ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
AIR MATA KESEDIHAN


__ADS_3

...***...


Malam harinya, setelah melaksanakan sholat isya. Ratu Sawitri Dewi menemui Selendang Merah. Karena ada hal yang ingin ia sampaikan padanya. Banyak hal yang ingin ia ajarkan pada Selendang Merah.


"Selamat malam nini. Apakah aku mengganggu istirahat mu?." Ratu Sawitri Dewi meminta izin pada Selendang Merah untuk masuk ke biliknya.


"Selamat malam gusti ratu. Silahkan masuk gusti ratu." Selendang Memberi hormat pada Ratu Sawitri Dewi. Ia merasa sungkan karena sikap Ratu Sawitri Dewi yang sangat baik padanya.


"Terima kasih nini selendang merah." Ratu Sawitri Dewi tersenyum kecil, dan ia duduk di pinggiran tempat tidur Selendang Merah.


"Mohon ampun gusti ratu. Apa gerangan yang membuat gusti ratu menemui hamba di sini. Maaf jika hamba lancang bertanya." Selendang merah sangat sungkan pada Ratu Sawitri Dewi. Ia takut bersikap kurang ajar pada Ratu Sawitri Dewi yang sangat baik padanya.


"Aku hanya ingin kau mengetahui satu hal nini. Dan ini semua demi keselamatan dirimu sebagai calon ratu agung." Raut wajah Ratu Sawitri Dewi terlihat sangat cemas, sehingga ia memeluk Selendang Merah. "Aku takut terjadi sesuatu padamu nak. Maafkan permintaan egoisku ini." Ratu Sawitri Dewi menangis sedih dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Selendang merah hanya diam saja. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tapi sepertinya ini sangat serius. Namun untuk saat ini ia membiarkan Ratu Sawitri Dewi menumpahkan segala kesedihan yang ia rasakan. Memang cukup lama, tapi perasaan sedih itu tidak bisa ia hindari begitu saja.


"Kabar yang aku dapatkan dari nanda prabu. Bahwasanya, patih arya serupa menjadi gila karena ia telah melakukan ajaran yang sesat nak." Dengan berat hati ia mengatakan pada Selendang Merah. Air matanya tak dapat ia tahan, mengalir terus membasahi pipinya.


"Apa maksud gusti ratu?. Hamba sama sekali tidak mengerti gusti ratu." Selendang Merah bingung, apa hubungannya dengan patih arya serupa yang gila dengan dirinya?.


"Menurut apa yang dikatakan nanda prabu, patih arya serupa telah melakukan santet. Ia melakukan santet padamu nak. Tapi karena malam itu kalian mampu mengatasi santet itu, jin yang berniat jahat padamu malah berbalik menyerang patih arya serupa." Ratu Sawitri Dewi berusaha untuk menahan perasaan sedihnya.


"Jadi itu alasan mengapa ia menjadi gila?. Sungguh manusia tidak memiliki pegangan hidup ia. Sehingga ia menjual dirinya pada jin, dan malah berakhir mengenaskan menjadi gila?." Selendang Merah mencoba menafsirkan kata-kata dari Ratu Sawitri Dewi.


"Lantas apa yang harus hamba lakukan gusti ratu?." Perasaan Selendang Merah juga jadi tidak tenang. "Maafkan hamba, jika semua ini membuat suasana menjadi berbahaya seperti ini. Maafkan hamba gusti ratu." Dengan sangat, Selendang Merah memohon maaf pada Ratu Sawitri Dewi.


"Tidak nak. Ini bukan salahmu. Namun salah mereka yang serakah akan kekuasaan, sehingga mereka melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkannya." Ratu Sawitri Dewi tidak mau menyalahkan Selendang Merah.

__ADS_1


"Kalau begitu apa yang harus hamba lakukan, supaya mereka tidak berbuat seperti itu gusti ratu." Kembali Selendang Merah bertanya pada Ratu Sawitri Dewi.


"Untuk sementara waktu. Aku ingin kau belajar di tempat nyai asih teladan. Dulu aku juga belajar agama Islam dengannya. Untuk sementara waktu kau akan kami amankan ke sana." Jawab Ratu Sawitri Dewi. "Kami semua tidak ingin kau celaka. Kami hanya ingin kau yang menjadi ratu agung di istana ini. Aku tidak akan menyerahkan istana ini pada tuan putri manapun selain dirimu nak." Sorot mata Ratu Sawitri Dewi menggambarkan betapa serius yang ia katakan saat ini. "Saat kau berada di sana, jangan gunakan apapun yang berhubungan dengan selendang merah. Jangan gunakan senjataku, ataupun yang berhubungan dengan dunia persilatan." Lanjut Ratu Sawitri Dewi. "Gunakan nama barumu, sebagai mustika dewi ayu. Jangan gunakan nama selendang merah lagi. Karena aku takut mereka akan mencari mu ke sana. Dengan begitu kami berharap kau akan aman berada di sana." Ratu Sawitri Dewi sangat memohon pada Selendang Merah. "Kami semua sangat menyayangi mu nak. Maka dengarkan apa yang akan aku katakan padamu dengan baik. Aku harap kau mau menerima saran ku dengan baik." Ratu Sawitri Dewi mencoba untuk tersenyum walaupun pahit.


"Terima kasih atas kebaikan yang gusti ratu berikan pada hamba. Tanpa adanya gusti ratu, mungkin hamba akan selamanya terombang-ambing di dalam kegelapan. Membunuh siapa saja yang atas permintaan mereka yang merasakan sakit hati pada hamba." Selendang Merah mencoba untuk tersenyum kecil. "Gusti ratu menyambut hamba dengan baik. Padahal sudah jelas hamba adalah seorang pendekar pembunuh bayaran yang tidak memiliki perasaan sama sekali. Tapi gusti ratu tidak memberi hamba sama sekali. Justru gusti ratu malah percaya jika hamba mampu untuk menjadi ratu agung." Saat itu juga air matanya mengalir membasahi pipinya. "Rasanya hamba yang kotor ini sangat malu, jika mendapatkan tahta agung tersebut gusti ratu." Lanjut Selendang Merah. "Maka kali ini hamba akan mendengarkan semua yang gusti ratu katakan pada hamba, karena hamba sangat yakin. Jika gusti ratu melakukan ini semua demi kebaikan hamba. Terima kasih banyak hamba ucapkan gusti ratu." Selendang Merah sedikit terisak. Ia tidak menyangka hidupnya akan seperti ini setelah berada di lingkungan istana. Ia pikir ia hanya akan berkerja dengan sang prabu tanpa mengesampingkan perasaan cinta yang perlahan-lahan tumbuh dihatinya.


"Oh nini." Ratu Sawitri Dewi memeluk sayang Selendang Merah. "Alhamdulillah hirabbli'alamin jika kau mau memahami apa yang telah aku sampaikan. Aku sangat bahagia sekali nak." Begitu erat pelukannya, membuat Selendang Merah sedikit merasa sangat sesak.


"Hamba melakukan ini demi gusti ratu yang telah memberikan kebaikan pada hamba. Terima kasih yang sebanyak-banyaknya hamba ucapkan pada gusti ratu." Ada perasaan iba yang menyelimuti hatinya saat ini.


"Aku juga melakukan semua ini demi kau nini. Bagiku kau bukan saja calon menantu ku, tapi kau juga teman yang baik untukku. Terima kasih juga aku ucapkan padamu. Dari awal kau membesarkan andara wijaya, kau membatu anakku, dan kau telah berjasa membebaskan negeri ini dari bentuk kejahatan." Ratu Sawitri Dewi melepaskan pelukannya, dan tersenyum sangat ramah. Ia mengungkapkan semua yang ia rasakan.


Pembicaraan mereka hari itu sangat menyentuh sekali. Banyak hal lainnya yang mereka bahas, terutama dengan rencana untuk mengungsikan Selendang Merah untuk sementara waktu, sambil belajar agama Islam.

__ADS_1


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.


...***...


__ADS_2