ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERTARUNGAN SENGIT


__ADS_3

...***...


Prabu Praja Permana saat ini sedang bersama Selendang Merah dan Kelalawar Hitam sedang mengunjungi desa yang berhasil diselamatkan keduanya. Namun mereka masih curiga, jika masih ada sarang kawanan perampok yang masih berkeliaran di sana. Prabu Praja Permana telah melihat secara langsung, bagaimana keadaan penduduk di sana. Memang ada beberapa orang wanita yang sedang mengandung di sana.


"Kami menutup keadilan gusti prabu. Kami tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada anak gadis kami."


"Anak yang akan mereka lahirkan, lahir tanpa bapak. Dan kami tidak sanggup menjalani hidup diatas aib yang ditorehkan oleh Pendekar bejad itu gusti prabu."


"Hati kami sangat pilu sebagai ayah yang tidak bisa menyelamatkan anak gadis kami gusti prabu."


Mereka semua mengadu kesedihan mereka pada prabu Praja Permana. Sebagai Raja, ia juga merasa sedih, karena tidak bisa menjamin keselamatan rakyatnya.


"Wahai rakyat sendang agung. Saya akan berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Saya tidak akan lari dari tanggung jawab. Sebagai seorang raja. Berikan saya waktu, sebelum mereka lahir. Saya akan mencari solusi terbaik untuk mereka semua."


"Kami mohon keadilan gusti prabu. Kami hanya meminta kepastian dari gusti prabu."


"Semoga saja saya bisa menepati janji yang telah saya ucapkan."


Mereka semua menjadi saksi apa yang telah diucapkan oleh Prabu Praja Permana hari itu. Dan mereka semua akan menuntut janji itu suatu hari nanti, jika sang Prabu lalai dalam janjinya.


Setelah itu mereka bertiga menuju ke pedalaman hutan desa itu. Melihat apa saja yang ada di sana. Namun ada tempat yang dicurigai oleh mereka.


"Berhati-hatilah. Sepertinya kedatangan kita telah disambut oleh mereka semua."


"Sepertinya mereka dalam jumlah yang sangat besar kali ini."


"Ya. Aku merasakan aroma busuk mereka semua."


Dan benar. Saat itu, gerombolan kawanan perompak keluar bersama dengan pemimpin mereka, Setan Sabit Jahanam.


"Siapa sangka, dua musuh besar kelompok setan jahat hari ini hadir di sini."


"Jadi dia yang bernama pendekar pembunuh bayaran selendang merah penerbar maut itu?."


"Benar guru. Dia adalah orangnya."

__ADS_1


"Heh!. Untuk apa kau membawa gurumu sampai ke sini?. Apakah kau ingin memperlihatkan pada gurumu, bagaimana kematianmu?."


"Diam kau bedebah!. Tidak usah jumawa dulu kau!."


"Tidak udah basa basi lagi nini. Langsung saja hajar mereka semua. Aku sudah tidak tahan lagi mencium aroma busuk mereka."


"Ada yang tidak sabar ingin bertarung. Kalau begitu, serang mereka semua!."


Pertarungan terjadi antara mereka. Kawanan perampok yang dipimpin oleh Setan Sabit Jahanam, menghadapi Prabu Praja Permana, Selendang Merah dan Kelalawar Hitam.


Mereka semua saling menyerang satu sama lain. Namun mereka yang tidak memiliki kepandaian sama sekali, menyerang orang yang memiliki kepandaian diatas mereka, tentunya akan mudah dikalahkan, tanpa harus menggunakan tenaga dalam yang terlalu banyak.


Sedangkan Selendang Merah saat ini sedang berhadapan dengan Setan Sabit Jahanam. Mereka mengadu kesaktian yang mereka miliki. Selendang Merah menggunakan Selendangnya yang dilambari tenaga dalam, terus menyerang musuhnya. Setiap lecutan dari selendangnya mengandung ledakan yang berbahaya.


"Heh!. Apa hanya segitu saja kemampuan yang kau miliki?."


"Ahahha kau tidak perlu memancing aku untuk mengeluarkan jurus air samudera menggulung karang. Karena aku akan mencuri jurus andalanmu. Jurus angin terbang meniti khayangan."


"Bedebah!. Bagiamana mungkin kau bisa mengetahui jurusku?."


Di sisi lain, Pendekar Jagat Sampurno menyimak pembicaraan itu merasa sangat kesal. Ia tidak menyangka, jika musuhnya mengetahui jurus yang dipelajari oleh muridnya itu.


"Kurang ajar!. Ternyata benar!. Mata elang yang ia miliki bukan hanya sekedar pajangan saja. Dia memang lawan yang tidak bisa dianggap enteng."


"Hei!. Apa yang kau lihat?. Musuhnya adalah aku. Dan kau masih saja melihat ke arah lain pak tua!."


"Kau jangan sombong dulu anak muda. Akan aku hadapi kau dengan jurus-jurus yang aku miliki. Jadi bersiaplah!. Kau tidak akan aku biarkan menang begitu saja."


Sedangkan Prabu Praja Permana sedang berhadapan dengan mereka yang terus menghadangnya. Seakan mereka sangat meremehkan kemapuan sang Prabu.


Kembali ke pertarungan antara Selendang Merah dan Setan Sabit Jahanam. Mereka menggunakan jurus yang sama?. Apakah mereka akan bisa menjatuhkan lawannya?. Temukan jawabannya.


...***...


Sementara itu di istana. Istri Pangeran Wira Wijaksana menghadap pada Ratu Sawitrah Dewi. Mereka sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan Pangeran Wira Wijaksana terhadap mereka semua.

__ADS_1


"Mohon ampun ibunda ratu. Jika kami semua mengganggu ibunda ratu yang sedang beristirahat."


"Aku telah mengetahui apa yang menjadi keluhan nanda semuanya. Dan saat ini, putraku nanda prabu saat ini sedang berusaha untuk menegur adiknya. Hanya saja saat ini ia sedang mengatasi masalah yang lebih serius. Aku harap kalian semua bersabar."


"Mohon ampun ibunda ratu. Kami mencoba untuk bersabar, namun kanda pangeran tidak bisa kembali seperti biasanya."


"Jika masalah sikap putraku nanda pangeran.s untuk saat ini aku tidak bisa mendekatinya. Akan tetapi aku hanya minta pada kalian untuk tetap tenang. Sebagai seorang wanita yang memiliki anak darinya. Kalian harus kuat demi anak yang telah kalian pertahankan selama ini."


"Kami akan berusaha sekuat tenaga bertahan demi putra putri kami ibunda ratu."


Mereka tidak kuasa menahan tangis mereka. Perasaan sakit hati, sedih, perih, karena perlakuan Pangeran Wira Wijaksana yang semakin menjadi-jadi terhadap mereka semua. Seakan mereka telah pasrah dengan apa yang telah mereka rasakan selama ini.


...***...


Kembali ke pertarungan.


Setelah berhasil mengalahkan semua anak buah kelompok setan jahat. Prabu Praja Permana membantu Selendang Merah menghadapi Setan Sabit Jahanam. Sepertinya perlawanan kali ini agak berbeda. Karena ada peningkatan dari Setan Sabit Jahanam.


"Heh!. Maju saja kalian semua. Akan aku hadapi kalian dengan kekuatan baruku!."


"Mohon ampun gusti prabu. Berikan hamba waktu untuk mencuri jurus yang ia miliki."


"Baiklah kalau begitu nimas. Untuk sementara waktu, biarkan aku yang menghadapinya."


"Terima kasih gusti prabu."


"Hooo jadi musuh yang akan aku hadapi ini adalah raja bodoh yang kami keroyok waktu itu?."


"Waktu itu aku kalah, karena kalian telah berbuat curang. Namun tidak akan aku biarkan kau melakukan hal yang sama. Bismillahirrahmanirrahim."


Prabu Praja Permana menyerang Setan Sabit Jahanam. Mereka kembali mengadu ilmu kadigjayaan serta ilmu kanuragan yang mereka miliki. Sementara itu, Kelalawar Hitam masih berhadapan dengan Jagat Sampurno.


Mereka semua saling menyerang, mempertahankan apa yang mereka anggap itu adalah hak mereka. Kekuatan dan kecerdasan yang mereka miliki, mereka gunakan dalam pertarungan itu. Sehingga mereka tidak mau mengalah satu sama lain.


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2