
...***...
Di desa buangan. Nila Ambarawati dibawa ke sana oleh Selendang Merah dan Kelalawar Hitam. Namun sebelum mereka sampai di sana, Selendang Merah telah menghilangkan semua tenaga dalam yang dimiliki oleh Nila Ambarwati.
"Kakang jaya estu?."
"Nila ambarawati?. Kau masih hidup?."
"Kakang jaya estu." Nila Ambarawati memeluk Pangeran Wira Wijaksana dengan eratnya. Ia sangat merindukan laki-laki yang sangat ia cintai itu. Hingga ia tidak mau lepas lagi darinya.
"Kalian memang cocok untuk tinggal bersama. Sama-sama pengkhianat!."
Pangeran Wira Wijaksana melepaskan pelukannya, dan ia mendekati Selendang Merah. "Apakah seburuk itu aku di mata mu nimas?. Sehingga kau memperlakukan aku seperti ini?."
"Heh!. Aku telah terluka karena apa yang telah kalian lakukan. Dan sekarang terima saja nila ambarawati sebagai istri barumu. Atau kau boleh menganggapnya sebagai selir atau simpanan mu!."
"Apa yang nimas katakan?. Aku sama sekali tidak mengerti."
"Apakah kau lupa wira wijaksana. Sebelum kau jatuh ke jurang saat aku menghajar mu!. Kau telah menghamili nila ambarawati."
"Aku sangat ingat itu. Kau bahkan tidak mendengarkan lagi apa yang hendak aku katakan pada saat itu."
"Asal kau tahu saja wira wijaksana. Setelah anak itu lahir, dia telah membuang anak itu. Tapi beruntung aku cepat datang, dan menyelamatkan anak kalian."
"Jadi anak kami masih hidup?. Dimana dia?. Katakan padaku nimas."
"Dia hidup bersamaku selama ini. Aku besarkan dia dengan baik."
"Apakah aku boleh bertemu dengannya?."
"Tidak boleh!. Anak itu akan menjadi rusak!. Jika bertemu dengan kalian berdua!. Aku tidak akan pernah mengizinkan kalian untuk bertemu dengannya."
"Kenapa?. Bukankah dia adalah anakku."
"Anak?. Apakah kau masih ingat dengan anak?. Kau bahkan dengan teganya ingin berpisah dengan anak-anakmu dari istri lain, dan kau ingin bertemu dengannya?." Dengan penuh amarah Selendang Merah membalikkan tubuhnya. "Adi, mari kita tinggalkan tempat ini. Tidak ada gunanya kita berlama-lama berada di sini. Hanya membuat hatiku terasa sakit, dan ingin membunuh mereka berdua."
"Baiklah ayuk. Itu lebih baik, karena aku juga tidak betah berada di sini."
"Nimas!. Jangan tinggalkan aku nimas!. Aku masih mencintaimu."
Namun tidak ada tanggapan dari Selendang Merah. Ia segera meninggalkan tempat itu. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ia harus segera pergi dari sana.
Sedangkan Pangeran Wira Wijaksana hanya tertunduk sedih. Ia tidak menyangka, akan mendapatkan kabar, bahwa anaknya dengan Nila Ambarwati masih hidup. Masih hidup?. Dan dibesarkan oleh Selendang Merah?. Kenapa ia tidak menanyakan keadaan Nila Ambarwati pada saat bertemu dengan Selendang Merah saat itu?. Namun ia malah terburu nafsu oleh cintanya pada Selendang Merah. Sepertinya Inah asmara diujung waktu yang dimaksudkan oleh Prabu Praja Permana. Bukan perpisahan untuk dua orang insan yang akan meninggalkan dunia fana ini, melainkan juga untuk mereka yang berpisah karena perasaan benci. Pada akhirnya penyesalan yang akan ia dapatkan. Seperti Pangeran Wira Wijaksana yang selalu mempermainkan cinta, hanya menuruti hawa nafsu dunia dalam percintaan.
...***...
__ADS_1
Di sisi lain. Saat ini Prabu Praja Permana telah sampai di Kerajaan Sendang Agung bersama Andara Wijaya dan Sandi Praha. Kedatangan mereka disambut oleh Ratu Sawitri Dewi.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, ibunda." Prabu Praja Permana mencium tangan ibundanya sambil mengucapkan salam."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, nanda prabu."
"Sampurasun."
"Rampes."
"Nanti nanda jelaskan ibunda. Mari kita masuk terlebih dahulu."
"Baiklah nak. Mari masuk semuanya."
"Terima kasih gusti prabu, gusti ratu."
Setelah itu mereka semua masuk ke dalam istana. Karena ada hal penting yang akan mereka bahas. Apakah itu?. Temukan jawabannya.
...***...
Di suatu tempat. Ada seorang pendekar wanita yang saat ini sedang bertarung berhadapan dengan beberapa orang Pendekar lainnya. Mereka semua sedang memperebutkan pendekar wanita itu.
"Kurang ajar sekali kalian. Aku tidak ada urusannya denganmu."
"Benar-benar orang bejad!. Kalian pikir kalian sedang berhadapan dengan siapa ha?."
"Ahaha. Galak juga ternyata dia."
"Paling nanti kalah juga. Ahaha. Mari kita serbu dia beramai-ramai."
"Mari kita serang dia!. Setelah itu kita beri dia kenikmatan dunia. Ahahaha!."
Mereka semua mengelilingi pendekar wanita itu. Mereka hanya menuruti hawa nafsu yang tidak pantas. Namun sepertinya pendekar wanita itu tidak akan menyerah begitu saja dengan sikap kurang ajar mereka. Dengan ilmu kanuragan yang ia miliki, ia menghajar mereka semua.
Pertarungan yang memakan waktu yang cukup lama, akan tetapi pendekar wanita itu mampu mengatasi mereka semua dengan jurus-jurus yang ia miliki.
"Jangan pernah meremehkan aku." Ucapnya sambil memasukkan kembali pedang ke sarungnya. "Heh!. Kalian ini hanyalah sekumpulan orang tidak berguna saja. Hanya menghambat perjalanan ku mencari Pendekar selendang merah." Ia menatap rendah pada orang-orang yang telah bergelimpangan di tanah, karena menerima tebasan pedang miliknya. "Malang sekali nasib kalian karena bertemu denganku!." Setelah berkata seperti itu, ia pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan benci. Karena dendamnya terhadap Selendang Merah masih membara. Pendekar wanita itu adalah Suliswati, ia yang ingin balas dendam atas kematian kekasihnya.
"Aku harus melanjutkan perjalanan ku. Hingga aku bertemu dengan wanita bercadar busuk itu." Hatinya semakin panas, mengingat apa yang terlah terjadi di masa lalu.
...***...
Istana Kerajaan Sendang Agung. Ratu Sawitri Dewi mendengarkan semua apa yang dikatakan oleh anaknya Prabu Praja Permana tentang dua orang anak muda yang datang bersamanya.
"Sebelah kanan namanya sandi praha ibunda."
__ADS_1
"Hamba gusti ratu."
"Ya. Lalu siapa dia nak?."
"Ia adalah anak muda yang hebat ibunda. Karena itulah nanda ingin melatihnya menjadi seorang prajurit yang akan menjaga keamanan kerajaan ini ibunda."
"Jadi begitu?. Baiklah jika memang itu keputusan nanda prabu." Ratu Sawitri Dewi mencoba memahami apa yang diinginkan anaknya. Tapi, ada yang mengganjal dalam pikirannya, saat ini melihat anak muda yang satunya lagi. Wajah itu sangat mirip dengan putranya Pangeran Wira Wijaksana. "Lalu siapa yang satunya nak? Katakan pada ibunda."
"Sebelum nanda mengatakan ia siapa. Nanda harap, ibunda tidak terkejut mendengarnya."
"Katakan saja nak. Meskipun ibunda belum siapa menerima kenyataan ini."
"Baiklah ibunda. Nanda akan mengatakannya dengan hati-hati, maka ibunda harus bersabar saat mengetahui siapa anak muda ini."
Ratu Sawitri Dewi hanya menganggukkan kepalanya. Tanda ia mengerti apa yang dikatakan anaknya.
"Namanya adalah andara wijaya ibunda. Anak yang dibesarkan oleh nimas selendang merah. Anak ini ternyata adalah putra dari dinda wira wijaksana. Yang telah ia lantarkan selama bertahun-tahun."
Rasanya dunianya hampir saja terbalik. Ia tidak menyangka sama sekali akan mendengarkan berita mengejutkan di dalam hidupnya.
"Apakah anak ini adalah anak nini selendang merah dengan adikmu wira wijaksana?." Ratu Sawitri Dewi hanya ingin memastikannya saja. Karena Selendang Merah mengatakan, jika ia tidak ingin mengecewakannya.
"Tidak ibunda. Andara wijaya adalah anak dinda wira wijaksana dengan wanita yang selama ini dicari oleh nimas selendang merah. Wanita yang menyamar menjadi nimas selendang merah. Wanita yang menjadi buronan kerajaan sendang agung."
"Oh ya Allah. Rasanya aku tidak pernah membayangkan, jika aku akan memiliki cucu dari wanita yang jahat?."
"Jangan berkata seperti itu ibunda. Bagaimanapun juga, nanda andara wijaya telah dibesarkan dengan baik oleh nimas selendang merah. Sehingga nanda andara wijaya tumbuh menjadi anak yang kuat ibunda. Jadi masalah kepribadian kedua orang tuanya, tidak ada hubungannya nanda andra wijaya ibunda."
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Ampunilah dosa hamba." Ratu Sawitri Dewi menyadari kesalahan dari ucapannya itu. "Maafkan aku anak muda. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan mu anak muda. Maafkan aku karena berkata seperti tadi, tanpa menghiraukan perasaanmu."
"Tidak apa-apa gusti ratu. Hamba memakluminya. Namun hamba tidak akan mengikuti hal yang jahat, atau mempermalukan ibunda yang telah membesarkan hamba seorang diri dengan penuh kasih sayang."
"Kau sungguh anak yang sangat baik. Sepertinya nini selendang merah, telah membesarkan anak yang sangat hebat."
"Terima kasih gusti ratu."
"Panggil saja aku nenek ratu. Karena kau adalah cucuku. Dengan senang hati aku akan menerima kehadiranmu di sini cucuku."
"Terima kasih atas kebaikan nenek ratu. Hamba sangat beruntung bertemu dengan orang-orang baik."
"Alhamdulillah hirobbil'alamin." Prabu Praja Permana dan Ratu Sawitri Dewi sangat senang sekali mendengarnya. Bahasa anak itu begitu sopan, dan sangat santun pada orang tua.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.
...***...
__ADS_1