ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERKENALKAN


__ADS_3

...***...


Selendang merah menatap datar ke arah mereka semua setelah ia mengajar mereka semua dengan selendang merah miliknya. Ia masih bisa menahan emosi yang mungkin kini bergejolak di dalam dirinya.


Mereka semua mencoba untuk bangkit, meskipun tubuh mereka terasa sakit setelah dihajar oleh Selendang Merah. "Kalian masih saja mau merampok di wilayah kekuasaan gusti prabu praja permana." Matanya menatap tajam ke arah mereka semua. "Ketua kalian telah diringkus, jadi kalian sebaiknya jangan melakukan kejahatan lagi jika kalian masih sayang nyawa kalian." Selendang Merah kali ini maju satu langkah, namun mereka semua mundur takut.


"Jika kalian masih saja berani berbuat kejahatan dengan merampok. Aku tidak segan-segan lagi membunuh kalian semua." Selendang Merah mengancam mereka semua. Namun setelah itu mereka malah lari ketakutan karena ancaman itu. "Huh!. Dasar tidak berguna sama sekali. Aku benar-benar muak dengan apa yang mereka lakukan." Selendang Merah kembali mendekati pak kusir yang terlihat takut.


"Apakah tidak apa-apa nimas?. Mereka semua pergi setelah mendapatkan hantaman dari nimas." Dengan perasaan takut ia bertanya. Pada Selendang Merah.


"Tidak apa-apa pak. Semuanya baik-baik saja. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Aku takut kita kemalaman sampai di desa bayang kabung." Setelah itu masuk ke dalam bedati, untuk melanjutkan perjalanan.


"Baik nimas." Pak kusir kembali melanjutkan perjalanan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Selendang Merah. Jika mereka tidak segera melanjutkan perjalanan, mereka akan sampai malam di sana nantinya.


"Mereka masih saja berkeliaran di desa-desa yang jauh dari jangkauan gusti prabu. Ini tidak bisa dibiarkan." Dalam hatinya merasa gelisah. "Pak, nanti kalau mau pulang aku mau titip surat untuk gusti prabu. Tolong berikan langsung ke tangan beliau." Hanya itu mungkin satu-satunya cara yang bisa ia lakukan. Karena ia tidak mau mengecewakan Prabu Praja Permana, juga mengecewakan Ratu Sawitri Dewi yang mengasingkan dirinya dari masalah istana untuk sementara waktu.


Apakah negeri ini benar-benar aman dari perampok yang sangat meresahkan?. Temukan jawabannya.


***

__ADS_1


Sementara itu. Ratu Sawitri Dewi sedang menatap putranya. Prabu Praja Permana sedang mengarahkan pada penggawa istana agar tetap melakukan ronda di setiap wilayah yang ada di kerajaan Sendang Agung.


"Nimas selendang merah saya tugaskan berjaga di wilayah paling ujung saat ini. Karena wilayah itu sangat rawan akan komplotan kawanan rampok. Saya harap kalian juga bisa menjaga keamanan negeri ini dengan baik." Prabu Praja Permana tidak mengatakan jika kepergian Selendang Merah saat ini untuk belajar. Karena ia takut ada pihak yang akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelok padanya. Karena mereka semua takut pada Selendang Merah. Itu artinya tidak takut padanya?. Jika mereka takut padanya, mungkin mereka tidak akan menyalahgunakan tahta yang telah mereka dapatkan darinya selama ia menjadi raja.


"Sandika gusti prabu." Balas mereka semua dengan patuhnya.


"Kali ini saya tidak mau mendengarkan keteledoran yang terjadi. Sehingga menyebabkan kerusuhan dimana-mana." Sang Prabu Menatap mereka semua. "Namun dalam masalah ini ada hal penting yang hendak saya bahas dengan kalian semua." Sang Prabu kembali berkata pada mereka semua. "Mungkin kalian semua telah mengetahui bagaimana keadaan paman arya serupa pada saat ini."


Ucapan Prabu Praja Permana sedikit memancing keributan diantara mereka. Karena mereka semua memang telah mendengarnya. Namun suasana kembali tenang saat Prabu Praja Permana memberi kode pada mereka untuk diam. "Itu adalah salah satu contoh dari sifat manusia yang tampak akan kekuasaan duniawi." Prabu Praja Permana menatap mereka kembali dengan sorotan mata yang tajam. "Aku harap kalian semua tidak melakukan perbuatan bodoh itu. Karena bukan hanya sengsara di dunia saja. Melainkan di akhirat nanti ia juga akan sengsara kerena mempertanggungjawabkan atas apa yang telah ia lakukan di dunia ini." Sang Prabu hanya memeringati mereka semua.


Kelalawar Hitam dan Ratu Sawitri Dewi menyimak juga apa yang telah dikatakan oleh Prabu Praja Permana. "Namun sebelum saya masuk pada inti rapat ini. Saya akan memperkenalkan dua anak muda yang juga hadir bersama kita pada rapat kali ini." Prabu Praja Permana menatap ke arah Sandi Praha dan Andara Wijaya. Mereka semua memperhatikan kedua anak muda itu. Memang mereka yang kembali ke istana bertanya-tanya siapa mereka?.


"Saya paman prabu." Andara Wijaya memberi hormat. Namun mereka semua terkejut karena anak muda itu menyebut Prabu Praja Permana dengan sebutan paman prabu?.


"Namanya adalah andara wijaya. Keponakan saya yang dibesarkan oleh nimas selendang merah. Jadi kalian jangan merasa asing lagi, atau mengucilkan dirinya karena ia baru berada di istana ini."


"Sandika gusti prabu."


"Silahkan duduk nanda andara wijaya." Prabu Praja Permana mempersilahkan Andara Wijaya untuk duduk lagi.

__ADS_1


"Terima kasih paman prabu." Setelah memberi hormat, Andara Wijaya kembali duduk.


"Selanjutnya ada sandi praha. Ia adalah anak angkat saya." Lanjut sang prabu semakin membuat mereka sedikit ribut. Tapi kembali tenang, saat Prabu Praja Permana kembali memberi kode pada mereka semua.


"Nanda ayahanda prabu." Sandi Praha dengan perasaan gugup memberi hormat pada Prabu Praja Permana.


"Ia adalah angkat saya. Pemuda dari desa lembung basa. Alasan saya mengangkat ia menjadi anak angkat saya, karena ia adalah pemuda dengan jiwa kesatria yang lebih tinggi." Prabu Praja Permana tersenyum lebar. "Aku kagum akan pendirian yang kuat. Aku akan menempa ia menjadi kesatria yang akan membela negeri ini dari ancaman apapun." Lanjut sang prabu. Mereka semua hanya menyimak dengan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana. Meskipun mereka tidak menyangka jika sang Prabu mengangkat seorang anak dari Desa?. Anak kampung?. Itulah pikiran mereka semua.


"Silahkan duduk nanda." Prabu Praja Permana mempersilahkan Sandi Praha duduk kembali.


"Terima kasih ayahanda prabu." Setelah memberi hormat, ia kembali duduk.


"Bailah, saya rasa saya telah mengenalkan keponakan serta anak angkat saya pada kalian semua. Saya harap kalian nantinya tidak salah faham dan malah menyerang keponakan serta anak angkat saya."


Mereka semua tidak membantah, ataupun mengeluarkan pendapat. Karena mereka tidak menduganya sama sekali. Tapi setidaknya mereka tidak akan melakukan kesalahan, dan telah kenal dengan Sandi Praha juga Andara Wijaya.


"Kita semua akan membahas, masalah siapa yang pantas menggantikan posisi patih. Karena ada dua patih yang bertanggung jawab atas keamanan negeri ini maka saya akan mengangkat orang yang benar-benar lantas menjadi patih di negeri ini. Selain itu ia bisa membantu pekerjaan paman madala restu." Sang prabu akan memilih Patih dari salah satu diantara mereka semua?.


Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2