menggerogoti mu dengan perlahan-lahan. Kau akan mati dalam keadaan tubuh gosong."


Mereka kembali tertawa, karena mereka tidak sabar melihat kematian selendang Merah. Sementara itu Selendang Merah tidak percaya begitu saja dengan apa yang mereka katakan.


"Sebelum aku mati. Aku akan membunuh kalian terlebih dahulu. Akan aku bunuh kalian dengan jurus pedang halilintar penghancur roh."


Selendang Merah saat ini sedang dikuasai oleh kemarahan yang luar biasa. Entah mengapa semakin ia sakit, gejolak ingin membunuhnya semakin kuat. Ia mengeluarkan pedang lain yang berhasil ia curi dari Pendekar yang telah ia kalahkan.


Syetan Cambuk Neraka dan Nini Amara Senjani terkejut, melihat pamor dari pedang halilintar penghancur roh itu. Sungguh pedang yang memancarkan petir yang sangat mengerikan.

__ADS_1


"Kalian pikir aku ini pembunuh bayaran yang hanya dengan satu jurus saja?. Sudah banyak jurus yang berhasil aku curi. Bahkan banyak pedang hebat yang berhasil aku rebut dari mereka. Dan dengan jurus kalian yang tidak seberapa itu, kalian pikir bisa membunuhku begitu saja?. Heh!. Jangan buat aku tertawa. Akan aku buktikan, bahwa kita memiliki tingkat ilmu kanuragan yang berbeda."


Selendang Merah memainkan jurus pedang halilintar penghancur roh dengan baik. Ia mengingat semua bagaimana jurus pedang itu dimainkan oleh pemilik aslinya.


"Gawat!. Ini sangat gawat. Ini bahkan lebih berbahaya dari jurus yang pernah aku hadapi."


"Lalu apa yang harus kita lakukan guru?."


"Untuk saat ini kita pergi saja. Aku tidak mau mati konyol di tangannya."


"Tapi kita belum menuntaskan dendam kita guru."


"Apakah kau tidak lihat?. Jurus pedang yang ia mainkan sangat berbahaya!. Apakah kau ingin mati dengan sia-sia?."


"Tapi guru-."


Belum sempat Syetan Cambuk Neraka ingin melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ia terkejut mendapatkan sambaran halilintar dari jurus pedang itu. Jika mereka tidak menyadari serangan itu, dan melompat untuk menghindar, bisa jadi mereka telah terbakar hangus oleh jurus itu.


"Bedebah!. Kau tidak akan bisa membunuh kami begitu saja!." Nini Amara Senjani mengumpat dengan kasarnya. Ia merasa geram, karena ia hampir saja celaka.


Tatapannya begitu dingin dan kosong, hanya diisi keinginan untuk membunuh. Keinginan untuk membunuh orang-orang yang telah berbuat jahat.


"Kita harus segera pergi dari sini. Wanita itu memang gila. Aku tidak menyangka, jika dia memiliki perkembangan yang pesat."


"Baiklah guru. Kali ini aku akan mendengarkan apa yang guru katakan."


Syetan Cambuk Neraka dan Nini Amara Senjani siap-siap untuk kabur dari sana. Akan tetapi, ketika mereka ingin melompat dari sana. Kaki mereka seakan terpaku di tanah. Mereka berdua sangat terkejut, ketika mereka melihat kebawah. Kaki mereka seperti di rantai oleh petir, dan tak selang beberapa detik keduanya berteriak keras. Karena rantai itu menyengat dengan kuat, sehingga mereka merasakan sakit yang luar biasa.


"Wuhaa."


Keduanya seperti tersentrum tegangan listrik yang sangat luar biasa, sehingga kesadaran mereka benar-benar direnggut habis oleh rantai itu.

__ADS_1


"Heh!. Sudah aku katakan. Kalian tidak akan bisa lari dari jurusku begitu saja. Karena jurus ini jurus mematikan. Jadi kalian harus mati sesegera mungkin."


Dengan raut wajah datar nan dingin, ia berlari ke arah Syetan Cambuk Neraka, dan Nini Amara Senjani. Ia tebas pedangnya dengan dua ayunan, terdengar suara teriakan keras. Setelah itu tubuh keduanya ambruk, tak sadarkan diri.


Tubuh keduanya dalam keadaan yang mengerikan. Gosong hangus terbakar, karena pengaruh dari jurus pedang halilintar penghancur roh. Tidak ada yang bisa menghindari jurus itu.


"Kalian memang tidak berguna. Hanya mengantar nyawa kalian saja. Ohokgh."


Ia terbatuk darah. Karena gejolak dalam perutnya yang tidak bisa ia tahan lagi. Perlahan-lahan nafasnya mulai tersengal-sengal, karena tenaganya yang semakin berkurang.


Selendang Merah kembali menyimpan pedang halilintar penghancur roh ke dalam tubuhnya. Sungguh kepalanya terasa sakit, karena tidak bisa menahan beban jurus yang ia gunakan tadi. Pada dasarnya, jika ia menggunakan jurus yang ia curi dari mangsanya, tubuhnya akan terbebani. Karena mempelajari suatu jurus dengan paksa tanpa adanya persiapan.


Sementara itu, Prabu Praja Permana yang telah meninggalkan kota raja merasakan hal yang sama. Kali ini ada gejolak yang panas dari perutnya, sehingga ia memuntahkan darah segar.


"Ohokgh."


Nafasnya juga tidak teratur, seakan ia baru saja selesai bertarung dengan musuh yang sangat kuat, sehingga tenaga dalamnya semakin terkuras.


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Berikan hamba kemudahan untuk menemukan keberadaan nimas selendang merah. Hamba tidak ingin terjadi sesuatu padanya."


Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk melangkahkan kakinya untuk menemukan keberadaan Selendang Merah. Sambil mengucap kalimat baik, dan berdoa agar diberikan kekuatan. Matanya menangkap seseorang berbaju merah, sedang bersandar di dekat pohon.


Jantungnya berdetak kencang melihat orang itu. Ia mencoba untuk mendekatinya. Terus mendekat, dan mendekat. Matanya terbelalak terkejut melihat sosok itu. Mata wanita berpakaian merah itu terpajam dengan eratnya, seakan sedang menahan sakit.


"Nimas. Nimas selendang merah!."


Sang Prabu berusaha untuk membangunkan Selendang Merah yang tidak sadarkan diri. Namun hasilnya nihil, wanita itu tidak merespon sama sekali. Apalagi ketika melihat ada luka bakar di bahu kiri Selendang Merah. Luka yang sama dengan yang ia alami, juga cadar merah yang menutupi sebagian wajahnya itu semakin memerah karena darah.


"Nimas!. Bertahanlah nimas!. Aku akan segera membawamu ke istana." Sang Prabu berusaha untuk menggendong Selendang Merah. Dan ketika ia berbalik arah, ia melihat ada dua orang tergeletak di tanah. Namun keadaan mereka sangat mengerikan.


"Bukan saatnya aku mencari tahu siapa mereka. Nyawa nimas selendang merah harus segera diselamatkan."

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga, ia mencoba untuk melangkah menuju istana. Keselamatan Selendang Merah lebih penting saat ini. Apakah Selendang Merah bisa diselamatkan?. Temukan jawabannya. Jangan lupa dukungannya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2