ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
SELENDANG MERAH DIINCAR


__ADS_3

...***...


Kelalawar Hitam, Andara Wijaya dan Sandi Praha baru saja selesai latihan. Karena mereka tidak diajak dalam pertemuan itu. Mereka tiduran di rerumputan di halaman belakang istana.


"Kalian berdua sangat hebat sekali." Kelalawar Hitam mengacungkan kedua jempol nya ke arah mereka berdua. "Tapi sayang, jika kalian memiliki mata elang atau Kelalawar seperti aku, atau ibundamu." Kelalawar Hitam memperlihatkan bagaimana bentuk matanya.


"Apakah harus seperti itu paman?." Andara Wijaya sedikit heran.


"Memang harus. Karena menjadi pembunuh bayaran itu tidak mudah. Karena banyak orang yang akan sakit hati pada kita, dan akhirnya balas dendam. Jadi kekuatan mata khusus harus dimiliki seorang pembunuh bayaran. Apalagi Pendekar pembunuh bayaran bukan hanya sekedar nama atau julukan setelah berhasil membunuh orang lain. Namun pekerjaan itu sangat membutuhkan kekuatan yang luar biasa, serta mental baja yang tidak bisa dipatahkan hanya karena perasaan iba." Kelalawar Hitam menjelaskan pada mereka.


"Lalu apa bedanya dengan pendekar yang membunuh atau saling membunuh?. Bukankah sama-sama membunuh?." Sandi Praha sedikit heran dengan penjelasan dari Kelalawar Hitam.


"Jelas ada. Kelebihan dari seorang pendekar pembunuh bayaran memiliki mata yang dapat menembus alam sukma seseorang. Entah itu ke masa lalu, atau masa depan. Selain itu target dari Pendekar pembunuh bayaran tertentu. Berbeda dengan pendekar biasa. Saat bertemu siapa saja bisa saling membunuh, atau bisa jadi bersahabat. Akan tetapi jika bertemu dengan Pendekar pembunuh bayaran, jika telah menjadi target darinya. Pilihannya dibunuh atau membunuh." Kelalawar Hitam menatap tajam ke arah keduanya, sehingga keduanya sedikit merinding.


"Tapi, paman dan ibunda memiliki kekuatan yang berbeda. Mata paman dan mata ibunda terlihat berbeda." Andara Wijaya masih penasaran.


"Pada dasarnya masih sama-sama memiliki mata elang. Namun ibundamu memliki mata elang yang murni, dan itu sangat berbeda dengan mataku yang bercampur dengan kekuatan Kelalawar. Namun jika memiliki murni kekuatan elang. Itu sangat langka sekali, bahkan ayahanda darahnya bercampur dengan kekuatan burung hantu. Kecuali ibunda ku yang memiliki darah murni elang." Jawabnya.


"Lantas, paman kenapa malah kelalawar?. kenapa tidak burung hantu juga?." Sandi Praha merasa aneh dengan penjelasan itu.

__ADS_1


"Ketika keturunan dari darah yang telah ditakdirkan sebagai pembunuh bayaran. Saat mencapai umur lima belas tahun, mereka akan melewati masa pemilihan seleksi alam. Kekuatan mereka ke arah mana. Itu tergantung seberapa kuatnya tekad yang ada pada diri mereka. Namun yang pasti adalah, kekuatan mata elang murni itu tingkat tertinggi, dan paling dihormati. Jadi karena itulah lebih ganas membunuhnya dibandingkan Kelalawar ataupun burung hantu." Jawabnya. "Kekuatan tingkat tinggi dari seorang pembunuh bayaran dengan kekuatan murni mata elang lebih sadis jika membunuh. Jadi kalian jangan pernah membuat mereka marah." Kelalawar Hitam menakuti keduanya.


"Untung saja kau tidak mengikuti jejak ibundamu andara wijaya. Kalau kau dendam padaku, kau pasti akan menargetkan aku kan?." Sandi Praha menatap tidak suka ke arah Andara Wijaya.


"Berisik!. Aku tidak sehebat ibundaku. Tapi segera mungkin aku harus mencapai tingkat itu." Balas Andara Wijaya dengan kesalnya.


Sedangkan Kelalawar Hitam hanya menghela nafasnya yang terasa lelah melihat pertengkaran mereka yang tidak akan habis sekali obrolan saja. Pasti ada-ada saja yang membuat mereka bertengkar.


...***...


Malam harinya. Selendang Merah berada di bilik lingkungan kaputren. Namun entah mengapa, ia merasa diawasi oleh beberapa orang. Ah tidak, ada beberapa orang yang mengawasi dirinya dari kejauhan. Ia merasakan hawa yang tidak baik disekitar.


"Keluarlah!. Jika yang kalian incar adalah aku!." Dengan suara yang sangat keras, ia memanggil siapa saja yang telah berani mengincar dirinya.


Tak lama kemudian, ada beberapa orang yang melompat dari empat arah, mengepung dirinya. Mereka semua mengenakan pakaian hitam, serta penutup wajah. Sehingga Selendang Merah tidak dapat mengenali wajah mereka semua.


"Kunyuk busuk seperti kalian mau bermain-main dengan elang?." Selendang Merah tidak takut sama sekali. Meskipun mereka semua memamerkan golok tajam ke arahnya.


Ternyata kalian hanya akan mengantar nyawa saja padaku!." Setelah berkata seperti itu, Selendang Merah langsung menyerang salah satu dari mereka dengan menggunakan selendang merah yang selalu ia gunakan sebagai senjatanya. Selendang itu bisa menjadi senjata mematikan, karena dilambari dengan tenaga dalam yang sangat luar biasa.

__ADS_1


Pertarungan terjadi di sana. Mereka yang mengincar nyawa Selendang Merah terus menyerang wanita itu. Empat orang laki-laki melawan satu orang wanita. Bertarung di malam hari, ketika mereka semua sedang terlelap tidur.


Sementara itu, diwaktu yang sama. Prabu Praja Permana merasakan ada sesuatu yang mengganjal pada dirinya. Ia merasakan, jika Selendang Merah saat ini sedang bertarung.


"Nimas. Apa yang terjadi pada nimas?." Prabu Praja Permana duduk, dan langsung mengambil jubahnya. Ia ingin memastikan apa yang ia lihat sekilas tadi itu salah. Ia langkahkan kakinya dengan cepat menuju kaputren. Namun ia malah mendengarkan suara orang bertarung dari arah halaman belakang istana. Karena merasa penasaran Prabu Praja Permana langsung menuju ke sana.


"Nimas?." Matanya menangkap ada beberapa orang yang menyerang Selendang Merah, dan salah satu dari mereka ingin menerjang punggung Selendang Merah yang sedang fokus berhadapan dengan tiga orang di depannya. Akan tetapi tidak jadi menyerang Selendang Merah, karena berhasil dihalau oleh Prabu Praja Permana dengan menahan gerakan orang itu menggunakan kakinya.


Duakh!.


Terdengar suara keras sepakan Prabu Praja Permana mengahalau serangan itu. Membuat mereka semua terkejut termasuk Selendang Merah.


"Gusti prabu?." Selendang Merah tidak menyangka, jika Prabu Praja Permana akan datang?. Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi?. "Apa yang gusti prabu lakukan?. Kenapa gusti prabu malah ke sini?." Selendang Merah membelakangi Prabu Praja Permana, mereka beradu punggung, saling melindungi satu sama lain.


"Aku tadi merasa cemas dengan keadaanmu nimas. Namun siapa sangka nimas malah bertarung dengan mereka." Prabu Praja Permana menghindari serangan orang yang telah ia tendang tadi. Pertarungan kini dua lawan satu. Akan tetapi, masih tetap semangat untuk berhadapan dengan musuh.


"Maaf gusti prabu. Akan tetapi mereka sengaja mengincar hamba, karena hamba telah terkenal." Balas Selendang Merah. Namun ia masih sanggup berhadapan dengan mereka yang dua orang. Sisanya berhadapan dengan Prabu Praja Permana. Meskipun bertambah satu, tapi rasanya masih ada yang belum puas menerima apa yang sedang di jalankan.


Apakah yang akan terjadi?. Temukan jawabannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2