
...***...
Sang prabu terdiam sejenak, ia menatap lurus ke depan. Ia melihat ke arah selendang merah yang menunggu jawaban darinya.
"Aku sedang mencarimu nimas." Dengan segenap hati dan perasaannya ia menekan pikiran lain, ia mengatakan tujuannya pada selendang merah.
"Men-mencari hamba?." Selendang Merah sedikit terkejut, apa gerangan sang prabu mencarinya?.
"iya nimas, aku mencarimu." Sang prabu mengiyakan apa yang ditanyakan oleh selendang Merah.
"Apa yang membuat gusti prabu mencari hamba." Tentunya ia bertanya mengapa sang prabu mencarinya?. Apakah ada sesuatu yang diinginkan oleh sang Prabu darinya?.
Sang Prabu menghentikan langkahnya, membuat Selendang Merah juga ikut menghentikan langkahnya.
"Aku ingin kau bekerja sama denganku, untuk membasmi kelompok setan jahat, yang sangat meresahkan kerajaan sendang agung." Sang Prabu mengatakan tujuannya pada selendang merah. sorot mata itu sangat tajam, tidak main-main.
Selendang Merah sangat terkesan, ucapan itu sangat jelas sekali ia dengar. Hingga ia seperti kehilangan kata-kata.
Jadi sang Prabu mengembara jauh-jauh, keluar istana hanya untuk mencarinya?. Apakah ini adalah sebuah kehormatan baginya?.
"Tapi gusti Prabu. Bukankah hamba sudah mengatakan, bahwa hamba adalah seorang pembunuh bayaran?. Apa yang akan rakyat katakan, jika mereka tahu bahwa gusti prabu, bekerja sama dengan orang seperti hamba?." Selendang Merah harus menahan dirinya. Ia tidak mungkin terlalu cepat merasa bangga hanya karena apa yang dilakukan oleh sang Prabu bukan?.
Sang Prabu tersenyum kecil, ia mengerti apa yang dikatakan oleh selendang Merah. "Aku rasa tidak nimas." Sang prabu terlihat ramah, tenang dan santai. "Bukankah nimas juga pernah mengatakan padaku, bahwa nimas, akan membantu orang-orang baik yang membutuhkan pertolongan." seakan mengingat kembali apa yang pernah diucapkan oleh selendang Merah padanya. "Bukankah desa ini juga termasuk salah satu wilayah kerajaan sendang agung?. Aku rasa itu tidak akan ada masalah." Lanjut sang prabu.
"Ya, gusti prabu benar. Ini memang wilayah kerajaan sendang agung." Ucapnya dengan pelan.
"Jika memang ada orang yang tidak suka aku bekerja sama denganmu, rasanya itu tidak mungkin." Sang prabu ragu masalah itu. "Aku rasa mereka akan senang, jika nimas bisa membantuku juga dalam mengatasi kelompok setan jahat yang membuat kekacauan di negeri ini." Lanjutnya. "Aku yakin mereka juga mengetahui nimas karena nimas juga telah banyak menolong desa lainnya." Sang prabu begitu sangat berharap banyak pada Selendang Merah.
"Jika memang dalam pengembaraan gusti prabu untuk mencari hamba. Tentunya hamba tidak akan menolak permintaan gusti prabu. Hamba akan melakukan apapun yang gusti prabu inginkan." Selendang merah merasa terhormat bisa membantu sang Prabu.
__ADS_1
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin ya Allah." Sang prabu sangat senang mendengarnya. Itu artinya, pengembaraannya kali ini tidaklah sia-sia.
Sementara itu, Selendang Merah mengeluarkan sebuah belati kecil. Ia melukai telapak tangannya, membuat sang prabu terkejut.
"Astaghfirullah hal'azim. Apa yang nimas lakukan." Spontan sang Prabu mengambil belati kecil itu, ia genggam tangan kiri selendang merah yang penuh dengan darah.
"Kenapa kau melukai tanganmu nimas?." Sang Prabu tidak habis pikir, apa yang membuat Selendang Merah melukai dirinya?.
"Tidak apa-apa gusti prabu. Lihat?. Darahnya menghilang setelah gusti Prabu menyentuhnya." Ucap selendang merah dengan pelan. Ia tersenyum kecil melihat bagaimana raut wajah cemas itu.
Sang Prabu yang dalam keadaan panik langsung menatap telapak tangan selendang Merah yang terlihat baik-baik saja?.
"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Bagaimana bisa?." Mata sang Prabu terbelalak kaget, ia tadi melihat dengan jelas ada darah di sana, bagaimana bisa darah itu menghilang seketika?
Penasaran apa yang terjadi?. Baca terus ceritanya?.
...***...
Kelalawar Hitam masuk ke sebuah warung makan. Ia hendak mengisi perutnya yang terasa lapar. Ia duduk di pojokan tempat itu.
Rumah makan itu cukup ramai juga, suasana di sana agak ribut. Tak lama kemudian, ada seorang wanita yang menghampirinya dan bertanya.
"Mau pesan apa den?." Tanya wanita itu dengan ramahnya, ia bertanya tamunya mau makan apa.
"Nasi putih, ikan bakar, sambel terasi, sayur asem, air wedang jahe jika ada." Balas Kelalawar hitam, di balik kain yang menutupi sebagian wajahnya.
"Baiklah den. Tapi agak lama menunggunya ya den." Wanita itu mengingat apa saja yang menjadi pesanan tamunya. Setelah itu ia pamit untuk menyiapkan semuanya.
Namun disaat ia menunggu, ia tidak sengaja mendengarkan beberapa orang yang sedang berbincang-bincang di belakangnya mengenai sesuatu.
__ADS_1
"Gawat kang, semalam aku dapat kabar. Bahwa desa layang telah dikuasai oleh kelompok setan jahat." Salah satu dari mereka mengatakan informasi yang ia dapatkan.
"Kelompok setan jahat?." Bukan bermaksud menguping pembicaraan mereka, hanya saja suaranya terdengar jelas di telinganya.
Ia memang pernah mendengarkan tentang kelompok setan jahat. Ia hanya tidak mau terlibat dengan urusan kelompok itu. Baginya pekerjaannya sebagai seorang pendekar pembunuh bayaran tidak mengganggu siapapun.
"Benar. kelompok setan jahat memang menakutkan, menebar teror dimana-mana." Kabar buruk itu tersebar kemana-mana, di pelosok negeri ini.
"Lalu bagaimana dengan sang prabu?. Mengapa sang prabu belum juga bertindak?. Apakah dia tidak kasihan?. Dengan nasib kita sebagai rakyatnya?." Seorang lelaki berbadan besar berkata seperti itu, ia tidak tahu mengapa kejahatan seperti itu belum juga diatasi?.
"Kabar yang aku dengar, gusti prabu praja permana malah mengembara. Katanya mau menyebar agama islam, sama seperti yang dilakukan oleh prabu kian santang, kang." Kali ini seorang laki-laki berkumis tebal berkata dengan suara keras mengenai sang Prabu.
"Benar-benar raja yang tidak bertanggung jawab!. Bukannya malah mengurusi rakyatnya malah mengikuti kisah prabu kian santang. Raja macam apa itu?. Membiarkan rakyatnya menderita!." Sepertinya mereka telah terbawa amarah saat mengatakannya.
Apakah tidak ada kepedulian dari sang prabu pada rakyatnya?.
"Menyesal sekali aku terlahir di negeri, yang dipimpin raja yang tidak becus seperti itu. Lebih baik kita pergi saja dari sini kang. Punya pemimpin malah berkhayal ingin seperti prabu kian santang." Mereka malah berpikir ingin menjauh dari negeri yang dipenuhi oleh kejahatan?. Mereka takut menjadi korban keganasan para penjahat?.
Sementara itu, Kelalawar hitam yang mendengarkan itu merasa panas kupingnya. Entah kenapa ia marah mendengarkan perkataan-perkataan jelek tentang sang Prabu.
Apakah yang terjadi pada dirinya?. Kenapa ia merasa marah?. Ia tidak ada hubungannya sama sekali.
"Abaikan. Aku tidak ada urusannya dengan prabu bodoh itu. Aku tidak boleh marah, hanya karena ucapan buruk mereka tentang sang prabu." Batin Kelalawar Hitam mencoba menenangkan dirinya. Ia berjanji tidak akan membuat dirinya terlibat akan perkelahian apapun, yang menyangkut sang prabu. Mungkin ia akan segera mencari tuan baru yang mau menyewa dirinya, untuk membunuh orang lain.
Ya, setelah ini ia akan melakukan pekerjaan baru. Ia bersumpah tidak akan ikut campur. Toh ia juga sudah tidak memangsa Gusti Prabu. Karena orang yang menyuruhnya membunuh sang prabu telah ia bunuh.
Apa yang akan terjadi?. Baca terus ceritanya, jangan lupa vote n komentar agar author yang tidak berwujud ini semangat lanjutin ceritanya.
...***...
__ADS_1