ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
USAHA MEREKA


__ADS_3

...***...


Di sebuah tempat.


Nila Ambarawati sedang berlatih ilmu Kanuragan baru dengan seorang laki-laki yang sudah berumur. Gerakan-gerakan yang diajarkan orang itu sangat bertenaga, dan sangat kuat. Ia sendiri dapat merasakannya, memalui gerakan yang ia tiru, gerakan itu sangat mematikan.


"Dia sangat pintar. Hanya melihat tiga kali saja, bisa dengan cepat menguasai setengah jurus, yang aku peragakan di hadapannya." Lelaki itu bernama Daruma Kinantara, atau Kinantara.


Dia adalah seorang pendekar yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan, dengan jurus Patik Api Semburan Kilat.


Jurus itu adalah jurus percikan api yang menyemburkan aura kilat. Jadi siapa saja yang terkena jurus itu, tubuhnya akan gosong seperti terkena Sambaran kilat atau petir yang ganas. Jurus itu adalah jurus yang sangat ditakuti oleh seluruh pendekar, baik aliran putih maupun aliran hitam.


"Bagus nila ambarawati. Kuasai dengan jiwa membaramu. Maka kau akan merasakan kesempurnaan, dari jurus yang aku ajarkan padamu." Kinantara menyemangati Nila Ambarawati lebih giat untuk berlatih ilmu kanuragan.


Nila Ambarawati menghentikan sebentar gerakannya, dan ia melihat ke arah gurunya sambil tersenyum. "Baik guru. Aku tidak akan mengecewakanmu." Balas Nila Ambarawati memberi hormat pada gurunya.


Kinantara sangat senang dengan respon muridnya itu, ada perasaan bangga memiliki murid seperti Nila Ambarawati.


...***...


Di desa Lembung Basa.


Andara Wijaya sedang berjalan-jalan, melihat keadaan kampung yang lumayan ramai. Saat ini ia sedang berada di pasar, meskipin agak canggung karena keramaian ini.


"Ibunda. Andai saja ibunda ada di sini, aku lebih bahagia. Karena kita bisa berjalan berdua di tempat seramai ini." Dalam hati Andara Wijaya ia berharap, bahwa ia bisa berjalan bersama ibundanya.


Sedangkan dulu ia dan ibundanya hanya berdua di hutan, hanya suasana sepi yang ia rasakan. Namun sekarang, banyak orang yang berkumpul disatu tempat, dan tempat lainnya. Mereka saling berbincang satu sama lain.


"Ibunda. Lain kali kita keluar seperti ini. Aku yakin, ibunda pasti akan suka." Senyum mengembang di wajahnya. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ia membayangkan ibundanya ada di sini. Ia bisa bergandengan tangan dengan ibundanya.


Namun ketika ia sedang membayangkan hal-hal indah bersama ibundanya. Telinganya menangkap suara teriakan seseorang yang tak jauh ia berdiri. Semua orang melihat apa yang terjadi, tetapi mereka tidak berani untuk mencegah keributan itu.


Andara Wijaya yang penasaran mendekati mereka, dan bertanya kepada beberapa orang laki-laki yang sedang menghadang seorang wanita cantik.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan?. Mengapa kalian menyakitinya?." Tanya Andara Wijaya dengan penuh tanda tanya di kepalanya. "Apakah kalian tidak bisa bersikap sopan pada seorang wanita?." Ucapnya.


"Hei!. Siapa kau berani ikut campur!. Apa kau ingin aku hajar?. Hah?." Seorang laki-laki berkumis tebal, berbadan tegap menekan bahu kiri Andara Wijaya dengan ujung golok yang ia pegang.


Lelaki itu tidak ramah sama sekali, raut wajahnya terlihat seram dan menakutkan. Namun Andara Wijaya tidak gentar sedikitpun.


"Maaf kisanak. Aku hanya bertanya saja. Tidak baik membentak seorang wanita. Bukankah ibu kalian juga seorang wanita?. Apa kalian tega membentak ibu kalian sendiri?." Balas Andara Wijaya sedikit heran. Namun justru, malah ditertawakan oleh ketiga orang itu.


Sementara yang lainnya, yang melihat dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Andara Wijaya itu sangat benar. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Mereka baru saja melihat pemuda itu di kampung mereka. Meskipun ada kabar, bahwa Ki Awuh lurah mereka saat ini tinggal bersama seorang anak muda yang tampan, gagah, dan sempurna secara fisik.


Apakah pemuda itu adalah dia?.


"Kau orang asing. Tidak perlu berkata yang tidak sama sekali kami sukai. Katakan saja kau ingin bergabung dengan kami, bersenang-senang dengan wanita ini." Terdengar tawa keras, puas dari mulut mereka


"Mulut busuk!. Otak pun busuk!. Kalian makhluk busuk, tidak pantas berkata seperti itu padaku!."


Andara Wijaya benar-benar marah, tanpa banyak bicara ia menghajar salah satu dari mereka yang telah kurang ajar berkata seperti itu.


Pasar kini menjadi ribut karena pertarungan Andara Wijaya dengan ketiga pemuda yang sedang dikuasai oleh nafsu bejat.


...***...


Mereka semua menunggu sang prabu melaksanakan sholat Zuhur. Mereka duduk agak dekat dengan sang Prabu di sebuah balai pertemuan.


Setelah sang prabu mengerjakan sholat, ia membalikkan tubuhnya. Ia sedikit terkejut, karena ada banyak orang yang duduk di belakangnya dan memberinya hormat sebagai seorang raja.


"Hormat kami gusti prabu." Ucap mereka semua.


"Aku terima hormat kalian." Balas sang Prabu sambil tersenyum kecil, ia baru kali ini berhadapan langsung dengan rakyatnya.


"Mohon ampun Gusti prabu, apakah yang Gusti Prabu lakukan tadi adalah gerakan sholat, gerakan yang dilakukan oleh prabu kian Santang?." Ki lurah bertanya penasaran, apakah benar berita tentang sang prabu masuk Islam karena itu?.


"Benar. Tadi itu adalah gerakan sholat, saya mempelajarinya dari seorang guru yang taat beragama." Jawab sang Prabu dengan senyuman ramah.

__ADS_1


Meskipun agama islam sebenarnya sudah tersebar di kerajaan Padjajaran, namun masih belum semua orang memeluk agama islam.


"Kenapa gusti prabu melakukan itu hanya karena ingin terlihat berwibawa seperti kisah prabu kian santang?." Seorang warga bertanya seperti itu pada sang prabu.


"Benar gusti. Jika Gusti mengembara dan tidak memperhatikan rakyat. Bagaimana nasib kami, jika tidak di tolong oleh nini selendang merah, dari cengkeraman kelompok setan jahat." Sepertinya mereka mengeluarkan keluhan mereka yang selama ini terpendam.


Selendang Merah tidak menyangka mereka akan berkata seperti itu, ia tidak mencegahnya. Ia ingin mendengarkan apa yang dijawab oleh sang Prabu.


Prabu Praja Permana menghela nafasnya, kemudian ia menatap mereka dengan pandangan tajam


"Mohon maaf, jika apa yang saya lakukan ini belum bisa membantu kalian semua." Ada rasa penyesalan terpancar di raut wajahnya.


"Tapi apa yang saya lakukan, bukanlah hanya karena ingin mengikuti apa yang dilakukan oleh prabu kian santang." Sang Prabu terlihat sedih karena mereka berpikir seperti itu.


"Suatu hari ketika saya, mendengar suara lantunan adzan. Hati saya sangat merasa damai, tenang dan bahagia. Tanpa sadar aku menangis. Menangis karena hati saya tersentuh akan merdunya suara adzan itu." Sang Prabu menceritakan awal ia masuk islam.


"Saya berguru pada orang tersebut. Guru saya menceritakan tentang prabu kian santang padaku. Hingga saya semakin tertarik untuk masuk islam." Terlihat senyuman yang begitu tulus dari sang prabu.


"Dari lubuk hati saya yang paling dalam. Saya mencintai islam, karena agama yang membawa perdamaian. Saat saya belajar, guru terus menceritakan kisah prabu kian santang." Ada ketulusan yang tersirat dari ucapannya. Mereka semua dapat merasakannya, merasakan bagaimana perasaan yang dirasakan oleh sang Prabu.


"Dalam pengembaraan ini. Saya ingin sekali membantu kalian semua. Saya telah mencobanya. Tetapi saya tidak bisa melakukannya sendirian. Karena ketidakmampuan saya, saya gagal menghentikan mereka. Sungguh. Maafkan saya." Sang prabu merasa menyesal karena gagal.


Mereka mulai mengerti apa maksud yang hendak sang Prabu katakan pada mereka. Jadi sang Prabu telah melakukannya, namun belum berhasil?.


"Tapi kalian tenanglah. Saya telah meminta bantuan nimas selendang merah, untuk mengatasi kelompok setan jahat. Dengan perlahan-lahan, saya sangat berharap negeri ini akan kembali aman." Sang Prabu menjelaskan juga kepada mereka, bahwa ia meminta bantuan pada selendang Merah untuk mengatasi masalah yang terjadi di negeri ini.


Mereka semua hampir tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Jadi sang prabu meminta bantuan pada pendekar selendang Merah?. Suasana sedikit heboh karena mereka sedang berdebat di sebelahan, tindakan Gusti Prabu diluar dugaan mereka.


"Dengarkan wahai rakyat kerajaan sendang agung." Ucap sang Prabu berusaha untuk menenangkan mereka. "Saya akan berusaha untuk menjaga, serta melindungi kalian semua, dari bahaya yang mengancam." Sang Prabu akan melakukan sebaik-baiknya.


Mereka hari itu, menjadi saksi apa yang telah diucapkan sang prabu pada mereka semua.


Bagaimana kelanjutannya?. Temukan jawabannya. Mohon dukungannya ya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2