ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
KEGELISAHAN


__ADS_3

...***...


Di Istana Kerajaan Sendang Agung.


Selendang Merah dan Kelalawar Hitam sedang berbincang dengan Prabu Praja Permana.


"Ceritakan padaku semua yang terjadi selama kalian berada di sana."


"Sandika gusti prabu."


"Dalam penglihatan kami. Selain menekan rakyat, mereka juga merampas harta rakyat gusti prabu."


"Perbuatan mereka sangat keterlaluan, membuat rakyat benar-benar ketakutan."


"Mereka tidak mengawasi rumah-rumah penduduk yang berada. Bahkan mereka mengawasi rumah pak lurah tisno agar tidak melapor pada gusti prabu."


"Mereka memperbudak rakyat, dan hasilnya mereka buat untuk berpoya-poya. Melakukan kesenangan diatas penderitaan rakyat. Kami sangat geram melihat mereka gusti prabu. Hingga kami bertindak di luar rencana yang seharusnya telah kami susun."


"Benar gusti prabu. Maafkan kami jika kami telah bertindak sesuai dengan naluri kami sebagai pendekar pembunuh bayaran."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Mereka harus segera dihentikan. Aku tidak bisa membiarkan mereka berbuat sesuka hati mereka di negeri ini. Aku tidak bisa menyalahkan kalian, jika kalian berbuat seperti itu." Sang prabu menatap keduanya. "Jika memang mereka telah berbuat kejam pada rakyat Sendang agung, mereka harus segera diatasi. Karena mereka hanya akan menyengsarakan rakyat Sendang agung. Dan aku tidak mau itu terjadi pada rakyat Sendang agung."


"Serahkan tugas ini pada kami gusti prabu. Biarkan kami Pendekar pembunuh bayaran menyelesaikan masalah ini. Biar kami ringkus mereka yang telah menyengsarakan rakyat gusti prabu."


"Benar apa yang dikatakan oleh nini selendang merah. Biarkan tangan kami saja yang dilumuri darah mereka. Rasanya gusti prabu tidak pantas menodai tangan gusti dengan darah kotor mereka."


"Terima kasih aku ucapkan pada kalian yang mau membantuku dengan segenap jiwa kalian."


"Sudah menjadi tugas kami melakukan ini semua gusti prabu. Kami tidak akan mengkhianati gusti prabu, sampai kami berhasil membebaskan desa-desa di negeri ini, dari tekanan para perampok yang membuat negeri ini menderita."


"Benar gusti prabu. Karena itulah, kami menerima pekerjaan ini. Gusti prabu tidak perlu merasa risau dengan kesetiaan kami."


"Itulah yang saya harapkan dari kalian berdua. Aku tidak tahan lagi melihat negeri ini menangis. Kita akan bekerjasama untuk memperbaiki yang telah terjadi."


"Sandika gusti prabu."


Keduanya memberi hormat pada Prabu Praja Permana. Tujuan mereka sebenarnya sama, yaitunya membenci adanya tindakan kekejaman. Hanya saja cara mereka yang berbeda. Tapi setidaknya dengan adanya Selendang Merah dan Kelalawar Hitam, Prabu Praja Permana merasa terbantu.

__ADS_1


Namun disisi lain. Wira Wijaksana sedang menguping pembicaraan mereka dari jarak lumayan dekat. Hanya saja mereka tidak bisa memperlihatkan dirinya.


"Raka prabu memiliki orang yang mendukung dirinya dalam melakukan tindakan. Sangat beruntung sekali." Entah mengapa ia merasakan kecemburuan yang luar biasa. "Aku tidak menyangka jika rembulan indah menjadi seorang pendekar wanita pembunuh bayaran. Sebenarnya apa yang terjadi padanya dimasa lalu. Sehingga ia melakukan pekerjaan berbahaya itu?." Dalam hatinya masih bertanya-tanya mengapa wanita cantik yang sangat ia kagumi dulu, kini menodai tangannya dengan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang wanita?.


Apa yang akan terjadi berikutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


Di sebuah tempat yang agak terpencil. Respana berhasil menemui ketuanya, yaitunya Setan Tombak Pencabut Nyawa. Ternyata ia sedang berlatih ilmu kanuragan baru bersama seorang wanita setengah baya. Namun wanita itu terlihat masih sangat cantik. Gerakan-gerakan yang ia lakukan masih sangat anteng untuk dimainkan.


"Lebih kuat ke arah kuda-kuda. Jika kau diserang, lawanmu tidak akan bisa menjatuhkanmu karena kuda-kuda mu sangat kokoh."


"Baik nyi. Saya akan mencobanya." Setan Tombak Pencabut Nyawa atau nama aslinya Jerat Seraya. Ia sungguh-sungguh berlatih ilmu kanuragan, sesuai dengan perintah Setan Selendang Jingga Kematian.


Latihan yang ia lakukan lumayan lama. Hampir satu purnama ini ia melakukan beberapa gerakan yang diajarkan nyai petik bidadari. Meskipun namanya anggun, enak didengar telinga. Namun jurus-jurus yang ia miliki sangat berbahaya. Jurus dan nama berlawanan arah, kesan baik di luar, akan tetapi berbahaya dari dalam.


Setelah agak lama berlatih, mereka menyadari kedatangan seseorang. Mereka menghampiri orang tersebut yang tak lain adalah Respana.


"Apa yang kau lakukan di sini?. Bukankah aku telah menyuruhmu untuk mengawasi desa Layang?."


"Maafkan aku ketua. Aku ke sini karena ada yang mencoba untuk mengganggu desa itu."


"Mereka dua orang. Yang satunya wanita, dan yang satunya lagi laki-laki."


"Lantas?. Mengapa kau malah di sini dan kau tidak menghadapi mereka?."


"Itu karena mereka memiliki ilmu kanuragan diatas ku ketua."


"Bodoh!. Bukankah kau juga kuat!." Saking geramnya dengan apa yang ia dengar, tangannya menunjal kepala anak buahnya itu.


"Maafkan aku ketua."


"Dasar tidak berguna!. Lalu bagaimana dengan yang lainnya?. Kau benar-benar pengecut meninggalkan mereka!."


"Beberapa orang dari mereka telah berhasil dikalahkan. Karena tidak mau terjadi sesuatu, makanya aku menemui ketua untuk meminta bantuan."


"Mari kita lihat siapa mereka. Aku yakin mereka bukan pendekar sembarangan, sehingga anak buahmu datang ke sini."

__ADS_1


"Apakah nyai tidak keberatan jika saya pergi meninggalkan tempat ini?. Apakah latihannya telah selesai?."


"Meskipun belum selesai sepenuhnya, namun aku yakin kau mampu mengembangkan jurus-jurus yang telah aku ajarkan padamu."


"Kalau begitu nyai ikutlah bersama saya. Setelah berhasil meringkus dua kunyuk itu, saya akan memberikan hadiah pada nyai sebagai guru saya. Izinkan saya untuk memperlakukan guru saya dengan baik."


"Baiklah. Aku akan ikut denganmu. Sesekali menikmati masa indah di daerah luar, rasanya sangat0 menyenangkan juga."


"Mari nyai."


Mereka meninggalkan tempat itu, menuju desa Layang. Apakah mereka akan berhadapan dengan orang yang mengganggu kekuasaan mereka?. Temukan jawabannya.


...****...


Kembali ke kerajaan Sendang Agung.


Selendang Merah hendak meninggalkan istana, namun ia berpas-pasan dengan Wira Wijaksana.


"Gusti pangeran." Selendang Merah memberi hormat pada Wira Wijaksana.


"Jangan kaku begitu padaku rembulan indah. Tidak bisakah kita seperti dulu?. Ketika kita sama-sama masih menjadi seorang pendekar dengan guru yang sama."


"Mohon ampun gusti pangeran. Hamba hanyalah rakyat biasa. Maafkan hamba, hamba harus segera kembali ke desa layang. Sampurasun." Selendang Merah bukan bermaksud kurang ajar, hanya saja ia tidak bisa kembali ke masa itu. Masa sekarang telah berbeda, dan ia tidak setara sama sekali dengan orang yang dulu pernah ia cintai.


"Tunggu rembulan indah." Ia mencoba untuk menahan Selendang Merah. "Mengapa kau melakukan pekerjaan yang berbahaya, apa terjadi di masa lalu, sehingga kau memutuskan untuk menjadi seorang pendekar pembunuh bayaran. Jawab aku rembulan indah."


"Mohon ampun gusti pangeran. Hamba mohon jangan ingat masa lalu. Hamba telah melupakan masa lalu, dan hamba telah melupakan nama rembulan indah. Hamba mohon jangan sebut nama itu lagi. Nama hamba adalah selendang merah. Hamba sangat memohon pada gusti pangeran agar tidak akrab lagi dengan hamba. Tugas hamba di istana ini hanyalah untuk menjalankan tugas dari gusti prabu praja permana."


"Apakah kau kecewa padaku rembulan indah?. Katakan padaku."


"Mohon maaf gusti pangeran. Hamba mohon pamit. Sampurasun."


Selendang Merah tidak lagi menghiraukan panggilan dari Wira Wijaksana. Ia tidak akan terlibat lagi dengan masa lalu, dan ia bersumpah tidak akan mengingat sakit akibat penghianatan yang telah dilakukan oleh mereka padanya.


Sementara itu Prabu Praja Permana yang tidak sengaja melihat itu merasa prihatin.


"Jadi nama asli nimas selendang merah adalah rembulan indah?. Nama yang cantik. Pasti orangnya cantik juga." Dalam hatinya merasakan kekaguman dari nama asli Selendang Merah. "Tapi aku harap, masalah kalian tidak akan akan mempengaruhi tugas ini. Karena masalah pribadi akan menambah beban, dan itu sangat tidak baik ketika menjalankan tugas." Prabu Praja Permana sedikit merasa gelisah. Ia tidak mau itu terjadi, dan mungkin ia akan menegur adiknya, jika tugas itu tidak berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya pembaca tercinta.


...***...


__ADS_2