ASMARA DIUJUNG WAKTU

ASMARA DIUJUNG WAKTU
PERTANYAAN DAN MENCARI JAWABAN


__ADS_3

...***...


"Setelah kedatangan pendekar wanita selendang merah itu. Sikap kanda pangeran sangat berubah dari yang biasanya dinda prabu. Bahkan tersebar kabar, bahwa ia adalah kekasih kanda pangeran."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Kabar seperti itu sangat cepat sekali tersebar di istana ini." Dalam hati Prabu Praja Permana merasa gelisah dengan apa yang dikatakan oleh Putri Ayu Permata Sari.


"Maaf dinda ayu. Aku hanya sedikit mengetahui tentang masalah mereka. Tapi aku telah mengatakan pada dinda wira wijaksana, bahwa agar tidak mengganggu nimas selendang merah. Tapi sepertinya ia memang tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan. Astaghfirullah hal'azim ya Allah."


"Saya hanya tidak mau kanda prabu menambah istri, atau malah mengatakan untuk berpisah dengan kami, hanya demi wanita itu kanda prabu." Ia berusaha untuk menahan perasaannya. Ia tidak rela jika suaminya melakukan itu. "Sudah cukup hati saya terluka karena ia mempunyai selir, hati saya tidak tahan lagi kanda prabu."


"Dinda ayu tenanglah. Aku akan mencari jalan keluar dari masalah ini. Aku harap dinda ayu tidak melakukan hal yang membuat dinda wira Wijaksana memiliki alasan untuk melakukan itu."


"Baiklah kanda prabu. Saya harap kanda prabu bisa menasehati kanda pangeran. Karena saya tidak rela, jika kanda pangeran melakukan itu."


"InsyaAllah, jika Allah memberikan aku kekuatan untuk bertindak. Aku akan melakukannya dengan baik."


"Terima kasih kanda prabu. Jika tidak kepada kanda prabu, kepada siapa lagi saya meminta bantuan."


"Astaghfirullah hal'azim ya Allah. Berikanlah hamba kekuatan untuk menyelesaikan masalah ini." Dalam hati Prabu Praja yang mencoba untuk menenangkan hatinya.


"Kalau begitu saya pamit dulu kanda prabu. Sekali lagi maaf, jika saya telah mengganggu kanda prabu."


"Tidak apa-apa dinda ayu. Itu sudah hal yang wajah aku lakukan, demi kedamaian keluarga istana ini."


"Semoga saja kanda prabu bisa menasehati kanda pangeran. Saya sangat cemas."


"Dinda ayu tenang saja. Serahkan semua urusan hanya kepada Allah SWT. Hanya kepada Allah SWT tempat kita untuk mengadu."


"Saya pamit dulu kanda prabu. Sampurasun."


"Rampes." 


Putri Ayu Permata Sari meninggalkan Prabu Praja Permana. Akan tetapi, tak lama kemudian, Ratu Sawitri Dewi datang mendekati anaknya yang sedang meneliti laporan dari bawahannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh ibunda."


"Apakah ibunda mengganggu nanda prabu?."


"Sama sekali tidak ibunda. Mari duduk ibunda."

__ADS_1


"Terima kasih nanda prabu." Ratu Sawitri Dewi duduk di hadapan anaknya.


"Apa yang membuat ibunda menemui nanda. Apakah ada hal penting, yang ingin ibunda sampaikan pada nanda?."


"Apakah ibunda tidak boleh menemui anaknya yang sedang mengerjakan tugas istana?."


"Tentu saja ibunda. Nanda senang jika ada ibunda di dekat nanda."


"Nanda harus sabar menghadapi masalah yang ada. Ibunda hanya tidak ingin, nanda bermusuhan dengan nanda pangeran."


"Nanda hanya heran saja ibunda. Mengapa dinda wira wijaksana, sampai melakukan itu?."


"Jika masalah hati memang sangat mengerikan. Nanda harus menyelamatkan mereka semua. Agar tidak ada permusuhan diantara mereka."


"Apakah nanda mampu melakukannya ibunda?."


"Ibunda yakin, jika nanda bisa melakukannya."


"Terima kasih ibunda."


Prabu Praja Permana sangat senang, karena mendapatkan semangat dari ibundanya. Kekuatannya adalah senyuman ibundanya.


"Astaghfirullah hal'azim. Apa yang terjadi padamu nanda prabu?." Ratu Sawitri Dewi mendekati anaknya, ia mencoba untuk melihat keadaan anaknya yang tiba-tiba merasa sakit.


"Entahlah ibunda. Tiba-tiba saja nanda merasa sakit."


"Kalau begitu istirahatlah. Ibunda tidak mau nanda sakit. Jangan paksakan dirimu untuk melakukan semuanya nak. Ibunda akan membantu nanda untuk mengatasi masalah di negeri ini."


"Terima kasih ibunda. Nanda hanya lelah sedikit saja. Nanti nanda akan sembuh."


"Kalau begitu sekajrang saja beristirahatnya nak. Tolong dengarkan ibunda."


"Baiklah ibunda. Nanda akan beristirahat."


"Kalau begitu, ibunda akan mengantarmu menuju bilik nanda prabu."


"Terima kasih ibunda."


Setelah itu mereka menuju bilik sang Prabu. Apa yang terjadi pada Prabu Praja Permana?. Mengapa ia tiba-tiba merasakan sakit.


"Nimas, memangnya apa yang terjadi padamu?. Mengapa aku selalu mencemaskan dirimu nimas selendang merah." Dalam hatinya merasakan kegelisahan yang luar biasa tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Entah perasaan apa yang sedang terhubung antara dirinya dengan Selendang Merah. Tetapi hatinya selalu merasakan kecemasan. Apa yang terjadi padanya?. Sehingga dalam pikirannya selalu terbayang wajah Selendang Merah.

__ADS_1


...***...


Sedangkan Selendang Merah sedang meringis kesakitan. Karena punggungnya dihantam oleh seseorang. Ada seorang laki-laki berbadan tegap yang menyerang Selendang Merah. Tentunya Kelalawar Hitam sangat terkejut melihat itu.


"Nimas."


"Kegh."


"Siapa kalian?. Berani sekali kalian mengganggu anak buahku. Apakah kalian bosan untuk hidup, sehingga kalian berani melawan?."


"Diam kau!. Tidak udah mau berlagak seperti seorang pendekar hebat!. Berani sekali kau menyerang dari jarak jauh!." Kelalawar Hitam terlihat marah. Matanya melotot memerah seperti seekor Kelalawar yang sedang menargetkan mangsanya. "Pengecut, tidak sesuai dengan ukuran badanmu saja yang besar seperti kerbau."


"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!." Lelaki itu sangat marah. Dengan langkah cepat, ia hendak menyerang Kelalawar Hitam. Namun langkahnya terhenti, karena ia mendapatkan hantaman kuat dari Selendang Merah.


Duakh!.


Perut lelaki berbadan tegap itu dihantam kuat oleh Selendang Merah. Terlihat sorot mata elang miliknya yang menatap tajam.


"Nimas?." Sementara itu Kelalawar Hitam sangat terkejut melihat Selendang Merah yang entah kapan datang, namun membuat lelaki itu mundur.


"Ketua." Ketiga orang perampok itu tadi mendekati ketua mereka. Terlihat mereka sangat ketakutan setelah mendapatkan perlakuan dari kasar Kelalawar Hitam dan Selendang Merah tadi.


"Siapa kau?. Berani sekali kau memukul dengan cara pengecut seperti itu!."


"Heh!. Kau tidak pandai berkaca ternyata." Ia tersenyum miris, merendahkan musuhnya. "Kau yang menyerang aku dengan cara pengecut, jadi aku balas saja. Jadi kau jangan maling teriak maling padaku bedebah busuk!."


"Sorot mata itu. Sepertinya kau bukan pendekar wanita biasa." Jembari Langka, itulah nama laki-laki itu. Ia dapat merasakan aura yang berbeda dari Selendang Merah.


"Nimas. Apakah nimas baik-baik saja?." Kelalawar Hitam menghampiri Selendang Merah. Ia sangat mencemaskan keadaan wanita itu, karena serangan tadi itu lumayan keras.


"Aku baik-baik saja. Kita harus waspada dengan jurus pengikat aroma darah darinya. Jurus itu sangat berbahaya untuk orang biasa."


"Benar sekali. Pantas saja aura jurus Kelalawar memangsa di kegelapan milikku bergetar. Karena jurus orang itu memanggil darah yang disukai kelalawar milikku."


"Hoooo,,, sepertinya aku memang berhadapan dengan dua orang pendekar pembunuh bayaran. Suatu kehormatan bagiku."


"Hah? Jadi mereka adalah pendekar pembunuh bayaran?." Ketiga kawanan rampok itu sangat terkejut. Pantas saja mereka mudah dikalahkan, karena mereka bukan berhadapan dengan orang biasa.


Apa yang akan terjadi?. Bisakah Prabu Praja Permana menemukan jawaban mengapa dirinya mendadak sakit?. Lalu bisakah keduanya menghadapi masalah kawanan perompak itu?. Temukan jawabannya. Jangan lupa komentarnya ya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2