ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
JANGAN SALAH MENILAI


__ADS_3

...****...


Ketika Prabu Praja Permana hendak berbalik arah, meninggalkan tempat. Mereka dihadang oleh penduduk Layang. Tentunya sang Prabu sangat terkejut, begitu juga dengan Selendang Merah dan Kelalawar Hitam.


"Sampurasun, hormat kami gusti prabu."


"Rampes."


"Maaf gusti prabu. Hamba adalah lurah tisno, lurah di desa ini." Sebagai lurah desa, ia mewakili yang lain ingin menyampaikan sesuatu pada pemimpin tertinggi darinya. "Kami sudah mendengarkannya dari nini selendang merah, serta adi kelalawar hitam, bahwa gusti prabu ingin membebaskan kami dari cengkraman kawanan perompak." lanjutnya. "Maafkan kami jika kami berpikiran buruk pada gusti prabu selama ini."


Prabu Praja Permana menghela nafasnya dengan pelan. "Sebagai seorang raja, saya meminta maaf pada rakyat yang ada di desa layang. Karena saya lalai, tidak memperhatikan dengan seksama laporan yang masuk. Namun ketika saya mengembara memastikan apa yang terjadi di negeri ini. Hati saya merasa sedih, ternyata negeri ini sedang menangis, negeri ini sedang dikekang oleh kejahatan." Sang Prabu terlihat sangat sedih, membuat mereka juga ikut sedih. "Maafkan saya, jika selama menjadi raja, saya tidak melakukan hal yang baik untuk desa layang. Maafkan saya, bukan bermaksud untuk tidak memperhatikan desa ini. Tapi saya akan berusaha memperbaiki diri saya, serta saya akan berusaha untuk melakukan yang saya bisa. Insyaallah, demi Allah SWT yang menyaksikan apa yang saya ucapkan."


"Kami juga minta maaf pada gusti prabu, karena kami telah berkata yang tidak-tidak tentang gusti prabu."


"Ampuni kami gusti prabu. Jika tidak dijelaskan oleh utusan gusti prabu, maka kami tidak akan mengetahui kejadiannya gusti prabu. Sungguh, ampuni kami."


"Ampuni kami gusti prabu."


"Baiklah, kalau begitu kita saling memaafkan, karena kesalahpahaman ini. Kita semuanya pernah melakukan kesalahan. Namun dengan saling memaafkan, kita semua akan menjadi lebih baik lagi."


"Sepertinya masalah di desa ini sudah selesai. Dengan begitu beban yang ditanggung gusti prabu sedikit berkurang." Dalam hati Selendang Merah merasa lega. Seakan ia dapat merasakan yang dirasakan oleh Prabu Praja Permana.


"Syukurlah jika masalah di desa ini bisa diatasi. Dengan begitu kami bisa membantu gusti prabu dengan lancar." Dalam hati Kelalawar Hitam juga merasa bersyukur. Hatinya sangat terasa lapang melihat senyuman kebahagiaan mereka yang kembali merasakan kebebasan.


Mereka semua senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana. Selain. Itu, nereka semua juga mendengarnya, Sang Prabu berjanji akan melakukan yang terbaik demi rakyat Kerajaan Sendang Agung. Saat itu, perlahan-lahan Prabu Praja Permana mulai berbaur dengan rakyat desa Layang. Sang Prabu juga ikut dalam pembangunan Kembali tempat-tempat yang rusak, ataupun mereka yang kekurangan bahan pangan.

__ADS_1


Setelah masalah desa layang selesai, mereka kembali ke istana. Untuk mengadili mereka yang terlibat dalam perampokan, serta kejahatan lainnya yang dilakukan oleh mereka selama di desa Layang.


...***...


Di dalam Istana Kerajaan Sendang Agung. Saat ini Sang Prabu sedang mengadakan pertemuan dengan petinggi istana. Mereka membahas masalah yang masih menyelimuti negeri ini.


"Bagaimana paman arya serupa?. Apakah paman telah melakukan apa yang saya tugaskan pada paman tempo hari?."


"Mohon ampun gusti prabu. Paman telah melakukan sesuai perintah Nanda prabu. Bersama patih mandala restu, hamba telah melakukan tugas yang gusti prabu perintahkan pada kami."


"Benarkah itu paman mandala restu?. Apakah paman berdua telah memberikan hasil tersebut pada rakyat?. Juga menjaga keamanan desa itu, dari para penjahat yang ingin berbuat kerusuhan?."


"Itu ada benarnya gusti prabu. Kami telah melakukan semua sesuai perintah gusti prabu. Kami tidak akan mengecewakan gusti prabu."


"Terima kasih, saya ucapkan pada paman patuh berdua. Saya sangat merasa terbantu, saya tidak akan bisa bekerja sendirian. Tapi jika kita bekerjasama untuk memperbaiki negeri ini, saya percaya demi Allah yang selalu melihat apa saja yang dikerjakan hamba-Nya dalam kebaikan, maka hasilnya akan baik pula. Karena itulah, kita harus memperbaiki dari dalam dulu, setelah itu kita perbaiki ke luar, agar benar-benar seimbang."


"Untuk masalah di desa layang, kedua pendekar utusan saya berhasil meringkus salah satu dari empat orang komplotan setan jahat. Setelah ini mereka akan kembali mendapatkan tugas dari saya, yaitunya membebaskan desa sentosa jaya." Sang Prabu melihat ke arah Selendang Merah dan Kelalawar Hitam, begitu juga mereka.


"Seperti yang saya katakan, jika tugas petinggi istana bagian dalam, maka lakukan dengan baik. Sementara kedua utusan saya yang akan menghadapi masalah di luar. Jadi saya mohon kerjasama yang baik, agar kita semua dapat hasil yang baik pula."


"Hamba sangat setuju gusti prabu. Namun jika diperlukan kekuatan untuk bertindak di luar, hamba sangat siap gusti prabu."


"Bhayangkara juga siap membantu gusti prabu." Bhayangkara Ra Lilur bersuara. Baru kali ini ia ikut dalam pertemuan ini, karena selama ini banyak alasan yang ia buat untuk menghindari pertemuan. "Konon, kabar yang hamba dengar, mereka sangat ganas, sehingga tidak ada yang bisa melawan mereka."


"Boleh saja jika mau membantu, tapi tanyakan terlebih dahulu pada nimas selendang merah, juga adimas kelalawar hitam."

__ADS_1


"Bagaimana nimas, adimas?. Apakah bersedia?."


Keduanya saling bertatapan satu sama lain. Apakah benar mereka ingin membantu mereka?.


"Mohon ampun gusti prabu. Jika memang mereka ingin membantu itu lebih baik." Selendang Merah memberi hormat pada sang Prabu. "Akan tetapi, mereka bisa melakukan tugas di tempat yang berbeda dengan kami."


"Kenapa begitu?. Bukankah lebih baik bersama?."


Mereka yang mendengarkan perkataan Bhayangkara Ra Lilur setuju, karena keduanya tidak akan bisa menghadapi mereka semua. Sehingga suasana sedikit ribut, karena heran dengan kedua pendekar yang menggunakan penutup wajah mereka.


"Apakah kalian keberatan kami tolong?. Apakah kalian memiliki rencana untuk memperlihatkan kaum pendekar lebih hebat dari kami, mengatasi masalah dengan senjata?."


"Apakah kalian merasa hebat dengan kekuatan yang kalian miliki?."


"Cukup!." Mereka semua terkejut mendengarkan suara keras itu berasal dari Prabu Praja Permana, membuat mereka semua terkejut.


"Saya juga sebelum ini adalah seorang pendekar. Kalian tidak boleh menghakimi mereka. Coba dengarkan alasan mereka terlebih dahulu, baru tanggapi perkataan mereka."


"Maafkan kami gusti prabu."


Prabu Praja Permana menghela nafasnya dengan berat. "Silahkan nimas, jelaskan kepada mereka semua agar tidak salah faham."


"Baik gusti prabu." Kembali Selendang Merah memberi hormat pada Prabu Praja Permana. "Kami tahu para pendekar juga manusia yang kadang memiliki kemampuan di atas pendekar lainnya, juga kadang dibawah." Selendang Merah menatap tajam mereka semua. "Tapi jangan remehkan kemampuan kami dengan kalian yang hanya ingin pujian dari gusti prabu. Kami para pendekar bersumpah setia menjunjung tinggi apa yang telah kami ucapkan." Selendang merah sangat tersinggung.


"Maksud ucapan nini selendang merah, kami akan menyelesaikan masalah di tempat lain, jika memang ingin membantu, maka di desa lain. Kenapa begitu?. Supaya masalah segera diatasi dengan baik. Jika hanya fokus pada satu tempat saja, itu akan memakan waktu yang cukup lama. Bisa jadi mereka menghimpun kekuatan baru untuk menambah kekuatan mereka."

__ADS_1


Penjelasan dari Kelalawar Hitam membuat mereka sedikit mengerti. Dan hari itu benar-benar dirundingkan semuanya. Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2