ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
TAKDIR


__ADS_3

...***...


Di Suatu tempat.


Setan Sabit Jahanam juga telah menemukan guru yang mau mengajarinya mempelajari ilmu Kanuragan. Dia adalah aki Jagat Sampurno. Ia juga seorang pendekar yang berjalan di aliran hitam.


"Sebagai seorang anggota kelompok setan jahat, aku akui kau termasuk pendekar hebat yang mampu menggegerkan kerajaan." ia merasa berbangga hati dapat melatih salah satu anggota kelompok setan jahat yang kabarnya sangat meresahkan kerajaan Sendang Agung.


"Tapi aku ingin mengetahui, mengapa kau masih menginginkan ilmu Kanuragan dariku." Jagat Sampurno ingin tau alasan mengapa Setan Sabit Jahanam atau nama aslinya adalah Umbara Kuswan. Apakah mereka masih belum puas dengan ilmu Kanuragan yang ia miliki?.


"Kami mendapatkan hambatan. Karena seorang pendekar pembunuh bayaran guru. Dia memiliki ilmu kanuragan yang mempuni. Jadi kami harus membunuhnya, karena dia telah melindungi sang prabu." Umbara Kuswan terlihat marah, kesal, dan tidak suka. Padahal waktu itu mereka hampir saja membunuh sang prabu namun berhasil dicegah oleh selendang merah.


"Memangnya jurus apa yang ia gunakan?. Sehingga kalian semua mencari guru untuk mengalahkannya?. Apa kelebihan ilmu kanuragan yang dimilikinya?. Sehingga kalian tidak sanggup untuk menghadapinya, meskipun main keroyokan." Tanya aki Jagat Sampurno masih penasaran dengan cerita muridnya itu. Sehebat apa pendekar wanita itu hingga membuat kelompok setan jahat merasa harus menambah jurus baru?.


"Ia menggunakan jurus air samudera menggulung karang. Jurus yang sangat mematikan. Aura jurus itu seperti gelombang pasang yang besar, menghantam tubuh kami bagaikan karang yang hancur lebur, hanya satu hantaman selendangnya guru." Jawab Umbara Kuswan mengingat sakit akibat jurus itu, membuat tubuhnya seperti mati rasa.


"Kau tadi mengatakan jurus air samudera menggulung karang?. Apa kau tidak salah mengatakannya kepadaku?." Aki Jagat Sampurno terkejut mendengarnya, apakah ia tidak salah dengar?. Memangnya jurus apa itu?. Sehingga menimbulkan tanda tanya baginya?.


"Benar guru, tidak mungkin aku salah mengatakannya. Bahkan ketua kami nini setan selendang jingga kematian, juga mengatakannya. Apakah guru mengenali jurus itu?." Umbara Kuswan sedikit heran, apakah gurunya mengenali jurus itu?. Hingga gurunya bertanya seperti itu padanya?.


"Tentu saja aku mengenali jurus itu. Karena aku pernah berhadapan dengan pemilik jurus itu." Aki Jagat Sampurno sangat mengingat hari dimana ia berhadapan langsung dengan orang yang memiliki jurus berbahaya itu.


"Maksudnya, guru pernah melawan pendekar wanita pembunuh bayaran itu?." Rasa penasaran semakin menggelitiknya untuk bertanya pada gurunya. Benarkah gurunya pernah berhadapan dengan pendekar pembunuh bayaran itu?. Tapi kapan?.


"Bukan!. Aku bukan berhadapan dengan pendekar wanita itu, namun pengguna jurus itu adalah seorang laki-laki!." Balas Jagat Sampurno membantah perkataan muridnya itu, ia sangat yakin pengguna jurus itu adalah laki-laki, bukan wanita.

__ADS_1


"Dia adalah burung hantu pemangsa kegelapan. Seorang pendekar pembunuh bayaran dengan segudang jurus-jurus mematikan. Salah satunya adalah jurus air Samudera menggulung karang." Aki Jagat Sampurno tidak akan pernah lupa dengan jurus itu, jurus yang hampir merenggut nyawanya.


"Aku rasa dia pendekar wanita pembunuh bayaran itu berguru padanya. Jika tidak, mana mungkin wanita itu menguasai jurus berbahaya itu." Ya, tidak salah lagi, hanya pendekar pembunuh bayaran dengan julukan Burung Hantu pemangsa kegelapan yang mempunyai jurus itu.


Tidak ada yang bisa menguasai jurus berbahaya itu kecuali pendekar pembunuh bayaran, bahkan dirinya pernah mencoba mempelajarinya, tubuhnya terasa remuk, karena aliran hawa murni di dalam tubuhnya malah menyerangnya balik.


"Kalau begitu tolong ajari aku jurus andalanmu guru, aku ingin menghabisi Pendekar wanita sombong itu." Umbara Kuswan ingin segera mempelajari jurus hebat dari gurunya, ia tidak mau membuang-buang waktu, karena dalam waktu dekat, ia sudah berjanji akan segera berkumpul dengan kelompoknya.


...***...


Prabu praja Permana akhirnya sampai ke istana Sendang Agung bersama selendang Merah, dan Kelalawar Hitam. Mereka telah sampai ke Istana Kerajaan Sendang Agung setelah melewati beberapa kampung yang mereka amati dari jauh, sebelum mereka memutuskan untuk bertindak lebih jauh lagi.


Akan tetapi, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam masih mengenakan topeng penutup wajah, karena tidak ingin diketahui wajah mereka oleh siapapun, dan Gusti Prabu Praja Permana sudah memberi izin kepada mereka. Bukan hanya itu saja, identitas mereka benar-benar dilindungi oleh sang Prabu.


"Selamat datang Gusti Prabu."


"Ayo masuk nimas, juga adimas."


Sang Prabu mempersilahkan mereka berdua ikut masuk ke dalam istana untuk bertemu dengan petinggi istana lainnya. Mungkin?.


"Terima kasih gusti prabu." Kedua ikut masuk bersama sang Prabu ke dalam Istana.


Namun saat mereka hendak masuk ke dalam istana, Wira Wijaksana telah menyambut mereka semua dengan sapaan hangat.


"Selamat datang kanda prabu." Wira Wijaksana tidak menyangka bahwa rakanya akan pulang secepat ini. Apakah Prabu Praja Permana telah menemukan orang yang ia cari?.

__ADS_1


"Terima kasih rayi. Aku baru saja datang bersama kedua sahabatku." Balas Prabu Praja Permana dengan senyuman kecil, ia tahu adiknya ini akan menyadari kedatangannya.


"Kakang jaya estu."


Tiba-tiba Selendang merah berdiri di hadapan Pangeran Wira Wijaksana, dan menyebutnya dengan nama Jaya Estu?. Mereka sedikit heran mendengarnya.


"Bukankah kau kakang jaya estu?. Pendekar dengan julukan seribu pukulan mematikan." Selendang Merah hanya ingin memastikan bahwa orang yang berdiri dihadapannya sekarang adalah orang yang ia kenali di masa lalu?.


Wira Wijaksana melihat ke arah kakaknya, ia terlihat berpikir sejenak, apakah ia akan mengakuinya?.


"Sepertinya, selendang merah mengenali pangeran wira wijaksana." Kelalawar Hitam yang berada dibelakangnya sedikit heran, benarkah itu?.


"Dulu aku memang dijuluki seperti itu, tapi siapa kau?. Mengapa kau mengenaliku?."


Tentunya pangeran Wira Wijaksana bertanya, mengapa wanita dengan penutup wajah merah ini mengenalinya?. Sudah 18 tahun berlalu, ia tidak terlibat lagi dengan dunia persilatan.


"Ini aku, rembulan indah. Apakah kau masih mengingatnya?. 20 tahun yang lalu kita bersama belajar ilmu kanuragan yang sama." Selendang Merah berusaha mengingatkan pangeran Wira Wijaksana tentang kejadian 20 tahun yang lalu. Seketika itu pangeran Wira Wijaksana ingat, ia masih mengingatnya.


"Jadi kau,,, kau adalah rembulan indah?." Wira Wijaksana masih mengingatnya. Mengingat seorang wanita cantik yang pernah menjadi kuntum bunga terbaik di dalam hidupnya.


Ternyata benar, mereka saling mengenal satu sama lain?. Prabu Praja Permana dan Kelalawar Hitam tidak menyangka jika mereka pernah bertemu sebelumnya, dan yang mereka melihat kedua orang itu saling berpelukan, melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu?.


Sepertinya takdir telah mempertemukan mereka kembali? Apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah selendang merah dan pangeran Wira Wijaksana akan kembali merajut kasih yang telah tertunda selama bertahun-tahun itu?


Temukan jawabannya di halaman berikutnya.

__ADS_1


Jangan lupa vote n komentar agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.


...***...


__ADS_2