
...***...
Malam itu, Selendang Merah sedang berada di pendopo belakang istana. Ia merasakan kegalauan yang luar biasa. Karena Ratu Sawitri Dewi menginginkan dirinya menjadi ratu agung di kerajaan ini. Matanya menerawang jauh menatap langit malam.
"Apakah wanita seperti aku pantas menjadi ratu agung?. Sementara tanganku telah banyak darah. Telah banyak orang yang telah aku bunuh." Dalam hatinya bertanya-tanya, mengapa Ratu Sawitri Dewi menginginkan dirinya menjadi raja. "Aku ini adalah seorang pendekar pembunuh bayaran. Bagaimana jika aku salah mengambil keputusan, dan justru malah membunuh orang lain." Suasana hatinya sangat gelisah, dan ia tidak bisa membayangkan itu terjadi. "Rasanya aku memang tidak pantas menjadi ratu agung, bahkan menjadi istri dari seorang raja. Aku ini hanyalah salah satu orang yang berjalan di dalam kegelapan. Jadi mustahil rasanya aku mendampingi raja yang baik seperti gusti prabu praja permana. Tetapi perasaan ini membuat aku gelisah dan sangat tidak nyaman sama sekali." Bimbang, dan ragu. Itulah yang ia rasakan saat ini. Saat itu Prabu Praja Permana datang menemuinya. Ia tidak sengaja melihat Selendang Merah yang menatap langit malam dengan tatapan penuh kesedihan?.
"Kali ini apalagi yang membaut nimas merasa cemas?." Prabu Praja mendekati Selendang Merah dengan senyuman ramah. Matanya menatap Selendang Merah yang sedang menikmati malam yang bersahabat.
"Gusti prabu." Selendang Merah memberi hormat pada Prabu Praja Permana. "Hamba hanya gelisah, dan merasa tidak pantas jika bersanding dengan gusti prabu. Tangan hamba telah dinodai oleh darah. Apakah hamba pantas menjadi ratu agung?." Dengan perasaan ragu ia bertanya pada Prabu Praja Permana.
"Semua keputusan berada di tangan nimas. Aku tidak akan memaksa nimas untuk melakukannya." Prabu Praja Permana mengerti bagaimana kegelisahan yang dirasakan oleh Selendang Merah. "Pastilah sangat mengherankan jika seseorang memintamu untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kita duga sebelumnya. Jadi nimas jangan terlalu merasa terbebani. Nimas hanya perlu memikirkannya dengan matang, dan memutuskan apakah nimas akan menerimanya atau tidak." Prabu Praja Permana tidak memaksa, hanya saja ia ingin Selendang Merah memikirkan tawaran itu.
"Maafkan hamba yang tidak tahu diri ini gusti prabu. Meskipun ada perasaan asmara yang tumbuh di hati hamba terhadap gusti prabu. Tetapi hamba tidak akan melupakan jati diri hamba." Balas Selendang Merah dengan pelan. Ia takut menyinggung perasaan Prabu Praja Permana. "Hamba akan menimbang apa yang telah ditawarkan gusti ratu pada hamba. Mungkin agak lama hamba akan menjawabnya. Apalagi negeri ini masih menangis, dan hamba tidak bisa berdiam diri dan terpaku saja sambil menerima laporan." Itulah yang dipertimbangkan Selendang Merah untuk saat ini. Ia takut akan terlena dengan tahta yang ia duduki nantinya.
"Itu lebih baik. Nimas harus mempertimbangkan dengan baik. Jangan terlalu terburu-buru memutuskan sesuatu." Prabu Praja Permana senang mendengarnya. "Apalagi cinta adalah anugerah yang diberikan Allah SWT kepada umat-Nya. Selain itu cinta juga bisa menjadi amanah, sehingga kita bisa menjaga perasaan cinta yang telah diamanahkan oleh Allah kepada kita." Lanjut Prabu Praja Permana dengan suasana hati yang tenang. Ia tidak akan menuruti keinginan berlebihan dalam mencintai seseorang. Namun bukan berarti ia adalah laki-laki yang tidak memiliki perasaan. Hanya saja ia tidak mau menelan kekecewaan yang sama seperti dimasa lalu.
Selendang Merah menatap langit malam dengan perasaan nyaman, namun masih diselimuti perasaan sakit. Mengingat masa lalunya yang pahit karena perasaan cinta. Kedua insan yang sakit karena cinta, dikhianati atau ditinggal begitu saja setelah mengetahui kekurangan yang mereka miliki. "Mungkin apa yang gusti prabu katakan benar. Cinta adalah amanah. Tapi jika dia tidak amanah, maka hatinya bisa jadi membelok. Hingga akhirnya berkhianat." Perasaan sakit itu masih ia rasakan hingga sekarang. Begitu sakit dan sangat menyiksa hingga ia memutuskan melampiaskan semuanya dengan membunuh siapa saja yang telah berkhianat dalam masalah percintaan.
"Jangan ingat masa lalu yang pahit nimas. Cobalah untuk memperbaiki diri, serta menata kembali hati yang terlanjur terluka." Prabu Praja Permana juga menatap langit malam yang terlihat cerah. "Cinta itu adalah ujian yang harus kita lewati di dalam hidup ini. Banyak cinta yang kita rasakan setiap harinya. Baik itu cinta pada orang tua, pada saudara, ataupun bahkan cinta pada seseorang yang telah membuat kita merasa lebih bahagia dari yang sebelumnya." Prabu Praja Permana mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini.
"Apakah perasaan cinta itu datang dengan tiba-tiba?. Sehingga tanpa kita sadari perasaan itu telah menghubungkan kita sejak pertama kali bertemu. Apakah cinta hanya sekedar memandang fisik, atau melihat dari perilaku seseorang?. Bagaimana pendapat gusti prabu mengenai keduanya?." Selendang Merah ingin mengetahuinya. "Apa yang membuat gusti prabu menginginkan diri hamba menjadi ratu agung di kerajaan. Jika itu artinya hamba juga akan menjadi istri gusti prabu nantinya. Apa yang akan rakyat gusti, serta kerajaan katakan jika gusti prabu praja permana memiliki istri seorang pembunuh bayaran." Lanjut Selendang Merah, seakan sengaja bertanya, apa yang memuat Prabu Praja Permana merasa tertarik dengan dirinya.
"Mungkin semua orang mengetahui jika nimas adalah orang jahat karena seorang pembunuh bayaran. Tapi menurut pendapatku secara pribadi. Saat pertama bertemu, nimas melakukan itu hanya untuk melampiaskan sakit hati yang nimas rasakan." Jawab Prabu Praja Permana. "Masalah hati itu adalah pendapat pribadi. Jika kita menuruti pendapat pribadi orang lain dan tidak menumbangkan pendapat sendiri, maka kita akan terjerumus di dalam hal yang tidak akan pasti. Aku telah memutuskan, bahwa perasaanku saat ini memang hanyalah untuk nimas." Lanjutnya dengan sangat yakin. Sehingga membuat Selendang Merah terpaku mendengarkan apa yang dikatakan oleh Prabu Praja Permana.
"Apakah gusti prabu tidak akan menyesal nantinya?. Hamba adalah keluarga yang ditakdirkan untuk menjadi pembunuh bayaran." Selendang Merah hanya tidak ingin Prabu Praja Permana kecewa padanya suatu hari nanti. Ditambah lagi, ia belum bisa memutuskan apakah ia mau menerima tawaran itu atau tidak.
"Tidak ada yang bisa menebak hidup ini nimas. Termasuk perasaan hati, namun kita harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita terima nantinya. Jika Allah SWT telah menetapkan takdir kita untuk berjodoh, aku yakin kita akan dipersatukan dalam bentuk apapun." Prabu Praja Permana kembali menatap langit malam yang cerah. Hatinya merasa tenang saat bercerita seperti ini dengan Selendang Merah.
Selendang Merah tersenyum lebar mendengar apa yang diucapkan oleh Prabu Praja Permana. "Baiklah kalau begitu. Hamba akan menemui ayahanda serta ibunda di desa bambu panjang. Hamba sudah lama tidak pulang. Hamba akan menceritakan semuanya pada mereka." Mungkinkah ia akan meminta pendapat ayahanda dan ibundanya mengenai ini?.
"Kali ini jangan sampai pulang dalam keadaan terluka lagi nimas. Rasanya hatiku sangat sedih, melihat nimas terluka. Hanya untuk membela negeri ini." Rasanya ia tidak tega saat melihat Selendang Merah waktu itu terluka parah.
"Hamba akan mengusahakannya gusti prabu. Itupun jika hamba tidak bertemu dengan musuh dijalan nantinya." Selendang Merah tidak bisa janji pada Prabu Praja Permana.
"Semoga saja. Tapi maafkan aku, jika aku terlalu membebani mu nimas. Aku yang tak berdaya melakukan ini semua sendirian." Ada perasaan sedih dihatinya saat ini. "Maafkan aku jika terkesan membuatmu melakukan pekerjaan ini. Sementara aku di istana hanya menerima laporan saja." Perasaan bersalah juga menyelimuti hatinya karena ia tidak bisa mengatasi masalahnya dengan baik.
"Gusti prabu tidak perlu merasa bersalah. Ini adalah pekerjaan yang telah lama hamba lakukan." Selendang Merah tersenyum kecil. "Sudah menjadi tugas hamba untuk membebaskan negeri ini." Selendang Merah tidak merasa keberatan sama sekali. "Negeri ini harus segera dibebaskan dari orang-orang jahat. Hamba rasa, anak buah kelompok setan jahat masih berkeliaran. Meskipun ketua mereka telah tertangkap. Hamba yakin mereka masih tersebar dimana-mana."
"Karena itulah aku meminta bantuan nimas. Bukan hanya mengatasi masalah dari luar saja. Melainkan dari dalam juga. Bukankah nimas juga mengetahui bagaimana mereka semua melalui mata elang yang nimas miliki?." perasaan gelisah yang membuatnya tidak nyaman sama sekali.
"Meskipun begitu, hamba hanyalah manusia biasa. Bukan dewata yang agung, yang mengetahui apa saja yang mereka lakukan gusti prabu. Tapi sebisa mungkin hamba akan melakukan yang terbaik demi negeri ini." Itulah janji Selendang Merah pada Prabu Praja Permana dalam membantu Sang prabu.
"Terima kasih aku ucapkan padamu nimas. Mungkin dengan hadirnya dirimu di kerajaan ini, dikirim Allah SWT untuk membantu orang lemah seperti aku." Prabu Praja Permana menatap ke arah Selendang Merah.
"Gusti prabu jangan berkata seperti itu. Rasanya hamba menjadi orang yang diistimewakan. Nanti hamba takut kepala hamba membesar.
Prabu Praja Permana tertawa kecil mendengarkan ucapan itu. "Aku tidak bisa membayangkannya. Nimas, kau ada-ada saja." Prabu Praja Permana berusaha untuk menahan tawanya. Malam itu mereka tertawa, tersenyum, dan berbagai cerita yang membuat keduanya terasa lebih dekat lagi.
__ADS_1
"Besok hamba akan berangkat gusti prabu. Maaf jika hamba besok tidak menjalankan tugas yang gusti prabu berikan pada hamba." Selendang Merah minta maaf pada Prabu Praja Permana, karena ia tidak bisa membantu sang Prabu
"Baiklah. Aku harap nimas kembali dengan cepat. Aku selalu mendoakan kau baik saja selama diperjalanan nantinya." Ya, jangan ketika Selendang Merah pergi, bahkan ketika wanita itu pergi menjalankan tugas yang ia berikan, dalam hatinya selalu mendo'akan keselamatan Selendang Merah.
"Sandika gusti prabu. Terima kasih doa baik yang gusti prabu ucapkan untuk hamba." Selendang Merah benar-benar terharu. "Rasanya langkah hamba akan terasa lebih ringan untuk melangkah."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin jika memang seperti itu." Prabu Praja Permana senang mendengarnya. Rasanya ia tidak salah dalam menilai dan bekerja sama dengan Selendang Merah. Meskipun pekerjaan ia lakukan adalah pekerjaan yang sangat buruk, namun sebenarnya ia berada dipihak kebaikan, hanya saja caranya saja yang salah.
Namun malam itu mereka habiskan hanya untuk berbincang-bincang ringan saja. Tidak ada yang istimewa, namun ada hal yang penting yang mereka rasakan pada malam itu. Yaitunya perasaan cinta yang mulai tumbuh di hati mereka. Akankah mereka akan bersatu dalam ikatan pernikahan?. Temukan jawabannya.
...***...
Keesokan harinya, Selendang Merah pamitan pada anaknya. Bahwa ia akan menuju desa bambu panjang. Andara Wijaya sebenarnya mau ikut, namun dilarang oleh Selendang Merah. Karena ia tidak mau anaknya dalam bahaya, atau mendapat masalah ketika diperjalanan nantinya.
"Aku mau ikut dengan ibunda. Aku ingin bertemu dengan kakek juga nenek. Apakah aku tidak boleh ikut?." Andara terkesan memaksa untuk ikut. Ia juga ingin melihat bagaimana orang tua dari ibundanya.
"Tidak untuk sekarang nak. Karena jalan menuju desa bambu panjang sangat berbahaya. Ibunda tidak mau kau mendapatkan bahaya nantinya." Selendang Merah mencoba memberi pengertian pada anaknya.
"Tapi ibunda-." Andara Wijaya ingin protes, tapi.
"Benar apa yang dikatakan ibundamu andara wijaya. Kami akan mencari jalan paling aman untuk masuk ke sana. Jika sudah aman, nanti kau boleh ikut." Kelalawar Hitam membantu kakaknya memberikan penjelasan pada Andara Wijaya.
"Benarkah?. Paman tidak berbohong, kan?. Atau jangan-jangan itu hanya alasan ibunda serta paman supaya aku tidak ikut." Andara Wijaya terlihat merajuk, padahal ia tadinya sedang bersemangat. Tapi malah dilarang ibundanya untuk ikut.
"Paman janji, paman akan membawamu ke sana nantinya. Tapi setelah belajar dengan baik." Kelalawar Hitam tidak mau mengecewakan keponakannya itu.
"Iya. Aku janji." Kelelawar Hitam setelah itu menyenangkan topeng hitam menutupi wajahnya.
"Yeiy. Paman sangat baik sekali." Andara Wijaya sangat senang. "Kalau begitu aku akan berlatih dengan semangat." Suasana hatinya tampak sedang bahagia. Jadi ia tidak akan lalai lagi saat berlatih.
"Baiklah. Kalau begitu lanjutkan latihan mu nak. Akrab lah dengan sandi praha. Karena ia adalah temanmu." Selendang Merah mengelus kepala anaknya dengan sayang. Ia merasa lega karena anaknya tidak lagi membantah. "Kasihan sandi Praha sendirian jika kau ikut dengan ibunda." Selendang Merah mencari alasan yang tepat, kenapa anaknya tidak boleh ikut.
"Baik ibunda. Tapi ibunda harus segera kembali ya." Andara Wijaya hanya tersenyum kecil saja.
"Ibunda tidak akan lama. Ibunda janji." Selendang Merah mencium kening anaknya dengan sayang.
Andara Wijaya hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang dikatakan oleh ibundanya. Ia juga tidak mau membuat ibundanya kewalahan karena mengurus dirinya. Karena itulah ia mengalah.
"Sandi praha." Kali ini Selendang Merah menatap ke arah Sandi Praha.
"Ada apa bibi?. Kenapa bibi memanggilku?." Sandi Praha Sedikit heran. Apakah ia memiliki salah pada wanita bercadar merah itu?.
"Kau harus berlatih dengan baik. Jika kau siap, maka aku yang akan melatih mu nantinya." Ucap Selendang Merah dengan sangat ramah.
"Wah, terima kasih banyak bibi. Rasanya sangat terhormat sekali bisa dilatih oleh bibi." Sandi Praha tidak menduganya sama sekali, jika Selendang Merah akan melatih beberapa jurus padanya?.
"Kalau begitu kalian berdua tetaplah berada di sini. Karena aku akan meninggalkan istana ini. Tolong bantu gusti prabu untuk menjaga keamanan sekitar istana ini ya." Selendang Merah menitip pesan pada Andara Wijaya dan Sandi Praha.
__ADS_1
"Tentu saja ibunda." Dengan semangatnya Andara menjawab ucapan ihindan.
"Tentu saja bibi. Percayakan keamanan lingkungan istana pada kami berdua." Sandi Praha juga terlihat sangat bersemangat.
"Kalau begitu kami pergi dulu." Selendang Merah pergi meninggalkan tempat.
"Kalian jaga diri baik-baik selama kami pergi. Sampai jumpa." Kelalawar Hitam menyusul kakaknya yang telah pergi jalan duluan.
"Berhati-hatilah ibunda, juga paman selama diperjalanan." Andara Wijaya melambaikan tangannya, dan agak mengeraskan suaranya.
"Berhati-hatilah bibi. Semoga sampai tujuan dengan selamat." Begitu juga dengan Sandi Praha yang melambaikan tangannya untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Selendang Merah.
"Ibundamu sangat baik sekali andara wijaya. Beruntung sekali kau memiliki ibunda seperti itu." Sandi Praha merasa kagum dengan baik Selendang Merah.
"Aku tahu kau merasakan perasaan iri. Nanti aku katakan ibunda. Untuk menjadikanmu anak angkatnya. Supaya aku bisa memanggilmu dengan sebutan kakang. Karena kau lebih tua dari aku." Andara Wijaya malah menggoda Sandi Praha. Ia tertawa geli melihat raut wajah Sandi Praha yang memuji ibundanya.
"Huh. Dasar menyebalkan. Siapa juga yang mau memiliki adik yang sok tampan seperti kau." Sandi Praha sangat kesal sekali dengan sikap Andara Wijaya yang membuat ia merasa iri. Dan ia berharap suatu hari akan mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang baik seperti Selendang Merah.
Andara Wijaya malah tertawa mendengarnya, ia juga menghindari serangan Sandi Praha. Sambil latihan, keduanya saling menyerang satu sama lain. Melatih kembali ilmu kanuragan yang mereka miliki.
...***...
Sementara itu, di dalam istana. Saat itu, Patih Arya Serupa menemui Ratu Sawitri Dewi. Karena ia sangat khawatir dengan perjodohan yang dilakukan oleh Ratu Sawitri Dewi.
"Mohon ampun gusti ratu. Jika hamba lancang ingin berbicara empat mata dengan gusti ratu." Patih Arya Serupa memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi.
"Memangnya apa yang hendak kanda Patih sampaikan padaku?." Tentunya menjadi pertanyaan bagi Ratu Sawitri Dewi, kenapa tiba-tiba saja Patih Arya Serupa ingin berbicara dengannya?.
"Ini masalah perjodohan yang pernah kita bahas ketika mendiang gusti prabu masih hidup." Ia mengatakan tujuannya dengan jelas. "Perjodohan antara nanda prabu dengan putri hamba." Lanjutnya dengan hati-hati.
"Oh. Jadi begitu?. Masalah yang kita bahas saat ini kanda Patih." Ratu Sawitri Dewi sedikit ingat dengan apa yang dikatakan oleh Patih Arya Serupa. "Tapi maaf sekali kanda patih. Karena aku telah memiliki calon untuk nanda prabu. Maafkan aku jika aku tidak bisa memenuhi apa yang kanda Patih inginkan." Ratu Sawitri Dewi meminta maaf pada Patih Arya Serupa. "Saya dan nanda prabu telah menemukan orang yang paling cocok untuk dijadikan sebagai ratu agung nantinya." Ratu Sawitri Dewi berkata seakan ia sangat yakin.
"Apakah dia adalah nini selendang merah?." Patih Arya Serupa mencoba menebak siapa wanita yang beruntung itu.
"Ya. Kanda Patih benar. Apalagi Keduanya saling mencintai satu sama lain, meskipun ada garis pembatas yang membuat mereka berjauhan."
"Jika gusti ratu telah mengetahui garis pembatas itu, tapi mengapa gusti ratu masih mau menjadikan ia sebagai ratu agung?. Apa yang akan mereka katakan, jika gusti ratu memiliki menantu mantan pembunuh bayaran."
"Itu lebih bagus. Pendekar pembunuh bayaran memang terkesan buruk, namun mereka lebih jujur ketika mereka diberi pilihan. Aku tidak merasa keberatan sama sekali patih arya serupa."
"Apakah gusti putri tidak ingin mengubah pandangan itu?. Putri hamba rasanya lebih cocok dengan gusti prabu. Hamba yakin, ia mampu menjadi ratu agung yang lebih baik dari padanya."
"Maaf patih arya serupa. Perasaan hati adalah pilihan. Semuanya aku serahkan pada anakku. Dan saat ini keduanya sedang menjalin kisah asmara. Maaf jika aku tidak bisa memberikan harapan pada putrimu."
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Dukungannya selalu ditunggu. Jangan lupa, jempol, tip, beri hadiah, dan komentar.
...**...
__ADS_1