
...***...
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam menatap tajam ke arah Jembari Langka. Mereka mulai waspada. Karena lelaki itu memiliki beberapa jurus yang mematikan lainnya.
"Sepertinya situasi akan lebih serius lagi. Dan kalian segera menyingkir, atau kalian akan menjadi korbannya."
"Hiiii, tentu saja kami akan mencari tempat yang aman."
"Kami tidak mau mati sia-sia."
"Kami pergi dulu kakang. Berhati-hatilah saat melawan mereka."
Setelah berkata seperti itu, ketiganya langsung pergi meninggalkan tempat. Karena mereka tidak ingin menjadi korban keganasan dari pertarungan mereka nantinya.
"Aku akui aku kalian para pendekar pembunuh bayaran sangat hebat dalam mengamati jurus lawan." Matanya tak lepas dari keduanya ya. "Sayangnya, tidak akan aku biarkan kalian mencuri jurusku ini."
"Kau tidak usah banyak bicara!. Kau harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kau lakukan!."
"Kau akan segera kami ringkus, dan akan kami seret ke tiang gantung istana kerajaan sendang agung."
"Coba saja kalian bisa. Ahahaha kalian ini hanya belum mengenaliku lebih dalam lagi, ahahahaha!." Kembali Jembari Langka tertawa keras, menertawakan Selendang Merah dan Kelalawar Hitam.
"Kau jangan sekali meremehkan aku."
"Akan aku tunjukkan kekuatan asli pra pembunuh bayaran itu."
Selendang Merah dan Kelalawar Hitam menyerang Jembari Langka. Pertarungan diantara ketiganya, pertarungan yang cukup menguras tenaga. Karena kecepatan, kekuatan fisik yang sangat diandalkan. Hanya sesekali mereka menggunakan ilmu kanuragan.
Kelalawar Hitam mencoba menggunakan jurusnya yang mengecoh musuh, namun musuh masih bisa melihat gerakannya dengan cepat. Begitu juga dengan selendang merah yang menggunakan jurus elang mencakar mangsa. Sepertinya musuh yang mereka hadapi kali ini memang memiliki ilmu kanuragan yang mempuni, serta ilmu kadigjayaan yang begitu kuat.
"Apa yang harus kita lakukan nimas?. Sepertinya ia memiliki kepandaian yang sangat berbeda."
"Tidak perlu khawatir. Kita akan menghadapi mereka dengan kekuatan yang kita miliki."
"Baiklah kalau begitu."
"Heh!. Tidak usah banyak berpikir. Aku siap kapan saja untuk melawan kalian berdua. Dan ternyata kalian tidak sehebat dengan nama yang kalian dapatkan."
__ADS_1
Sementara itu, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam sedang berunding. Bagaimana caranya untuk menjatuhkan musuh yang terlihat kuat dari mereka. Apakah mereka bisa melakukannya?. Temukan jawabannya.
...***...
Dilingkungan Istana. Pangeran Wira Wijaksana sedang terlihat sangat gelisah. Ia mondar-mandir tidak karuan, hingga ia bertemu dengan Bhayangkara Ra Lilur. Sepertinya ada rencana yang tidak baik yang sedang mereka bicarakan berdua.
"Apa yang membuat gusti pangeran terlihat sangat gelisah?. Coba katakan pada hamba."
"Aku sangat kesal pada kanda prabu. Dia benar-benar membuat aku sakit hati."
"Hum, memangnya apa yang dikatakan oleh gusti prabu?. Sehingga gusti pangeran merasa gelisah seperti itu?."
"Aku hanya ingin menikahi kekasihku. Akan tetapi ia melarangnya. Kanda pangeran berkata, jika aku tidak memiliki perasaan. Jika aku tidak memiliki perasaan, mana mungkin aku mau menikahi kekasihku itu."
"Maaf gusti pangeran. Memangnya siapa kekasih pangeran itu?. Jika hamba boleh mengetahuinya?."
"Dia adalah nimas rembulan indah. Wanita yang kini bekerja untuk kanda prabu. Aku tidak rela jika kekasihku dalam bahaya, hanya untuk membela negeri ini."
Bhayangkara Ra Lilur sangat terkejut, ketika mendengarkan kabar itu. Timbul niat tidak baik di dalam hatinya, ingin merencanakan sesuatu yang tidak baik.
"Aku yakin dia akan setuju dengan rencana yang akan aku jalankan ini." Ia tersenyum kecil. "Gusti pangeran tidak perlu khawatir. Karen hamba akan membantu gusti pangeran, untuk mendapatkan apa yang gusti pangeran inginkan."
"Masalah itu serahkan pada hamba gusti pangeran. Hamba akan melakukan dengan baik. Hamba yakin gusti pangeran akan setuju."
"Baiklah kalau begitu. Lakukan dengan baik, apa yang telah kau rencanakan. Aku tidak akan memaafkanmu, jika rencana yang kau katakan itu gagal."
"Hamba dapat menjaminnya gusti pangeran. Ini akan berjalan sesuai dengan harapan pangeran."
"Heh!. Rasanya aku tidak sabar untuk melakukannya."
"Sabarlah sampai wanita bercadar merah itu kembali gusti pangeran."
Apa yang akan mereka lakukan?. Temukan jawabannya. Rencana apa yang akan mereka lakukan untuk mendapatkan Rembulan Indah?. Temukan jawabannya.
...****...
Sementara itu disisi lain. Prabu Praja Permana masih dipenuhi oleh kebimbangan. Pikiran tidak tenang, karena terbayang wajah kesakitan Selendang Merah. Sementara ibundanya sangat
__ADS_1
"Sampai di sini saja ibunda."
"Kenapa nanda prabu?. Biar ibunda antarkan sampai ke bilik nanda."
"Tidak apa-apa ibunda. Nanda ingin sendiri, maaf jika nanda telah membuat ibunda merasa kesusahan karena nanda."
"Tidak apa-apa. Ibunda tidak merasa kesusahan atau keberatan. Justru ibunda sangat mengkhawatirkan keadaan nanda prabu."
"Sungguh, nanda tidak apa-apa ibunda. Nanda hanya butuh istirahat saja. Setelah merasa baikan, nanda akan menemui ibunda. Nanda ingin minta saran pada ibunda, mengenai masalah Dinda wira wijaksana."
"Baiklah kalau begitu. Tapi jika terjadi sesuatu, segera panggil ibunda. Karana ibunda tidak mau terjadi sesuatu pada nanda prabu."
"Tentu saja ibunda. Nanda masuk dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Ia salim mencium tangan ibundanya.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh." Meskipun hatinya terasa berat untuk meninggalkan anaknya. Akan tetapi ia juga tidak mau mengganggu anaknya.
"Ya Allah, apakah hamba harus menyusul nimas selendang merah, juga adimas Kelalawar hitam ke sana?. Kenapa rasa sakit ini terasa nyata?. Apa yang terjadi ada keduanya ya Allah." Ia mencoba untuk menenangkan pikirannya. Ia mencoba menimbang kembali rencananya untuk menyusul keduanya, karena jalan menuju kaki gunung Tarakan lumayan jauh. "Ya Allah, hamba serahkan semuanya padamu. Hamba hanya tidak ingin mereka terluka."
Kenapa hatinya merasa gelisah?. Perasaan yang tidak biasa mulai merasuki dirinya. Apakah ia bisa menemukan jawabannya tentang dirinya?. Temukan jawabannya.
...***...
Sementara itu, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam masih bertarung menghadapi Jembari Langka. Lelaki itu sangat kuat juga. Meskipun mereka bertiga sama-sama terluka karena terkena jurus yang mereka gunakan.
"Bedebah!. Ternyata kalian boleh juga sebagai pendekar pembunuh bayaran!."
"Cuih. Tidak udah kau banyak bicara!. Aku ingatkan sekali lagi padamu!. Jangan pernah kau membuat kerusuhan di negeri ini. Gusti prabu praja permana tidak punya banyak waktu untuk mengurusi sampah busuk seperti kau!. Apalagi aku!. Sebaiknya kau tinggalkan tempat ini!."
"Meskipun kau seorang wanita. Tapi mulutmu lebih pedas dari lada yang hampir busuk!. Kau pikir aku takut dengan ancamanmu itu?. Maju saja kalau kau berani!."
"Aku masih di sini. Dan aku masih sanggup menghadapimu. Bukan hanya nini selendang merah saja, tapi aku kelelawar hitam, yang akan menghisap semua darahmu kotormu itu!."
"Bajingan tengik, kadal buntung, kunyuk jelek. Akan aku hadapi kalian dengan jurusku. Hyaaaaah!."
"Kelalawar hitam, pancing saja dulu dia. Biar aku tiru jurus miliknya itu. Aku sudah muak berhadapan dengannya."
"Baiklah nimas."
__ADS_1
Kelalawar Hitam menghalangi terjangan serangan Jembari Langka. Ia memberikan waktu pada Selendang Merah untuk meniru jurus berbahaya milik Jembari Langka. Apa yang terjadi?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya ya pembaca tercinta.
...***...